Anshar Al-Islam

Kebodohan terhadap hukum syar’i, baik hukum-hukum yang berkenaan dengan keyakinan-akidah (khabariyah) maupun amal perbuatan (‘amaliyah), tidak akan hilang dari seorang mukallaf sampai tegak hujah kepadanya. Hujah syariat tidak tegak atas seorang hamba sampai terpenuhi dua syarat:

  1. Syarat wujudi (penetapan) yaitu memahami khithab
  2. Syarat ‘adami (peniadaan) yaitu hilangnya syubhat

Syarat Pertama:

Fahmul Hujjah = Memahami Hujah

Maksudnya adalah memahami makna khithab syariat (ayat Al-Qur’an atau hadits nabawi), memahami sisi penunjukkan khitab tersebut terhadap hukum, dan memahami maksud darinya secara benar.

Seorang hamba tidak dianggap mukallaf terhadap suatu hukum syariat, baik dalam perkara ushul dien maupun furu’ dien, kecuali jika ia memahami makna dan hukum yang ditunjukkan oleh ayat Al-Qur’an atau hadits nabawi yang berkenaan dengan hukum syariat tersebut.

Orang yang tidak memiliki pemahaman terhadap makna dan hukum yang terkandung dalam ayat Al-Qur’’an atau hadits Nabi SAW tidaklah dianggap mengetahui hukum syar’i dalam ayat dan hadits tersebut. Sehingga, ia tidak dianggap mukallaf (terkena kewajiban menjalankan hukum syariat yang terkandung dalam ayat dan hadits tersebut).

Oleh karena itu para ulama Ushul Fiqih mengungkapkan syarat ilmu dengan istilah paham, sebagai isyarat bahwa mengilmui hujah (dalil syari’at) itu akan tercapai kecuali dengan memahami hujah tersebut.[1]

Di antara dalil bahwa syarat taklif adalah seorang mukallaf memahami hujah adalah:

[1]- Firman Allah SWT:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan ia mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, niscaya Kami biarkan ia leluasa dalam kesesatan yang telah dikuasainya itu (yaitu Allah membiarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan Kami memasukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An-Nisa’ [4]: 115)

Dalam ayat ini, ancaman azab dari Allah atas orang yang menentang dan menyimpang dari petunjuk Rasulullah SAW dikaitkan dengan pemahaman terhadap petunjuk Rasul dan jelasnya petunjuk beliau bagi seseorang; lalu setelah itu orang tersebut berpaling dari petunjuk Rasul dan menentangnya.

Sehingga makna ayat di atas, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir dan para ulama tafsir lainnya adalah “barangsiapa menempuh jalan selain jalan syariat yang dibawa oleh Rasulullah SAW, sehingga ia berada di satu jalan dan syariat di jalan yang berbeda. Dan hal itu ia lakukan secara sengaja, setelah ia menjadi jelas dan terang kebenaran baginya…”[2]

[2]- Firman Allah SWT:

إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَى لَهُمْ

Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. (QS. Muhammad [47]: 25)

Dalam ayat ini, Allah SWT mengaitkan kekafiran mereka dengan telah jelasnya kebenaran dan petunjuk kepada mereka. Mereka telah memahami syariat Allah dan mengetahui kebenaran, namun mereka kemudian memilih kekafiran.

Hal ini ditegaskan oleh ayat sebelumnya, dimana Allah SWT memerintahkan mereka untuk mempelajari dan mentadaburi Al-Qur’an, agar mereka mengetahui kebenaran dan memahami petunjuk.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak mentadabburi (mengkaji kandungan makna Al-Qur’an) ataukah hati mereka terkunci? (QS. Muhammad [47]: 24)

[3]- Firman Allah SWT:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَشَاقُّوا الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا وَسَيُحْبِطُ أَعْمَالَهُمْ

Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikit pun. Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka. (QS. Muhammad [47]: 32)

Makna ayat ini seperti makna ayat sebelumnya. Allah mengaitkan kekafiran mereka dan sikap mereka memusuhi dakwah Rasul dengan pahamnya mereka terhadap ajaran Rasul. Al-Qur’an dan as-sunnah disampaikan Rasulullah SAW kepada mereka, dan mereka mampu memahaminya. Namun mereka lebih memilih kekafiran dan penentangan terhadap kebenaran yang didakwahkan oleh Rasulullah SAW.

[4]- Allah SWT menegaskan bahwa orang-orang kafir memahami ajaran para rasul. Mereka mendengarkan wahyu Allah dibacakan dan diterangkan kepada mereka oleh para rasul. Namun mereka berpaling dari kebenaran yang didakwahkan para rasul tersebut. Bahkan mereka menentangnya, setelah mereka mengetahui dan memahami dakwah para rasul tersebut.

وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ (4) أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ (5) وَانْطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَى آلِهَتِكُمْ إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ (6)

Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (Rasul) dari kalangan mereka. Orang-orang kafir berkata, “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.”

Para pemimpin-pemimpin mereka beranggkat (seraya berkata), “Pergilah kalian dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhan kalian! sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. (QS. Shad [38]: 4-6)

قَالُوا أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

Mereka berkata, “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Al-A’raf [7]: 70)

[5]- Firman Allah

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّى يُبَيِّنَ لَهُمْ مَا يَتَّقُونَ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga Allah menjelaskan kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. At-Taubah [9]: 115)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa orang yang tidak memasukkan orang yang telah beriman ke dalam golongan orang kafir, sampai Allah menjelaskan kepadanya perkara-perkara kekufuran. Sehingga, ia melakukan kekufuran tersebut setelah mengetahui ilmunya dan memahami keharamannya.

[6]- Allah SWT mengutus setiap nabi dari kalangan kaumnya sendiri, untuk mendakwahi kaumnya dengan bahasa yang mereka pahami. Sehingga mereka bisa memahami wahyu Allah dan tidak memiliki argumentasi di hadapan Allah atas sikap berpaling, melanggar, atau menentang syariat Allah.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ

Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (QS. Ibrahim [14]: 4)

[7]- Nabi SAW memberi udzur kepada para sahabat yang meminta dibuatkan pohon Dzatu Anwath seperti pohon yang dimiliki oleh orang-orang musyrik. Dalil-dalil tentang keharaman syirik sudah pasti telah sampai kepada para sahabat tersebut. Namun para sahabat tersebut tidak mengetahui dan tidak memahami bahwa meminta berkah kepada pohon adalah termasuk bagian dari syirik akbar.

[8]- Hadits tentang empat orang yang menyampaikan argumentasinya di hadapan Allah pada hari kiamat. Al-Ahmaq (orang yang idiot) mendapat udzur bukan karena ayat Al-Qur’an dan hadits nabawi belum sampai kepadanya. Melainkan karena ia tidak mampu memahami makna dan kandungan hukum dalam ayat dan hadits tersebut.

[9]- Nabi SAW membberi udzur kepada Adi bin Hatim yang keliru dalam memahami nash Al-Qur’an tentang shaum. Beliau tidak menyatakan Adi bin Hatim berdosa atas kesalahan tersebut, dan beliau juga tidak memerintahkan kepadanya untuk menqadha’ shaumnya. Kesalahan Adi bin Hatim tentu timbul karena tidak memahami nash dengan benar, bukan karena nash tentang shaum belum sampai kepadanya.

[10]- Khalifah Umar bin Khathab dan para sahabat memberi udzur kepada Qudamah bin Mazh’un yang meminum dan menghalalkan khamr. Dalil tentang keharaman khamr (QS. Al-Maidah [5]: 90) telah sampai kepada Qudamah bin Mazh’un, yang adalah seorang sahabat senior, muhajir, dan veteran perang Badar. Namun ia keliru memahami ayat tersebut, dimana ia meyakini dirinya sebagai orang shalih dikecualikan dari keharaman tersebut, dengan dalil ayat lainnya (QS. Al-Maidah [5]: 93)

Para ulama ushul fiqih menegaskan bahwa memahami khithab syariat (ayat dan hadits) adalah syarat berlakunya sebuah taklif syariat.

Imam Al-Ghazali Asy-Syafi’i berkata, “Syaratnya adalah hendaknya ia orang yang berakal sehat, memahami khithab.”[3]

Imam Ath-Thufi Al-Hambali berkata, “Di antara syarat mukallaf adalah akal sehat dan memahami khithab. Maksudnya, ia harus berakal sehat dan mampu memahami khithab. Kedua syarat ini harus terkumpul pada dirinya, sebab akal sehat tidak mesti berarti mampu memahami khithab.”[4]

Imam Ibnu Najjar Al-Hambali berkata, “Pemahaman adalah syarat taklif.”[5]

Sebagian ulama ushul fiqih, di antaranya Imam Al-Aamidi dalam Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam, Imam Ibnu As-Subki dalam Al-Ibhaj Syarh Al-Minhaj, dan Imam Asy-Syaukani dalam Isyadul Fuhul ila Tahqiqil Haq min Ilmil Ushul menyebutkan telah tercapainya ijma’ ulama atas persyaratan ini.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa ketidak mampuan memahami nash syariat adalah bukti dari melemahnya dan samarnya ajaran kenabian di sebuah tempat atau zaman, sehingga menjadi udzur bagi orang yang hidup dalam tempat atau zaman tersebut.

Beliau mengatakan, “Terkadang banyak orang kebingungan, tidak mampu memahami nash-nash syariat, sehingga nash-nash tersebut bagi mereka musykil (samar maknanya, membingungkan) karena ketidak mampuan mereka untuk memahaminya….”

“Namun terkadang ajaran-ajaran Risalah menjadi samar di sebagian tempat dan zaman, sehingga mereka tidak mengetahui ajaran Rasul SAW. Baik karena mereka tidak mengetahui lafalnya, maupun mereka mengetahui lafalnya namun mereka tidak mengetahui maknanya. Maka pada saat itu mereka berada dalam kejahiliyahan disebabkan tiadanya cahaya kenabian. Dari sinilah kemudian timbul syirik.”[6]

Lebih lanjut Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa hujjah tidak tegak dengan semata sampai dan didengarnya dalil syar’i oleh seseorang. Melainkan harus disertai kemampuan memahami makna yang ditunjukkan oleh dalil syar’I tersebut.

Saat menjelaskan makna firman Allah, “Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah. Kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS. At-Taubah [9]: 6)

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Telah diketahui bahwa maksud ayat ini adalah ia mendengar dengan pendengaran yang dengannya ia mampu memahami maknanya. Karena, tujuan ayat tidaklah tercapai dengan sekedar mendengar lafal yang tidak disertai memahami maknanya. Jika ia bukan orang Arab, maka harus diterjemahkan baginya yang dengannya hujjah tegak baginya. Jika ia orang Arab, namun di dalam Al-Qur’an terdapat lafal-lafal yang gharib (asing penggunaan dan maknanya), yang bukan bahasanya, maka wajib diterangkan maknanya kepadanya. Jika ia mendengar lafalnya sebagaimana kebanyakan manusia mendengarnya namun ia tidak memahami maknanya dan ia meminta kepada kita untuk menafsirkannya dan menjelaskannya kepadanya, niscaya kita wajib melakukannya.”[7]

Dalam persoalan yang berkaitan dengan tauhid, syirik dan ushul dien lainnya, ketidak mampuan dalam memahami makna yang ditunjukkan oleh ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah udzur yang menghalangi jatuhnya vonis kafir atas diri seorang muslim. Sebab, hal itu berarti hujjah belum tegak atas dirinya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

وَهَكَذَا الْأَقْوَالُ الَّتِي يَكْفُرُ قَائِلُهَا قَدْ يَكُونُ الرَّجُلُ لَمْ تَبْلُغْهُ النُّصُوصُ الْمُوجِبَةُ لِمَعْرِفَةِ الْحَقِّ وَقَدْ تَكُونُ عِنْدَهُ وَلَمْ تَثْبُتْ عِنْدَهُ أَوْ لَمْ يَتَمَكَّنْ مِنْ فَهْمِهَا وَقَدْ يَكُونُ قَدْ عَرَضَتْ لَهُ شُبُهَاتٌ يَعْذُرُهُ اللَّهُ بِهَا فَمَنْ كَانَ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ مُجْتَهِدًا فِي طَلَبِ الْحَقِّ وَأَخْطَأَ فَإِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ لَهُ خَطَأَهُ كَائِنًا مَا كَانَ سَوَاءٌ كَانَ فِي الْمَسَائِلِ النَّظَرِيَّةِ أَوْ الْعَمَلِيَّةِ هَذَا الَّذِي عَلَيْهِ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . وَجَمَاهِيرُ أَئِمَّةِ الْإِسْلَامِ

“Demikian pula perkataan-perkataan yang bisa menjadikan orang kafir karenanya, terkadang seseorang belum sampai kepadanya nash-nash yang menyampaikannya kepada ilm tentang kebenaran. Terkadang nash-nashnya telah sampai kepadanya, namun menurutnya nash-nash tersebut tidak shahih. Atau, ia tidak mampu memahaminya. Terkadang juga ada syubhat-syubhat yang menimpanya, yang dengannya Allah memberinya udzur.”

“Maka barangsiapa termasuk golongan orang beriman, ia bersungguh-sungguh mencari kebenaran, lalu keliru, niscaya Allah mengampuni kekeliruannya, apapun kekeliruan tersebut, baik dalam perkara-perkara teoritis (nazhariyah = khabariyah = akidah) maupun perkara-perkara praktis (‘amaliyah = amal perbuatan). Inilah yang dianut oleh para sahabat Nabi SAW dan seluruh ulama Islam.”[8]

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan bahwa tegaknya hujah itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan tempat, zaman, dan orang. Terkadang sebuah hujah telah tegak atas seseorang, namun belum tegak atas orang lainnya. Baik karena ia tidak memiliki akal sehat (orang gila), maupun ia memiliki akal sehat namun tidak mampu memahami dalil syar’I seperti orang tuli dan orang idiot.[9]

Beliau juga menjelaskan bahwa para pelaku kekufuran dan ta’thil sifat Allah yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal jama’ah itu ada beberapa golongan. Di antara mereka adalah orang-orang yang tidak mampu mencapai kebenaran, karena mereka tidak mengetahui makna sebenarnya yang ditunjukkan oleh dalil syar’i. Beliau menyatakan bahwa golongan tersebut mendapat udzur.[10]

Di antara para ulama kontemporer lainnya yang menjelaskan memahami khithab sebagai syarat tegaknya hujjah adalah Syaikh Muhammad Rasyid Ridha dan Shalih Al-Utsaimin.

 Syarat Kedua:

Intifa’ Asy-Syubhat: Tiadanya Syubhat

Maksudnya adalah seorang muslim tidak menghadapi syubhat yang mengakibatkan dirinya tidak mengetahui makna yang benar dari sebuah nash (ayat atau hadits). Juga, seorang muslim tidak menghadapi syubhat yang mengakibatkan makna zhahir nash tersebut keliru menurutnya, sehingga ia melakukan takwil terhadap makna zhahir tersebut.

Sepanjang perjalanan dan pengalaman sejarah, syubhat merupakan faktor yang seringkali menyebabkan para ulama —apalagi kaum awam umat Islam— keliru memahami makna ayat Al-Qur’an atau hadits nabawi. Karena syubhat-syubhat tersebut, mereka tidak sampai kepada makna yang benar yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya, baik dalam perkara ushul dien maupun furu’ dien. Akibatnya, mereka melakukan takwilan-takwilan terhadap makna nash dan menganut pemahaman-pemahaman yang justru menyelisihi makna yang benar dari nash tersebut.

Imam Ahmad bin Hambal menjelaskan betapa syubhat telah banyak menggelincirkan manusia dari jalan yang benar. Beliau berkata:

أَكْثَرُ مَا يُخْطِئُ النَّاسُ مِنْ جِهَةِ التَّأْوِيلِ وَالْقِيَاسِ

“Hal yang paling banyak menyebabkan orang terjatuh pada kekeliruan adalah takwil dan qiyas.”[11]

Oleh karena itu para ulama muhaqqiq mempersyaratkan tiadanya syubhat bagi tegaknya hujah atas individu. Mereka menegaskan bahwa orang yang terjatuh ke dalam syubhat yang mu’tabarah, lalu ia menakwil nash-nash syar’i dari maknanya yang benar, maka orang tersebut sejatinya bukanlah orang yang mengetahui hukum syar’i. Itulah sebabnya, takwilan yang ia lakukan tidak dikategorikan mendustakan Rasulullah SAW, atau menolak syariat, atau menentang syariat, ataupun berpaling dari syariat.

Orang yang terjatuh ke dalam syubhat sebenarnya lebih layak untuk mendapatkan udzur daripada orang yang bodoh. Hal itu karena orang yang melakukan takwil terjatuh pada dua hal: ia tidak mengetahui suatu hukum syar’i atas sebuah masalah, dan pengetahuannya tentang hukum syar’i atas masalah tersebut bertolak belakang dengan kebenaran. Jadi, ia adalah orang yang bodoh secara rangkap (jahl murakkab), dimana ia berada di atas kekeliruan namun meyakini dirinya berada di atas sebuah kebenaran.

Prinsip-prinsip pokok syariat dan hasil kajian para ulama muhaqqiqin menegaskan bahwa udzur dengan adanya syubhat berlaku pada perkara ushul dien maupun furu’ dien. Jika seorang muslim menetapi secara global pokok-pokok ajaran agama (ushulu dien) dan secara lahiriah taat dan tunduk kepada syariat Islam, lalu ia terjatuh dalam sebuah perkara kekufuran —baik dalam perkara yang berkaitan dengan syirik maupun selainnya— akibat dirinya ditimpa oleh sebuah syubhat; maka ia tidak divonis sebagai orang kafir dan hukum-hukum syariat atas orang kafir di dunia tidaklah diterapkan kepadanya. Ia tetap diperlakukan sebagai seorang muslim yang bodoh, yaitu muslim yang tidak mengetahui hukum Allah dalam permasalahan tersebut.

Oleh karenanya, para ulama mengkategorikan orang yag melakukan takwil dalam kelompok orang yang bodoh. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam dialognya dengan para ulama Jahmiyah mengatakan:

و لهذا كنت أقول للجهمية من الحلولية و النفاة الذين نفوا أن الله تعالى فوق العرش لما وقعت محنتهم أنا لو وافقتكم كنت كافرا لأني أعلم أن قولكم كفر و أنتم عندي لا تكفرون لأنكم جهال وكان هذا خطابا لعلمائهم و قضاتهم و شيوخهم وأمرائهم

“Oleh karena itu saya mengatakan kepada orang-orang Jahmiyah dari kalangan penganut paham Hululiyah (Allah bersemayam dalam diri makhluk, pent) dan Nufat yaitu orang-orang yang tidak mengakui bahwa Allah berada di atas ‘Arsy, saat terjadi ujian dari mereka, “Jika aku sependapat dengan kalian, niscaya aku menjadi orang yang kafir, karena aku mengetahui pendapat kalian adalah sebuah kekufuran. Namun kalian menurutku bukanlah orang-orang kafir, karena kalian adalah orang-orang yang bodoh.” Ungkapan ini beliau tujukan kepada para ulama, qadhi, syaikh, dan pemimpin mereka.[12]

Menegaskan berlakunya udzur dengan adanya syubhat, Syaikhul Islam Ibnu taimiyah berkata:

المتأول الذي قصده متابعة الرسول لا يكفر بل ولا يفسق إذا اجتهد فأخطأ وهذا مشهور عند الناس في المسائل العملية وأما مسائل العقائد فكثير من الناس كفر المخطئين فيها

 وهذا القول لا يعرف عن أحد من الصحابة والتابعين لهم بإحسان ولا عن أحد من أئمة المسلمين وإنما هو في الأصل من أقوال أهل  البدع الذين يبتدعون بدعة ويكفرون من خالفهم كالخوارج والمعتزلة والجهمية ووقع ذلك في كثير من أتباع الأئمة كبعض أصحاب مالك والشافعي وأحمد وغيرهم

“Orang yang melakukan takwil, yang tujuannya adalah mengikuti ajaran Rasulullah SAW tidaklah divonis kafir, bahkan juga tidak divonis fasik, jika ia berijtihad kemudian keliru. Persoalan ini sudah terkenal di kalangan masyarakat dalam perkara-perkara yang bersifat amalan.”

“Adapun dalam perkara-perkara akidah, kebanyakan masyarakat mengkafirkan orang yang keliru dalam perkara akidah. Pendapat ini tidak dikenal dari seorang sahabat pun dan tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik. Bahkan pendapat ini juga tidak dikenal dari seorang pun imam panutan kaum muslimin.

Sebenarnya pendapat tersebut adalah pendapat kelompok-kelompok bid’ah yang mengada-adakan bid’ah, lalu mereka mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi bid’ah tersebut. Seperti kelompok Khawarij, Mu’tazilah, dan Jahmiyah. Lalu ikut terjatuh dalam pendapat yang salah ini banyak pengikut imam panutan, seperti sebagian pengikut Imam Malik, Syafi’i, Ahmad, dan lain-lain.”[13]

Beliau juga menegaskan syubhat sebagai penghalang takfir. Beliau berkata:

“Demikian pula perkataan-perkataan yang bisa menjadikan orang kafir karenanya, terkadang seseorang belum sampai kepadanya nash-nash yang menyampaikannya kepada ilm tentang kebenaran. Terkadang nash-nashnya telah sampai kepadanya, namun menurutnya nash-nash tersebut tidak shahih. Atau, ia tidak mampu memahaminya. Terkadang juga ada syubhat-syubhat yang menimpanya, yang dengannya Allah memberinya udzur.”

“Maka barangsiapa termasuk golongan orang beriman, ia bersungguh-sungguh mencari kebenaran, lalu keliru, niscaya Allah mengampuni kekeliruannya, apapun kekeliruan tersebut, baik dalam perkara-perkara teoritis (nazhariyah = khabariyah = akidah) maupun perkara-perkara praktis (‘amaliyah = amal perbuatan). Inilah yang dianut oleh para sahabat Nabi SAW dan seluruh ulama Islam.”[14]

Menjelaskan tentang syarat-syarat takfir, beliau mengatakan, “Meskipun pendapat tersebut merupakan pendustaan terhadap sabda Rasulullah SAW, namun terkadang orang tersebut adalah orang yang baru masuk Islam atau orang yang tumbuh di daerah pedalaman yang jauh. Orang yang seperti ini tidak kafir jika ia mengingkari suatu perkara agama sampai dating kepadanya hujah. Terkadang orang tersebut tidak mendengar nash-nash syariat, atau ia telah mendengarnya namun menurutnya nash-nash tersebut tidak shahih, atau menurutnya bertentangan dengan nash lainnya sehingga nash-nash tersebut harus ditakwill, meskipun pendapatnya tersebut keliru.”[15]

Ibnu Taimiyah berulang kali di banyak kitabnya menjelaskan bahwa umat Islam yang keliru karena melakukan takwil itu mendapatkan udzur, meskipun kekeliruannya dalam perkara yang sangat zhahir, seperti masalah-masalah ushulu dien.

Penegasan pendapat-pendapat beliau tersebut  dikuatkan oleh praktek sikap beliau kepada para ulama lainnya yang terjatuh dalam syirik akbar karena melakukan takwil. Beliau tidak mengkafirkan mereka. Beliau tetap menghormati mereka, menghargai mereka, dan memperlakukan mereka sebagai muslim.

Hal itu seperti sikap beliau kepada Al-Bakri, seorang ulama pada zaman hidup beliau yang sangat keras mempertahankan pendapat disyariatkannya meminta pertolongan (istighatsah) dengan orang shalih yang telah meninggal, terkhusus lagi dengan Nabi SAW. Al-Bakri terlibat diskusi sengit dengan Ibnu Taimiyah dalam masalah tersebut, dan ia mengarang buku untuk mempertahankan pendapatnya tersebut. Ia bahkan mengkafirkan Ibnu Taimiyah. Meski demikian, Ibnu Taimiyah tetap menyikapinya dengan santun dan memperlakukannya sebagai seorang muslim. Ibnu Taimiyah berkata:

فلهذا لم نقابل جهله و افتراءه بالتكفير بمثله كما لو شهد شخص بالزور على شخص أو قذفه بالفاحشة كذبا عليه لم يكن له أن يشهد عليه بالزور ولا أن يقذفه بالفاحشة

“Kami tidak membalas kebodohannya dan pernyataan-pernyataan palsunya dengan mengkafirkannya. Sebagaimana jika seseorang memberikan kesaksian palsu terhadap orang lain atau menuduhnya berzina sebagai sebuah kebohongan atas dirinya, maka orang lain tersebut tidak boleh balas memberikan kesaksian palsu atau menuduhnya berzina.”[16]

Ibnu Taimiyah juga tidak mengkafirkan Imam Taqiyuddin As-Subki, yang memiliki keyakinan kebolehan meminta pertolongan (istighatsah) dengan Nabi SAW setelah kewafatan beliau. Taqiyuddin As-Subki menguatkan pendapatnya tersebut dengan panjang lebar memaparkan argumentasinya, dalam bukunya Syifa’ As-Saqam.  Ibnu Taimiyah memuji Taqiyuddin As-Subki, menghormatinya, dan mengakuinya sebagai salah satu ulama besar kaum muslimin. Hal yang sama dilakukan oleh Imam Adz-Dzahabi dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.

Para sejarawan yang hidup satu zaman dan satu wilayah dengan mereka mencatat peristiwa tersebut, di antaranya Imam Tajuddin Ibnu As-Subki dalam Thabaqat Asy-Syafi’iyyah Al-Kubra dan Ash-Shafadi dalam A’yanul ‘Ashr. Seandainya Ibnu Taimiyah, Adz-Dzahabi, dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah memvonis kafir atau musyrik terhadap Taqiyuddin As-Subki dan ulama-ulama pada zaman itu yang memperbolehkan istighatsah dengan orang shalih yang telah meninggal, niscaya peristiwa itu telah diketahui umum dan akan dicatat oleh para sejarawan Islam.

Hal ini membuktikan bahwa secarapendapat teori dan amalan praktik, Ibnu Taimiyah dan para ulama muhaqqiq lainnya menganggap syubhat dan takwil sebagai salah satu udzur yang menghalangi jatuhnya vonis kafir.

Di antara ulama kontemporer yang menegaskan bahwa syubhat merupakan udzur yang menghalangi jatuhnya vonis kafir adalah Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dan Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menulis, “Sesungguhnya orang-orang yang melakukan takwil dari kalangan Ahlul Kiblat, yang tersesat dan keliru dalam memahami apa yang dibawa oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah, disertai adanya keimanan mereka kepada Rasul dan kebenaran beliau dalam segala perkara yang beliau sabdakan, dan bahwa apapun yang beliau sabdakan adalah kebearan, dan mereka menetapi hal itu, namun mereka keliru dalam sebagian permasalahan khabariyah maupun amaliyah; mereka itu, Al-Qur’an dan As-sunnah telah menunjukkan bahwa mereka tidak keluar dari dien Islam dan mereka tidak disikapi dengan hukum-hukum yang diperlakukan terhadap orang-orang kafir. Hal ini telah disepakati oleh generasi sahabat, tabi’in, dan para imam panutan setelah mereka.”[17]

Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin berkata, “Dia antara penghalang lainnya adalah ia memiliki syubhat takwil dalam perkara kekufuran, dimana ia menyangka dirinya berada di atas kebenaran. Sebab, ia tidak sengaja melakukan perbuatan dosa dan penyelisihan terhadap syariat. Sehingga ia termasuk dalam cakupan firman Allah:

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Dan tidak ada dosa atas lian terhadap apa yang kalian keliru padanya, tetapi yang ada dosanya adalah apa yang disengaja oleh hati kalian. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab [33]: 5)

Selain itu, hal itu merupakan puncak maksimal usaha yang bisa ia lakukan, sehingga ia termasuk dalam cakupan firman Allah, “Allah tidak memberikan beban kepada seorang pun, kecuali sebatas kemampuannya.”[18]

Memperhitungkan syubhat sebagai sebuah udzur juga merupakan penegasan para ulama muhaqqiq seperti Asy-Syafi’i, Ibnu Hazm, Izzuddin bin Abdus Salam, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Ibnu Wazir Al-Yamani, Ibnu Hajar Al-Asqalani, dan lain-lain.

Dalil atas hal itu adalah:

  • Semua dalil yang menunjukkan kebodohan sebagai udzur.
  • Ijma’ generasi sahabat dalam tidak mengkafirkan Qudamah bin Mazh’un, yang meminum dan menghalalkan khamr. Ia melakukan hal itu karena keliru memahami makna ayat Al-Qur’an.

Dalam hal ini perlu dicatat, bahwa tidak semua orang yang berdalih dengan syubhat bisa diterima udzurnya. Syubhat diterima sebagai udzur manakala syubhat tersebut menimpa kaum muslimin dan ulama Islam yang memiliki keimanan secara lahir dan batin terhadap Islam. Yaitu orang-orang yang sungguh-sungguh mempelajari dan menjalankan syariat-syariat Islam secara komit.

Maka, alasan syubhat tidaklah berlaku bagi orang yang berpaling dengan tidak mau melaksanakan syariat-syariat Islam. Ia juga tidak berlaku untuk orang  bermalasan-malasan atau berpura-pura lupa atau meremehkan dan tidak serius dalam mempelajari dan mengamalkan syariat-syariat Islam. []

[1]. Al-Bahr Al-Muhith fi Ushulil Fiqh, I/350, karya Badruddin Az-Zarkasyi.

[2]. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, II/416 karya Ibnu Katsir.

[3]. Al-Mustashfa fi Ushulil Fiqh, I/158 karya Al-Ghazali.

[4]. Syarh Mukhtashar Ar-Raudhah, I/180, karya Ath-Thufi.

[5]. Syarh Al-Kaukab Al-Munir, III/441, karya Ibnu Najjar.

[6]. Majmu’ Fatawa, XXVII/307.

[7]. Al-Jawab As-Shahih liman Baddala Dienal Masih, I/221, karya Ibnu Taimiyah.

[8]. Majmu’ Fatawa, XXIII/346.

[9]. Thariqul Hijratain, hlm. 608.

[10]. Al-Qashidah An-Nuniyah bi Syarh Muhammad Khalil Al-Harasy, II/265.

[11]. Majmu’ Fatawa, VII/118.

[12]. Al-Istighatsah fir Raddi ‘alal Bikri, II/494.

[13]. Minhajus Sunnah An-Nabawiyah, V/239.

[14]. Majmu’ Fatawa, XXIII/346.

[15]. Majmu’ Fatawa, III/231.

[16]. Al-Istighatsah fir Raddi ‘alal Bikri, II/494.

[17]. Al-Irsyad ila Ma’rifatil Ahkam, hlm. 207.

[18]. Majmu’atu Fatawa wa Rasail Syaikh Al-Utsaimin, II/136.

(AR/AJ/AnsharAlIslam)

Advertisements