Anshar Al-Islam

Syaikh Mujahid Abdullah Al Muhaisini – semoga Allah menjaganya –

Segala puji bagi Allah sholawat dan salam atas rasulullah saw, wa ba’du:

Inilah wahai saudaraku kicauan penting dengan judul:

Kegembiraan dengan terbunuhnya orang-orang dzolim

Segala puji bagi Allah yang telah membunuh salah satu komandan khowarij masa kini yang bernama Abu Muhammad Al Adnani, jubir resmi tandzim daulah dan salah satu tokoh pemimpin senior tandzim.

Sebagian tidak merasa senang dengan terbunuhnya salah satu pimpinan khowarij, di sini kami katakan: Apakau kita harus senang dengan terbunuhnya Al Adnani dan orang-orang semisalnya – tanpa melihat kepada siapa saja yang ia bunuh – atau tidak?

Kami katakan: sesungguhnya gembira dengan terbunuhnya orang-orang dzolim dan sumber fitnah serta pemimpin kejahatan adalah sunnah yang orang terdahulu dan tabiat fitroh manusia dan bukan bermaksud celaan akan tetapi gembira dengan kekalahan kejahatan dan hilangnya sumber kejahatan.

Kita bergembira dengan terbunuhnya orang dzolim karena hal itu telah menjauhkan keburukannya dari sekian banyak kaum muslimin dan mencegah gangguannya dan khususnya jika dosanya tidak terbatas pada manusia bahkan terhadap agama juga dan pemahamannya.

Kami sangat ingin hari ini tidak bergembira dengan terbunuhnya orang-orang itu dan kami ingin dan melihat mereka bertaubat kepada Allah dan menarik kembali pemikiran mereka yang rancu dan sesat akan tetapi semua itu atas kehendak Allah.

Kegembiraan ini adalah sunnah para salaf kita dari para sahabat, tabi’in dan para imam, Ali bin Abi Thalib telah bergembira dan bersujud syukur kepada Allah ketika beliau mendapati orang yang tangannya ada daging tumbuh seperti buah dada terbunuh bersama kelompok khowarij.

Dan dalam hadits shohih, lewatlah sebuah jenazah dan manusia menyebut keburukannya maka nabi saw bersabda: ia pasti masuk neraka, dan beliau berkata: kalian adalah saksi Allah di buminya.

Dikatakan kepada imam Ahmad bin Hanbal: seseorang bergembira dengan apa yang menimpa sahabat-sahabatnya Ibnu Abi Duad (tokoh Mu’tazilah yang sesat dan pencetus bid’ah) apakah ia mendapat dosa? Beliau menjawab: dan siapa yang tidak gembira dengan ini?

Ibnu Katsir berkata tentang salah satu tokoh bid’ah: “Allah telah mengistirahatkan (membebaskan) kaum muslimin darinya pada tahun ini pada bulan Dzul Hijjah, dan menguburkan di rumahnya, kemudian dia dipindahkan ke kuburan Quroisy, segala puji bagi Allah dan karunia-Nya.

Atas dasar ini berlakulah ahlus sunnah wal jama’ah, dari para sahabat dan tabi’in dan para imam-imam yang mengikutinya dengan baik.

Al Munawi menukil dalam Faidhul Qadir 6/411: Ibnu Abdus Salam berfatwa bahwa tidak ada celaan dalam kegembiraan dengan matinya musuh dari sisi terputusnya kejahatan darinya dan melindungi bahayanya.

Ibrahim An Nakho’iy salah seorang imam Tabi’in ketika mereka memberi kabar gembira dengan matinya Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi lalu beliau sujud syukur kepada Allah dan menangis karena senang (hal itu disebutkan oleh Adz Dzahabi dala As Siyar 4/524.

Dan Al Hasan Al Bashri, Umar bin Abdul Aziz dan Thawus senang dengan kematian Al Hajjaj dan bersujud syukur kepada Allah dan kaum muslimin semua bergembira.

Lihatlah kepada kegembiraan para imam dan tabi’in padahal Al Hajjaj telah melakukan penaklukan-penaklukan besar bahkan termasuk penaklukan kaum muslimin yang paling besar, dia telah menaklukkan kota-kota dan beberapa raja-raja.

Dan diantara amalan besar Al Hajjaj adalah perhatiannya dalam memberi titik-titik huruf mush-haf dan mengharokatinya dengan meletakkan tanda-tanda i’rob atas kata-katanya dan itu terjadi setelah tersebar pembuatan mush-haf.

Semua itu tidak menghalangi kegembiraan dengan kematiannya karena kedzolimannya yang begitu besar dan menumpahkan darah kaum muslimin serta menganggap remeh hal itu, bahkan pembunuhannya kepada orang-orang pilihan dan ulama yng suci.

Lalu bagaimana kita tidak merasa gembira dengan terbunuhnya seseorang yang menipu ribuan para pemuda kaum muslimin dan menjerumuskan mereka ke dalam kehancuran karena terdorong dengan kecintaan mereka terhadap agama Allah dan terdorong dengan kerinduan mereka untuk mengembalikan khilafah dan kemuliaan kaum muslimin.

Dan nasib para pengikutnya hari ini antara lari memisahkan diri dan antara mundur dan tergoncang… dan antara menyesal atas apa yang dia perbuat wa laa haula wa laa quwwata illa billah…

Dan kami atas karunia Allah ketika kami bergembira dengan terbunuhnya seorang penjahat atau seorang dzolim bukan menunjukkan rasa cinta dan wala’ kita kepada orang yang membunuhnya, akan tetapi gembira atas dasar hilangnya kejahatan yang besar dan fitnah yang menggemparkan yang telah menipu banyak sekali pemuda kita dan sungguh kami bersujud syukur atas hal itu sebagaimana sujudnya para salaf kita.

Demi Allah sesungguhnya hati kami tersedu-sedu, dan kami melihat sekarang melihat ratusan orang-orang yang memisahkan diri dari mereka, dan kami tidak tahu bagaimana menerima mereka…. dan kami tidak tahu bagaimana kami bermua’malah dengan mereka.

Di sini aku teringat akan makalah atau perkataan Al Adnani sendiri dia berkata:

Ya Allah jika para pimpinan daulah atau daulah khowarij maka ya Allah hancurkan punggungnya dan bunuhlah para pimpinannya robeklah benderanya dan berilah petunjuk para pemudanya.

Maka kami katakan sungguh Allah telah membunuh para pimpinannya, yaitu Al Anbari, dan setelahnya Ash Syisyani dan setelahnya Al Adnani dan kaum muslimin telah membebaskan kaum muslimin dari kejahatan mereka dan kami memohon kepada Allah agar menyempurnakan perkaranya dengan memberinya petunjuk kepada mereka.

Dan saya katakan ini adalah doa mereka atas diri mereka sendiri dan Allah telah jadikan benar-benar terwujud, wallahul musta’an… ya Allah berilah petunjuk kepada pemuda mereka dan kembalikanlah kebenaran, ya Allah cukupkanlah kaum muslimin dari kejahatan mereka, dan segala puji bagi Allah robb semesta alam.

(AR/AnsharAlIslam)

Advertisements