Sebuah kapal yang membawa bantuan ke Gaza telah berangkat dari kota Turki Mersin, dan sedang dalam perjalanan ke pelabuhan Israel Ashdod, menurut seorang pejabat senior Turki.

“Ini adalah pengiriman utama kedua dari bantuan kemanusiaan ke Gaza,” pejabat itu, yang meminta untuk tetap anonim, mengatakan kepada Al Jazeera, Sabtu.

“Kapal itu membawa 100 kursi roda, 1.000 sepeda, 100.000 ransel dan perlengkapan kantor, 300.000 potong pakaian, 1.288 ton tepung, 170 ton beras, 64 ton gula, 95 ton minyak sayur dan 350.000 popok,” kata pejabat tersebut. Barang-barang yang dibawa adalah yang paling sulit didapatkan di Gaza.

“Kami berharap barang yang akan didistribusikan kepada rakyat Gaza tiba sebelum liburan Idul Adha. Selain bahan bantuan rutin, kami menambahkan hadiah untuk anak-anak Palestina seperti sepeda.” Ia menambahkan.

Libur Idul Adha diperkirakan akan mulai pada 12 September.

Setelah kesepakatan bulan Juni antara Israel dan Turki, sebuah kapal Turki sebelumnya tiba di pelabuhan Ashdod di awal Juli. Bantuan dibawa ke Gaza oleh truk, dan perjalanan bantuan diharapkan akan disampaikan dengan cara yang sama. Israel masih melarang untuk pengiriman langsung ke pelabuhan Gaza, meski demikian diantara tujuan utama Turki “menormalisasi” hubungan dengan Israel dapat tercapai, yaitu dapat tersalurkannya bantuan kemanusiaan ke daerah Gaza yang dikepung rapat dan diisolir Israel.

Selama negosiasi yang menghasilkan kesepakatan, Ankara telah menyerukan Israel untuk mencabut blokade yang telah memasuki delapan tahun di Gaza, sesuatu yang ditolak oleh pihak Israel.

Kompromi akhirnya tercapai, yang memungkinkan Ankara untuk mengirimkan bantuan ke daerah Gaza yang dikepung melalui pelabuhan Israel.

Nagham Mohanna, yang bekerja untuk Pusat Gaza untuk Kebebasan Media, percaya Turki mengirim bantuan ke Gaza merupakan langkah positif, namun mengharapkan langkah lebih lanjut mendorong Israel untuk defivitively mengakhiri blokade di wilayah tersebut.

“Orang-orang dari Gaza membutuhkan bergerak konkret menuju pencabutan blokade dan membuka perbatasan. Mereka harus keluar dari penjara besar ini dengan bermartabat sebagaimana yang orang lain lakukan,” Nagham Mohanna, dariPusat Gaza untuk Kebebasan Media mengatakan.

Ankara dan Hamas memiliki hubungan dekat, dan pemerintah Turki telah menjadi pendukung dari Palestina.

Sedikit ironi memang, kerja nyata Turki yang sangat berupaya untuk dapat membantu masyarakat Gaza khususnya dan Palestina umumnya melalui strategi “normalisasi” dengan Israel justru banyak mendapat cemoohan dari pihak-pihak di dunia Islam yang tidak mampu melihat dan berpikir dengan cermat dan maslahat.

Turki yang bukan merupakan sebuah negara dengan sistem Islam saja bisa memiliki gagasan cerdas dan berani menerapkannya demi untuk membantu umat Islam dan masyarakat di Gaza, sementara kita tentu sudah pernah mendengar bagaimana kebijakan dan sikap – yang mengaku – “Khilafah” yang didirikan Abu Bakar Al Baghdadi (ISIS) terkait persoalan Palestina, terutama Gaza ini. Mereka hanya peduli dengan baiat muslimin Gaza sehingga dengan usahanya bisa menyebarkan VCD/DVD berisi propaganda agar warga Gaza berbaiat kepada Al Baghdadi, tanpa sedikitpun ada bantuan nyata yang masuk akal bagi muslim Gaza yang ditindas Israel. Disisi lain untuk menutupi kepicikan tujuan serta kemandulan “Khilafahnya” di dunia Islam, ISIS mencukupkannya dengan mencap HAMAS itu murtad dan kafir agar bisa menjadi justifikasi atas ketidakmampuan mereka yang sebenarnya dalam urusan Gaza dan Palestina.

Kehadiran ISIS hanyalah mimpi palsu yang hanya telah membuat umat Islam berlumuran darah karenanya dan tidak memberikan manfaat sama sekali bagi dunia Islam. (ajz/ansharalislam)

Advertisements