Anshar Al-Islam

Risalah bagian ke 3 merupakan Lanjutan dari risalah Sebelumnya masih pembahasan siapa sebetulnya yang menyimpang?  Sebagai orang yang mengenal daulah Iraq, bahkan beliau termasuk sahabat yang dekat dengan orang-orang daulah selayaknya kita mengkaji dan mentelaahnya, sungguh telah begitu banyak surat ditujukan kepada cabang tanzhim Al-Qaeda iraq satu ini termasuk  ketika mereka manjadi klaim Khilafah palsu ditahun 1 muharram 2014 ini, salah satu nasehat yang paling besar adalah kehati-hatian mereka kepada urusan darah kaum muslimin, Risalah yang kita tuangkan ini adalah sekian dari nasehat-nasehat kepada tanzhim daulah agar jihad nya sesuai rel syar’i yang berlaku, tidak ada kata lelah menasehati mereka kecuali orang-orang yang merasa dirinya cukup. Anshar Al islam media sebagai penyambung ulama kepada ummatnya hadir untuk merilis risalah ini, semoga kita bisa mengambil pelajaran dari risalah ini, selamat membacanya.

RENUNGAN KETIGA:

MANHAJ YANG BERJALAN DI BELAKANG MAYORITAS

Adnani menuduh bahwa penyimpangan Al Qaedah Aiman dari Al Qaedahnya Usamah adalah ia berjalan di belakang mayoritas! Adnani berkata dalam ceramahnya: Akan tetapi perkaranya adalah perkara agama yang bengkok, dan manhaj yang menyimpang, manhaj yang berjalan di belakang suara mayoritas.” Selesai.

Kita akan memaparkan sekumpulan perkataan para pimpinan Al Qaedah pada masa syaikh Aiman seputar permasalahan suara mayoritas atau paling banyak – tidak ada perbedaan dalam istilah -:

Doktor Aiman Adz Dhowahiri berkata:

“Di sana ada juga permasalahan pokok yang aku tidak bisa menggambarkan jika gerakan islam menjadi islami tanpanya. Diantara permasalahan itu adalah: Sangat ingin memberlakukan hukum syareat dan agar syareat di atas undang-undang dan peraturan serta hawa nafsu suara mayoritas, sesungguhnya kekalahan militer bagi daulah khilafah yang dimulai dengan kekalahan bagian-bagiannya kemudian melenyapkannya setelah perang dunia pertama telah mewariskan kepads kita kekalahan jiwa dan mental yang mengiringi mekalahan militer, yang mana menjadikan kita menuntut syareat melalui sarana-sarana musuh syareat, dan kita menuntut penerapan syareat melalui peradilan yang tidak sesuai syareat, sehingga kita menuntut diterapkan syareat melalui kepemimpinan hawa nafsu suara mayoritas, sebagaimana orang yang menuntut diharamkannya khamr dengan cara mengikuti nashoro, apakah ini masuk akal?”.[1]

Beliau juga berkata:

“Daulah ini tidak akan tegak kecuali jika kita terapkan syareat di negeri kita hingga syareat menjadi sebagai yang menghukumi bukan yang dihukumi, lebih tinggi di atas seluruh undang-undang dan lebih tinggi di atas seluruh sumber hukum, kita wajib bekerja untuk menegakkan daulah yang bermanhaj rabbani yang membuang sekulerisme dan berhukum kepada hawa nafsu suara mayoritas... kemudian dakwah untuk menyatukan gerakan dan kelompok-kelompok islam seputar tujuan bersama yang menyeluruh: pertama: berhukum dengan syareat islam dan membuang berhukum kepada prinsip-prinsip, akidah dan syareat lainnya, sama juga hukum mayoritas yang menjadikan kepemimpinan milik rakyat.”[2]

 Beliau berkata:

“Bahwa Daulah islam adalah daulah yang berhukum kepada syareat dan kepemimpinannya adalah milik Allah ta’ala semata, dan yang berkuasa di dalamnya adalah syareat, dan undang-undang pemerintahannya berdasarakan syura yang harus mengikuti syareat bukan menyelisihinya. Dan kepemimpinan sebagaimana yang dikatakan oleh para pembuat undang-undang adalah kekuasaan tertinggi yang di atasnya tidak ada kekuasaan lagi. Sedangkan daulah kebangsaan sekuler yang berhukum dengan selain syareat dan seringnya mengikuti hawa nafsu mayoritas atau lebih detail lagi hawa nafsu mayoritas pengambil suara, maka kepemimpinan negara itu adalah milik rakyat dan yang berkuasa di dalamnya adalah suara mayoritas, dan undang-undang pemerintahan di dalamnya seringnya adalah demokrasi yang harus mengikuti hawa nafsu mayoritas yang tidak boleh menylisihinya, inilah perbedaan penting yang pertama.”[3]

 Beliau berkata di tempat lain:

“Dan negara demokrasi tidak terjadi kecuali pasti sekuler – artinya bukan negara agama – karena yang berkuasa dan sumber hukum di dalamnya bukan milik Allah ta’ala semata akan tetapi hawa nafsu mayoritas…. dan pemerintah Mesir adalah pemerintah yang mengaku berdemokrasi, artinya sumber hukumnya adalah hawa nafsu mayoritas, sedangkan pemerintahan islam adalah pemerintahan yang berdasarkan syura yang menghukumi umat dengan syareat, dan para penguasanya berhukum kepadanya yang akan memilih dan mengevaluasi mereka.”[4]

Dan berkata di tempat lain beliau berkata dalam serial:

“Akan tetapi orang yang memperdalam perkara itu akan diketahui bahwa inilah hakekat demokrasi, karena demokrasi sebenarnya adalah sebuah agama yang menyembah satu berhala yang namanya “hawa nafsu suara mayoritas” tanpa beriltizam dengan agama apapun atau akhlak atau norma atau prinsip, maka segala sesuatunya bersifat nisbi atau tidak pasti, dan mungkin akan berganti atau berubah sesuai jumlah pengambil suara.”[5]

 Beliau juga berkata dalam silsilah:

“Inilah hakekat demokrasi, menghalalkan segala cara meskipun melanggar atau bertentangan, selama dibolehkan dengan dukungan suara mayoritas.

Demokrasi pada hakekatnya, adalah permainan menghitung suara tanpa sumber akhlak, norma, atau agama apapun dan inilah perbedaan yang paling nampak antara syura yang berdasarkan pada sumber hukum syareat dengan demokrasi yang tidak ada sumber hukumnya. Maka tidak mungkin dalam syura misalnya mengharuskan negara muslim untuk menyepakati bermuamalah dengan tawanan dan melarang penyiksaan kemudian melakukan perbuatan yang merusak kesepakatan itu karena mayoritas majlis syura berpendapat seperti itu.”[6]

Dan Adam Gadn – Azzam Amriki – berkata:

“Penerapan syareat itu bukan melalui pemilihan yang tunduk pada pemungutan suara, dan saya ingatkan bahwa penerapan syareat adalah kewajiban iman dan ibadah rabbani, dan bukan pilihan yang ditentukan oleh kerelaan suara terbanyak atau tunduk pada pemungutan suara, oleh karena itu di sini aku tidak menyeru untuk berhukum kepada suara mayoritas dalam masalah tahkim atau penerapan syareat agar dipilih atau diabaikan.”[7]

 Apakah Adnani bodoh atau tidak tahu dengan pemikiran Al Qaedah? Atau dia sedang berdusta?!

 RENUNGAN KEEMPAT:

AKTIVIS ISLAM DEMOKRATIS[8]

Bab ini termasuk bab yang paling luas tuduhannya, karena terbagi kepada umum dan khusus, diantaranya tidak mengkafirkan para thaghut (yang dimaksud adalah aktivis islam demokratis), dan bagian kedua berkaitan dengan doa kepada mereka dan mensifati mereka sebagai “pahlawan umat”!

Misalnya Adnani berkata dalam ceramahnya (Maa Kaana Manhajuna Wa Lan Yakun): “Lalu thaghut Al Ikhwan (Muslimin) menjadi orang yang menyerang mujahidin, yang menghukumi dengan selain syareat ar Rahman yang ia justru didoakan, dan ia disandingkan dengannya serta dicirikan bahwa dia adalah harapan umat dan salah satu dari pahlawannya…. wahai rabb, tanyakan kepada mereka mengapa mereka tidak melancarkan serangan atas korban muwahidin yang terbunuh di bukit Sina’i, mengapa mereka tidak menghasung manusia untuk memerangi thaghut itu? Dan atas dasar apa mereka memuji dan mendoakannya?”. Selesai.

Adnani di sini berusah untuk memisahkan teks dari konteksnya! Agar manusia menuduh bahwa doktor Aiman adz Dzhowahiri mendoakan doktor Muhammad Mursi bahwa ia salah satu dari pahlawan umat secara mutlak tanpa memberi syarat dengan beberapa hal!

Doktor Aiman Adz Dzowahiri berkata dalam risalahnya kepada doktor Muhammad Mursi, teksnya:

“Dan engkau hari ini dalam ujian yang besar, apakah engkau akan berpegang teguh kepada kebenaran tanpa tergoncang dan tidak plin plan serta tidak terusik, sehingga engkau menuntut penerapan syareat dengan jelas dan terang, serta menolak peradilan yang rusak, undang-undang sekuler dan peraturan sekuler, dan engkau terus membebaskan setiap jengkal tanah dari negeri islam yang terjajah, dan mengabaikan akan usulan apapun berupa perjajian, atau kesepakatan untuk mengendurkan diri, dan engkau berjanji kepada rabbmu engkau akan menampakkan kebenaran yang syareat mewajibkannya atasmu, dan janganlah engkau mengendurkan sikapmu akan hal itu meski sekejap, maka ketika itu saya sampaikan kabar gembira kepadamu bahwa dirimu akan menjadi salah satu pahlawan umat, dan tokohnya yang menonjol, serta pemimpin agungnya, dan umat di Mesir dan dunia islam akan berkumpul dibelakangmu dalam peperangannya melawan musuh islam.”[9]

Apakah di sana ada keraguan bahwa ketika Mursi berlepas diri dari undang-undang positif dan peraturan sekuler dan menuntut diterapkannya syareat dan jihad untuk membebaskan setiap jengkal tanah negeri islam dan tidak mengakui adanya kesepakatan-kesepakatan internasional, (maka ketika itu) dia akan menjadi salah satu pahlawan islam?!!

Perkaranya bukan seperti yang digambarkan oleh Al Adnani bahwa doktor Aiman berkata kepadanya: engkau adalah pahlawan islam meskipun engkau berada dalam menyelisihi islam.!!

Adapun mendoakannya: Sungguh doktor Aiman mendoakan doktor Muhammad Mursi dengan hidayah, beliau berkata dalam kalimat yang sama: “Aku memohon kepada Allah agar menunjuki hatimu, dan memperbaiki agama dan duniamu, dan aku memohon kepada Allah agar meneguhkan hatimu dan mengisi hatimu dengan keyakinan, keimanan serta keteguhan hingga engkau mampu membela agama dan syareat-Nya tanpa rasa takut dan gentar serta banyak berunding dan lelah.”

Lalu dimana celanya dalam mendoakan agar dapat hidayah? Sungguh nabi saw telah berdoa kepada Allah agar memuliakan islam dengan Umar bkn Khattab atau Abu Jahal meskipun keduanya sangat menyiksa kaum muslimin dengan sangat keras ketika itu! Sampai bahkan dikatakan seandainya keledai Umar bin Khattab masuk islam maka Umar tidak akan masuk islam!! Namun demikian beliau saw berdoa: “Ya Allah muliakanlah islam dengan orang yang lebih Engkau cintai dari dua orang ini, dengan Abu Jahal atau Umar bin Khattab.”[10]

Bahkan perkara ini juga ada pada masa Al Qaedah Usamah, misalnya Abu Yahya Al Libbi menyebutkan perkara yang terjadi pada gerakan Hamas – dan itu juga terjadi pada doktor Muhammad Mursi -, kemudian beliau berkata pada akhir risalah: “Ya Allah berilah petunjuk kepada Hamas dan tunjukkanlah jalan kebenaran dan perbaikan.”[11]

Adapun tidak mengkafirkan dan memerangi mereka: Maka teori Al Qaedah Usamah juga tidak mengkafirkan pemerintah Hamas dan juga dua syaikh Libya (Abu Laits dan Abu Yahya Al Libbi) dan juga doktor Aiman Adz Dzowahiri! Bahkan syaikh Athiyyatullah Al Libbi mengatakan dengan jelas tentang hal itu ketika berkata: “Dan kesalahan yang dilakukan Hamas maka kamj berharap bahwa mereka mendapat udzur karena takwil dan mengambil fatwa sebagian ahlul ilmi yang mereka percayai, dan kami tidak menghukumi mereka dengan kekafiran, bahkan mereka menurut kami adalah kaum muslimin yang salah, dan kami berusaha untuk menasehati dan membimbing mereka sebagaimana yang kami lakukan kepada setiap kaum muslim.”[12]

Dan doktor Aiman Adz Dzhowahiri pada zaman Al Qaedah Usamah: “Aku tidak sepakat untuk mengkafirkan para pemimpin Hamas, karena takfir Muayyan adalah masalah yang berbahaya, harus ada terpenuhinya syarat-syarat dan hilangnya penghalang-penghalang, dan aku nasehatkan kepada para saudaraku untuk meninggalkan masalah ini, dan memfokuskan untuk mendukung Hamas jika ia benar, dan mengkritiknya jika salah dengan cara yang ilmiyah dan dakwah yang obyektif.”[13]

Dan Turki Bin’Ali menulis surat kepada syaikh Al Maqdisi dan telah disebutkan oleh Syaikh Abdullah Al Muhaisini dalam kitabnya[14], dia berkata: “Wahai syakh ku yang tercinta, sungguh aku tahu sikapmu dalam kebenaran, dan sungguh engkau tidak takut karena Allah dengan celaan orang-orang yang mencela, dan aku tetap terus menyebutkan hal yang baik ketika engkau menyelisihi doktor Aiman Adz Dzhowahiri, syaikh Abu Yahya Al Libbiy, syaikh Athiyyatullah Al Libbiy, syaikh Abul Walid Al Ghaziy al Anshori, Syaikh Abu Qatadah Al Filisthini dan syaikh Abu Bashir Al Thurthusi…. serta banyak lagi yang lainnya, yaitu tentang pengkafiran Hamas”!

Syaikh Athiyyatullah Al Libbiy – termasuk pimpinan pada masa syaikh Usamah – berkata tentang Hamas setelah pembantaian masjid Ibnu Taimiyyah, teksnya: “Dan kami berlepas diri kepada Allah terhadap apa yang dilakukan oleh pemerintah Hamas, yang termasuk dosa besar dengan sikap berani mereka dalam membunuh mujahidjn yang menyelisihinya, dan kami menakuti mereka atas nama Allah dan mengingatkan mereka dengan siksaan-Nya, akan tetapi kami juga tidak berpendapat bagi ikhwah-ikhwan kami pilihan untuk berbenturan dengan Hamas dan para pejuangnya.[15]

Syaikh Abul Walid Al Maqdisi berkata – Amir jama’ah Tauhid wal Jihad di Gazza – berkata tentang Hamas dalam fatwa no. 1128, dalam Mimbar Tauhid wal Jihad, teksnya:

“Akan tetapi di setiap tempat sesuai kondisinya, dan bagi setiap kelompok memiliki kemampuan dan kesanggupannya, oleh karena itu kami tidak berpendapat di Gazza ini untuk memerangi pemerintah (Hamas), karena memeranginya akan menyebabkan terkurasnya tenaga dan kekuatan mereka, dan bisa memberangus mereka, apalagi mereka dalam kondisi lemah, dan tergesa-gesa dalam berhadap-hadapan menyebabkan tertumpahnya banyak darah kaum muslimin yang tak berdosa, yang juga termasuk sebab manusia lari dari dakwah tauhid.”

Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi – yang mana mereka berusaha membuat beliau bergabung meskipun adanya penyimpangan padanya sebagaimana yang mereka klaim – dalam fatwa no. 1599, dalam Mimbar Tauhid wal Jihad, teksnya: “Oleh karena itu kami tidak memberi fatwa atau tidak menyeru sedikitpun dari apa yang ditulis untuk memerangi pemerintah Hamas apalagi harokahnya.”

 RENUNGAN KELIMA:

SIAPA YANG MEMISAHKAN BARISAN DARI SIAPA?

Adnani mengklaim bahwa daulah tidak ada ikatan baiat dengan Al Qaedah, akan tetapi hanya hubungan penghormatan, dan al qaedah mencampuri urusan perselisihan antara Al Baghdadi dan Al Jaulani dan membela orang yang membelot atas amirnya! Dan semua disebutkan oleh Al Adnani dalam judul “Udzron Amiral Qaedah”, dalam membantah atas pernyataan doktor Aiman Adz Dzowahiri yang berjudul “Syahadah li Haqni Dimail Mujahidin Bis Syam”, di dalamnya dia menafikan keikut sertaannya kepada Al Qaedah, dan tetap berani bahwa hubungan al qaedah hanya sekedar pemuliaan dan sikap menghormati demi menyatukan barisan jihad dunia.

 Apakah hubungannya hanya sekedar itu?

Syaikh doktor Aiman Adz Dzowahiri menyebutkan teks salinan surat-surat daulah islam irak ke Al Qaedah dan yang disebutkan di dalamnya:

Syaikh -semoga Allah menjaganya – mewasiatkan agar menenangkan kalian atas permasalahan di sini, perkaranya berada dalam kebaikan dan perkembangan serta semakin kokoh, segala puji bagi Allah, dia menanyakan tentang apa yang cocok menurut pandangan kalian ketika mengumumkan amir yang baru untuk tandzim kalian, apakah daulah memperbaharui baiatnya secara terang terangan atau secara sembunyi-sembunyi sebagaimana yang sudah diketahui dan sudah pernah dilakukan sebelumnya?”[16]

Perhatikanlah perkataannya (daulah memperbaharui baiatnya?), artinya bahwa di sana ada baiat yang terikat antara daulah dengan Al Qaedah, dan bukan hanya sekedar hubungan penghormatan sebagaimana yang dikatakan oleh Al Adnani.

– Kemudian Al Adnani berkata membantah kesaksian doktor, teksnya: “Sesungguhnya semua yang engkau katakan dari kesaksianmu itu benar.”[17] Yaitu pengakuan akan keshohihan kesaksian doktor Aiman Adz Dzowahiri yang disebutkan di dalamnya surat Daulah kepada Al Qaedah dan memintanya untuk memperbarui baiat!!.

– Kemudian syaikh doktor Aiman Adz Dzowahiri dengan sighat “bahasa” baiat Abu Bakar Al Baghdadi kepada Al Qaedah yaitu:

“Syaikh kami yang diberkahi, sungguh kami ingin menjelaskan kepada kalian dan mengumumkan di sisi kalian bahwa kami adalah bagian dari kalian, dan bahwa kami dari kalian dan untuk kalian, dan kami beragama kepada Allah bahwa kalian adalah pemimpin kami dan kalian memiliki hak atas kami untuk mendengar dan taat selama kami hidup, dan bahwa nasehat dan peringatan kalian kepada kami adalah hak kalian terhadap kami, dan perintah kalian adalah keharusan bagi kami, akan tetapi terkadang beberapa masalah membutuhkan penjelasan realita peristiwa yang kami alami di wilayah kami, kami berharap kalian berlapang dada untuk mendengarkan pandangan kami, dan perkaranya kami serahkan kepada kalian setelah itu dan kami tiada lain kecuali adalah panah yang ada di pundak-pundak kalian.”[18]

Lalu hubungan penghormatan mana yang mengharuskan adanya hak mendengar dan taat hingga mati? Dan hubungan penghormatan apa yang menyebutkan bahwa satu pihak memiliki keharusan bagi pihak lainnya?

Dalam penukilan ini, Adnani melakukan kedustaan yang berkata bahwa perintah al Qaedah adalah: “Bukan masuk dalam jendela daulah, sebagaimana hal itu bukanlah bersifat keharusan.”

Jika begitu maka kami menyimpulkan berikut ini:

– Bahwa perbuatan Al Jaulani bukanlah pengkhianatan dan bukan mencabut baiat, karena dia berhubungan dengan pemimpin umum sebagai ganti dari pemimpinnya secara langsung.

–   Dan bahwa Daulah menuduh dan mecela Al Jaulani atas sikap mencabut baiatnya kepada mereka dan memisahkan diri dari barisan mereka, itu juga hal sama dilakukan oleh daulah bersama Al Qaedah! Mereka telah mencabut baiatnya kepada Al Qaedah dan memisahkan diri dari barisannya! Maka mereka ini lebih utama untuk disifati sebagai pengkhianat!.

 RENUNGAN KEENAM:

MUBAHALAH!

Salah satu point yang menjadi bahasan mubahalah sebagaimana yang disebutkan oleh Al Adnani dan berkata bahwa itu adalah dusta, yaitu:

“Sesungguhnya kami menaikkan perkara ini kepada syaikh Aiman Adz Dzowahiri yang mana kedua belah pihak ridho beliau sebagai hakim dan qadhi.”

– Doktor Aiman Adz Dzowahiri berkata ketika meghukumi: “Dan telah sampai surat kepada kami dari kedua belah pihak.”[19] Artinya bahwa mereka menaikkan perkara kepada syaikh Adzh Dzhowahiri.

– Kemudian Syaikh Abu Abdul Aziz Al Qithri dalam rekaman video yang disebarkan di internet berkata: “Syaikh Al Baghdadi dan Syaikh Al Jaulani keduanya berkata: Kita menunggu dari syaikh Doktor Aiman Adzh Dzhowahiri – hafidzohullah -, jika datang perintah wahai syaikh Al Baghdadi pulanglah ke tempatmu di daulah islam Irak, maka dia berkata: kami mendengar dan taat, aku dan pasukanku akan pergi ke Irak.”

Dalam hal ini, ada pengakuan bahwa mereka ridho dengan syaikh doktor Aiman adz Dzhowahiri sebagai qadhi diantara mereka.!

Dan syaikh Abdul Aziz Al Qithri adalah pihak yang netral, dan Al Adnani telah memberi pujian dan rekomendasi dalam ceramahnya “Maa kaana manhajunaa wa lan Yakun”.

– Begitu juga Ketua umum Syar’iy daulah di Halab, yaitu “Umar Al Qahthani” mengakuinya dan berkata dalam rekaman audio yang tersebar di Internet: “Maka ketika datang keputusan syaikh Aiman Adz Dzowahiri, yang – teksnya – Abu Bakar Al Baghdadi berkata: “Aku bersumpah kepada Allah bahwa setiap orang yang membaiat Daulah denga tuntutan perintah syaikh Aiman Adz Dzowahiri adalah terikat baiat.”

Dan ini pengakuan lain bahwa ketua umum syar’iy daulah bersumpah bahwa Al Baghdadi menerima syaikh Adz Dzowahiri sebagai hakim!

Di sini menjadi jelas bagi kita bahwa Al Adnani telah bermubahalah atas kedustaan yang jelas!

Point kedua: Yaitu perkataan Al Adnani dalam ceramahnya “Ya qaumanaa Ajiibuu Daiyallah”: “Maka hati-hatilah bahwa engkau dengan memerangi daulah islam maka terjerumus ke dalam kekafiran, baik engkau tahu ataupun tidak tahu.”!!

Pada waktu itu dia sebutkan beberapa point yang ia bermubahalah atasnya dan bahwa itu termasuk kedustaan: “Bahwa daulah berpendapat bahwa setiap yang memeranginya maka ia telah menjadi orang yang memerangi islam dan keluar dari millah atau agama.”

Lalu bagaimana dia justru menegaskan apa yang ia nafikan sendiri sebelumnya? Kami tidak mengkafirkan orang yang memerangi kami, kemudian berkata siapa yang memerangi kami maka dia telah kafir!!! Jika dikatakan: karena yang memerangi kami sekarang tidak menerapkan hukum islam, apakah mereka sebelumnya (pada awal daulah islam irak… pentj….) juga menerapkan syareat?

 RENUNGAN KETUJUH:

PUJIAN ORANG KAFIR

Al Adnani mengklaim  bahwa bukti penyimpangan Al Qaedah adalah pujian orang kafir kepadanya, dia berkata dalam ceramahnya “Maa Kaana Manhajuna Wa Lan Yakun”: “Bukanlah Qaidatul Jihad siapa yang dipuji oleh orang-orang hina, dan para thaghut menyenanginya serta orang-orang yang menyimpang dan sesat berbicara lembut padanya.”

Meskipun perkara ini juga terjadi yang sama pada masa Al Qaedah Usamah dan Daulah itu sendiri.!!

Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh Al Akh Abdul Humaid Al Makki – semoga Allah membebaskannya – dalam membantah point ini:

“Ini bukanlah manhaj dalam menghukumi perkataan dan perbuatan serta pribadi dan kelompok dengan cara melihat orang yang memujinya dan orang yang mencelanya, hingga kita tahu bahwa apa yang kita berada di atasnya, apakah kita di atas kebenaran atau di atas kebathilan.

Akan tetapi manhaj yang syar’iy adalah: menghukumi pribadi seseorang melalui perkataan dan perbuatan mereka, dan sejauh mana di atas al kitab dan sunnah, baru kemudian tidak mengapa setelah itu menambah dengan seperti pujian dan celaan itu, akan tetapi itu bukan sesuatu yang berdiri sendiri dan secara dzatnya bisa memberi pengaruh yang dapat digunakan untuk menghukumi manusia.

Atas hal itu sungguh pujian sebagian orang yang memuji dari kalangan para penentang sebelumnya antara dua hal:

Pertama: Bahwa itu ada sesuatu dan tipu daya pada diri mereka sendiri, metode ini sekarang digunakan oleh musuh untuk memecah barisan mujahidin, karena mereka tahu bahwa memungkinkan dapat mempengaruhi dan memecah belah barisan mujahidin dan memberi andil dalam hal itu dengan cara ini, dan mereka tahu bahwa sekelompok orang terpengaruh dan menerima hal itu.[20]

Kedua: Bahwa sebagian telah terkesan dan terpengaruh oleh dakwah Al Qeadah, dan bukanlah iman itu dengan mendzolimi seseorang dan hal itu bukanlah hal yang sulit bagi Allah, khususnya bahwa Al Qaedah sangat memperbanyak ceramah-ceramah dakwah media dan berjalan di atas siyasah syar’iy dalam bergaul dengan manusia, melembutkan hati mereka dan mendekatkan mereka kepada kebenaran dengan hal itu.”[21]. Selesai.

Sedangkan khusus Al Qaedah Usamah: Abu Jarir Asy Syimali telah menulis dalam majalah (Dabiq) dan itu majalah resmi daulah, sebuah makalah dalam edisi keenam yang judulnya (Qaidatu Waziristan), dia berkata di dalamnya pada halaman, 43:

“Dan terakhir pada ujung 2010 kami dibebaskan, akan tetapi rafidhoh tetap menahan sebagian ikhwan di penjara, diantara mereka adalah dua ikhwan yang telah saya sebutkan tadi, yang mana keduanya tidak memberikan baiatnya kepada Al Qaedah (Khalid Al Ar’uuri dan Shuhaib Al Urduni), dan aku meyakini bahwa sebab tidak dibebaskan keduanya karena tidak baiatnya kepada Tandzim.”

Karena pemerintah Iran mensyaratkan dibebaskannya seseorang dengan harus berbaiat kepada Al Qaedahnya Usamah!!! Jika begitu maka apa bedanya antara al qaeda Usamah dengan Al Qaedah Aiman yang mana Al Adnani sendiri berkata tentang keduanya: “Bukanlah Al Qaedah yang orang-orang hina memujinya dan para thaghut bersikap baik padanya.”?!

Saya katakan: sebagai analogi atas hal ini, maka sesungguhnya Al Qaedah Usamah semestinya lebih menyimpang dari Al Qaedah Usamah! Karena pada Al Qaedah Usamah, pemerintah Iran menjadikan baiat kepadanya sebagai syarat untuk dibebaskannya para pemuda dari penjara! Sedangkan Al Qaedah Aiman hanya sekedar dipuji saja.

Adapun khusus dengan daulah: Lalu bagaimana kami menyikapi atas pujian Izzat Ad Duri – Pimpinan Umum partai Ba’ats – atas daulah islam? Yang mana ia berkata dalam ceramahnya tertanggal 12/7/2015, teksnya: “Semoga Allah menghidupkan pasukan dan kelompok revolusi, dan tokoh mereka semua itu adalah para pahlawan dan ksatria daulah islam, mereka mendapat ucapan selamat dariku khususnya kemuliaan, penghormatan kecintaan, ucapan penghormatan kepada para pimpinan mereka.” Selesai.

Dengan analogi dan timbangan ini, maka kami katakan: apakah daulah telah menyimpang? Lalu bagaimana para anggota partai Ba’ats memujinya? Lebih jelas dari hal itu bahwa Jabhah Wihdatul Iraq mengeluarkan pernyataan tertanggal 27 Januari 2010, yang disampaikan oleh Muhammad Khalil At Tikriti, ia mengumumkan di dalamnya sikap memisahkan Jabhah dari partai Ba’ats karena ucapan pimpinan umum partai Ba’ats dalam memuji daulah dan persekutuan mereka dengannya!!.

Mantan penggagas hubungan Libya Mesir di pemerintaha  Libya Qadzaf Ad Dami dalam wawancara di televisi dengan kantor berita (Duroim) tertanggal 17Januari 2015 berkata: “Aku bersama Daisy dan mereka orang-orang yang bersih”, dan rekamannya ada di Youtube.

Dan Nuri Al Muradi, mantan anggota partai Komunis dan penulis di situs “Al Hiwar Al Mutamadun”[22], dan dalam belum beberapa lama masih saja menokohkan diktator Saddam Husain termasuk yang membela daisy dalam melawan arus, tertanggal 26 Mei 2015 di hadapan Hasan Dughoim.

Seorang komandan dalam pasukan Suriah Muhammad Barkat dalam akun resminya di Facebook tertanggal 18 Mei 2014 menulis statusnya: “Dan sebagian orang yang mengkritik pasukan Arab Suriah tidak tahu bahwa daisy telah membunuh lebih dari 2000 teroris di Halab akhir-akhir ini, dan para pengkritik Pasukan Arab Suriah tidak tahu bahwa Daisy hari ini membunuh ratusan orang-orang bayaran Al Qaedah di Der Az Zour yang melakukan serangan begitu besar dan kuat kepada tentara kita secara terus menerus di sana, yang ingin aku katakan bahwa para komandan Pasukan Arab Suriah hendaknya mengambil hikmahnya dengan melakukan gencatan senjata sementara dengan daisy bahkan jika perlu menguatkannya jika perkaranya menuntut untuk itu, selama terwujud bagi kita faedah yang besar!”.

Maka berdasarkan analogi daisy dalam menentukan alasan sebuah penyimpangan, maka Al Qaedah Usamah dan Al Qaedah Aiman dan juga Daisy semuanya menyimpang! Lalu bagaimana kamu mencela orang lain sementara kamu juga terjerumus di dalamnya?!

[1] At Taharraru min Dairatil Abatsi Wal Fasyl, hal: 12.

[2] Syamsun Nashr Al Bazighah alal Ummah Al Muntashirah wash Sholibiyah Al Munhadirah, 8/9.

[3] Tauhidul Kalimah haula Kalimatud Tauhid, hal: 23.

[4] Risalatul Amal wal Bisyru Liahlina fi Mishr, 1/4.

[5] Idem 4/6.

[6] Idem 5/16.

[7] Ummatu Tadh-hiyyah wal Istisyhad, hal: 117.

[8] Daulah menganggap tidak mengkafirkan para aktivis itu adalah penyimpangan! Disebutkan dalam majalah resminya Dabiq hal 20, teksnya: apakah – Harits An Nadhari – bermaksiat kepada amirnya yang membelanya dengan menganggap ia tidak menyimpang?! Kemudian mereka jelaskan dalam catatan kaki penyimpangan ini, mereka berkata: “Adzo Dzowahiri tidak mengkafirkan aktivis islam yang berparlemen dan juga tidak mengkafirkan rafidhoh majusi.”

[9] At Taharraru min Dairatil Abatsi wal Fasyl, hal: 24.

[10] Dishahihkan oleh Al Albani dan At Tirmidzi.

[11] Hamas Wal Aradhul Qarib, hal: 5.

[12] Ajwibatul Hisbah, hal: 72.

[13] Majmu Abhaats wa Rosail wa Taujihaat syaikh Aiman Adz Dzhowahiri, hal: 475.

[14] Ash Showaiq Al Husainiyah fi Dahdhil Istidlaalaatil Manamiyyah, hal: 6.

 [15] Rilisan (Al Gharbu wan Nifaqul Mudzlimu, bag. 2) dirilis oleh Yayasan As Sahab 1430 H.

[16] Syahadah Li Haqni Dimail Mujahidin bisy Syam, hal: 4.

[17] Udzron Ya Amiral Qaedah, hal:8

[18] Jawabun Ala Masyayikhil Kiram, hal: 1.

[19] Khithobul Fashl, hal 2.

[20] Di sana ada permainan kotor yang dilakukan oleh sebagian wartawan barat, lihat risalah “Yuriiduuna “Da’dasah” al Jihad….!” Syaikh Abul Mundzir Asy Syinqithi…

[21] Roddan Alal Baiah Al Khurosani, hal: 20.

[22] Situs Al Hiwar Al Mutamaddun adalah sebuah situs yang menyeru kepada masyarakat madani yang nasionalis dan demokratis, berbicara seputar kebebasan, keadilan sosial bagi seluruh masyarakat, sebagaimana yang tertulisa dalam namanya, kebanyakan makalahnya di situs tersebut menyeru kepada perkara ini.

 Bersambung…..

(AR/AJ/AnsharAlIslam)

Advertisements