Terdapat banyak dalil syar’i yang menunjukkan dengan jelas bahwa seorang muslim yang telah mengumumkan penerimaannya terhadap dien Islam dan dari dirinya nampak bukti-bukti komitmen terhadap pokok-pokok ajaran Islam serta pembenaran secara global terhadap Rasulullah SAW, lalu ia terjatuh pada sebagian bentuk syirik akbar karena faktor kebodohannya, maka ia tidak menjadi kafir karenanya dan status sebagai muslim tidak hilang dari dirinya.

Dalil-dalil syar’i tersebut berjumlah banyak dan keseluruhannya menunjukkan suatu kesimpulan; orang tersebut mendapatkan udzur karena kebodohannya. Dalil-dalil syar’i menunjukkan hal ini dengan beragam cara dan metode.

Dari aspek cara penunjukkannya kepada makna, dalil-dalil syar’i yang menunjukkan berlakunya udzur kebodohan dalam perkara syirik bisa dibagi menjadi beberapa macam. Namun dalam kesempatan ini kita hanya akan menyebutkan tiga di antara cara-cara tersebut.

Dalil Jenis Pertama:

Dalil-dalil syar’i yang menunjukkan berlakunya udzur atas orang yang keliru

Di antara dalil syar’i yang termasuk dalam jenis ini adalah:

[1]- Firman Allah SWT:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Ya Allah, janganlah Engkau menyiksa kami jika kami lupa atau kami keliru.” (QS. Al-Baqarah [2]: 286)

Doa dalam ayat yang mulia di atas telah dikabulkan oleh Allah Ta’ala, seperti disebutkan dalam hadits shahih riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

قَالُوا: سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ، فَلَمَّا اقْتَرَأَهَا الْقَوْمُ، ذَلَّتْ بِهَا أَلْسِنَتُهُمْ، فَأَنْزَلَ اللهُ فِي إِثْرِهَا: {آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ} [البقرة: 285]، فَلَمَّا فَعَلُوا ذَلِكَ نَسَخَهَا اللهُ تَعَالَى، فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا} [البقرة: 286] ” قَالَ: نَعَمْ

“Para sahabat mengatakan: “Kami mendengar dan kami menaati. Ya Allah, turunkanlah ampunan-Mu dan hanya kepada-Mu kami kembali.” Setelah para sahabat membacanya dan lisan mereka terbiasa dengannya, maka Allah menurunkan ayat-Nya:

Rasul beriman kepada semua wahyu yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya dan demikian juga orang –orang yang beriman. Masing-masing mereka beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan para rasul-Nya. Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun di antara para rasul-Nya. Dan mereka mengatakan: “Kami mendengar dan kami menaati. Ya Allah, turunkanlah ampunan-Mu dan hanya kepada-Mu kami kembali.” (QS. Al-Baqarah (2): 285)

Ketika mereka telah melakukan hal itu, maka Allah menghapus kewajiban tersebut dan menurunkan ayat-Nya:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Baginya balasan pahala atas kebaikan yang ia lakukan dan baginya balasan dosa atas kejahatan yang ia lakukan. Ya Allah, janganlah Engkau menyiksa kami jika kami lupa atau kami keliru.”(QS. Al-Baqarah (2): 286). Maka Allah berfirman: “Ya.”(HR. Muslim no. 180)

Dalam riwayat shahih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dengan lafal:

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” قُولُوا: سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَسَلَّمْنَا ” قَالَ: فَأَلْقَى اللهُ الْإِيمَانَ فِي قُلُوبِهِمْ، فَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى: {لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا} [البقرة: 286] ” قَالَ: قَدْ فَعَلْتُ “

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda kepada para sahabat: “Katakanlah oleh kalian: “Kami mendengar, kami menaati dan kami menerima.” Maka Allah pun menetapkan keimanan di dalam hati mereka. Kemudian Allah menurunkan ayat-Nya:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Baginya balasan pahala atas kebaikan yang ia lakukan dan baginya balasan dosa atas kejahatan yang ia lakukan. Ya Allah, janganlah Engkau menyiksa kami jika kami lupa atau kami keliru.”(QS. Al-Baqarah (2): 286).

Maka Allah berfirman: “Ya, Aku telah melakukannya.” (HR. Muslim no. 126)

Dalam hadits shahih lainnya dari Ibnu Abbas RA ia berkata, “Katika Malaikat Jibril ‘alaihis salam sedang bersama Nabi SAW, tiba-tiba beliau mendengar suara keras dari arah atas beliau. Maka Jibril mengangkat pandangan matanya ke langit dan lantas berkata, “Ini adalah sebuah pintu langit yang saat ini sedang dibuka, sebelumnya ia belum pernah sekalipun dibuka.” Lalu seorang malaikat turun dari langit, maka Malaikat Jibril berkata, “Ini adalah seorang malaikat yang turun ke bumi, sebelumnya ia belum pernah turun sama sekali ke bumi.”

Malaikat itu mendatangi Rasulullah Saw dan mengucapkan salam kepada beliau, lalu ia berkata, “Wahai Muhammad, bergembiralah dengan dua cahaya yang dikaruniakan kepadamu, yang keduanya belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelummu. Kedua cahaya itu adalah surat Al-Fatihah dan ayat-ayat penutup surat Al-Baqarah. Tidaklah seseorang membaca satu huruf (kalimat atau permohonan) darinya kecuali akan diberikan kepadanya permintaannya.” (HR. Muslim no. 1339)

Secara umum para ulama bersepakat bahwa kelupaan dan kekeliruan merupakan udzur berdasar ayat dan hadits-hadits shahih di atas. Lalu para ulama berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan kelupaan dan kekeliruan dalam ayat di atas?

Ada dua pendapat ulama tentang hal itu.

Pendapat pertama, menafsirkan kelupaan dengan makna tidak teringat atas sesuatu hal dan menafsirkan kekeliruan dengan makna tidak sengaja.

Ini merupakan pendapat mayoritas ulama dan pendapat ini dipilih oleh para ulama muhaqqiq seperti Imam Ibnu Athiyyah Al-Andalusi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Katsir, dan lain-lain.

Berdasar pendapat ini, makna ayat di atas adalah “Ya Allah, Rabb kami, janganlah Engkau menyiksa kami jika kami terlupa dari apa yang Engkau perintahkan kepada kami atau kami tidak mengetahui apa yang Engkau perintahkan kepada kami”.

Pendapat kedua, menafsirkan kelupaan dengan makna meninggalkan, dan menafsirkan kekeliruan dengan makna sengaja. Berdasar pendapat ini, makna ayat di atas adalah “Ya Allah, Rabb kami, janganlah Engkau menyiksa kami jika kami meninggalkan perintah-Mu secara sengaja.”

Pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu pendapat yang menafsirkan lupa dengan makna tidak ingat akan sesuatu hal dan menafsirkan kekeliruan dengan makna meninggalkan suatu perintah tanpa sengaja.

Hal itu dikarenakan:

  • Nabi SAW telah menyabdakan dalam hadits-hadits shahih bahwa Allah SWT telah mengabulkan doa dalam ayat di atas. Seandainya ayat di atas dipahami sebagaimana pendapat kedua niscaya makna ayat tersebut adalah Allah mengampuni semua orang Islam yang secara sengaja meninggalkan perintah Allah atau berbuat maksiat. Makna seperti ini tentu saja keliru, karena bertentangan dengan dalil-dalil syar’i lainnya. Makna seperti itu juga melegalkan dan mendorong manusia untuk semakin berani meninggalkan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya.
  • Bukti lainnya yang menunjukkan kesalahan pendapat kedua adalah, dalam bahasa Arab lafal akhtha-a (berbuat keliru) hanya dipakai untuk makna tidak sengaja. Tidak ada lafal akhtha-a yang dipakai dengan makna sengaja. Demikian sebagaimana dijelaskan oleh para ulama tafsir dan pakar bahasa Arab.

[2]- Firman Allah SWT:

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan tidak ada dosa atas kalian atas apa yang kalian keliru atasnya, akan tetapi yang ada dosanya atas kalian adalah apa yang disengaja oleh hati kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab [33]: 5)

Penunjukkan makna oleh ayat ini serupa dengan penunjukan makna oleh ayat 286 surat Al-Baqarah di atas. Para ulama menyejajarkan kedua ayat tersebut saat menunjukkan argumentasi berlakunya udzur bagi orang yang keliru dan orang yang bodoh.

[3]- Sabda Nabi SAW:

وَضَعَ اللَّهُ عَنْ أُمَّتِى الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

Sesungguhnya Allah mengugurkan  atas umatku (dosa) karena kekeliruan, kelupaan, dan perkara yang mereka dipaksa untuk melakukannya.”

Hadits ini diririwayatkan dari banyak jalur dan dishahihkan oleh sejumlah besar ulama hadits seperti Imam Ibnu Hibban, Al-Hakim, Ibnu Hazm, Adz-Dzahabi, Ibnu Katsir, As-Sakhawi, Al-Albani, dan lain-lain.

Andaikata hadits ini dianggap lemah sebagaimana penilaian sebagian ulama, toh hadits ini tidak berdiri sendiri. Ia berada dalam ruang lingkup dalil-dalil lainnya yang shahih seperti QS. Al-Baqarah [2]: 286, Al-Ahzab [33]: 5, dan tiga buah hadits shahih dalam Shahih Muslim yang telah disebutkan di atas. Oleh karenanya, para ulama Islam berargumentasi dengan hadits ini.

Ketiga dalil di atas dan dalil-dalil yang semisal dengannya menetapkan salah satu kaedah yang menjadi landasan taklif dalam Islam, yaitu bahwa orang yang menyelisihi perkara yang ditaklifkan atas dirinya karena faktor ia terlupa atau ia tidak tahu, maka orang tersebut dimaafkan. Allah dengan keadilan dan kasih sayang-Nya memberi udzur kepada seorang muslim yang terjatuh dalam pelanggaran syar’i yang terjadi karena ia terlupa atau ia keliru.

Orang yang keliru secara otomatis mencakup orang yang bodoh. Sebab hakekat orang yang keliru adalah orang yang menyelisihi kebenaran tanpa sengaja. Keliru (al-khatha’) dalam bahasa Arab adalah lawan kata dari sengaja (al-‘amd), yaitu tidak tepat mengenai kebenaran tanpa adanya kesengajaan. Orang yang bodoh juga demikian keadaannya.

Menegaskan hal ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Lafal al-khatha’ dan akhtha-a ketika disebutkan secara mutlak mencakup orang yang tidak sengaja. Jika lafal itu kemudian disebutkan bersama lafal an-nisyan (lupa) atau disebutkan sebagai lawan kata dari orang yang sengaja, maka penunjukkan maknanya menjadi nash (sangat tegas). Terkadang bila disertai qarinah (faktor lain yang melingkupinya) ia juga dimaknai sengaja, atau sengaja dan keliru sekaligus.”[1]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata, “Al-khatha’ adalah menyelisihi (perintah) tanpa ada kesengajaan untuk menyelisihi (perintah tersebut). Ia mencakup kebodohan, sebab orang yang bodoh jika melanggar perkara yang dilarang sesungguhnya ia telah melakukan pelanggaran tanpa kesengajaan.”[2]

Saat menjelaskan hadits udzur dengan kekeliruan, Syaikh Utsaimin menyatakan, “Kebodohan tanpa diragukan lagi termasuk dalam kategori kekeliruan. Oleh karena itu kami mengatakan jika seseorang melakukan sebuah perkara yang menyebabkan kekafiran, baik berupa ucapan maupun perbuatan, karena ia tidak mengetahui, maka ia tidak kafir.”[3]

Penunjukkan dalil-dalil syar’i di atas bersifat umum sehingga mencakup semua bentuk kekeliruan, baik dalam perkara ushul dien maupun furu’ dien. Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi menegaskan sisi penunjukan secara umum ini dengan mengatakan:

“Telah shahih berdasar nash syar’i bahwasanya (dosa) kekeliruan itu diangkat (dimaafkan) atas diri kita. Maka barangsiapa memutuskan dengan sebuah pendapat sedangkan ia tidak mengetahui bahwa pendapat tersebut keliru, padahal di sisi Allah pendapat tersebut keliru, niscaya ia telah melakukan kekeliruan dan ia tidak secara sengaja memutuskan dengan pendapat yang ia ketahui kekeliruannya. Hal ini tidak mengaa (tiada dosanya) atas dirinya di sisi Allah.

Ayat ini (yaitu QS. Al-Ahzab [33]: 50) bersifat umum, termasuk di dalamnya mufti-mufti, penguasa-penguasa (yang menjalankan hukum Islam, pent), orang-orang yang beramal, dan orang-orang yang memiliki keyakinan (akidah). Dosa diangkat atas diri mereka berdasar nash Al-Qur’an dalam perkara yang mereka ucapkan atau mereka perbuat dalam hal-hal yang mereka keliru di dalamnya.”[4]

Imam Al-Qurthubi bahkan meriwayatkan tercapainya ijma’ (kesepakatan ulama) atas gugurnya dosa dan vonis kafir karena udzur kekeliruan. Beliau berkata:

وهذا لم يختلف فيه أن الإثم مرفوع، وإنما اختلف فيما يتعلق على ذلك من الأحكام، هل ذلك مرفوع لا يلزم منه شي أو يلزم أحكام ذلك كله؟ اختلف فيه. والصحيح أن ذلك يختلف بحسب الوقائع، فقسم لا يسقط باتفاق كالغرامات والديات والصلوات المفروضات. وقسم يسقط باتفاق كالقصاص والنطق بكلمة الكفر. وقسم ثالث يختلف فيه كمن أكل ناسيا في رمضان أو حنث ساهيا، وما كان مثله مما يقع خطأ ونسيانا، ويعرف ذلك في الفروع

“Tidak diperselisihkan bahwa dosanya diangkat (digugurkan). Hal yang diperselisihkan hanyalah  dengan adalah hukum-hukum yang berkaitan dengannya; apakah hukum-hukumnya juga terangkat tidak wajib atas dirinya ataukah semua hukum tersebut masih berlaku atas dirinya? Hal inilah yang masih diperselisihkan oleh para ulama.

Pendapat yang benar adalah bahwa hal itu berbeda-beda tergantung perbedaan kasus-kasus. Ada bagian yang hukumnya disepakati tidak gugur seperti hukum denda, diyat, dan shalat wajib. Ada bagian yang hukumnya disepakati gugur seperti hukum qisash dan mengucapkan kalimat kekufuran. Bagian ketiga adalah bagian yang hukumnya diperselisihkan seperti orang yang memakan di siang bulan Ramadhan karena lupa atau melanggar janji karena lupa serta hal-hal sejenisnya yang bisa saja terjadi kelupaan atau kekeliruan padanya. Hal-hal itu bisa diketahui dalam perkara furu’.”[5]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

وَإِذَا ثَبَتَ بِالْكِتَابِ الْمُفَسَّرِ بِالسُّنَّةِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ غَفَرَ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ فَهَذَا عَامٌّ عُمُومًا مَحْفُوظًا وَلَيْسَ فِي الدَّلَالَةِ الشَّرْعِيَّةِ مَا يُوجِبُ أَنَّ اللَّهَ يُعَذِّبُ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ مُخْطِئًا عَلَى خَطَئِهِ وَإِنْ عَذَّبَ الْمُخْطِئَ . مِنْ غَيْرِ هَذِهِ الْأُمَّةِ .

“Jika telah tetap berdasar Al-Qur’an yang diperjelas oleh As-Sunnah bahwasanya Allah telah mengampuni bagi umat Islam ini kekeliruan dan kelupaan, maka hal ini bersifat umum, dengan keumuman yang terpelihara. Dalam dalil-dalil syar’i tidak ada yang menunjukkan bahwa Allah mengazab orang yang keliru atas (dosa) kekeliruan tersebut dari kalangan umat Islam ini, meskipun Allah mengazab orang yang keliru dari selain umat Islam ini.”[6]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah menerapkan kaedah ini dalam perkara takfir. Beliau menegaskan bahwa orang yang keliru tidaklah jatuh kafir, baik kekeliruannya tersebut dalam perkara ushul dien maupun furu’ dien, perkara akidah (masail ilmiyah khabariyah) maupun perkara ibadah dan mu’amalah (masail ‘amaliyah).

Beliau berkata,

هَذَا مَعَ أَنِّي دَائِمًا وَمَنْ جَالَسَنِي يَعْلَمُ ذَلِكَ مِنِّي : أَنِّي مِنْ أَعْظَمِ النَّاسِ نَهْيًا عَنْ أَنْ يُنْسَبَ مُعَيَّنٌ إلَى تَكْفِيرٍ وَتَفْسِيقٍ وَمَعْصِيَةٍ ، إلَّا إذَا عُلِمَ أَنَّهُ قَدْ قَامَتْ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ الرسالية الَّتِي مَنْ خَالَفَهَا كَانَ كَافِرًا تَارَةً وَفَاسِقًا أُخْرَى وَعَاصِيًا أُخْرَى وَإِنِّي أُقَرِّرُ أَنَّ اللَّهَ قَدْ غَفَرَ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ خَطَأَهَا : وَذَلِكَ يَعُمُّ الْخَطَأَ فِي الْمَسَائِلِ الْخَبَرِيَّةِ الْقَوْلِيَّةِ وَالْمَسَائِلِ الْعَمَلِيَّةِ .

“Padahal aku senantiasa dan demikian pula orang yang duduk (bergaul dan berdiskusi) denganku mengetahui hal itu sepenuhnya dariku, bahwasanya aku termasuk orang yang paling keras melarang penjatuhan vonis kepada orang tertentu dengan vonis kafir, fasik, atau pelaku maksiat; kecuali jika telah diketahui bahwa telah tegak atas dirinya hujah risalah yang barangsiapa menyelisihinya maka terkadang ia menjadi orang kafir, terkadang ia menjadi orag fasik, dan terkadang ia menjadi pelaku maksiat. Sesungguhnya aku telah menegaskan (mengakui) bahwa Allah telah mengampuni kekeliruan umat Islam ini, dan hal itu bersifat umum mencakup kekeliruan dalam perkara-perkara khabariyah qauliyah (aqidah) maupun perkara-perkara ‘amaliyah (amal ibadah dan mu’amalah).”[7]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga menegaskan bahwa udzur atas kekeliruan ini berlaku umum, sampai dalam perkara-perkara yang qath’i. Beliau menulis:

وَقَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ : { رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا } قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : ” قَدْ فَعَلْت ” وَلَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَ الْخَطَأِ الْقَطْعِيِّ فِي مَسْأَلَةٍ قَطْعِيَّةٍ أَوْ ظَنِّيَّةٍ . وَالظَّنِّيُّ مَا لَا يَجْزِمُ بِأَنَّهُ خَطَأٌ إلَّا إذَا كَانَ أَخْطَأَ قَطْعًا قَالُوا: فَمَنْ قَالَ : إنَّ الْمُخْطِئَ فِي مَسْأَلَةٍ قَطْعِيَّةٍ أَوْ ظَنِّيَّةٍ يَأْثَمُ فَقَدْ خَالَفَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ وَالْإِجْمَاعَ الْقَدِيمَ.

“Di dalam Al-Qur’an Allah berfirman ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau menyiksa kami jika kami lupa atau keliru’. Allah menjawab “Ya, Aku telah  melakukan (permintaan kalian)”. Allah tidak membeda-bedakan antara kekeliruan yang qath’i dalam perkara yang qath’i maupun perkara yang zhanni, dan antara kekeliruan yang zhanni dalam perkara yang tidak dipastikan keliru kecuali jika ia melanggar perkara yang qath’i. Mereka (para ulama) berkata: Barangsiapa menyatakan orang yang keliru dalam perkara yang qath’i maupun perkara yang zhanni adalah berdosa, niscaya orang tersebut telah menyelisihi Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’ yang lama (ijma’ salaf).”

Di antara ulama lainnya yang menegaskan bahwa udzur kekeliruan ini bersifat umum, sehingga mencakup perkara akidah dan perkara selain akidah adalah Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata, “Hal ini berlaku umum dalam semua perkara yang kaum beriman melakukan kekeliruan padanya, baik perkara ‘amaliyah maupun perkara khabariyah.”[8]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata, “Hal ini berlaku umum dalam segala perkara yang manusia melakukan perbuatan yang diharamkan karena faktor kelupaan atau ketidak tahuan, tidak ada dosa atas dirinya, dan setiap kewajiban apapun yang ia tinggalkan karena faktor kelupaan atau ketidak tahuan, maka tidak ada dosa atas dirinya.”[9]

Oleh karena itu, nash-nash syar’i yang menegaskan pemberian udzur karena kekeliruan (al-khatha’) adalah termasuk landasan-landasan yang shahih tentang berlakunya udzur karena ketidak tahuan (al-jahl). Bahkan ia merupakan nash yang yang paling kuat dalam menegaskan berlakunya udzur karena ketidak tahuan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa kaedah yang diakui oleh para ulama dalah membedakan antara vonis terhadap sebuah perbuatan atau perkataan, dengan vonis terhadap orang yang melakukan perbuatan tersebut atau mengatakan perbuatan tersebut. Beliau lalu juga memberlakukan kaedah tersebut terhadap personal-personal kelompok Jahmiyah. Beliau menulis:

وَهَذِهِ الْأَقْوَالُ وَالْأَعْمَالُ مِنْهُ وَمِنْ غَيْرِهِ مِنْ الْأَئِمَّةِ صَرِيحَةٌ فِي أَنَّهُمْ لَمْ يُكَفِّرُوا الْمُعَيَّنِينَ مِنْ الْجَهْمِيَّة الَّذِينَ كَانُوا يَقُولُونَ : الْقُرْآنُ مَخْلُوقٌ وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُرَى فِي الْآخِرَةِ وَقَدْ نُقِلَ عَنْ أَحْمَد مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ كَفَّرَ بِهِ قَوْمًا مُعَيَّنِينَ فَأَمَّا أَنْ يُذْكَرَ عَنْهُ فِي الْمَسْأَلَةِ رِوَايَتَانِ فَفِيهِ نَظَرٌ أَوْ يُحْمَلُ الْأَمْرُ عَلَى التَّفْصِيلِ . فَيُقَالُ : مَنْ كَفَّرَهُ بِعَيْنِهِ ؛ فَلِقِيَامِ الدَّلِيلِ عَلَى أَنَّهُ وُجِدَتْ فِيهِ شُرُوطُ التَّكْفِيرِ وَانْتَفَتْ مَوَانِعُهُ وَمَنْ لَمْ يُكَفِّرْهُ بِعَيْنِهِ ؛ فَلِانْتِفَاءِ ذَلِكَ فِي حَقِّهِ هَذِهِ مَعَ إطْلَاقِ قَوْلِهِ بِالتَّكْفِيرِ عَلَى سَبِيلِ الْعُمُومِ . وَالدَّلِيلُ عَلَى هَذَا الْأَصْلِ : الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ وَالْإِجْمَاعُ وَالِاعْتِبَارُ . أَمَّا الْكِتَابُ : فَقَوْلُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى : { وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ } وقَوْله تَعَالَى { رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا }

“Perkataan-perkataan ini dan perbuatan-perbuatan ini, yang dilakukan oleh beliau (Imam Ahmad bin Hambal) dan para ulama lainnya dengan tegas menunjukkan bahwa mereka tidak mengkafirkan personal-personal kelompok Jahmiyah yang mengatakan ‘Al-Qur’an adalah makhluk dan Allah tidak akan bisa dilihat di akhirat’.

Dari Imam Ahmad juga diriwayatkan pernyataan-pernyataan yang menunjukkan beliau mengkafirkan personal-personal kelompok Jahmiyah. Maka dalam masalah pengkafiran terhadap personal-personal kelompok Jahmiyah tersebut, ada kemungkinan dari Imam Ahmad diriwayatkan dua pendapat, namun kemungkinan ini perlu dikaji ulang (yaitu kemungkinan tersebut lemah, pent).

Atau kemungkinan lainnya, riwayat tersebut harus diperinci lagi. Yaitu, orang yang dikafirkan secara personal oleh Imam Ahmad adalah karena menurut Imam Ahmad pada diri personal tersebut telah terpenuhi syarat-syarat pengkafiran dan tiada terdapat pada dirinya penghalang-penghalang pengkafiran. Adapun personal yang tidak dikafirkan oleh Imam Ahmad, adalah karena tidak terpenuhinya syarat-syarat pengkafiran pada diri personal tersebut, dengan tetap disertai pengkafiran terhadap perbuatan personal tersebut. 

Adapun dalil yang melandasi hal ini adalah Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’, dan qiyas. Dalil dari Al-Qur’an adalah firman Allah, “Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka. Orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang muhajirin, kecuali kalau kamu hendak berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Demikianlah telah tertulis dalam kitab (Allah)” (QS. Al-Ahzab [33]: 5)

Dan firman-Nya,

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala (dari kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat siksa (dari kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau membebani Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Ma’afkanlah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 286)[10]

Pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di atas menunjukkan bahwa beliau berdalil atas keabsahan pemberian udzur terhadap personal-personal kelompok Jahmiyah yang terjatuh dalam perbuatan kekufuran, yaitu men-ta’thil sifat-sifat Allah. Adapun dalil-dalil yang dipergunakan oleh Syaikhul Islam dalam hal itu adalah dalil-dalil yang menegaskan udzur bagi orang yang keliru.

Bahkan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa penggunaan dalil-dalil tersebut untuk pemberlakuan udzur dalam masalah pengkafiran adalah lebih layak lagi. Jika orang yang keliru dan orang yang lupa tidak divonis berdosa, maka tentunya ia lebih layak untuk tidak divonis kafir. Tentang hal itu, beliau berkata:

لِأَ نَّ اللَّهَ عَفَا لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَنْ الْخَطَأِ وَالنِّسْيَانِ فَإِذَا كَانَ هَذَا فِي التَّأْثِيمِ فَكَيْفَ فِي التَّكْفِيرِ وَكَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ قَدْ يَنْشَأُ فِي الْأَمْكِنَةِ وَالْأَزْمِنَةِ الَّذِي يَنْدَرِسُ فِيهَا كَثِيرٌ مِنْ عُلُومِ النُّبُوَّاتِ حَتَّى لَا يَبْقَى مَنْ يُبَلِّغُ مَا بَعَثَ اللَّهُ بِهِ رَسُولَهُ مِنْ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ فَلَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا يَبْعَثُ اللَّهُ بِهِ رَسُولَهُ وَلَا يَكُونُ هُنَاكَ مَنْ يُبَلِّغُهُ ذَلِكَ وَمِثْلُ هَذَا لَا يَكْفُرُ

“Sebab Allah memaafkan bagi umat ini kekeliruan dan kelupaan. Jika hal itu berlaku dalam hal tidak jatuhnya dosa (atas orang yang keliru dan orang yang lupa), maka bagaimana lagi dengan masalah pengkafiran?”

Banyak manusia terkadang tumbuh di tempat-tempat dan di zaman-zaman yang di sana banyak ilmu (ajaran) kenabian yang telah pudar, sampai tidak tersisa lagi ulama yang menyampaikan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Akibatnya ia tidak mengetahui banyak ajaran yang Allah mengutus Rasul-Nya dengannya dan juga tidak ada ulama yang menyampaikan ajaran tersebut kepadanya. Maka orang yang seperti ini tidak kafir (jika ia melakukan perbuatan kekufuran atau ucapan kekufuran yang tidak ia ketahui ilmunya, pent).”[11]

Oleh karenanya, jika seorang muslim keliru melakukan sebuah perbuatan kesyirikan atau mengucapkan ucapan kesyirikan; disebabkan ketidak tahuannya bahwa hukum perbuatan atau ucapan tersebut adalah haram, atau tidak terbetik dalam pikirannya bahwa perbuatan dan ucapan tersebut adalah kesyirikan, atau ia lupa; maka orang tersebut tidak divonis kafir dan hukum-hukum atas orang kafir tidak diberlakukan terhadapnya. Lebih dari itu, ia tetap menyandang nama dan sifat sebagai seorang muslim.

Saat menjelaskan tentang jenis kesyirikan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

فَكُلُّ عِبَادَةٍ غَيْرُ مَأْمُورٍ بِهَا فَلَا بُدَّ أَنْ يُنْهَى عَنْهَا . ثُمَّ إنْ عَلِمَ أَنَّهَا مَنْهِيٌّ عَنْهَا وَفَعَلَهَا اسْتَحَقَّ الْعِقَابَ فَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ لَمْ يَسْتَحِقَّ الْعِقَابَ وَإِنْ اعْتَقَدَ أَنَّهَا مَأْمُورٌ بِهَا وَكَانَتْ مِنْ جِنْسِ الْمَشْرُوعِ فَإِنَّهُ يُثَابُ عَلَيْهَا وَإِنْ كَانَتْ مِنْ جِنْسِ الشِّرْكِ فَهَذَا الْجِنْسُ لَيْسَ فِيهِ شَيْءٌ مَأْمُورٌ بِهِ لَكِنْ قَدْ يَحْسَبُ بَعْضُ النَّاسِ فِي بَعْضِ أَنْوَاعِهِ أَنَّهُ مَأْمُورٌ بِهِ . وَهَذَا لَا يَكُونُ مُجْتَهِدًا ؛ لِأَنَّ الْمُجْتَهِدَ لَا بُدَّ أَنْ يَتَّبِعَ دَلِيلًا شَرْعِيًّا وَهَذِهِ لَا يَكُونُ عَلَيْهَا دَلِيلٌ شَرْعِيٌّ لَكِنْ قَدْ يَفْعَلُهَا بِاجْتِهَادِ مِثْلِهِ : وَهُوَ تَقْلِيدُهُ لِمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ مِنْ الشُّيُوخِ وَالْعُلَمَاءِ وَاَلَّذِينَ فَعَلُوا ذَلِكَ قَدْ فَعَلُوهُ لِأَنَّهُمْ رَأَوْهُ يَنْفَعُ ؛ أَوْ لِحَدِيثِ كَذِبٍ سَمِعُوهُ . فَهَؤُلَاءِ إذَا لَمْ تَقُمْ عَلَيْهِمْ الْحُجَّةُ بِالنَّهْيِ لَا يُعَذَّبُونَ وَأَمَّا الثَّوَابُ فَإِنَّهُ قَدْ يَكُونُ ثَوَابُهُمْ أَنَّهُمْ أَرْجَحُ مِنْ أَهْلِ جِنْسِهِمْ وَأَمَّا الثَّوَابُ بِالتَّقَرُّبِ إلَى اللَّهِ فَلَا يَكُونُ بِمِثْلِ هَذِهِ الْأَعْمَالِ

“Setiap ibadah yang tidak diperintahkan (oleh syyariat) haruslah dilarang. Lalu, jika ia mengetahui bahwa perbuatan tersebut dilarang namun ia tetap mengerjakannya, maka ia berhak untuk dihukum. Adapun jika ia tidak mengetahui bahwa perbuatan tersebut dilarang syariat, maka ia tidak berhak untuk dihukum. Jika ia meyakini bahwa perbuatan tersebut diperintahkan oleh syariat, dan ia sejenis dengan perbuatan yang diperintahkan, maka ia diberi pahala atasnya.

Adapun jika ia dari jenis perbuatan yang terkategori syirik, maka hal yang seperti itu tidak ada satupun yang diperintahkan (oleh syariat). Namun, sebagian orang terkadang menyangka bahwa sebagin jenis perbuatan tersebut diperintahkan oleh syariat. Orang yang seperti inii bukanlah seorang mujtahid, sebab seorang mujtahid pasti harus mengikuti dalil syar’i. Sementara perbuatan tersebut tidak memiliki dalil syar’i. Hanyasaja terkadang ia dilakukan oleh “ijtihad” orang yang sepertinya, yaitu dengan bertaklid kepada sebagian ulama dan syaikh yang melakukannya. Padahal ulama atau syaikh tersebut boleh jadi mengerjakannya karena melihat perbuatan tersebut bermanfaat atau karena mereka mendengar sebuah hadits tentangnya , yang sebenarnya adalah hadits palsu.

Orang seperti mereka itu, jika belum tegak kepada mereka hujjah tentang keharaman perbuatan tersebut, niscaya mereka tidak akan diazab karena perbuatan tersebut. Adapun soal pahala terhadap perbuatan tersebut, terkadang pahala mereka lebih kuat daripada pahala orang yang sejenis dengan mereka. Adapun pahala karena mendekatkan diri kepada Allah, maka tidaklah bisa diraih dengan amalan seperti ini.”[12]

Dalil Jenis Kedua:

Dalil-dalil syar’i yang menunjukkan berlakunya udzur atas orang yang terjatuh dalam perbuatan syirik atau kekufuran, karena ia tidak mengetahui (bodoh), maka status keislamannya tidak hilang dan ia tidak diperlakukan sebagai orang kafir

 Di antara dalil syar’i yang termasuk dalam jenis ini adalah:

[1]- Hadits tentang laki-laki yang banyak dosa dan jenazahnya dibakar

Hadits tersebut diriwayatkan oleh para ulama hadits dari jalur Abu Hurairah, Abu Sa’id Al-Khudri, Hudzaifah bin Yamah, Uqbah bin Amru, Abdullah bin Mas’ud dan banyak sahabat lainnya radiyallahu ‘anhum. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Al-Wazir Al-Yamani menyatakan hadits tersebut mutawatir. Berikut ini jalur periwayatan yang disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” كَانَ رَجُلٌ يُسْرِفُ عَلَى نَفْسِهِ فَلَمَّا حَضَرَهُ المَوْتُ قَالَ لِبَنِيهِ: إِذَا أَنَا مُتُّ فَأَحْرِقُونِي، ثُمَّ اطْحَنُونِي، ثُمَّ ذَرُّونِي فِي الرِّيحِ، فَوَاللَّهِ لَئِنْ قَدَرَ عَلَيَّ رَبِّي لَيُعَذِّبَنِّي عَذَابًا مَا عَذَّبَهُ أَحَدًا، فَلَمَّا مَاتَ فُعِلَ بِهِ ذَلِكَ، فَأَمَرَ اللَّهُ الأَرْضَ فَقَالَ: اجْمَعِي مَا فِيكِ مِنْهُ، فَفَعَلَتْ، فَإِذَا هُوَ قَائِمٌ، فَقَالَ: مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ؟ قَالَ: يَا رَبِّ خَشْيَتُكَ، فَغَفَرَ لَهُ “

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Pada zaman dahulu ada seorang laki-laki yang selalu berbuat dosa. Tatkala ia akan menjemput kematian, ia berpesan kepada anak-anaknya: ‘Jika aku telah mati, maka bakarlah jenazahku, lalu tumbuklah arang jenazahku dan taburkan abunya (di laut, menurut lafal Muslim) pada saat angin bertiup kencang. Demi Allah, jika Allah mampu membangkitkan diriku, tentulah Rabbku akan menyiksaku dengan siksaan pedih yang belum pernah ditimpakan kepada seorang pun.”

Ketika orang itu mati, pesannya dilaksanakan oleh anak-anaknya. Maka Allah memerintahkan kepada bumi, “Kumpulkanlah abu jenazahnya yang ada padamu!” Bumi pun melaksanakan perintah Allah, sehingga laki-laki itu pun kembali berdiri secara utuh. Allah bertanya, “Kenapa kamu melakukan tindakan seperti itu?” Laki-laki itu menjawab, “Wahai Rabbku, karena rasa takutku kepada-Mu.” Maka Allah mengampuni laki-laki itu. (HR. Bukhari no. 3481 dan Muslim no. 2756)

Riwayat Hudzaifah bin Yaman dan Uqbah bin Amru radhiyallahu ‘anhuma:

قَالَ حُذَيْفَةُ: وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: إِنَّ رَجُلًا حَضَرَهُ المَوْتُ، فَلَمَّا يَئِسَ مِنَ الحَيَاةِ أَوْصَى أَهْلَهُ: إِذَا أَنَا مُتُّ فَاجْمَعُوا لِي حَطَبًا كَثِيرًا، وَأَوْقِدُوا فِيهِ نَارًا، حَتَّى إِذَا أَكَلَتْ لَحْمِي وَخَلَصَتْ إِلَى عَظْمِي فَامْتُحِشَتْ، فَخُذُوهَا فَاطْحَنُوهَا، ثُمَّ انْظُرُوا يَوْمًا رَاحًا فَاذْرُوهُ فِي اليَمِّ، فَفَعَلُوا، فَجَمَعَهُ اللَّهُ فَقَالَ لَهُ: لِمَ فَعَلْتَ ذَلِكَ؟ قَالَ: مِنْ خَشْيَتِكَ، فَغَفَرَ اللَّهُ لَهُ ” قَالَ عُقْبَةُ بْنُ عَمْرٍو: وَأَنَا سَمِعْتُهُ يَقُولُ ذَاكَ: وَكَانَ نَبَّاشًا

Dari Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku juga mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “(Pada zaman dahulu) ada seorang laki-laki yang tengah menghadapi kematian. Saat ia telah putus asa dari hidupnya (yakin tak lama lagi akan mati, pent) maka ia berwasiat kepada keluarganya: ‘Jika aku telah mati, maka kumpulkanlah kayu bakar yang banyak, nyalakanlah api padanya! Sehingga jika api telah memakan dagingku, mencapai tulangku dan tulangku tinggal arang, maka pungutlah ia dan tumbuklah! Lalu tunggulah hari di mana angin bertiup kencang, maka taburkanlah abu jasadku pada angin!”

Keluarganya melaksanakan wasiat itu. Maka Allah menyatukan jasadnya kembali dan bertanya kepadanya (di akhirat), “Kenapa engkau melakukan hal itu?” Laki-laki itu menjawab, “Rasa takut kepada-Mu.” Maka Allah mengampuni laki-laki itu.

Sahabat Uqbah bin Amru berkata: “Saya juga mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam menyabdakan seperti itu. Dan laki-laki itu adalah orang yang biasa membongkar makam orang yang telah mati (untuk mengambil perhiasan atau pakaian si mayat, pent).”(HR. Bukhari no. 3452 dan Muslim no. 2934-2935 dengan lafal Bukhari)

Riwayat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَّ رَجُلًا كَانَ قَبْلَكُمْ، رَغَسَهُ اللَّهُ مَالًا، فَقَالَ لِبَنِيهِ لَمَّا حُضِرَ: أَيَّ أَبٍ كُنْتُ لَكُمْ؟ قَالُوا: خَيْرَ أَبٍ، قَالَ: فَإِنِّي لَمْ أَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ، فَإِذَا مُتُّ فَأَحْرِقُونِي، ثُمَّ اسْحَقُونِي، ثُمَّ ذَرُّونِي فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ، فَفَعَلُوا، فَجَمَعَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَالَ: مَا حَمَلَكَ؟ قَالَ: مَخَافَتُكَ، فَتَلَقَّاهُ بِرَحْمَتِهِ “

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Pada umat sebelum kalian ada seorang laki-laki yang dikaruniai oleh Allah harta yang melimpah. Ketika ia tengah menghadapi kematian, ia bertanya kepada anak-anaknya: “Bapak seperti apakah aku ini bagi kalian?” Mereka menjawab: “Engkau adalah sebaik-baik bapak bagi kami.” Laki-laki itu berkata: “Aku belum pernah melakukan satu pun amal kebaikan. Maka jika aku mati, bakarlah jenazahku, lalu tumbuklah arang jasadku dan taburkanlah abu jasadku pada hari yang angin bertiup kencang.”

Anak-anaknya melaksanakan wasiat itu. Maka Allah menyatukan jasadnya kembali dan bertanya kepadanya (di akhirat), “Kenapa engkau melakukan hal itu?” Laki-laki itu menjawab, “Rasa takut kepada-Mu.” Maka Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada laki-laki itu. (HR. Bukhari no. 3478 dan Muslim no. 2757)

Para ulama bersepakat bahwa orang yang banyak berbuat dosa tersebut tidak kafir dan status keislamannya tidak hilang, oleh karenanya Allah SWT mengampuni dosanya. Namun para ulama berbeda pendapat tentang sebab orang tersebut tidak divonis kafir dan tidak diperlakukan sebagai orang kafir. Secara ringkas, perbedaan pendapat mereka adalah sebagai berikut.

Pendapat pertama:

Perbuatan orang tersebut bukanlah sebuah kekufuran, sehingga ia tidak menjadi kafir karenanya. Para ulama yang memegang pendapat ini kemudian melakukan beberapa penakwilan untuk memahami hadits di atas sebagai berikut:

  1. Orang tersebut mengakui qudrah Allah, bukan meniadakan (mengingkari) qudrah Allah.
  2. Lafal “jika Allah mampu mengumpulkanku” diartikan dengan makna “jika Allah menyempitkan atas diriku ampunan-Nya, niscaya Allah akan mengazabku”. Pendapat ini dipilih oleh Ath-Thahawi, Ibnu Jama’ah, dan lainnya.
  3. Lafal “jika Allah mampu mengumpulkanku” diartikan dengan makna “jika Allah menakdirkan”. Sehingga mereka memahami hadits ini dengan pengertian “Jika sebelumnya telah tercatat ilmu Allah dan takdir-Nya bahwa Allah akan mengazabku, niscaya Allah mengazabku”. Pendapat ini dipilih oleh sebagian ulama.
  4. Lafal “jika Allah mampu mengumpulkanku” dipahami sebagai sebuah majaz hadzf. Mereka mengartikannya dengan makna “jika Allah mengumpulkanku dan meng-hisabku, niscaya Allah akan mengazabku”. Pendapat ini dipilih oleh Al-Qushaimi.

Pendapat kedua:

Perbuatan orang tersebut adalah sebuah kufur akbar, namun ia tidak kafir akibat perbuatan tersebut disebabkan adanya penghalang takfir. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, dan dinyatakan sebagai pendapat yang lebih kuat oleh para ulama seperti Imam Ibnu Hazm, Ibnu Abdil Barr, Al-Qurthubi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ibnu Wazir Al-Yamani, Abdullah Abu Buthain, dan Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab.

Lalu kelompok ulama ini berbeda pendapat tentang penghalang takfir pada diri orang tersebut. Berikut ini pendapat mereka.

  1. Orang tersebut mengatakan perkataan tersebut dalam kondisi shock, ketakutan, dan kesakitan, sehingga ia tidak menyadari apa yang ia katakan. Pendapat ini dipilih oleh Al-Qurthubi, Ibnu Hajar Al-Asqalani, dan lainnya.
  2. Orang tersebut tidak mengingkari pokok sifat qudrah Allah, melainkan hanya mengingkari kesempurnaan sifat qudrah-Nya. Maka kekufuran yang ia lakukan adalah dalam perkara yang khafiyyah (tersamar, tidak jelas), bukan dalam perkara zhahirah (perkara yang jelas). Pendapat ini dipilih oleh Syaikh Abdul Aziz bin Bazz dan lainnya.
  3. Orang tersebut tidak mengetahui bahwa ucapannya tersebut adalah sebuah kekufuran akbar dan akan menyebabkan masuk neraka. Imam Ibnu Abdil Barr menyatakan pendapat ini adalah pendapat yang dipegang oleh para ulama salaf terdahulu. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Qutaibah, Ibnu Abdil Barr, Ibnu Aqil, Ibnu Hazm, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, Ibnu Wazir Al-Yamani, dan para ulama muhaqqiq lainnya.

Imam Ibnu Abdil Barr berkata,

فقال منهم قائلون هذا رجل جهل بعض صفات الله عز و جل وهي القدرة فلم يعلم أن الله على كل ما يشاء قدير قالوا ومن جهل صفة من صفات الله عز و جل وآمن بسائر صفاته وعرفها لم يكن بجهله بعض صفات الله كافرا قالوا وإنما الكافر من عائد الحق لا من جهله وهذا قول المقتدمين من العلماء ومن سلك سبيلهم من المتأخرين

“Sebagian ulama mengatakan ini adalah orang yang tidak mengetahui sebagian sifat Allah, yaitu sifat qudrah, sehingga ia tidak mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala hal yang dikehendaki-Nya.  Para ulama tersebut mengatakan bahwa barangsiapa tidak mengetahui sebagian sifat Allah, namun ia mengimani sifat-sifat Allah lainnya dan mengetahuinya, niscaya ketidak tahuannya terhadap sebagian sifat Allah tersebut tidak menjadikannya sebagai orang kafir. Mereka mengatakan bahwasanya orang kafir adalah orang yang menentang kebenaran, bukan orang yang tidak mengetahui kebenaran.  Ini adalah pendapat para ulama terdahulu (mutaqaddimin) dan para ulama belakangan yang mengikuti langkah mereka.”[13]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

فَهَذَا رَجُلٌ شَكَّ فِي قُدْرَةِ اللَّهِ وَفِي إعَادَتِهِ إذَا ذُرِّيَ ، بَلْ اعْتَقَدَ أَنَّهُ لَا يُعَادُ ، وَهَذَا كُفْرٌ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ ، لَكِنْ كَانَ جَاهِلًا لَا يَعْلَمُ ذَلِكَ وَكَانَ مُؤْمِنًا يَخَافُ اللَّهَ أَنْ يُعَاقِبَهُ فَغَفَرَ لَهُ بِذَلِكَ . وَالْمُتَأَوِّلُ مِنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ الْحَرِيصُ عَلَى مُتَابَعَةِ الرَّسُولِ أَوْلَى بِالْمَغْفِرَةِ مِنْ مِثْلِ هَذَا .

“Orang ini ragu-ragu terhadap qudrah Allah dan ragu bahwa Allah sanggup mengembalikan tubuh manusia jika telah ditebarkan abunya (pada saat angin bertiup kencang). Bahkan ia meyakini bahwa ia tidak akan dikembalikan. Ini merupakan sebuah kekufuran menurut kesepakatan kaum muslimin. Namun ia adalah orang bodoh yang tidak mengetahui hal itu. Ia juga orang yang beriman dan takut jika Allah mengazabnya. Maka Allah mengampuninya karena faktor tersebut. Seorang mujtahid yang melakukan kajian dan ia sangat antusias mengikuti ajaran Rasulullah SAW tentu lebih layak untuk diampuni daripada orang ini.”[14]

Bahkan beliau menyatakan orang tersebut juga mengingkari hari kebangkitan. Beliau berkata,

فهذا الرجل اعتقد أن الله لا يقدر على جمعه إذا فعل ذلك أو شك وأنه لا يبعثه وكل من هذين الاعتقادين كفر يكفر من قامت عليه الحجة لكنه كان يجهل ذلك ولم يبلغه العلم بما يرده عن جهله وكان عنده إيمان بالله وبأمره ونهيه ووعده ووعيده فخاف من عقابه فغفر الله له بخشيته

 فمن أخطأ في بعض مسائل الاعتقاد من أهل الإيمان بالله وبرسوله وباليوم الآخر والعمل الصالح لم يكن أسوأ حالا من الرجل فيغفر الله خطأه أو يعذبه إن كان منه تفريط في اتباع الحق على قدر دينه وأما تكفير شخص علم إيمانه بمجرد الغلط في ذلك فعظيم

“Orang ini meyakini bahwasanya Allah tidak mampu untuk mengumpulkannya jika ia melakukan hal itu, atau ia ragu-ragu (terhadap kemampuan Allah) dan ia meyakini bahwa Allah tidak akan membangkitkannya. Masing-masing dari dua keyakinan ini adalah kekufuran yang jika telah tegak hujah niscaya pelakunya kafir karenanya. Namun orang tersebut tidak mengetahui hal itu, dan belum datang kepadanya ilmu yang bisa menolak ketidak tahuannya tersebut. Di samping itu ia memiliki keimanan kepada Allah, perintah-Nya dan larangan-Nya, janji-Nya dan ancaman-Nya. Ia takut terhadap siksaan-Nya, maka Allah mengampuninya karena rasa takutnya kepada-Nya.”

“Maka barangsiapa dari kalangan orang yang beriman kepada Allah, rasul-Nya, hari akhir, dan beramal shalih, lalu ia keliru dalam sebagian permasalahan akidah, niscaya kondisinya tidaklah lebih buruk dari kondisi orang ini. Maka Allah akan mengampuni kekeliruannya atau Allah akan menyiksanya jika ia melakukan keteledoran dalam mengikuti kebenaran sesuai kadar pemahaman keagamaannya. Adapun mengkafirkan seseorang yang telah diketahui keimanannya hanya karena kekeliruannya dalam hal seperti itu sungguh merupakan sebuah dosa besar.”[15] 

Pendapat ketiga (c) yang menyatakan bahwa orang tersebut tidak kafir karena ketidak tahuannya merupakan pendapat yang benar. Hal itu karena beberapa alasan:

  1. Orang tersebut benar-benar mengingkari sifat qudrah Allah SWT. Bukti atas hal itu adalah:
  • Konteks hadits tersebut menjelaskan bahwa orang tersebut memerintahkan anak-anaknya membakar mayatnya dan menaburkan abu jenazahnya di lautan pada saat angina berhembus kencang. Tujuannya adalah Allah tidak akan mampu mengumpulkan abu jenazahnya dan membangkitkannya kelak di hari kiamat. Jadi, ia berusaha untuk melarikan diri dari kekuasaan Allah dan pengadilan di hadapan-Nya kelak. Lalu hadits tersebut menyambung kisah tersebut dengan huruf fa’, yaitu lafal فَوَاللَّهِ لَئِنْ قَدَرَ عَلَيَّ رَبِّي لَيُعَذِّبَنِّي “Maka demi Allah, seandainya Rabbku mampu…”

Seandainya ia mengakui qudrah Allah untuk mengumpulkan abu jenazahnya dan membangkitkannya kelak di akhirat, niscaya ia tidak akan berwasiat seperti itu kepada anak-anaknya, dimana perkara tersebut akan sia-sia dan tidak merealisasikan keinginannya tersebut.[16]

  • Susunan kalimat dalam hadits, demikian pula susunan bentuk syarat dan balasannya dalam hadits tersebut, tidaklah mungkin bisa dipahami dengan makna yang benar dan logis, kecuali jika dimaknai bahwa orang tersebut mengingkari qudrah Allah.

Seandainya kisah dalam hadits itu dipahami dengan makna orang tersebut mengakui qudrah Allah, lalu haditsnya ditakwil dengan pengertian “seandainya Allah menakdirkanku, niscaya Allah akan mengazabku” atau “seandainya Allah menyempitkanku, niscaya Allah akan mengazabku”; maka makna hadits tersebut akan rusak. Sebab, antara syarat dan jaza’ tidak ada hubungan kesesuaian.

  • Dalam sebagian ayat atau hadits, lafal qadara memiliki makna menyempitkan. Namun hal itu bukan berarti lafal qadara dalam hadits ini memiliki makna penyempitan juga. Sebab, sebuah lafal seringkali memiliki makna yang berbeda ketika terletak dalam ayat atau hadits yang berbeda. Untuk memahami hal itu, kita harus memperhatikan kalimat sebelumnya, kalimat sesudahnya, dan susunan kalimat dalam ayat atau hadits tersebut.[17]
  • Sebagian riwayat hadits tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa orang tersebut mengingkari qudrah Allah. Sebagian riwayat hadits tersebut berbunyi:

ثُمَّ اذْرُونِي فِي الْبَحْرِ فِي يَوْمِ رِيحٍ لَعَلِّي أَضِلُّ اللهَ

“…kemudian taburkanlah abu jenazahku di laut pada hari angin bertiup kencang, semoga dengannya aku membingungkan Allah.” (HR. Ahmad no. 20012 dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 19/1037. Syaikh Ahmad Syakir, Syu’aib Al-Arnauth, dan Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih)   

  • Dalam penggunaan kata yang biasa dipakai oleh Al-Qur’an dan as-sunnah, lafal qadara tidak pernah dipergunakan dengan makna menyempitkan dalam perkara yang berkaitan dengan peristiwa setelah kematian dan peristiwa di alam akhirat.
  1. Ketika memberikan wasiat agar mayatnya dibakar dan abunya ditaburkan di lautan pada saat angin bertiup kencang, orang tersebut masih dalam kondisi sadar sepenuhnya. Ia tidak berada dalam kondisi pingsan, gila, shock, atau kehilangan kesadaran. Di antara buktinya adalah:

– Dalam riwayat yang shahih dari jalur Abu Sa’id Al-Khudriyi disebutkan dialog orang tersebut dengan anak-anaknya.

فَقَالَ لِبَنِيهِ لَمَّا حُضِرَ أَيَّ أَبٍ كُنْتُ لَكُمْ قَالُوا خَيْرَ أَبٍ قَالَ فَإِنِّي لَمْ أَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ فَإِذَا مُتُّ فَأَحْرِقُونِي ثُمَّ اسْحَقُونِي ثُمَّ ذَرُّونِي فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ فَفَعَلُوا

Ketika sakaratul maut mendatanginya, ia bertanya kepada anak-anaknya, “Aku ini ayah yang seperti apa bagi kalian?” Anak-anaknya menjawab, “Engkau adalah sebaik-baik ayah bagi kami.” Laki-laki itu berkata, “Sesungguhnya aku belum pernah beramal kebaikan sedikit pun. Maka jika aku meninggal, bakarlah jenazahku, lalu tumbuklah abunya, lalu tebarkanlah pada hari yang angina bertiup kencang.” Maka anak-anaknya melaksanakan wasiat tersebut. (HR. Bukhari, Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi dalam Al-Asma’ wash Shsifat)

– Anak-anaknya yang mendampinginya saat sakaratul maut melaksanakan wasiat orang tersebut. Seandainya ayah mereka berwasiat seperti itu dalam kondisi gila atau kehilangan kesadaran, niscaya anak-anaknya tidak akan melaksanakan wasiat tersebut.

  1. Orang tersebut mengingkari satu perkara agama yang sangat besar dan jelas. Jika ia mengingkari satu sifat Allah, yaitu sifat qudrah seperti kesimpulan yang diambil oleh sebagian ulama, maka sudah jelas bahwa hal itu adalah perkara yang besar dan jelas.

Adapun jika ia mengingkari rincian dari sifat qudrah Allah, yaitu kemampuan Allah untuk mengumpulkan jasad makhluk dan membangkitkannya kelak di akhirat, sebagaimana kesimpulan yang diambil oleh sebagian ulama, maka hal itu juga merupakan perkara yang besar dan jelas. Ia bukan perkara yang tersembunyi dan samar-samar (khafiyyah). Sebab, qudrah adalah sifat Allah yang diakui oleh semua kaum muslimin dan semua penganut agama (khususnya agama samawi: Yahudi dan Nasrani).[18]

Sifat qudrah juga merupakan konskuensi dari rububiyah dan uluhiyah Allah SWT. Sebab, tidak mungkin Allah memiliki rububiyah (menciptakan semua makhluk, mengatur alam semesta, dan memberi rizki seluruh makhluk) kecuali jika Allah memiliki sifat qudrah. Demikian pula, Allah tidak mungkin menjadi satu-satunya Ilah yang seluruh makhluk wajib beribadah, berdoa, berharap, dan berserah diri kepada-Nya; kecuali jika Allah memiliki sifat qudrah.

Maka tidak bisa dibayangkan seorang manusia bisa melakukan tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah, jika ia mengingkari sifat qudrah Allah SWT.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan kedudukan sifat qudrah Allah dengan mengatakan, “Ia adalah konskuenski dari dzat Allah, dimana ia merupakan sifat kesempurnaan Allah yang paling nyata.”[19]

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah juga menjelaskan, “Wujud Allah, rububiyah-Nya, dan qudrah-Nya itu lebih jelas dari segala hal secara mutlak. Ia lebih terang bagi pandangan hati daripada matahari bagi pandangan mata. Ia lebih jelas bagi akal pikiran daripada segala hal yang dipikirkan dan diakui wujudnya oleh akal pikiran. Tiada yang mengingkarinya, kecuali orang yang menyombongkan diri dengan lisannya, hatinya, akalnya, dan fitrahnya. Dan semua aspek tersebut mendustakan kesombongannya tersebut.”[20]

Oleh karena itu beberapa ulama menyatakan telah tercapai ijma’ atas kafirnya orang yang mengingkari sifat qudrah Allah SWT.[21]

Ketika orang ini mengingkari kemampuan Allah untuk membangkitkan dirinya setelah jenazahnya dibakar dan abunya ditaburkan pada hari yang angin bertiup kencang; sesungguhnya ia tidak mengingkari perkara yang kecil atau perkara cabang. Sesungguhnya keimanan kepada hari akhirdan bahwasanya hari akhir itu mencakup semua manusia dan jin, adalah perkara agung yang termasuk perkara paling jelas dalam agama Islam. Tidak ada perbedaannya antara mengingkari kebangkitan seluruh manusia, dengan mengingkari kebangkitan sebagian manusia.

Maka hal ini termasuk argumentasi yang mengugurkan pendapat sebagian ulama yang berpendapat bahwa orang ini mengingkari perkara yang samar (khafiyah) dalam agama Islam, sehingga ia tidak dikafirkan karenanya.

Hal ini juga termasuk argumentasi yang mengugurkan pendapat sebagian ulama yang memilah-milah berlakunya udzur dengan kebodohan dalam perkara tauhid; dimana dalam tauhid asma’ wa shifat diberlakukan udzur karena kebodohan, sementara dalam perkara tauhid uluhiyah tidak diberlakukan udzur karena kebodohan.

Pemilah-milahan tauhid seperti itu adalah pendapat yang keliru. Sebab, semua jenis tauhid itu saling berkaitan satu dengan lainnya. Jenis-jenis tauhid tersebut tidaklah berdiri sendiri-sendiri. Jenis-jenis tauhid tersebut tidak bisa dipisah-pisahkan. Pelanggaran dan kesalahan dalam satu jenis tauhid berkonskuensi terjadinya pelanggaran dan kesalahan dalam jenis tauhid lainnya.

Oleh karena itu para ulama menegaskan bahwa ma’rifatullah (mengenal Allah, tauhid rububiyah) yang darinya muncul sikap beribadah kepada Allah semata (tauhid uluhiyah), adalah buah dari tauhid mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT.

Imam Izzuddin bin Abdus Salam berkata, “Memahami makna nama-nama Allah adalahs arana menuju interaksi dengan Allah dengan buah-buahnya, yaitu rasa takut kepada-Nya, rasa harap kepada-Nya, mengagungkan-Nya, mencintai-Nya, berserah diri kepada-Nya, dan buah-buah lainnya dari mengetahui sifat-sifat Allah.”[22]

Menjelaskan hubungan saling terkait antara jenis-jenis tauhid, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata, “Setiap sifat Allah memiliki ‘ubudiyah (peribadatan) khusus yang menjadi konskuensi wajib dari sifat tersebut. Yaitu sebagai konskuensi wajib dari mengenal dan memahami sifat tersebut. Pengetahuan seorang hamba terhadap keesaan Rabb dalam mendatangkan madharat maupun mendatangkan manfaat, dalam memberi karunia atau menahan karunia, menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, dan mematikan akan membuahkan ibadah tawakal (berserah diri) kepada Allah secara batin, juga konskuensi-konskuensi dan buah-buah dari tawakal tersebut secara lahir…”[23]

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, “Adapun tauhid shifat, maka sesungguhnya tauhid rububiyah tidak akan lurus, demikian juga tauhid uluhiyah tidak akan lurus, kecuali dengan membenarkan sifat-sifat Allah.”[24]

[2]- Firman Allah SWT:

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

“Dan Kami menyeberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu. Maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata, Wahai Musa, buatlah untuk kami sebuah Tuhan sesembahan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa Tuhan (berhala).” Musa menjawab, “Sesungguhnya kalian adalah kaum yang tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf [7]: 138)

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari menjelaskan ayat ini dengan mengatakan, “Mereka mendatangi suatu kaum yang menyembah berhala-berhala sebagai tuhan sesembahan mereka selain Allah. Maka mereka berkata, “Wahai Musa, buatlah untuk kami berhala yang kami sembah dan patung yang kami jadikan Ilah (Tuhan sesembahan) kami. Sebagaimana orang-orang itu memiliki patung-patung yang mereka sembah. Padahal tidak selayaknya ibadah dilakukan kecuali kepada Allah Yang Maha Tunggal lagi Maha Perkasa.”[25]

Imam Ibnul Jauzi menjelaskan permintaan Bani Israil tersebut dengan mengatakan, “Ini merupakan pemberitaan tentang besarnya kebodohan mereka, dimana mereka menyangka kebolehan beribadah kepada selain Allah.”

Imam Fakhruddin Ar-Razi secara lebih terang menjelaskan hakekat permintaan Bani Israil tersebut dengan mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya mustahil orang yang berakal berkata kepada Nabi Musa ‘Buatlah untuk kami Ilah (tuhan sesembahan) sebagaimana mereka memiliki ilah-ilah, pencipta, dan pengatur (alam semesta)!’ Sebab, andaikata Musa mampu memenuhi permintaan, tentulah Musa tidak akan mampu membuat seorang Pencipta bagi alam semesta dan seorang Pengatur. Barangsiapa ragu-ragu atas hal itu, niscaya ia adalah orang yang akalnya tidak sempurna (gila, pent). Maka makna yang lebih dekat kepada kebenaran adalah mereka (Bani Israil) meminta kepada Musa menentukan untuk mereka patung-patung dan berhala-berhala untuk mereka ibadah sebagai sarana mereka mendekatkan diri kepada Allah.”[26]

Pernyataan Imam Fakhruddin Ar-Razi ini sejalan dengan kondisi para penyembah berhala sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT:

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Kami tidaklah menyembah mereka kecuali agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah.” (QS. Az-Zumar [39]: 3)

قَالَ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَهًا وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

“Musa menjawab, “Patutkah aku mencari Ilah (Tuhan sesembahan) untuk kalian elain dari Allah? Padahal Dialah yang telah melebihkan kalian atas segala umat.” (QS. Al-A’raf [7]: 140)

Imam Ath-Thabari menjelaskan ayat ini dengan menulis, “Musa berkata kepada kaumnya apakah aku layak mencari selain Allah sebagai Ilah kalian dan aku menjadikanya sebagai sesembahan yang kalian menyembahnya? Padahal Allah Sang Pencipta kalian, telah melebihkan kalian atas orang-orang yang hidup sezaman dengan kalian. Pantaskah aku mencari untuk kalian sesembahan yang tidak dapat memberi kalian manfaat mauupun madharat, untuk kalian sembah, lalu kalian meninggalkan peribadatan kepada (Allah) Yang telah melebihkan kalian atas seluruh makhluk (yang sezaman dengan kalian)? Sungguh ini merupakan kebodohan kalian.”[27]

Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Musa AS memahami bahwa Bani Israil meminta dari dirinya perkara yang berkonskuensi mengangkat Ilah selain Allah SWT.

Para ulama telah sepakat bahwa Bani Israil meminta perkara yang sangat besar kepada Nabi Musa AS. Mereka juga bersepakat bahwa Bani Israil tidak kafir akibat permintaan tersebut. Namun mereka berbeda pendapat tentang perkara yang menhalangi jatuhnya vonis kafir terhadap Bani Israil.

  1. Pendapat pertama menyatakan bahwa Bani Israil tidak kafir dikarenakan mereka tidak melakukan perbuatan kekufuran. Mereka hanya meminta perbuatan kekufuran semata. Pendapat ini dipegangi oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz.

Pendapat ini lemah dikarenakan:

  • Orang yang meminta sebuah kekufuran berarti orang tersebut tidak mengetahui bahwa perbuatan yang ia minta sebenarnya adalah perbuatan kekufuran. Akibatnya, ia meyakini perbuatan tersebut boleh dilakukan. Untuk itulah ia meminta perbuatan (kekufuran) tersebut. Permintaan tersebut menunjukkan adanya keridhaan terhadap perbuatan (kekufuran) yang diminta. Padahal meridhai kekafiran dan tidak mengingkarinya (pada saat ada kemampuan, pent) merupakan sebuah kekufuran, sama saja apakah ia telah melakukan perbuatan kekufuran tersebut maupun ia belum melakukannya.
  • Permintaan mereka tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak memahami hakekat tauhid dan hakekat syirik. Dengan demikian, hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak merealisasikan salah satu syarat tauhid, yaitu ilmu (memahami makna tauhid dan konskuensinya).
  1. Pendapat kedua menyatakan bahwa Bani Israil tidak kafir karena mereka adalah orang-orang bodoh. Mereka tidak mengetahui bahwa apa yang mereka minta tersebut adalah sebuah kekufuran dan syirik akbar. Oleh sebab itu Nabi Musa tidak mengkafirkan mereka, sebagaimana bisa dilihat dan dibaca dalam rangkaian ayat-ayat tersebut.

Nabi Musa AS berinteraksi dengan mereka dengan menempatkan mereka dalam posisi orang-orang yang tidak memahami hakekat perkataan mereka sendiri dan tidak memahami sesembahan mereka yang hak. Untuk itu Nabi Musa segera menjelaskan kepada mereka menunjukkan bukti atas kebatilan permintaan mereka. Pendapat inilah yang lebih benar.

[3]- Hadits tentang Dzatu Anwath.

عَنْ  أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ ، قَالَ : كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحُنَيْنٍ وَنَحْنُ حَدِيثُو عَهْدٍ بِكُفْرٍ فَمَرَرْنَا عَلَى شَجَرَةٍ يَضَعُ الْمُشْرِكُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ يُقَالُ لَهَا : ذَاتُ أَنْوَاطٍ  فَقُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ  كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ  فَقَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ قُلْتُمْ كَمَا قَالَ أَهْلُ الْكِتَابِ لِمُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ {  اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ  }  ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّكُمْ سَتَرْكَبُونَ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

Dari Abu Waqid al-Laitsi RA berkata, “Kami berangkat bersama Rasulullah SAW menuju perang Hunain dan waktu itu kami belum lama meninggalkan kekafiran (mereka masuk Islam pada masa penaklukan kota Makkah, pent). Maka kami berjalan melewati sebatang pohon bidara tempat orang-orang musyrik biasa menggantungkan senjata mereka padanya. Pohon itu dikenal sebagai pohon Dzatu Anwath. Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, buatlah untuk kami Dzatu Anwat sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwat!’

Maka Rasulullah SAW bersabda, “Allahu Akbar! Demi Allah Yang nyawaku berada di tangan-Nya, kalian telah mengatakan seperti perkataan Bani Israil kepada nabi Musa, ‘Buatkanlah untuk kami Tuhan sesembahan sebagaimana mereka memiliki (patung-patung) tuhan-tuhan sesembahanI’ Maka Nabi Musa menjawab, “Sungguh kalian adalah kaum yang bodoh.” Rasulullah SAW kembali bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti jejak langkah orang-orang sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi no. 2180 dan ia berkata: hadits hasan shahih, Ahmad no. 21897 dan 21900, Abdur Razzaq, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-sunnah no.  76, Ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir no. 3290-3294, Ibnu Abi Syaibah no. 37375, Abu Ya’la no. 1441, dan lain-lain. Sanad Ahmad dan Abdur Razzaq shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim)

Riwayat-riwayat lain, di antaranya riwayat Imam Al-Azraqi dalam Akhbar Makkah, I/130, menjelaskan bahwa orang-orang musyrik biasa mengelilingi pohon Dzatu Anwath, menggantungkan senjata mereka padanya, meminta keberkahannya, dan menyembelih hewan persembahan untuknya.    

Para ulama berbeda pendapat dalam memahami jenis permintaan para sahabat dalam kisah Dzatu Anwath ini dan status hukumnya.

Pendapat pertama menyatakan para sahabat tersebut tidak meminta perkara yang berupa kekufuran. Mereka hanya meminta perbuatan yang menyerupai kekufuran. Hukum maksimal dari perbuatan tersebut adalah kufur asghar, bukan kufur akbar. Pendapat ini dipilih oleh Imam Ibnu Athiyah Al-Andalusi, Abdul Lathif bin Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab, dan beberapa ulama kontemporer.

Sebagian ulama kontemporer memperkuat pendapat ini dengan mengutip sebagian pernyataan IbnuTaimiyah dan Asy-Syathibi, yang mereka anggap berpendapat demikian. Di antaranya adalah perkataan Ibnu Taimiyah, “Nabi saw mengingkari sekedar sikap menyerupai orang-orang kafir dalam mengambil sebuah pohon sebagai tempat mereka berkumpul dengan menggantungkan senjata mereka padanya. Maka bagaimana lagi dengan tindakan yang lebih besar darinya, yaitu menyerupai orang-orang musyrik atau kesyirikan itu sendiri?”[28]

Mereka juga berpegangan pada pernyataan Imam Asy-Syathibi terhadap hadits di atas, “Sesungguhnya mengambil pohon Dzatu Anwath itu menyerupai mengambil ilah-ilah sesembahan selain Allah, bukan mengambil ilah selain Allah itu sendiri. Oleh karena itu diperhitungkannya perkara yang ditegaskan dalam nash tidaklah berarti serupa dengan perkara yang tidak ditegaskan dalam nash dari segala sisinya.”[29] 

Sebenarnya pernyataan Asy-Syathibi ini berkenaan dengan deskripsi perbuatan para sahabat, yaitu menyerupai perbuatan orang-orang kafir. Pernyataan Asy-Syathibi tersebut tidak menjelaskan status hukum perbuatan para sahabat tersebut sebagai sebuah kesyirikan atau bukan.

Pendapat kedua, menyatakan bahwa para sahabat tersebut meminta perbuatan yang nilainya syirik akbar. Mereka meminta kepada Nabi SAW untuk mensyariatkan (memperbolehkan) mereka mencari berkah pada pohon Dzatu Anwath, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang musyrik.

Pendapat ini dipilih oleh sejumlah ulama muhaqqiq, seperti Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Abu Syamah, Muhammad bin Abdul Wahhab, Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab, Abdullah Abu Buthain, Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab, Al-Alusi, Shiddiq bin Hasan Al-Qanwaji, Muhammad Rasyid Ridha, Muhammad Hamid Al-Fiqi, Abdurrazzaq Al-Afifi, dan lain-lain.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, “Dalam hadits ini terdapat dua pelajaran agung. Pelajaran pertama: Nabi SAW telah menegaskan bahwa barangsiapa memiliki keyakinan terhadap sebuah pohon atau mencari berkah padanya, maka orang tersebut telah menjadikan pohon tersebut sebagai Ilah. Para sahabat mengetahui bahwa pohon tersebut tidak bisa menciptakan dan tidak pula bisa memberi rizki. Mereka hanya menyangka bahwa apabila Nabi SAW memerintahkan mereka untuk mencari berkah pada pohon tersebut, niscaya pohon tersebut memiliki.”

“Pelajaran kedua: Sesungguhnya syirik terkadang terjadi pada diri orang yang paling berilmu dan paling shalih, tanpa ia sadari.”[30]

Syaikh Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, “Di antara pelajaran yang bisa disimpulkan dari hadits ini adalah sesungguhnya meminta berkah pada pohon dan sejenisnya adalah syirik dan mengangkat Ilah selain Allah. Oleh karenanya, Nabi SAW menyerupakan perkataan para sahabat ‘buatlah untuk kami pohon Dzatu Anwath” dengan perkataan Bani Israil “buatlah untuk kami (patung sebagai) Ilah”.

“Pelajaran lainnya adalah hakekat suatu perkara tidaklah berubah hanya karena perubahan namanya. Pelajaran lainnya adalah bahaya syirik dan kebodohan. Hampir-hampir para sahabat itu terjatuh ke dalam syirik karena ketidak tahuan mereka. Jika hal ini terjadi pada zaman kenabian dan kedatangan (maraknya) agama Islam, lantas bagaimana hal itu tidak akan terjadi lagi setelah berlalunya zaman yang panjang dan terjadinya perubahan suasana serta ajaran agama mengalami keterasingan?”[31]

Pendapat kedua yang menyatakan permintaan para sahabat tersebut adalah kesyirikan, merupakan pendapat yang lebih tepat dan benar. Hal itu karena:

  • Nabi SAW memahami permintaan mereka sebagai sebuah kesyirikan. Karenanya beliau menyerupakan permintaan mereka dengan permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa.

Syaikh Muhammad Hamid Al-Fiqi berkata, “Perkara yang diminta oleh para sahabat tersebut bukanlah sekedar syirik asghaar. Jika ia sekedar syirik asghar, tentulah Nabi SAW tidak akan menjadikannya serupa dengan perkataan Bani Israil “jadikanlah untuk kami (patung sebagai) Ilah” dan Nabi SAW bersumpah atas hal itu. Justru permintaan para sahabat tersebut adalah syirik akbar, sebagaimana permintaan Bani Israil tersebut adalah syirik akbar.”[32]

  • Nabi SAW bersumpah bahwa permintaan para sahabat tersebut serupa dengan permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa. Beliau lantas mengingatkan sunah kauniyah, bahwa umat Islam akan meniru-niru jejak langkah umat-umat terdahulu, agar umat Islam bisa mewaspadai dan menghindarinya.

Lalu para ulama yang mengikuti pendapat kedua ini berbeda pendapat tentang faktor yang menghalangi jatuhnya vonis kafir terhadap para sahabat yang meminta pohon Dzatul Anwath tersebut. Ada dua pendapat dalam hal ini.

  1. Pendapat pertama menyatakan para sahabat tersebut tidak kafir dikarenakan mereka tidak melakukan perbuatan kekufuran. Mereka hanya meminta perbuatan kekufuran semata. Pendapat ini dipegangi oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz.

Pendapat ini lemah dikarenakan:

  • Orang yang meminta sebuah kekufuran berarti orang tersebut tidak mengetahui bahwa perbuatan yang ia minta sebenarnya adalah perbuatan kekufuran. Akibatnya, ia meyakini perbuatan tersebut boleh dilakukan. Untuk itulah ia meminta perbuatan (kekufuran) tersebut. Permintaan tersebut menunjukkan adanya keridhaan terhadap perbuatan (kekufuran) yang diminta. Padahal meridhai kekafiran dan tidak mengingkarinya (pada saat ada kemampuan, pent) merupakan sebuah kekufuran, sama saja apakah ia telah melakukan perbuatan kekufuran tersebut maupun ia belum melakukannya.
  • Permintaan mereka tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak memahami hakekat tauhid dan hakekat syirik. Dengan demikian, hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak merealisasikan salah satu syarat tauhid, yaitu ilmu (memahami makna tauhid dan konskuensinya).
  1. Pendapat kedua menyatakan bahwa para sahabat tersebut tidak kafir karena mereka adalah orang-orang bodoh. Mereka tidak mengetahui bahwa apa yang mereka minta tersebut adalah sebuah kekufuran dan syirik akbar. Hal ini ditunjukkan oleh pernyataan Abu Waqid Al-Laitsi RA yang mengemukakan udzur “dan waktu itu kami belum lama meninggalkan kekafiran.”

Di antara ulama muhaqqiq yang menegaskan hal ini adalah Imam Al-Alusi. Beliau berkata, “Dalam hadits ini terdapat penegasan bahwa orang yang berkata adalah satu orang sahabat saja. Barangkali hal ini terjadi karena kebodohan yang diterima sebagai udzur dan seseorang tidak kafir karenanya. Jika tidak demikian, sudah tentu Nabi SAW akan memerintahkan kepadanya untuk memperbaharui keislamannya, padahal hal itu tidak disebutkan dalam riwayat manapun yang telah saya periksa.”[33]

Di antara ulama lainnya adalah Syaikh Abdurrazzaq Al-Afifi. Saat ditanya tentang orang-orang quburiyyun, beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang murtad yang keluar dari Islam jika telah ditegakkan hujah atas diri mereka. Jika belum ditegakkan hujah atas diri mereka, maka mereka mendapatkan udzur karena kebodohan mereka, seperti halnya kelompok Dzatu Anwath.”[34]

Di antara ulama lainnya yang menegaskan hal ini adalah Syaikh Muhammad Rasyid Ridha. Beliau berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan kepada NAbi SAW permintaan yang disebutkan (dalam hadits tersebut), adalah orang-orang yang baru saja meninggalkan kesyirikan. Sehingga mereka menyangka apa yang dijadikan oleh Nabi SAW bagi mereka dalam perkara (Dzatu Anwath) itu adalah perkara yang disyariatkan dan tidak membatalkan keislaman.”[35]

Pendapat inilah yang lebih benar.

[4]- Hadits Hudzaifah bin Yaman RA:

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَدْرُسُ الْإِسْلَامُ كَمَا يَدْرُسُ وَشْيُ الثَّوْبِ، حَتَّى لَا يُدْرَى مَا صِيَامٌ، وَلَا صَلَاةٌ، وَلَا نُسُكٌ، وَلَا صَدَقَةٌ، وَلَيُسْرَى عَلَى كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي لَيْلَةٍ، فَلَا يَبْقَى فِي الْأَرْضِ مِنْهُ آيَةٌ، وَتَبْقَى طَوَائِفُ مِنَ النَّاسِ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْعَجُوزُ، يَقُولُونَ: أَدْرَكْنَا آبَاءَنَا عَلَى هَذِهِ الْكَلِمَةِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَنَحْنُ نَقُولُهَا ” فَقَالَ لَهُ صِلَةُ: مَا تُغْنِي عَنْهُمْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَهُمْ لَا يَدْرُونَ مَا صَلَاةٌ، وَلَا صِيَامٌ، وَلَا نُسُكٌ، وَلَا صَدَقَةٌ؟ فَأَعْرَضَ عَنْهُ حُذَيْفَةُ، ثُمَّ رَدَّهَا عَلَيْهِ ثَلَاثًا، كُلَّ ذَلِكَ يُعْرِضُ عَنْهُ حُذَيْفَةُ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْهِ فِي الثَّالِثَةِ، فَقَالَ: «يَا صِلَةُ، تُنْجِيهِمْ مِنَ النَّارِ» ثَلَاثًا

Dari Hudzaifah bin Yaman RA berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Islam akan pudar sebagaimana corak pakaian pudar, sampai-sampai tidak diketahui lagi apa itu shiyam, shalat, nusuk (haji atau penyembelihan) dan sedekah (zakat). KItab Allah benar-benar akan diangkat pada suuatu malam, sehingga tidak tersisa satu ayat pun di muka bumi. Yang tersisa hanyalah kakek-kakek tua dan nenek-nenek tua. Mereka mengatakan: ‘Kami mendapati  orang-orang tua kami mengucapkan kalimat ini, Laa Ilaaha Illa Allah, maka kami pun ikut-ikutan mengucapkannya.”

Shilah (tabi’in perawi hadits) bertanya, “Apa manfaatnya bagi mereka ucapan Laa Ilaaha Illa Allah, sementara mereka tidak mengenal apa itu shalat, shiyam, haji, dan zakat?” Mendengar ucapan itu, Hudzaifah berpaling. Shilah mengulangi pertanyaannya tiga kali, namun setiap kali ditanya, Hudzaifah selalu memalingkan mukanya. Pada pertanyaan yang ketiga, Hudzaifah menghadapkan wajahnya kepada Shilah dan menjawab, “Wahai Shilah, kalimat Laa Ilaaha Illa Allah akan menyelamatkan mereka.” Hudzaifah mengucapkannya sebanyak tiga. (HR. Ibnu Majah no. 4049 dan Al-Hakim no. 8460 dan 8636. Al-Hakim menshahihkannya dan Adz-Dzahabi menyetujuinya. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 1/127 dan Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir, 6/339)

Hadits di atas berkenaan dengan suasana akhir zaman menjelang datangnya kiamat. Pada waktu tersebut Al-Qur’an diangkat kembali ke langit dan masyarakat tidak mengetahui lagi hukum-hukum yang zhahir dan mutawatir seperti shalat, zakat, dan shaum. Mereka hanya mengetahui dua kalimat syahadat yang mereka warisi secara turun-temurun dari orang tua mereka. Mereka hanya mengetahui keimanan secara global dengan mengakui kalimat tauhid.

Jika untuk perkara-perkara yang sangat zhahir dan murtawatir tersebut mereka tidak mengetahuinya. Maka bisa diduga kuat bahwa untuk perkara-perkara lainnya yang lebih rumit dan tingkat ke-zhahirannya lebih rendah seperti detail-detail perkara tauhid dan lainnya, mereka lebih tidak mengetahuinya lagi.

Para ulama Islam menjadikan hadits tersebut sebagai dalil udzur dengan kebodohan, baik dalam perkara aqidah (khabariyah) maupun dalam perkara amalan (‘amaliyah). Sisi kesamaan hadits tersebut dengan orang bodoh yang kebodohannya diakui oleh syariat (al-jahl al-mu’tabar) adalah pada sebagian tempat atau zaman, kebodohan begitu mendominasi dan cahaya ajaran kenabian melemah, sehingga banyak hukum-hukum Islam yang zhahir dan mutawatir tidak mereka ketahui, namun mereka masih memiliki keislaman secara global.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

وَكَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ قَدْ يَنْشَأُ فِي الْأَمْكِنَةِ وَالْأَزْمِنَةِ الَّذِي يَنْدَرِسُ فِيهَا كَثِيرٌ مِنْ عُلُومِ النُّبُوَّاتِ حَتَّى لَا يَبْقَى مَنْ يُبَلِّغُ مَا بَعَثَ اللَّهُ بِهِ رَسُولَهُ مِنْ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ فَلَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا يَبْعَثُ اللَّهُ بِهِ رَسُولَهُ وَلَا يَكُونُ هُنَاكَ مَنْ يُبَلِّغُهُ ذَلِكَ وَمِثْلُ هَذَا لَا يَكْفُرُ ؛ وَلِهَذَا اتَّفَقَ الْأَئِمَّةُ عَلَى أَنَّ مَنْ نَشَأَ بِبَادِيَةٍ بَعِيدَةٍ عَنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالْإِيمَانِ وَكَانَ حَدِيثَ الْعَهْدِ بِالْإِسْلَامِ فَأَنْكَرَ شَيْئًا مِنْ هَذِهِ الْأَحْكَامِ الظَّاهِرَةِ الْمُتَوَاتِرَةِ فَإِنَّهُ لَا يُحْكَمُ بِكُفْرِهِ حَتَّى يَعْرِفَ مَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ ؛ وَلِهَذَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ { يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يَعْرِفُونَ فِيهِ صَلَاةً وَلَا زَكَاةً وَلَا صَوْمًا وَلَا حَجًّا إلَّا الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْعَجُوزُ الْكَبِيرَةُ يَقُولُ أَدْرَكْنَا آبَاءَنَا وَهُمْ يَقُولُونَ : لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَهُمْ لَا يَدْرُونَ صَلَاةً وَلَا زَكَاةً وَلَا حَجًّا

“Banyak manusia yang hidup pada tempat-tempat dan zaman-zaman yang padanya telah pudar banyak ilmu-ilmu kenabian, sehingga tidak tersisa seorang yang menyampaikan al-Qur’an dan as-sunnah yang Allah mengutus Rasul-Nya dengannya. Maka manusia tidak mengetahui banyak ajaran yang Allah mengutus Rasul-Nya dengannya, dan di sana juga tidak ada seseorang yang menyampaikannya kepadanya. Maka orang seperti ini tidak kafir.

Oleh karenanya para ulama sepakat bahwa orang yang hidup di daerah terpencil yang jauh dari para ulama dan orang yang beriman, sementara ia belum lama masuk Islam, lalu ia mengingkari sebagian hukum yang zhahir mutawatir ini, maka ia tidak divonis kafir sampai dijelaskan kepadanya ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. Oleh karena itu disebutkan dalam hadits ‘Suatu zaman akan datang kepada manusia, pada waktu itu mereka tidak mengetahui shalat, zakat, shaum, maupun haji. Hanya kakek yang jompo dan nenek yang jompo yang mengatakan: “Kami mendapati nenek moyang kami mengatakan ‘Laa Ilaaha Illa Allahu’.” Ditanyakan kepada sahabat Hudzaifah bin Yaman (yang meriwayatkan hadits ini, pent), “Apa manfaat Laa Ilaaha Illa Allahu bagi mereka?” Hudzaifah menjawab, “Ia akan menyelamatkan mereka dari neraka.”[36]

Hadits ini menjadi dalil berlakunya udzur dengan kebodohan, karena mereka tidak melakukan shalat, zakat, dan shaum bukan karena faktor keteledoran (malas dan tidak sungguh-sungguh dalam) mencari ilmu.

Kelompok ulama yang tidak memberi udzur dengan kebodohan dalam perkara tauhid-syirik membantah argumentasi hadits ini dengan dua bantahan.

Bantahan pertama, hadits tersebut berkaitan dengan suasana tidak ada kemampuan untuk mencari ilmu karena Al-Qur’an telah diangkat ke langit.

Bantahan ini tidak tepat dan keliru. Sebab, kaedah udzur dengan kebodohan itu bermakna barangsiapa tidak teledor (malas dan tidak serius) dalam mencari ilmu, dan ia tidak berpaling dari mencari ilmu, maka ia mendapatkan udzur atas kesalahannya dalam menjalankan ajaran-ajaran Islam. Sama saja apakah ketidak teledorannya dalam menuntut ilmu itu disebabkan oleh kemustahilan untuk belajar, tiadanya kemampuan untuk mencari ilmu, maupun kelupaan. Ketidak mampuan sendiri ada dua macam, yaitu ‘ajzun haqiqi (ketidak mampuan yang sesungguhnya) seperti orang yang hidup di daerah pedalaman yang jauh dari ulama, dan ‘ajzun hukmi (ketidak mampuan untuk meraih ilmu yang benar, dimana ia tidak teledor dan ia telah berusaha untuk menuntut ilmu. Hanya saja ilmu yang ia pelajari tersebut tidak lurus, misalnya karena gurunya adalah ulama sekte bid’ah dan lain-lain).

Bantahan kedua, hadits tersebut tidak menunjukkan mereka terjatuh dalam kesyirikan. Sehingga hadits tersebut  bukanlah dalil berlakunya udzur dengan kebodohan dalam perkara syirik.

Bantahan ini juga lemah. Hadits tersebut menegaskan sangat kuatnya kebodohan menguasai kaum tersebut. Sehingga mereka sampai tidak memahami dan melaksanakan syiar-syiar Islam yang paling jelas dan mutawatir seperti shalat, shaum, dan zakat. Maka tidak heran apabila mereka terjatuh pada perkara-perkara yang tingkat kezhahiran atau kemutawatirannya setara dengannya atau lebih rendah darinya. Jika mereka mendapat uzur dalam perkara-perkara yang sangat zhahir dan mutawatir seperti itu, maka hal itu juga menunjukkan bahwa mereka mendapat udzur untuk perkara-perkara pokok ajaran Islam lainnya yang tingkat kezhahiran dan kemutawatirannya setara dengannya.

Jenis Ketiga:

Dalil-dalil syar’i yang menunjukkan bahwasanya hujah Allah atas hamba-hamba-Nya untuk melaksanakan taklif hanya tegak dengan diutusnya para rasul, dan bahwasanya hujah hamba tidak terputus kecuali jika mereka telah mengetahui ajaran yang dibawa oleh para rasul.

Di antara dalil syar’i yang termasuk dalam jenis ini adalah:

[1]- Firman Allah SWT:

رُسُلاً مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa’ (4): 165)

Konteks dan zhahir ayat ini menunjukkan bahwa seorang mukallaf tidak dituntut untuk melaksanakan suatu perintah syariat kecuali setelah ia mengetahui perintah syariat tersebut. Jika ia tidak mengetahui perintah syariat tersebut, maka ia mendapat udzur jika tidak mengerjakannya.

Hal itu karena ayat tersebut menjelaskan bahwa hikmah diutusnya para rasul adalah memutus udzur manusia dengan kebodohan mereka saat mereka dimintai pertanggung jawaban oleh Allah atas perbuatan mereka selama di dunia. Seandainya tidak diutus para rasul, niscaya manusia bisa membela diri mereka di hadapan Allah dengan kebodohan mereka, dan argumentasi mereka tersebut akan tepat.

Imam Al-Khazin menafsirkan ayat di atas dengan menulis, “Maknanya adalah, agar manusia tidak beragumentasi terhadap Allah dalam meninggalkan tauhid dan ketaatan dengan alasan tidak adanya para rasul. Mereka mengatakan ‘Engkau tidak pernah mengutus seorang rasul pun dan Engkau menurunkan sebuah kitab suci pun. Dalam ayat ini terdapat dalil bahwasanya jika Allah tidak mengutus para rasul, niscaya manusia memiliki argumentasi terhadap Allah dalam meninggalkan tauhid dan ketaatan.”[37]

Imam Ibnul Jauzi menulis, “Agar mereka tidak berargumentasi dalam meninggalkan tauhid dan ketaatan dengan ketiadaan para rasul. Sebab, hal-hal ini (tauhid dan ketaatan) hanya wajib dengan adanya (dakwah) para rasul.”[38]

Imam Ibnu Rizqullah Al-Hambali berkata, “Firman Allah ini merupakan dalil bahwasanya kewajiban untuk beriman dan melakukan ketaatan itu tergantung dengan diutusnya para rasul.”[39]

Menjelaskan pelajaran-pelajaran dari ayat ini, Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin berkata, “Pelajaran yang sangat agung, yaitu berlakunya udzur dengan kebodohan sampai dalam perkara ushuluddien. Sebab, para rasul datang dengan membawa perkara-perkara ushul dan perkara-perkara furu’. Jika seorang manusia dalam keadaan bodoh dan tidak datang kepadanya seorang rasul, niscaya ia memiliki argumentasi terhadap Allah.”[40]

Para ulama menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa seseorang yang belum sampai kepadanya ilmu tentang perintah dan larangan syariat, maka orang tersebut tidak terkena taklif syar’i, baik dalam perkara ushuludi dien maupun furu’ud dien.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Ayat yang seperti ini banyak terdapat dalam Al-Qur’an, dimana Allah menjelaskan bahwasanya Allah tidak menghukum seorang pun sampai datang kepadanya ajaran Rasul. Barangsiapa mengetahui bahwa Muhammad adalah rasul Allah, lalu ia mengimaninya, namun ia tidak mengetahui banyak ajaran yang beliau bawa, niscaya Allah tidak akan mengazabnya atas ketidak tahuannya terhadap ajaran beliau yang belum sampai kepadanya. Jika Allah tidak mengazabnya karena ia tidak mengimani beliau kecuali setelah berita tentang beliau sampai kepadanya, maka tentu Allah lebih layak dan lebih utama tidak akan mengazabnya karena sebagian syariat beliau kecuali setelah sebagian syariat tersebut sampai kepadanya. Ini merupakan sunnah Rasulullah SAW yang sangat terkenal tentang orang-orang yang semisal itu.”[41]

[2]- Firman Allah SWT:

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (155) أَنْ تَقُولُوا إِنَّمَا أُنْزِلَ الْكِتَابُ عَلَى طَائِفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا وَإِنْ كُنَّا عَنْ دِرَاسَتِهِمْ لَغَافِلِينَ (156) أَوْ تَقُولُوا لَوْ أَنَّا أُنْزِلَ عَلَيْنَا الْكِتَابُ لَكُنَّا أَهْدَى مِنْهُمْ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَّبَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَصَدَفَ عَنْهَا سَنَجْزِي الَّذِينَ يَصْدِفُونَ عَنْ آيَاتِنَا سُوءَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يَصْدِفُونَ (157)

Dan Al-Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah ia dan bertakwalah agar kalian diberi rahmat.

(Kami menurunkan Al-Qur’an itu) agar kalian tidak mengatakan, “Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan [yaitu Yahudi dan Nasrani] saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca.

Atau agar kalian tidak mengatakan, “Sesungguhnya jikalau kitab ini diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk daripada mereka.” Sesungguhnya telah datang kepada kalian keterangan yang nyata dari Rabb kalian, petunjuk,, dan rahmat. Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling daripadanya? Kelak Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan siksa yang buruk, disebabkan mereka selalu berpaling. (QS. Al-An’am [6]: 155-157)

Seperti ayat sebelumnya, konteks dan zhahir ayat-ayat ini menunjukkan bahwa seorang hamba tidak terkena taklif syar’i (perintah dan larangan syariat) sampai ia mengetahui taklif tersebut. Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa diantara hikmah diutusnya Rasulullah SAW dan diturunkannya Al-Qur’an adalah memutus argumentasi orang-orang kafir Arab bahwa belum datang kepada mereka seorang rasul yang menyampaikan syariat Allah, dan bahwasanya mereka tidak mengetahui terhadap perkara-perkara yang Allah cintai (tauhid dan ketaatan) maupun perkara-perkara yang Allah benci (kesyirikan dan kemaksiatan). Untuk memutus argumentasi mereka tersebut, Allah mengutus Rasulullah SAW dan menurunkan Al-Qur’an.

[3]- Firman Allah SWT:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَى فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ وَلَا نَذِيرٍ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَشِيرٌ وَنَذِيرٌ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (19)

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kalian Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepada kalian ketika terputus pengiriman rasul-rasul, agar kalian tidak mengatakan, “Tidak ada datang kepada Kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.” Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Maidah [5]: 19)

Ayat ini menunjukkan bahwa taklif syariat, baik dalam perkara ushul dien maupun furu’ dien, adalah dengan wahyu. Konteks ayat ini berbicara tentang penegakan hujah kepada Ahlul Kitab dan memutus argumentasi mereka di zaman Nabi SAW. Kitab suci Ahlul Kitab pada zaman itu telah mengalami penambahan, pengurangan, dan penyelewengan di tangan para pendeta dan rahib yang jahat. Mereka meyakini keyakinan-keyakinan batil (seperti trinitas) yang menyelisihi tauhid. Namun mereka meyakini berada di atas kebenaran. Pada saat itu para rasul sudah tidak diutus lagi, sehingga mereka berada dalam masa keterputusan (kekosongan rasul) dan kebodohan.

Agar mereka tidak beargumentasi dalam meninggalkan tauhid dan ketaatan dengan argument keterputusan para rasul, Allah memutus peluang argumentasi tersebut dengan mengutus Rasulullah SAW dan menurunkan Al-Qur’an, yang menjelaskan dien yang haq kepada Ahlul Kitab.

[4]- Hadits Aswad bin Sari’ RA:

عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ سَرِيعٍ، أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” أَرْبَعَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: رَجُلٌ أَصَمُّ لَا يَسْمَعُ شَيْئًا، وَرَجُلٌ أَحْمَقُ، وَرَجُلٌ هَرَمٌ، وَرَجُلٌ مَاتَ فِي فَتْرَةٍ، فَأَمَّا الْأَصَمُّ فَيَقُولُ: رَبِّ، لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَمَا أَسْمَعُ شَيْئًا، وَأَمَّا الْأَحْمَقُ فَيَقُولُ: رَبِّ، لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَالصِّبْيَانُ يَحْذِفُونِي بِالْبَعْرِ، وَأَمَّا الْهَرَمُ فَيَقُولُ: رَبِّ، لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَمَا أَعْقِلُ شَيْئًا، وَأَمَّا الَّذِي مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ فَيَقُولُ: رَبِّ، مَا أَتَانِي لَكَ رَسُولٌ، فَيَأْخُذُ مَوَاثِيقَهُمْ لَيُطِيعُنَّهُ، فَيُرْسِلُ إِلَيْهِمْ أَنْ ادْخُلُوا النَّارَ، قَالَ: فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَوْ دَخَلُوهَا لَكَانَتْ عَلَيْهِمْ بَرْدًا وَسَلَامًا “،

Dari Aswad bin Sari’ radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Ada empat golongan yang akan berargumentasi (membela diri) pada hari kiamat; orang yang tuli tak bisa mendengar apa-apa, orang yang dungu, orang tua yang pikun dan orang yang mati pada zaman fatrah.

Adapun orang yang tuli akan berkata: “Wahai Rabbku, Islam telah datang kepadaku namun aku tidak bisa mendengar apa-apa.” Orang yang dungu berkata: Wahai Rabbku, Islam telah datang kepadaku namun anak-anak kecil melempariku dengan kotoran unta (karena kebodohanku).” Orang tua yang pikun berkata: “Wahai Rabbku, Islam telah datang kepadaku namun aku tidak bisa memahami apa-apa.” Sedangkan orang yang mati pada zaman fatrah berkata; “Wahai Rabbku, tidak ada seorang pun rasul-Mu yang datang kepadaku.”

Maka Allah mengambil perjanjian dari mereka bahwa mereka akan menaati rasul-Nya. Maka Allah mengutus kepada mereka seorang rasul yang memerintahkan kepada mereka, “Masuklah kalian ke dalam neraka!”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam kemudian bersabda, “Demi Allah yang nyawa Muhammad  berada di tangan-Nya, seandainya mereka mau masuk ke dalam neraka tersebut, niscaya api neraka akan menjadi dingin dan membawa selamat bagi mereka.” (HR. Ahmad no. 16301, Abu Ya’la no. 9597, Ishaq bin Rahawaih dalam Al-Musnad no. 41, Ibnu Hibban no. 7357, Abu Nu’aim al-Asbahani dalam Ma’rifatu Shahabah no. 900, Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam al-Kabir no. 841, dan Ad-Dhiya’ al-Maqdisi dalam Al-Mukhtarah no. 1456)

Hadits Aswad bin Sari’ dinyatakan shahih oleh imam Abdul Haq al-Isybili, Al-Baihaqi, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Ibnu Katsir ad-Dimasyqi dan lain-lain.

Hadits ini diriwayatkan dengan sanad lain dari Qatadah dari Al-Hasan al-Bashri dari Abu Rafi’ dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu seperti hadits di atas, hanya saja di akhir hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

” فَمَنْ دَخَلَهَا كَانَتْ عَلَيْهِ بَرْدًا وَسَلَامًا، وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا يُسْحَبُ إِلَيْهَا “

“Barangsiapa memasuki neraka tersebut niscaya neraka tersebut terasa dingin dan membawa keselamatan bagi dirinya. Adapun barangsiapa tidak mau memasuki neraka tersebut, niscaya ia akan diseret ke dalam neraka.” (HR. Ahmad no. 16302, Ishaq bin Rahawaih dalam Al-Musnad no. 42, Al-Bazzar dalam Al-Musnad no. 2175, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah no. 404, Abu Nu’aim al-Asbahani dalam Akhbar Ashbahan 2/255, Al-Baihaqi dalam Al-I’tiqad dan Ad-Dhiya’ al-Maqdisi dalam Al-Mukhtarah no. 1455. Imam Al-Haitsami berkata: Diriwayatkan oleh Ahmad dan seluruh perawinya adalah perawi kitab ash-shahih. Syaikh Syu’aib al-Arnauth berkata: Sanadnya hasan)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Ishaq bin Rahawaih dari Mu’adz bin Hisyam, dan ia diriwayatkan oleh imam Al-Baihaqi dalam kitab Al-I’tiqad dari hadits Hambal bin Ishaq dari Ali bin Abdullah al-Madini dari jalur tersebut. Imam Al-Baihaqi berkata: Ini adalah sanad yang shahih.

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid dari Abu Rafi’ dari Abu Hurairah berkata: Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

أَرْبَعَةٌ كُلُّهُمْ يُدْلِي عَلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحُجَّةٍ وَعُذْرٍ رَجُلٌ مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ وَرَجُلٌ أَدْرَكَهُ الإِسْلامُ هَرَمًا وَرَجُلٌ أَصَمُّ أَبْكَمُ وَرَجُلٌ مَعْتُوهٌ فَيَبْعَثُ اللَّهُ إِلَيْهِمْ مَلَكًا رَسُولا فَيَقُولُ اتَّبِعُوهُ فَيَأْتِيهِمُ الرَّسُولُ فَيُؤَجِّجُ لَهُمْ نَارًا ثُمَّ يَقُولُ اقْتَحِمُوهَا فَمَنِ اقْتَحَمَهَا كَانَتْ عَلَيْهِ بَرْدًا وَسَلامًا وَمَنْ لا حقت عليه كلمة العذاب”.

“Empat golongan yang masing-masing mereka akan menyampaikan alasan dan udzur kepada Allah pada hari kiamat; orang yang meninggal pada zaman fatrah, orang yang mendapati Islam saat ia telah pikun, orang yang tuli lagi bisu, dan orang yang idiot. Maka Allah mengutus kepada mereka seorang malaikat sebagai rasul dan Allah berfirman: “Ikutilah rasul ini!” Maka rasul itu datang kepada mereka, maka Allah menyalakan api neraka untuk mereka, lalu rasul itu berkata kepada mereka: “Masuklah kalian ke dalam neraka ini!” Maka barangsiapa memasuki neraka tersebut niscaya neraka tersebut terasa dingin dan membawa keselamatan bagi dirinya. Adapun barangsiapa tidak mau memasuki neraka tersebut, niscaya telah pastilah adzah Allah terhadap dirinya.” (HR. Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah no. 404 dan Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah. Syaikh Al-Albani dalam Zhilal al-Jannah Takhrij As-Sunnah menshahihkannya)

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkannya dari hadits Ma’mar dari Hammam dari Abu Hurairah secara mauquf. Abu Hurairah kemudian berkata: “Jika kalian mau, bacalah firman Allah Dan tidaklah Kami mengazab seorang pun sampai kami mengutus seorang rasul.”

Demikian juga hadits tersebut diriwayatkan oleh Ma’mar dari Abdullah bin Thawus dari Thawus dari Abu Hurairah secara marfu’.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Telah disebutkan dalam beberapa hadits bahwa mereka pada hari kiamat di pelataran kiamat akan diperintah dan dilarang; barangsiapa taat niscaya akan masuk surga dan barangsiapa membangkang niscaya akan masuk neraka. Inilah pendapat yang disebutkan oleh imam Abul Hasan al-Asy’ari dari ahlus sunnah wal jama’ah.” (Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 24/372-373)

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata, “Hadits-hadits ini, sebagiannya menguatkan sebagian lainnya, dan ia dikuatkan oleh pokok-pokok syariat dan kaedah-kaedah syariat. Berpendapat dengan kandungan maknanya merupakan madzhab generasi salaf dan ahlus sunnah, sebagaimana dikutip dari mereka oleh imam Abul Hasan al-Asy’ari dalam kitabnya, Maqalat Al-Islamiyyin, dan lainnya. (Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Thariqul Hijratain wa Babus Sa’adatain, hlm. 436, Beirut: Darul Khair, cet. 1, 1419 H, tahqiq: Wahbah az-Zuhaili)

Imam Ibnu Katsir ad-Dimasyqi berkata, “Sesungguhnya hadits-hadits bab ini, di antaranya ada yang shahih sebagaimana telah ditegaskan oleh lebih dari seorang ulama, dan di antaranya ada yang hasan, serta di antaranya ada yang dha’if namun menjadi kuat karena adanya hadits yang shahih dan hasan tersebut. Jika hadits-hadits sebuah bab saling menguatkan seperti ini, niscaya ia member faedah sebagai hujjah menurut ulama yang mengkajinya.” (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-Azhim, 5/35, Kairo: Dar at-Taufiqiyah, cet. 1, 2009 M)

Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang belum sampai kepadanya hujah risalah karena sebab kebodohan, yang dilator belakangi oleh tiadanya ilmu tentang ajaran Rasul, atau karena ilmu tentang ajaran rasul tersebut samar (tersembunyi), niscaya orang tersebut tidak akan diazab. Ia akan mendapat udzur di akhirat, bersama orang-orang yang mendapat udzur karena sebab-sebab lainnya. 

Hadits ini menyejajarkan orang yang bodoh dengan orang yang bisu, orang yang idiot, dan orang gila. Keempatnya memiliki sisi persamaan, yaitu tidak memiliki sarana (kemampuan untuk) memahami. Ketiadaan sarana memahami inilah yang menghalangi taklif syar’i atas diri mereka, meskipun tingkat tidak berlakunya taklif syar’i tersebut berbeda-beda di antara mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya, status orang yang bodoh adalah sama dengan status mereka.

Kesimpulan

Semua dalil Al-Qur’an dan as-sunnah di atas meneggaskan satu kaedah menyeluruh (qa’idah kulliyah) dalam syariat Islam, yaitu bahwasanya:

  1. Hujah Allah atas hamba-hamba-Nya yang berkonskuensi berlakunya hukum-hukum syar’i di dunia atas diri mereka dan adanya pertanggung jawaban (pahala dan dosa) di akhirat kelak hanyalah tegak setelah diutusnya para rasul dan sampainya ilmu tentang ajaran rasul tersebut kepada hamba-hamba-Nya.
  2. Seorang mukallaf tidak dituntut untuk melaksanakan hukum-hukum syariat Islam, dalam perkara ushulud dien maupun furu’ dien, kecuali setelah ia mengetahui hukum-hukum syariat tersebut.
  3. Makna tersirat (mafhum)nya, jika seseorang belum sampai kepadanya ilmu tentang hukum-hukum syariat, maka hujah belumlah tegak atas dirinya dan secara hukum di dunia, ia bukanlah orang yang terkena kewajiban melaksanakan hukum-hukum syariat tersebut.
  4. Karena ia tidak terkena kewajiban melaksanakan hukum-hukum syariat tersebut, maka ia memiliki hujah jika beragumentasi dengan belum sampainya ilmu kepada dirinya. Secara hukum di akhirat, ia tidak terkena hukuman karena ia memiliki argumentasi di hadapan Allah.
  5. Hal ini berlaku untuk semua persoalan agama Islam, baik persoalan ushul dien maupun furu’ dien. Ini adalah kaedah umum yang baku, dan tidak boleh beralih dari kaedah umum ini kecuali dengan adanya dalil shahih yang mengharuskannya. Wallahu a’lam bish-shawab. []

 

[1]. Majmu’ Fatawa 20/23 karya Ibnu Taimiyah. Lihat juga At-Tahbir Syarh At-Tahrir, 3/1199 karya Al-Mardawi dan Itsarul Haq ‘alal Khalqi hlm. 393 karya Ibnu Wazir Al-Yamani.

[2]. Tafsir Al-Qur’an (Surat Al-Baqarah), 3/452 karya Syaikh Al-Utsaimin.

[3]. Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘ala Zad Al-Mustaqni’, 14/449 karya Syaikh Al-Utsaimin.

[4]. Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam, 8/633 karya Ibnu Hazm Al-Andalusi.

[5]. Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an, 4/502 karya Al-Qurthubi. Lihat juga Al-Muwafaqat, 1/259 karya Asy-Syathibi.

[6]. Majmu’ Fatawa, 12/490.

[7]. Majmu’ Fatawa, 3/229.

[8]. Al-Irsyad ila Ma’rifatil Ahkam, hlm. 208 karya As-Sa’di.

[9]. Ahkamul Qur’an Al-Karim, 2/380 karya Al-Utsaimin.

[10]. Majmu’ Fatawa, 12/489.

[11]. Majmu’ Fatawa, 11/408.

[12]. Majmu’ Fatawa, 20/32.

[13]. At-Tamhid, XVIII/42. 

[14]. Majmu’ Fatawa, III/231.

[15]. Al-Istiqamah, I/164, karya Ibnu Taimiyah.

[16] . Majmu’ Fatawa, XI/410.

[17]. Majmu’ Fatawa, XI/410. dan Al-Ushaimi, Musykilatul Hadits An-Nabawi, hlm. 142.

[18]. Majmu’ Fatawa, VIII/7.

[19]. Majmu’ Fatawa, XVIII/237

[20]. Miftahu Daris Sa’adah, I/212.

[21]. Majmu’ Fatawa, III/321. 

[22]. Syajaratul Ma’arif wal Ahwal, hlm, 17, karya Izzuddin bin Abdis Salam.

[23]. Miftahu Daris Sa’adah, II/90.

[24]. Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, III/42.

[25]. Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari, VI/45.

[26]. At-Tafsir Al-Kabir, V/350.

[27]. Tafsir Ath-Thabari, VI/46.

[28]. Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, II/157.

[29]. Al-I’isham, I/464.

[30]. Ad-Durar As-Sanniyah fil Ajwibah An-Najdiyah, II/112 dan 127. Namun dalam Kitab Tauhid-nya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berpendapat lain. Beliau menyatakan tindakan para sahabat tersebut “hanya” bernilai syirik asghar, bukan syirik akbar. 

[31]. Ad-Durar As-Sanniyah fil Ajwibah An-Najdiyah, V/120..

[32]. Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid (footnote dari Syaikh Muhammad Hamid Al-Fiqi), hlm. 141.

[33]. Ruhul Ma’ani, VI/9, karya Imam Al-Alusi.

[34]. Majmu’ Fatawa wa Rasail Syaikh Abdurrazzaq Al-Afifi, hlm. 371.

[35]. Majmu’atur Rasail wal Masail An-Najdiyah (komentar beliau), IV/39.

[36]. Majmu’ Fatawa, XI/407-408.

[37]. Lubabut Ta’wil, I/624, karya Al-Khazin.

[38]. Zadul Masir, II/256. 

[39]. Rumuzul Kunuz, I/668.

[40]. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim (surat An-Nisa’), II/485, karya Syaikh Utsaimin. 

[41]. Majmu’ Fatawa, XXII/41.

Advertisements