Ia adalah seorang wanita muslim yang ditangkap dari Quetta, dan kemudian di tawan sendirian di sebuah ruangan di penjara Bagram.

Tidak ada wanita lain yang bersamanya selama dua tahun. Hingga ia dalam kondisi dimana busananya bukan lagi busana wanita, tapi busananya adalah baju berwarna sama seperti yang dikenakan oleh para tawanan di Guantanamo.

Ketika ia ingin ke toilet, ia akan di rantai dengan lengkap tanpa ada perbedaan dengan tawanan pria, dan ia akan disiksa seperti bagaimana penyiksaan terhadap tawanan pria.

Bahkan terkadang ada kasus dimana Aafia kehilangan kewarasannya. Bila saat itu tiba, Ia akan berteriak-teriak, menjerit dan memukul-mukul pintu.

Jurnalis Boston Magazine, Katherine Oxment pernah bertanya: “Siapa yang takut pada Aafia Siddiqui? Dia kuliah ke MIT dan Brandeis, menikah dengan seorang dokter (tinggal di Boston), merawat anak-anaknya …. mengumpulkan uang untuk amal …. melakukan pekerjaan sukarela lainnya? Mengurus kelompok bermain di apartemennya, sangat religius …. membagi-bagikan Al-Quran untuk narapidana di penjara-penjara wilayah tinggalnya, “dan tidak melakukan apa pun yang luar biasa. “(Dia) adalah seorang wanita normal yang hidup di Amerika yang normal. Sampai FBI memanggilnya teroris …. seorang tokoh atas Al Qaeda,” tapi kami telah melihat kasus ini sebelumnya, dan setiap kalinya palsu. Mereka (aparat Amerika Serikat) bertindak begitu mengerikan terhadap Aafia – seorang wanita yang “bersalah” hanya menjadi Muslim pada waktu yang salah di Amerika atau di tempat lain jika Anda berada di dalam daftar target oleh Washington.

Tuntutan yang diajukan kepadanya, tidak memiliki bukti sehingga para jaksa menciptakannya. Sebagian besar “bukti-bukti” (atau bagian-bagian kunci) tetap dirahasiakan, tidak diperbolehkan untuk membela diri, dan pengadilan yang diadakan baginya adalah peradilan sirkus. Para saksi yang terdaftar, ditekan, dipaksa, dan / atau dibeli untuk bekerja sama. Tindakan-tindakan persidangan secara hati-hati diatur.

Aafia Siddiqui, dia adalah seorang wanita yang berperawakan kecil, tenang, sopan, dan pemalu yang hampir tidak terlihat dalam suatu majelis. Namun, dia akan mengatakan apa (yang) “dibutuhkan” (baca: jenius) bila diperlukan.

af0Sementara sewaktu di MIT (Massachusetts Institute of Technology), dia mengorganisir gerakan untuk mengirimkan Quran dan literatur Islam lainnya bagi umat Islam di penjara-penjara lokal. Dia juga berdedikasi untuk Islam di kampus dimana sesama mahasiswa menjelaskan dia sebagai seorang yang lembut, rajin, agamis, tetapi tidak ekstrem atau fundamentalis. Dia menulis tiga panduan instruksional tentang iman. Lebih kepada bagaimana menjalankan meja daw’ah untuk memberikan informasi keagamaan dan pelatihan bagi para da’i. Dia menulis:

“Bayangkan kerendahan hati kita, rupanya ketulusan upaya daw’ah kita berubah menjadi gerakan daw’ah utama di negara ini! Bayangkan saja! Dan kita, menuai pahala atas semua orang yang menerima Islam melalui gerakan ini (untuk) tahun yang akan datang. Berpikir dan berencana besar. Semoga Allah memberikan kekuatan dan ketulusan kepada kita sehingga upaya kita yang sederhana ini berkelanjutan dan mengembang hingga Amerika menjadi negeri Muslim.”

Aafia mengajar anak-anak Muslim setempat pada hari Ahad, tapi semangat terbesarnya adalah untuk membantu umat Islam yang tertindas di seluruh dunia. Dia berbicara di depan umum, mengirim email, memberikan presentasi slideshow, dan menggalakan sumbangan seraya menjadi seorang mahasiswa dan merawat tiga anak-anaknya di rumah.

Karena keimanan dan aktivitasnya, serta semangat untuk yang tertindas, itu sedikit mengherankan ia lantas dijadikan sasaran oleh pemerintah Amerika Serikat dan mengapa Asisten Jaksa AS Christopher LaVigne menyebutnya “memiliki resiko keamanan tinggi” meskipun tidak ada bukti untuk membenarkan tuduhannya.

Aafia dan suaminya (seorang penduduk medis pada saat itu di Rumah Sakit Brigham dan Wanita) menggunakan apartemen mereka untuk sebuah organisasi nirlaba tahun 1999, yang mereka mulai menyebutnya Lembaga Penelitian dan Pengajaran Islam. Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan jihad (yang disamakan Barat dengan terorisme, ed). Menurut tetangga mereka di Masjid Imam, Abdullah Faruuq: “Apa yang saya tahu (Aafia) adalah dia tinggal di Amerika, dan organisasinya adalah untuk berbagi informasi Islam dengan orang-orang Amerika.”

Faruuq terkesan dengan dedikasinya. “Aafia adalah seorang gadis Amerika dan seorang adik yang baik.” Dia juga ingin suaminya menggunakan keterampilan medisnya untuk membantu mereka yang kurang beruntung. Meskipun keimanannya yang kuat, “tidak ada yang radikal tentang Siddiqui. Dia adalah orang yang sangat baik.”

Dia juga seorang ibu dari tiga anak, dan korban keganasan ekstrim luar biasa dalam tahanan Amerika Serikat. Menurut ibunya, Ismet, dia “meninggalkan rumah keluarga di Gulshan-e-lqbal dengan taksi pada 30 Maret untuk mengejar penerbangan ke Rawalpindi, tetapi ia tidak pernah mencapai bandara.” Sumber orang dalam mengklaim ia diculik oleh agen intelijen di perjalanan, dan menurut laporan awal kemudian diserahkan kepada FBI.

Dia hilang selama lebih dari setahun ketika FBI memposting foto-fotonya di situs web mereka. Tak lama kemudian, cerita bualan itu mulai di sebarkan, tentang keterlibatannya dalam perdagangan berlian Liberia tahun 2001, dengan peran dia saat itu sebagai operatif Al Qaeda. Pengacara keluarga, Elaine Whitfield Sharp, yang menyebut tuduhan itu mustahil karena menempatkan Aafia di Liberia pada waktu tertentu ketika dia bisa membuktikan dirinya sedang berada di Boston minggu itu.

Ibu Aafia mengatakan bahwa hanya beberapa hari setelah putrinya hilang, seorang pria dengan bersepeda motor datang ke rumah keluarganya dan memperingatkan dia untuk tidak mengatakan apapun tentang apa yang terjadi jika dia ingin melihat Aafia dan cucu-cucunya lagi.

Aafia menghilang, dan menurut pers Pakistan Urdu, keluarganya dijemput oleh otoritas lokal dan dibawa ke tahanan. Seorang juru bicara kementerian dalam negeri pemerintah dan dua pejabat yang tidak disebutkan namanya mengkonfirmasi laporan AS di media. Mereka kemudian mencabut pernyataan mereka, tapi berita lokal Chicago NBC (berdasarkan akun Press Trust of India) melaporkan bahwa Aafia sedang diinterogasi oleh pejabat intelijen AS.

Pada saat tersebut, website FBI menyatakan: “Meskipun FBI tidak memiliki informasi yang menunjukkan individu ini terhubung dengan kegiatan teroris tertentu, FBI ingin mencari dan mempertanyakan individu ini.” Badan ini tahu benar apa yang terjadi – bahwa Aafia berada dalam penahanan rahasia, bahwa siksaan mengerikan padanya itu telah dimulai, dan bahwa FBI dan otoritas Amerika Serikat lainnya terlibat.

Memburuknya Kesehatan DR. Aafia Siddiqui

Menanggapi surat parlemen Inggris Lord Nazir tentang keberadaan Aafia, otoritas AS menegaskan bahwa dia dipenjara di Carswell federal Medical Center, Fort Worth, TX (sesuai dengan 1 Oktober 2008 Pengadilan Distrik AS, direktif peradilan New York) di mana dia menjalani evaluasi kejiwaan, tetapi tidak mendapatkan perhatian medis yang sangat dibutuhkan.

Nazir sebelumnya mengangkat pertanyaan tentang penahanannya dan berkata “dia secara fisik disiksa dan terus-menerus diperkosa oleh para petugas (AS) di penjara (Bagram)” – selama lebih dari empat tahun. Dia sekarang menginginkan Aafia segera dibebaskan dan dipulangkan ke Pakistan setelah mempelajari bahwa dia ditahan atas tuduhan yang sangat meragukan ditambah semua perlakuan mengerikan yang ditimpakan kepadanya – lagipula ia tidak bersalah apa-apa (pengadilan Amerika Serikat tidak dapat memberikan bukti kuat sedikitpun atas segala tuduhannya terhadap DR. Aafia).

af1

Aafia dalam kondisi menyedihkan dan, menurut Hakim Berman, tidak dalam keadaan pikiran yang benar untuk diadili (kejiwaannya sangat terguncang luar biasa dengan segala siksaan dan perlakuan biadab aparat Amerika Serikat). Pada tanggal 7 Agustus 2008, Iqbal Haider, Wakil-ketua Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan (HRCP) menyatakan keprihatinan tentangnya. Dia menyebutnya; mengejutkan dan sangat memprihatinkan bahwa foto-foto yang memperlihatkan DR. Aafia menunjukkan seorang wanita lemah yang dipukuli dan tak berdaya, efek dari bertahun-tahun penyiksaan, pelecehan, dan pemerkosaan yang dilakukan padanya. Ada lingkaran hitam di bawah mata, hidung patah yang diperbaiki dengan buruk, gigi “palsu” (indikasi bahwa Aafia mengalami kerusakan parah di giginya akibat siksaan) dan bibir yang hancur, dan secara keseluruhan “sebuah foto dari seorang yang menderita dehidrasi parah, orang yang sedang sangat sakit hampir seolah-olah ada di ranjang kematian. Ini menunjukkan kebrutalan yang tidak manusiawi dari sebuah bangsa yang mengaku paling “beradab” (Amerika Serikat).

Menurut HRCP dan keluarga Aafia, kondisi fisiknya sangat memperihatinkan, dan dia sangat membutuhkan perawatan medis segera di luar penjara Carswell, yang mana itu tidak diberikan kepadanya sama sekali. “Lukanya itu mengalirkan darah,” dan pakaiannya basah kuyup di dalamnya. Sebelumnya dalam tahanan, salah satu ginjalnya telah diangkat (yang rusak akibat siksaan hebat), namun nyeri perut nya tetap ada. Dia memiliki jahitan besar memanjang di tubuhnya hasil dari operasi, yang diselesaikan secara sembrono, dan mungkin menderita pendarahan bagian dalam. Giginya telah dicabuti. Hidungnya rusak dan diperbaiki sekenanya. luka tembaknya benar-benar terlihat, dan kondisinya secara keseluruhan sangat buruk sekali dan mengancam jiwa.

af2

Saudari muslimah kita ini diperlakukan dengan sangat kejam dan ganas oleh sebuah negara kriminal yang beroperasi di luar hukum untuk keuntungan politik. Perlakuan menghinakannya terus berlanjut. Anaknya, Ahmed (berkewarganegaraan AS), ditahan di Afghanistan, namun keberadaan dua anaknya yang lainnya tidak diketahui.

Aafia Siddiqui adalah salah satu yang paling dirugikan. Dia sudah hancur secara fisik dan emosional. Bekas wujudnya tidak ada lagi. kelangsungan hidupnya dalam bahaya, namun dia tetap dipenjara, telah didakwa, akan diadili, kemungkinan dihukum, dan mungkin menghabiskan sisa hidupnya di penjara. Dan untuk apa? Hanya karena dia bersaksi Tiada Ilah selain Allah, hanya karena dia tulus beramal dalam Islam.

Pesan kepada semua orang jelas, Kita semua adalah Aafia Siddiqui.

Semoga Allah melindungi DR. Aafia dan para tawanan muslimin dimanapun mereka berada.

Semoga Allah berikan kesabaran, kekuatan dan kebebasan pada mereka.

Advertisements