Anshar Al-Islam

Risalah yang ada ditangan saudara adalah rangkuman dan ringkasan serta dokument, siapa sebetulnya yang menyimpang?  Sebagai orang yang mengenal daulah Iraq, bahkan beliau termasuk sahabat yang dekat dengan orang-orang daulah selayaknya kita mengkaji dan mentelaahnya, sungguh telah begitu banyak surat ditujukan kepada cabang tanzhim Al-Qaeda iraq satu ini termasuk  ketika mereka manjadi klaim Khilafah palsu ditahun 1 muharram 2014 ini, salah satu nasehat yang paling besar adalah kehati-hatian mereka kepada urusan darah kaum muslimin, Risalah yang kita tuangkan ini adalah sekian dari nasehat-nasehat kepada tanzhim daulah agar jihad nya sesuai rel syar’i yang berlaku, tidak ada kata lelah menasehati mereka kecuali orang-orang yang merasa dirinya cukup. Anshar Al islam media sebagai penyambung ulama kepada ummatnya hadir untuk merilis risalah ini, semoga kita bisa mengambil pelajaran dari risalah ini, selamat membacanya.

POINT PERTAMA:

MASALAH TAKFIR TERHADAP SYI’AH DAN MEMERANGI MEREKA.

 Adnani mengklaim bahwa diantara penyimpangan al Qaedah Aiman dari Al Qaedah Usamah adalah perubahan pendapat mereka dalam menghukumi Rafidhoh! Dia berkata dalam pernyataan (Maa Kaana Manhajuna Wa Lan Yakun) dalam perkataannya tentang perkara yang membuat al qaeda menyimpang: “Dan bahwa rafidhoh musyrikin najis, pada mereka ada beberapa pendapat, dan itu tempatnya dakwah bukan peperangan”. Selesai.

Meskipun ini adalah sebenarnya sikap doktor Aiman sebelum ia bersatunya Al Qaedah dengan Jama’ah Jihad, beliau berkata tentang syi’ah (Dan barangsiapa yang Amiy (awam) dan bodoh maka ia ma’dzur atau diudzur karena kebodohannya)[1]. Dan ia tidak merubahnya hingga hari ini atau ia tidak mengatakan yang bertentangan dengan apa yang telah ia sebutkan! Bahkan syaikh Usamah tidak mensyaratkan kepada beliau agar melepaskan pendapat ini  – jika ini adalah penyimpangan yang sudah jelas – hingga bergabungnya dua jama’ah itu[2], dan ketika sudah benar-benar bergabung beliau (syaikh Usamah) mengangkatnya sebagai wakil meskipun beliau memiliki pendapat ini!.

Dan di pihak lain, bahwa doktor Aiman Adz Dzowahiri mengulangi kembali pendapat yang sama pada zaman al Qaedah Usamah dalam liqa’ maftuh atau pertemuan terbuka pertama: (Sikapku dari awam syiah adalah sikap ulama ahlus sunnah, yaitu bahwa mereka diudzur karena kebodohannya…. dan awam mereka yang tidak ikut serta dalam memusuhi kaum muslimin, maka jalan kami bersama mereka ini adalah dakwah dan menyingkap kebenarannya)[3].

 Dan beliau juga berkata dalam Risalah kepada Abu Mush’ab Az Zarqawi tahun 2005 M: (Mengapa awam syiah dibunuh padahal mereka diudzur karena kebodohan mereka?)[4].

Meskipun pendapat ini telah disepakati oleh pihak pimpinan di Khurasan, berkata syaikh Athiyyatullah Al Libbi dalam risalahnya kepada Az Zarqawi membicarakan tentang risalah Doktor Aiman: (Dan aku melihat kalimat mereka terkumpul pada rangkaian pengkaijan dan pengarahan, yang dapat engkau temui dalam risalah doktor, dan itu merepresentasikan pemikiran para ikhwah masyayikh dan tokoh-tokoh ilmu dan adab seluruhnya di sini)[5].

Namun demikian Az Zarqawi tidak mengatakan mereka ini telah menyimpang!!

Dan Athiyyatullah juga berkata – dan ia dadi Al Qaedah Usamah -: (Dan yang benar bahwa pada mereka – artinya rafidhoh – perlu perincian, tidak semua yang menisbatkan dirinya kepada kelompok syiah rafidhoh kafir secara pasti, akan tetapi kita memperinci mereka sesuai dengan keyakinan dan amal masing-masing personal, dan sesuai keadaannya)[6].

Yang mengherankan bahwa perkara ini bukan saja terbatas pada dua al Qaedah, namun juga ada pada kebanyakan pemikir mereka. Turki bin Ali – qadhi pertama mereka – dalam rekaman audio yang disebar di internet berkata:

(Dan para ulama berselisih pendapat tentang syiah….. dan hasilnya juga perselisihan mereka tentang masalah ta’yin syiah dengan kekafiran, atau bahwa mereka berpendapat kafir dengan kekafiran kelompok….., maka kami meringkas dari pendapat-pendapat bahwa salaf tidak serta merta mengkafirkan syiah imamiyah, mereka berselisih pendapat apakah mereka kafir secata ta’yin (personal) atau kafir dengan kekafiran secara kelompok? Kami berpendapat ringkasan masalah bahwa siapa diantara mereka yang menolak dengan kekuatan seperti pemerintahan rofidhoh dan seperti milisi-milisi rafidhoh maka mereka itu dikafirkan secata ta’yin (personal), adapun selain mereka maka dilihat siapa yang melakukan pembatal islam secara jelas maka seperti itu pula penilainnya, dan jika tidak maka juga tidak kafir. Wallahu a’lam).

Dan sisi lain juga bahww pendapat ini adalah pendapat mayoritas aktivis jihadi, Abu Mush’ab As Suri berkata: (Syiah Ja’fariyah “Imamiyah”: mereka itu seperti mayoritas syiah Iran, dan minoritas di Lebanon, Pakistan dan Afghanistan serts kawasan Timur Tengah… Mayoritas aktivis jihad menganggap mereka itu sesat termasuk pelaku bid’ah. Di waktu yang sama sebagian aktivis jihadi berpendapat secara jelas akan kekafiran syiah. Namun jumhur atau mayoritas aktivis jihad menganggap mereka kaum muslimin dari ahlul qiblah yang sesat dan berbuay bid’ah)[7].

Bahkan hingga syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi juga seperti itu dalam perkara ini, beliau berkata: (Dan aku berada pada madzhab syaikhul islam Ibnu Taimiyyah untuk tidak mengkafirkan awam syiah, terdapat pada mereka orang-orang awam yang tidak tahu kecuali sholat dan puasa dan tidak tahu secara detail tentang madzhab yang dibicarakan oleh ikhwan-ikhwan kita berupa pendapat tentang penyimpangan terhadap al qur’an dan kekafiran-kekafiran lainnya yang sebagian ulama sunnah mengkafirkan rofidhoh syiah)[8].

Namun demikian ketika Az Zarqawi membantah beliau tidak mengatakan engkau telah menyimpang karena engkau tidak mengkafirkan awam syiah! Akan tetapi beliau berkata: (Ketahuilah wahai syaikh yang agung! Sesungguhnya aku ragu pada diriku sendiri akan tetapi aku tidak ragu dengan agama yang telah engkau miliki….. dan sebelum penutup harus kukatakan, bahwa syaikh Al Maqdisi semoga Allah menjaganya termasuk orang yang dijaga hak dan ujian mereka, dia termasuk yang orang yang harus disangka yang baik, dan ia lebih utama untum mendapat udzur dan selamat dari bencana, dan aku tidak menyangka seseorang yang bertauhid pada zaman ini kecuali syaikh telah memiliki keutamaan, maka tidak maksudnya bahwa sisi kebenaran suatu masalah tidak seharusnya merendahkan kadar kemampuan dan ilmunya dan tetap menjaga senioritas dan banyaknya ujian yang dialaminya)[9].

Meski Al Maqdisi memiliki pendapat ini namun Daisy berusaha memasukkan syaikh kepada daulah dan tidak berkata bahwa dia (Al Maqdisi) menyimpang, Turki bin Ali berkata kepada syaikhnya yang lebih senior, Abu Muhammad Al Maqdisi: (Bahkan amirul mukminin Abu Bakar Al Baghdadi semoga Allah menjaganya telah mengirim surat kepadamu dan memberitahukan bahwa beliau bisa membawamu kepada mereka, namun engkau meminta izin ketika itu, disertai usahamu berkali-kali ketika itu untuk pergi ke Gazza atau ke Khurosan)[10].

Dan yang aneh, mereka berusaha mengajak bergabung orang-orang yang manhajnya menyimpang, kemudian mereka mengingkari jama’ah -jama’ah lain jika pada mereka ada seseorang yang merokok atau semisal itu.

Adapun jika tidak mentarget seluruh rafidhoh itu adalah penyimpangan, maka Abu Mush’ab As Zarqawi sudah tentu salah satu yang menyimpang! Karena beliau mengecualikan dan bersikap netral kepada salah satu kelompok dari mereka, telah diterbitkan penjelasan resmi tandzim Al Qaedah di Negeri Dua Sungai (Irak) dengan judul: (penjelasan dari tandzim al Qaedah di Negeri Dua Sungai seputar sikap tandzim, setelah kalimat Abu Mush’b) tertanggal Senin 15/Sya’ban/1426 H bertepatan dengan 19/09/2005 M. Disebutkan di dalamnya: (Dan tandzim telah menyelidiki dan memastikan dengan metodenya yang khusus ketidak ikut sertaan dengan kelompok-kelompok lain dalam pembantaian ini, dan tidak membantu kelompok lain bagi penjajah, dan membantu kejahatan mereka, seperti kelompok Ash Shodri, Al Khalishi dan Al Husni, serta lainnya, maka tandzim menetapkan untuk tidak melakukan konfrontasi dalam bentuk gangguan apapun kepada tokoh dan awam kelompok ini, selama mereka tidak berperan serta.)

Abu Mush’ab Az Zarqawi juga berkata dalam memberi catatan dengan pengecualian ini: (Ada pengecualian berdasarkan bahwa di sana ada kaum rafidhoh yang takut dengan ikut intervensi dalam perang melawan ahlus sunnah, dari sini kita memberi pengecualian dan kami katakan: Jika engkau ingin selamat maka tahanlah diri kalian dari keluarga kami, tinggalkan membantu Amerika dan biarkan peperangan hanya antara kami dengan kaum salibis)[11].

Dan syaikh Aiman Adz Dzhowahiri berkata – pada masa Al Qaedah Usamah – dalam membantah Sayyid Imam, menjelaskan maksud syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi: (Kemudian penulis membahas tentang syiah dan membunuh syiah, dan aku sangat ingin menjelaskan perkaranya, yaitu bahwa akh syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi -rh – setelah peristiwa Tal Afaf, yang mana milisi syiah telah berlaku melampaui batas atas kehormatan kaum muslimin, beliau mengeluarkan penjelasan untuk memerangi seluruh syiah di Irak, dan media sangat memperhatikan sekali hal itu, kemudian setelah dua hari lembaga syareat Tandzim Al Qaedah di Negeri Dua Sungai mengeluarkan pernyataan, dan menjelaskan serta menerangkan hal-hal yang masih umum dan rancu pada pernyataan pertama, yang mana itu dirilis sebagai bantahan atas perbuatan serangan yang mengenaskan yang dilakukan di Tal Afar, dan menegaskan bahwa tandzim Al Qaedah di Negeri Dua Sungai tidak mentarget awam Syiah, akan tetapi menarget milisi-milisi yang menjadi antek seperti pasukan Al Badr, dan itu adalah pernyataan yang media pura-pura tidak tahu)[12].

Adapun syiah di tempat perang tidak ada dakwah secara mutlak maka konsekwensinya bahwa Abu Umar Al Baghdadi  – Amir Daulah Islam Irak – juga menyimpang, beliau berkata kepada rafodhoh; (Namun pintu taubat itu masih tetap terbuka bagi kalian, dan janganlah kalian mengira bahwa kami akan membasmi pertanian dan membunuh kalian seluruhnya tanpa meninggalkan seorangpun jika kami menguasai perkara kalian, karena pembunuhan serampangan tanpa ketentuan syareat adalah haram dalam agama Allah, dan muamalah kami dengan kalian akan terjadi sesuai dengan tuntutan syareat Allah dengan seperti keadaan kalian ini adalah: dakwah kepada kebenaran, menjelaskan manhaj dan menghilangkan syubhat dengan lemah lembut dalam semua ini, dan barangsiapa yang mengabaikannya maka hukumnya adalah milik Allah, awal dan akhirnya.)[13].

 Maka konsekwensi dari petikan ini adalah:

  • Bahwa Al Qaedah pada masa Usamah menyimpang. Beliau mengulang beberapa kali pendapat ini yaitu mengudzur awam syiah
  • Bahwa mayoritas aktivis jihadi menyimpang.
  • Bahwa Abu Umar Al Baghdadi juga menyimpang.
  • Daulah Baghdadi berusaha memasukkan orang-orang menyimpang untuk bergabung, maka seharusnya ia tidak mencela jama’ah-jama’ah lain jika daulah melakukan yang sama!.
  • Perbedaan neraca dan mensifati “penyimpangan” antara syaikh Az Zarqawi dengan orang yang mengklaim berjalan diatas manhajnya.

POINT KEDUA : MANHAJ MEYAKINI ADANYA PERDAMAIAN

Al Adnani mengklaim bahwa termasuk penyimpangan Al Qaedah Aiman dari Al Qaedah Usamah adalah keyakinan mereka dengan perdamaian, dia berkata dalam (Maa Kaana Manhajuna wa Lan Yakun), dalam ucapannya dari perkara yang mana Al Qaedah telah menyimpang: “Akan tetapi permasalahannya adalah permasalahan din yang telah bengkok, dan manhaj yang menyimpang, manhaj yang mengganti dari menyerukan lantang millah Ibrahim, kufur dengan thaghut, berlepas diri dari pengikut -pengikutnya dan jihad mereka, dengan manhaj Perdamaian!”. Selesai.

Adapun dalam kalimat (Perdamaian itu agama siapa?) Telah ditetapkan beberapa makna, diantaranya:

  1. Bahwa perdamaian itu dibuang ke sampah! Dan menyeru kepadanya adalah bathil!
  2. Dan bahwa perdamaian tidak membenarkan yang benar dan membathilkan yang bathil! Dan barangsiapa yang mengaku hal itu benar maka dia mengaku bahwa dirinya lebih tau dan lebih pintar dari nabi saw dan bahwa petunjuknya lebih utama dari petunjuk nabi saw.
  3. Barangsiapa yang mengaku bahwa agama Allah bisa tegak dengan seruan perdamaian maka dia telah menghantamkan kitabullah dan sunnah nabinya ke dinding dan mengikutu hawa nafsu.
  4. Fiqh perdamaian adalah fiqh ketundukan, kekalahan dan kehinaan!
  5. Bahwa ayam betina lebih berani daripada orang yang menyeru pada kedamaian.

Dapat dipahami dari perkataan Al Adnani pertama bahwa al Qaedah (telah mengganti) artinya meninggalkan jihad dengan perdamaian!.

Dan konsekwensi dari perkataannya bahwa jajaran pimpinan Al Qaedah yang baru memerintahkan para tentaranya untuk melemparkan senjata, dan masuk ke dalam kota dan masuk ke organisasi-organisasi yang nampak di permukaan, dan bagi para tentara daulah diperintahkan untuk membenarkan gambaran ini dan mengulang-ngulangnya tanpa berpikir, menyebarkan tuduhan terhadap lawan seterunya hingga mereka tidak menuduh jubirnya sebagai pendusta!

Dengan tanpa mengindahkan atau menutup mata bahwa tentara-tentara Al Qaedah hingga hari ini dibunuhi sedangkan mereka masih menenteng senjata!

Namun demikian – sebagaimana yang dikatakan oleh Al Adnani – mereka telah mengganti jihad dengan perdamaian!!!.

PERTAMA: HARUS DIBEDAKAN ANTARA MEMBATASI DIRI DALAM MEWUJUDKAN TUJUAN MELALUI PERDAMAIAN DENGAN MENGAMBIL PERDAMAIAN SEBAGAI JALAN DARI SEKIAN JALAN DALAM RANGKA MEWUJUDKAN TUJUAN.

Syaikh Athiyyatullah Al Libbi berkata menjelaskan point ini – dan ia termasuk pada masa Al Qaedahnya Usamah: (Yang benar bahwa al Qaedah dan mujahidin tidak menolak kegiatan perdamaian secara mutlak, dan sekali-kali tidak ada seorangpun berkata seperti itu dalam perkataan dan dakwah mereka selamanya, akan tetapi menyeru untuk melakukan perlawanan kekafirnlan, kelaliman, kedzoliman dan pemerintahan yang memiliki ciri-ciri itu dengan seluruh sarana yang disyareatkan sesuai dengan kemampuan, dan yang paling utama dan pentingnya adalah jihad. Akan tetapi yang diingkari oleh mujahidin bahwa menjadikan manhaj perdamaian sebagai ganti secara mutlak atas manhaj jihad yang bentuknya mempersiapkan kekuatan dan peperangan di jalan Allah dengan senjata, pukulan, pembunuhan dan pengeboman. Adapun jika ada gerakan damai yang memungkinkan dan dapat mewujudkan tuntutannya atau sebagiannya hanya sebagai tahapan, dan pelaksanaannya tidak keluar dari syareat maka para mujahidin tidak melarang hal itu, bahkan mereka mendukungnya dan menyerukannya, berapa banyak para pimpinan Al Qaedah menyerukan kepada rakyat untuk melakukan aksi gerakan rakyat dan demo serta berpegang teguh pada kedudukannya)[14].

Syaikh Aiman Adz Dzhowahiri berkata pada masa Al Qaedah Usamah sebagai jawaban atas pertanyaan: “Engkau seperti dalam pernyataan-pernyataan dahulu mengkritik para penyeru aksi-aksi perdamaian, akan tetapi aku mendengar kalian hari ini menyeru kepada gerakan politik dan demo massal dan pergolakan?” Beliau berkata: (Tidak. Aku mengkritik orang yang menyeru untuk membatasi perlawanan terhadap pemerintahan yang berkuasa di negeri kita dan penjajah salibis hanya dalam aksi damai saja, dan yang paling buruk darinya tentu adalah orang yang mengkritik orang-orang yang menyerukan untuk memerangi dan berjihad melawan mereka, akan tetapi aksi-aksi massa dapat menyempurnakan dan membantu aksi-aksi jihad dan perang)[15].

 Untuk membantah pada point ini ada dua bagian:

  1. Apakah Al Qaedah telah mengganti jihad dengan perdamaian?
  2. Apakah hanya sekedar meyakini adanya perdamaian itu tanda akan sebuah penyimpangan?

Pertama: (Apakah Al Qaedah telah mengganti jihad dengan perdamaian?), maka kami akan paparkan sejumlah penukilan:[16]

Syaikh Hussam Abdur Rauf – termasuk jajaran pimpinan tandzim Al Qaedah di Khurasan – berkata: (Kepada orang yang mengira bahwa ia bisa memperbaiki dunia dan melakukan perubahan pada realitas politik yang rendah bagi kaum muslimin dengan jalan-jalan damai yang merakyat atau populeslr, maka kami katakan: Sesungguhnya kalian telah mengambil setengah agama dan semoga saja kalian memiliki pemahaman yang baik dalam bagian ini dan cara menerapkannya, dan kalian telah menghapus setengah bagian lainnya yaitu, hukum-hukum jihad dan penegakan hukum had, hisbah serta sarana-sarana kekuatan dan hal yang menakutkan lainnya, yang bisa menjamin keselamatan dan keberlangsungan penerapan setengah bagian pertama, karena setengah bagian islam itu “qur’an yang memberi petunjuk” dan setengah lainnya “pedang yang membela”, karena Allah memberikan sesuatu dengan kekuasaan apa yang tidak diberikan pada al qur’an.”[17]

Syaikh Abu Dujanah Al Basya Al Bahthithiy berkata: “Dan sungguh sudah benar-benar bahwa para penjahat itu dengan perbuatan dan perkataannya telah mengalami kekalahan dengan apa yang dinamakan jalan damai, karena artinya dalam kamus mereka adalah menyerah dan tuntuk kepada keinginan mereka dan patuh kepada mereka. Adapun kebenaran yang tidak ada keraguan lagi adalah bahwa kebathilan tidak akan bisa dimusnahkan dan dikalahkan kecuali dengan kekuatan kebenaran, tanpa adanya kekuatan maka orang yang menyeru kepada perlawanan bathil dengan cara damai akan masih tetap terus berenang di lautan mimpi saja, dan bisa jadi di lautan darah tanpa ada ujungnya, makna ini telah nampak jelas dalam setiap rencana-rencana revolusi yang terjadi di wilayah kita, yang mana tidak membutuhkan lagi kepada perenungan bagi orang yang memiliki sedikit akal dan ada sisa kebaikan.”[18]

Azzam Amriki berkata: “Adapun bantahan bagi orang yang mengira bahwa demo-demo damai saja dengan segala kemampuannya dapat mewujudkan perubahan tanpa membutuhkan adanya jihad, mati syahid dan pengorbanan dengan yang paling mahal dan berharga. Maka sungguh peristiwa-peristiwa ini telah menegaskan kebenaran apa yang selalu ditekankan oleh para pimpinan jihad bahwa perubahan dan perbaikan tidak akan terwujud melalui jalan kota suara, dan tidak juga dengan melazimi kaidah-kaidah permainan politik, juga tidaj melalui meminta-minta di depan pintu para thaghut dan tuan-tuan mereka di ibukota negara barat, juga tidak melalui mudahanah atau toleransi, pengendoran dan berbalik arah.”[19]

Beliau berkata di seri yang sama: “Dan barangsiapa yang tetap meneruskan revolusi mereka dengan revolusi damai semata atau putih bersih sebagaimana dikatakan tidak ada di dalamnya tertumpahnya darah meski dengan kebenaran maka sesungguhnya dia belum membaca sejarah revolusi-revolusi.”[20]

 Beliau berkata juga di seri yang sama lagi: “Adapun jika kita menempel ke tanah (mengendur dan  menyerah) dan kita mencukupkan diri dengan jalan damai dalam membantah dan berhujjah, maka mereka akan tetap saja membunuh kita hingga tidak ada batas akhirnya.”[21]

Dan juga berkata: “Wahai para pahlawan islam yang sedang berevolusi di Libya, Suriah, Tunisia, Mesir, Yaman dan wilayah di sekitarnya, kalian telah melihat dan mengetahui bahwa perubahan dan mendapatkan haq yang terampas tidak akan diperoleh melalui kota-kotak suara, dan juga tidak dengan melazimi kaedah-kaedah permainan politik, tidak juga melalui meminta-minta dan mengemis-ngemis bantuan, juga tidak melalui menurunkan prinsip dan tepuk tangan, akan tetapi diperoleh dengan berpegang teguh dengan prinsip-prinsip, tujuan-tujuan, kesabaran dan mensabar-sabarkan diri, pengorbanan, mati syahid, peperangan dan jihad.”[22]

 Beliau juga berkata di tempat lain: “Sesungguhnya yang dituntut hari ini di Mesir adalah keberlangsungan dakwah dan jihad serta perang.”[23]

Seandainya benar bahwa manhaj al Qaedah yang baru telah berubah dari jihad melawan thaghut dengan meyakini cara perdamaian, lalu jika begitu mengapa disebutkan bahwa jihad adalah jaminan solusi yang ada di Mesir !

Dan beliau berkata di tempat lain, teksnya: “Wahai kaum muslimin di Libya, mereka berkata kepada kalian bahwa revolusi telah berakhir dengan jatuhnya rezim thaghut. Maka saya katakan kepada kalian: Sekali-kali tidak! Sesungguhnya revolusi kalian belum berakhir dengan jatuhnya rezim dan sekali-kali tidak akan berakhir hingga di Libya telah ditegakkan daulah islam independen yang menerapkan syareat, maka berpegang teguhlah wahai para ikhwah dengan agama kalian yang di dalamnya ada perlindungan perkara kalian, dan dengan senjata kalian yang mana di dalamnya ada keamanan, kekuatan dan kemuliaan kalian.”[24]

Seandainya meyakini perdamaian dan mengganti jihad dengan perdamaian maka mengapa menasehati mereka untuk berpegang teguh dengan senjata mereka! Maka apakah perdamaian membutuhkan perlindungan kepada senjata!

Dan Ustadz Abdullah Adam berkata: “Sungguh revolusi Libya telah memberikan contoh yang sangat baik dalam memenangkan musuh kejamnya, dan mencabut akar mereka dari tanah, dan setiap rakyat sangat ingin agar terwujud di Libya, orang yang membela harus orang yang membela rakyat Libya dan merasakan apa yang mereka rasakan.”[25]

 Satu-satunya revolusi bersenjata ketika itu dikatakan oleh orang yang merubah jihad dan perang dengan manhaj perdamaian bahwa itu adalah contoh yang sangat baik!…. renungkanlah ini….

Doktor Aiman Adz Dzowahiri berkata: “Orang-orang bertanya-tanya: Apa ganti dari peran yang main-main dan gagal itu? Gantinya adalah: Sunnah para rasul saw dan pengikut mereka: Dakwah dan jihad.”[26]

 Seaindanya dia meyakini cara perdamaian maka lebih utama yang dia katakan bahwa penggantinya itu adalah dakwah dan keluar dalam demo-demo damai!.

Beliau juga mengatakan dalam mengasung para pemuda negeri haromain: “Dan ikutilah orang-orang sholeh dari pahlawan kalian, ikutilah Usamah bin Laden, Anwar Aulaqi, Abdlah Ar Rusyud, Yusuf Al Uyairi dan Khattab rh.”[27]

Apakah Yusuf Al Uyairi dan Abdullah Ar Rusyud termasuk orang-orang yang keluar dalam demo-demo damai di negeri Haramain atau keluar dengan senjata?!

Dalam wawancara ketujuh dengan Yayasan As Sahab Media doktor Aiman ditanya dengan satu persoalan: “Aku ingin jawaban darimu, bagaimana mereka merubah sebagaimana yang engkau katakan? Aku ingin jawaban darimu tentang pertanyaanku kepadamu, apakah gerakan-gerakan rakyat yang keluar melawan militer dan sekutu mereka, orang-orang sekuler apakah menurutmu metode ini – mungkin – bisa membawa hasil?”

Maka Doktor Aiman Adz Dzowahiri menjawab: “Aku sebutkan kepadamu kaedah umum: Diantara hak orang yang didzolimi adalah membela diri dari musuh yang menyerang agama, kehormatan, jiwa dan hartanya dengan apa saja yang bisa digunakan mempertahankan diri baik bentuknya perkataan, dalil dan bukti atau perang….. inilah kaedah umum dan bukan haknya bagi penjahat yang dzolim, untuk membatasi atau menentukan orang yang didzolimi dan dilampau batas tentang metode yang wajib digunakan untuk melawannya, bahkan semua sarana syar’iy dibolehkan dan dibenarkan bagi yang didzolimi, dan bukan hak bagi seorangpun lain untuk mengharamkan sarana syar’iy untuk melawan kedzoliman dan menolak musuh yang menyerang. Amerika dan barat ingin membatasi perlawanan umat dan antek mereka dengan cara-cara damai saja.”[28]

Saya katakan: Seandainya ia telah mengganti jihad dan perang dengan perdamaian maka dia tidak akan menyebutkan bahwa perang adalah salah satu solusi, seharusnya dia berkata bahw kami dan Amerika sepakat untuk membatasi solusi dengan cara-cara damai!

Kemudian dalam makalah yang sama beliau ditanya: “Akan tetapi di sana ada serangan-serangan bersenjata dan aksi-aksi jihad maka apa sikap anda dengannya?”

Maka doktor Aiman menjawab: “Kami mengucapkan selamat pada setiap aksi-aksi jihad melawan salibis dan melawan tentara bayaran Amerika yang melindungi batas-batas mereka dan melawan penjahat internal dan melawan kemaslahatan Amerika.”[29]

Seandainya beliau mengganti jihad dengan jalan damai, maka tentu beliau menasehati mereka untuk melakukan perdamaian sebagai ganti dari ucapan selamat beliau terhadap aksi-aksi jihad dan perang mereka!

Dan disebutkan di akhir rekaman “Durusul Madhi wa Amaalul Mustaqbal” yang dikeluarkan oleh Yayasan media As Sahab aksi rekaman video milik Ansharu Baitil Maqdis melawan pemerintahan Mesir…. lalu dimana adanya keyakinan kepada perdamaian?!

Syaikh Abu Mush’ab Abdul Wadud, pemimpin Al Qaedah di Maghrib Islami  telah membantu revolusi Libya dalam kalimatnya “Ucapan selamat dengan kemenangan Ahfadu Umar Mukhtar”, meskipun itu bukan revolusi damai akan tetapi revolusi bersenjata! Lalu bagaimana dia mendukungnya sedangkan al Qaeda telah meninggalkan jihad dan perang serta menggantinya dengan jalan damai sebagaumana yang dituduhkan oleh Adnani?!

Akan tetapi apa yang dilalui oleh Al Qaeda telah menegaskan makna ini sampai setelah pernyataan Al Adnani,  syaikh Ibrahim Al Qaushi berkata: “Ya! Dengan jihad, dan hanya dengan jihad saja negeri islam bisa dibebaskan, mengerahkan jiwa, dengan mempersembahkan jiwa dengab murah di jalan Allah, dengan ribuan luka-luka, ribuan tawanan, dengan kekerasan, bencana, ujian dan perlawanan serta pembelaan, dengan kesabaran dan mensabar-sabarkan diri, dengan itu semua kita akan memanem kemenangan dan mewujudkan kekuasaan.”[30]

Disebutkan dalam rilisan  video yang dikeluarkan dari Jabhah Nushrah: “Peristiwa kudeta di Mesir menghasilkan pelajaran yang sangat keras bagi setiap orang yang ingin menggunakan jalan damai sebagai satu-satunya cara dalam melakukan perubahan.”[31]

 Apakah perkataan orang-orang ini telah menggangi jihad dengan jalan damai?!

Syaikh Khalid Abu Tharifi: “Dan aku menyarankan kepada kalian agar tidak menghentikan jihad kalian dan jangan engkau letakkan senjata kalian hingga Allah membukakan kemenangan antara kalian dengan musuh kalian.”[32]

Seaindanya ia telah menggangu jihad dengan jalan damai maka pasti ia akan berkata: Hentikanlah jihad kalian, atur dan rencanakanlah hingga terjadi demo-demo!

Akan tetapi sebagaimana yang dikatakan sebagai penyair:

Tidak akan benar dalam pemahaman sedikitpun…. jika siang hari harus dibutuhkan dalil….

Untuk menutup poin ini: Seandainya kita menerima anggapan kebenaran ucapan Adnani tentang perubahan ini, maka tentu terhapus dengan penegasan para pimpinan Al Qaedah atas sikap mendahulukan jihad atas sarana-sarana lainnya setelah pernyataan Adnani, sehingga pendalilan ini hukumnya telah gugur.

KEDUA: APAKAH SEKEDAR MEYAKINI JALAN DAMAI ITU ADALAH SEBUAH PETUNJUK PENYIMPANGAN…

Artinya, apakah setiap orang yang mengucapkan selamat dan mendukung revolusi damai menyebabkan dia menyimpang? Jika dikatakan: ya, sehingga mengharuskan bagi setiap orang-orang itu yang akan segera kami nukil perkataannya ini adalah orang-orang yang menyimpang!

Syaikh Usamah berkata di akhir ceramahnya yang telah diedarkan:

“Wahai umatku muslimah, mari kita melihat bersama denganmu peristiwa sejarah yang agung ini…. selama selama ini wajah umat yang terkena debu dalam rangka mengintai kemenangan yang bersinar kabar gembira dari arah timur, tiba-tiba matahari revolusi muncul dari arah barat, cahaya revolusi menyinari Tunisia, sehingga umat lega dengannya, dan wajah-wajah rakyat menjadi bersinar, dan menyinari kerongkongan penguasa, yahudi semakin takut dengan dekatnya janji, maka menjatuhkan thaghut adalah menjatuhkan makna kehinaan, ketundukan , ketakutan dan kekhawatiran, dan bangkitnya makna kebebasan, kemuliaan, keberanian dan kepahlawanan, maka berhembuslah angin perubahan menginginkan kebebasan, dan bagi Tunisia adalah ujung awalnya dan dengan cepat membakar para pahlawan Mesir mencontoh para pembebas Tunisia ke Lapangan At Tahrir lalu muncul lah revolusi yang besar, dan revolusi apalagi?”[33]

Ini menunjukkan bahwa syaikh Usamah bin Laden termasuk orang yang meyakini revolusi damai yang beliau namakan dengan “peristiwa sejarah yang besar” dan juga “revolusi besar”!

Di pihak lain daulah sendiri juga mengajak untuk melakukan perdamaian dan memberi ucapan selamat kepada perlawanan-perlawanan damai di beberapa negara! Dan ia masukkan ke dalam pengingkaran kemungkaran dalam tiga sikap!

Pertama: Daulah telah merilis pernyataan resmi dengan judul “Bayan Anil Maujatits Tsalitsah dhimna Ghazawati Tsa’ri Li Harairi Ahlis Sunnah” setelah ahlus sunnah melakukan perlawanan ahlus sunnah di Irak secara damai dan sikap berpegang teguh mereka di berbagai medan untuk meraih tuntutan mereka, dan disebutkan dalam pernyataan itu catatan atas sikap berpegang teguh ini, disebutkan di dalamnya:

“Dan kami ulangi penyampaian ucapan selamat bagi setiap kaum muslimin yang memiliki semangat atau ghirah dari orang-orang yang melakukan perlawanan terhadap agama, dan kehormatannya, serta keluar untuk membela akhwat-akhwat mereka yang tertawan dan juga menolak kedzoliman yang menimpa ahlus sunnah berupa dari kelompok-kelompok penjahat yang ditanam oleh kaum salibis dan dicekoki dengan racun rencana-rencana bangsa shofawi (syiah) yang keji, kami katakan padanya: sesungguhnya para pemuda mujahidin kalian tidak akan menghinakan kaliana tas izin Allah, dan akan kalian dapati mereka di hadapan kalian di setiap tempat yang membela agama kalian, dan menolak kedzoliman dari ikhwan-ikhwan kalian, kami ingatkan kalian dari penyeru syetan yang mengisukan bahwa mujahidin menentang demo-demo, beradu hujjah atau dialog yang mereka lakukan, ini termasuk kedustaan dan kebohongan yang tidak seharusnya tidak timbul dari seorang mukmin yang cerdas, akan tetapi kami menyeru kalian sekali lagi dan mengingatkan kalian agar mengikhlaskan niat kemudian membersihkan barisan kalian dari para penyakit pengkhianat dan para pencuri yang selama ini menjual urusan mereka dan mereka menjadi sebab hilangnya hak-hak kalian dan menyerahkan kalian kepada rencana-rencana Iran Shofawi demi sisa-sisa jabatan dan keistimewaan yang diberikan kepada mereka oleh orang semacam Maliki dan pemerintahan kesukuaannya yang jahat…. dan ingatlah wahai rakyat kami bahwa siapa yang Allah balikkan hatinya dalam keadaan berkhianat lalu menjual agama dan kehormatan kemudian ia menjadi sebab kehinaan kalian dan hilangnya hak-hak kalian, sekali-kali tidak akan menjadi sebab kemuliaan dan pelindung kehormatan kalian dan mengembalikan hak-hak kalian.”

Kita renungkan dalam pernyataan ini tiga perkara:

– Di dalamnya tidak ada seruan untuk meninggalkan cara damai yang dicirikan oleh Al Adnani seperti ciri-ciri di atas!

– Perkataan mereka bawa kami tidak menentangnya (demonstrasi damai), sesuai dengan yang dicirikan oleh Al Adnani di atas!

– Bahwa orang-orang seperti Adnani semestinya dia termasuk dari penyeru setan sebagaimana yang dicirikan dalam pernyataan itu!.

Catatan: Sebagian mengaku dan berkata bahwa pernyataan ini tidak jelas dan tidak valid dari daulah! Maka kami katakan: Bahwa pernyataan ini adalah pernyataan resmi, disebarkan oleh divisi “Bayaanatid Daulah” dalam forum Asy Syumukh! Dan dikeluarkan oleh Markazul Fajri!! Dan ini link pernyataan itu di forum (di sini) dan di masukkan ke dalam kolom “Marosilisy Syumukh” yang menjadi tempat bayaanaat (pernyataan-pernyataan) resmi saja!

Kedua: Telah terjadi wawancara antara Abu Ubaidah Al Iraqi – Anggota Majlis Syura Daulah Islam Irak” dengan perwakilan media jihad, dalam wawancara ini terjadi kerjasama antara “Nukhabtul I’lami Al Jihadi” dan “Muassatul Furqan” yang mana muassasah ini adalah lembaga resmi milik daulah, Abu Ubaidah berkata tentang revolusi:

“Ini artinya tidak menikam dan mencela revolusi ini atau mengurangi dalam usahanya secara umum maupun detail sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa orang, karena apa yang tidak didapat secara keseluruhan maka tidak harus ditinggalkan secara keseluruhan akan tetapi kita masih tetap menyeru untuk keluar atas para pemerintah thaghut ini dengan segala cara yang dibenarkan syareat, dan kami mengira bahwa tingkatan yang paling tinggi adalah jihad fi sabilillah…. namun demikian kami tidak mengingkari bahwa banyak sekali sarana yang hari ini dinamakan dengan “perdamaian” yaitu termasuk jenis mengingkari kemungkaran yang tingkatannya bermacam-macam sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan sebagaimana sabda nabi saw dalam hadits yang agung: “Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaknya merubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman.”[34]

Ketiga: disebutkan dalam rilisan (Sholush Showarim-pertama) yang dirilis oleh Yayasan Al Furqan, salah satu potongan film dari seorang tentara daulah berkata di dalamnya: “Di Tunisia kami katakan tidak ada seorang islam pun, melainkan mereka melakukan revolusi atas karunia Allah, sekarang demo-demo dan meninggikan bendera islam dan menyeru kepada penegakan syareat.” Selesai. Dan disebutkan dalam rilisan yang sama beberapa foto orang yang sedang berdemo dan ditulis dalam catatannya: (Tunisia membela syareat Rabbnya). Selesai.

Dan kami sarikan dari perkataan ini:

– Perkataan seorang tentara: “Melainkan mereka melakukan revolusi atas karunia Allah”, seandainya itu perkara yang buruk atau haram atau sebagaimana yang dicirikan oleh Al Adnani di atas apakan seorang tentara itu berkata “atas karunia Allah”!!!

– Adapun “Tunisia sedang membela syareat rabb nya”, telah menunjukkan bahwa diantara cara membela syareat adalah dengan demonstrasi-demonstrasi.

Turki Binali telah menyampaikan kata-kata dalam mogok damai di depan Kedutaan Amerika! Sebagaimana yang telah tersebar di internet dengan judul: “Abu Sufyan As Silmiy fii I’tishomi Amamas Sifarah Al Amrikiyah, dan hadir beberapa kali dalam aksi mogok damai demi membebaskan tawanan yang tertangkap, aku tidak tahu apakah agama dia ketika itu adalah agama damai atau tidak!!

Bahkan (Majlis Syura Mujahidin Fi Aknafi Baitil Maqdisi) yang dinisbatkan kepadanya sebagai pendukung tandzim daulah, mereka ini orang-orang yang menyimpang dengan disaksikan oleh daulah, mereka telah mengeluarkan rilisan makalah resmi yang disebarkan oleh Markaz Ibnu Taimiyyah, mereka berkata: “Maka seharusnya bagi salafi jihadi di Gazza untuk mengaktifkan para mayoritas buruh yang digunakan dalam perkara-perkara umum yang menjadi pendukung atas hal itu di negeri-negeri mereka dan negeri tetangganya, mereka melakukan aksi mogok dan melakukan tuntutan-tuntutan agar terpenuhi kebebasan bagi dakwah salafiyah agar muncul berperan dan memberikan haknya dalam memberikan bimbingan dan arahan. Dan untuk sikap penolakan dan pengusiran dengan keras yang diwakili oleh Hamas dari Yahudi, seperti ini para ikhwah dituntut untuk berlaku sabar atas gangguannya dan mengharap pahala Allah azza wa jalla, dan kontinyu dalam beramal, serta mengaktifkan sisi media, dengan terus berhubungan dengan setiap sarana media yang memungkin dari celahnya dapat menyampaikan suara kita yang telah ditekan oleh Hamas ke dunia luar, agar menghentikan kedzolimannya kepada kita dan kepada kaum muslimin.”[35]

Syaikh Nashir Fahd – yang mana anshoru daukah sangat senang dengan baiatnya kepada mereka – telah membantah orang yang mengharamkan demo-demo damai di negara-negara Arab dan menghapus hujjah-hujjah mereka dari tiga sisi, hingga beliau berkata: “Adapun perkataan mereka bahwa itu menyeret kepada kerusakan, maka ini tidak benar, kami melihatnya sekarang ini di setiap tempat dilakukan (demo damai) dan tidak ada kerusakan di dalamnya sebagaimana yang dikatakan orang-orang itu, bahkan dengannya datang maslahat yang besar, seperti jatuhnya thaghut Mesir, karena kejatuhannya meskipun tidak diganti dengan hukum islam namun itu sudah meringankan kedzoliman dan kesewenangan, dan tercapai keadilan yang mana di masanya tidak tercapai.”[36]

Aku tidak tahu apakah perdamaian itu agama syaikh Nashir Fahd? Apakah syakh Nashir Al Fahd menyimpang hingga tidak menganganggap hukum para thaghut termasuk kerusakan, padahal mereka itu lebih keras kekafirannya daripada pendahulu mereka – sebagaimana yang dikatakan oleh Al Adnani.[37]

Jika dikatakan daulah sudah taroju’ (menarik kembali) perkataannya ini, maka kami bertanya: apakah Daulah mengakui terhadap dirinya sendiri bahwa ia terjatuh pada perkara ini – ketika ia mengajak kepada perdamaian-:

– Sesungguhnya engkau mengklaim bahwa ia lebih tahu dan lebih kasih daripada nabi saw dan bahwa petunjuknya lebih utama dari petunjuk nabi saw.

– Bahwa engkau telah membenturkan kitabullah dan sunnah nabinya saw ke dinding dan mengikuti hawa nafsunya.

– Bahwa engkau membuangnya ke tempat sampah.

– Bahwa engkau telah mengucapkan selamat kepads fiqh ketundukan! Dan engkau menghiasinya?!!!.

Dst… seperti yang dicirikan oleh Al Adnani di atas.

– Lalu apakah syaikh Usamah dan Syaikh Nashir Al Fahd dan Turki bin Ali dan setiap orsng yang ikut serta dalam aksi mogok damai dari unsur-unsur daulah juga sesuai dengan ciri-ciri ini juga?

Penutup kita sampai pada dua kesimpulan:

– Bisa jadi Al Adnani memaksudkan pada maksud yang pertama, dan bahwa Al Qaedah telah mengganti jihad dan hanya membatasi dalam sarana damai sehingga dengan itu Adnani menjadi seorang pendusta.

– Atau memaksudkan maksud yang kedua, bahwa hanya sekedar meyakini sarana damai adalah tanda sebuah penyimpangan, sehingga mengharuskan para pemimpin dan tokoh-tokoh yang disebutkan nama-nama mereka di atas juga adalah orang-orang yang menyimpang! Lalu bagaimana dengan daulahnya?

Di sini kami tidak ketinggalan untuk menyampaikan poin yang telah disebutkan Adnani dalam konteks yang sama, yaitu bahwa manhaj Al Qaedah yang baru malu untuk menyebut kata jihad, sehingga merubah dengan kata-kata “revolusi, gerakan rakyat, dan perlawanan, perang, kifah, mayoritas dan dakwah….”

Jika beliau malu dengan kata jihad maka sungguh seharusnya namanya dulu yang harus dihapus, karena tandzimnya namanya “Tandzim Qaidatul Jihad”! Lalu bagaimana bisa ia merasa terguncang dengan menyebut kata jihad sedangkan ia ada pada nama tandzimnya?!

Kita ingin memperbandingkan antara penyebutan kata-kata di atas dengan penyebutan kata jihad:

– Dalam ceramah “Al Iman Yashro’ul Istikbaar”, doktor Aiman Adz Dzhowahiri menyebut kata jihad 20 kali, sedangkan kata revolusi hanya sekali saja.

– Dalam ceramah “Taharraru min Dairatil Abatsi wal Fasyl”, doktor Aiman Adzh Dzhowahiri menyebut kata jihad sebanyak 21 kali, dan menyebut kata revolusi hanya dua kali.

– Dalam ceramah “At Tauhid fii Muwajahati Thaghut”, doktor Aiman menyebut kata jihad 10 kali dan tidak menyebut kata revolusi sama sekali.

Jika manhajnya malu menyebut kata jihad mengapa beliau menyebut kata jihad 51 kali berbanding dengan kata revolusi sebanyak 7 kali, lalu apa tuduhan Adnani bahwa ia telah merubah jihad? Lalu jika begitu bagaimana jika ia tidak malu?

[1] Majalah Al Anshar, edisi 91, hal: 18. Tanggal: Kamis 6 April 1995 M.

[2] Yang kami maksud jama’ah (Al Qaedah) yang dipimpin oleh Syaikh Usamah, dan jama’ah (Al Jihad) yang dipimpin oleh syaikh Aiman, yang keduanya melebur menjadi satu pada tahun 1998 M dengan nama (Tandzim Qaidatul Jihad), lihat ke juz pertama dari rilisan: Ghazwah Manhattan (40:00), yang dikeluarkan oleh Yayasan As Sahab, September 2006.

[3] Majmu’ Abhats wa Rasail wa Taujihat syaikh Aiman Adz Dzowahiri, hal: 471.

[4] Risalah min doktor Aiman Ali Abi Mush’ab Az Zarqawi, hal: 13.

[5] Risalah min Athiyyatullah Ila Abi Mush’ab Az Zarqawi, hal: 8.

[6] Ajwibatul Hisbah, hal: 201.

 [7] Dakwah Al Muqawamah Al Alamiyah, hal: 792.

[8] Wawancara syaikh Abu Muhamad Al Maqdisi dengan Al Jazera 2005, hal: 12/13.

[9] Al Arshiful Jami’ Likalimati Khithobaat syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi, hal: 331.

 [10] Syaikhiy Al Asbaq Hadza Firoqu Baini wa Bainaka, hal: 8.

 [11] Hiwar Abul Yaman ma’a Abu Mush’ab Az Zarqawi, hal: 18.

 [12] Tabriatu ummatil Qalami was Saifi min Minqashati Tuhmatul Khauri wadh Dha’fi,hal: 164.

[13] Majmu’ Tafrighati Kalimatil Qadati Daulatil Irak Al Islamiyah, hal: 30.

 [14] Ats Tsauratul Arabiyah wa Muausimul Hashod, hal: 5.

[15] Majmu’ Abhats wa Rosail wa Taujihat syaikh Aiman Adz Dzowahiri, hal: 402.

 [16] Peringatan:  Seluruh penukilan dalam alinea ini adalah setelah kesyahidan syaikh Usamah rh.

[17] Ma Bainal Jihad wat Tsauratis Sya’biyatil Muashiroti min Rowabithi, hal:2.

[18] Waqofaat ma’al Ahdats fi Mishra – hal: 4.

 [19] Ummatut Tadh-hiyyah wal istisyhaad, hal: 9.

[20] Idem hal: 24.

[21] Idem hal: 107

 [22] Idem hal: 204.

[23] Durusul Madhi wa Amaalul Mustaqbal hal: 7.

 [24] Mafakhirul Muslimin Wa Makhoziy Mujrimin hal: 8.

[25] Mishr wats Tsaurah Alal Aks, hal: 3.

[26] At Taharur min Dairatil Abats wal Fasyl, hal: 13.

[27] Li Ahlina fi Manzilil Wahyi wa Mahdil Islam, hal: 4.

 [28] Al Waqi’ Bainal Alami wal Amali, hal: 16.

 [29] Idem, hal: 17.

[30] Ash Shumal Hashodus Shobri Wa Ats Tsabaati, hal: 4.

[31] Warotsatul Majdi, juz kedua, menit 13:00:, rilisan: Manarotul Baidho lil I’lam Al Islami 1437 H.

[32] Risalah ilal Muhajirin wal Anshar fisy Syam Al Habib, hal: 6.

 [33] Kalimat Syahidul Islam li Ummatil Muslimah, hal 3-4.

 [34] Konferensi wartawan li Majlisy Syura Daulatul Iraq Al Islamiyah ma’a Nukhbatu Minal I’lamiyyin Al Jihadiyyin, hal: 6 dan hal: 10.

 [35] Taujihaat Manhajiyah lis Salafiyah Al Jihadiyah fi Aknafi Baitil Maqdis, hal: 5.

 [36] Al Fatawa Al Hayiriyah, hal: 48.

[37] Abu Muhammad Al Adnani mengatakan dalam ceramah “As Silmiyatu Diinu Man”: “Maka ketahuilah wahai ahlus sunnah yang melakukan revolusi di setiap tempat: sesungguhnya penyakit kita bukanlah rezim yang bekuasa akan tetapi undang-undang syirik yang diterapkan, maka tidak ada bedanya antara satu penguasa dengan penguasa yang lain selama hukumnya tidak berubah, tidak ada beda antara Mubarok, Muammar, Bin Ali dengan Mursi, Abdul Jalil dan Al Ghanusyi, mereka semua adalah thaghut yang menerapkan undang-undang yang sama, namun yang akhir-akhir ini adalah yang paling keras fitnahnya”, dan berkata dalam ceramah “Udzron Ya Amiral Qaidah”: “Dan Daulah belum mengintervensi di Mesir atau Libya atau Tunisia, dan masih memendam kemarahannya, dan tentaranya berusaha untuk menguasainya bertahun-tahun, sedangkan kesedihan memenuhi rukun-rukun dan seluruh wilayahnya, karena begitu banyaknya orang yang meminta pertolongannya, sedangkan para sekuler mengangkat thaghut baru yang lebih keras kekafirannya daripada pendahulu mereka, di Tunisia, Libya dan Mesir.”

Bersambung…..

(AR/AJ/AnsharAlIslam)

Advertisements