Kenali pahlawan kita, Abu Walid Al-Ghamdi (1967 – 2004)

Nama lengkap beliau Abd Al-Aziz Bin Ali Bin Said Al Said Al-Ghamdi, dan dipanggil Abu Walid, berasal dari Saudi Arabia (Jazirah).

Beliau dibesarkan di desa al-Hal, dekat kota Baljorashi di Provinsi Arab Saudi Al Bahah. Di desa asalnya, ayahnya adalah seorang imam terkenal. Abu Walid terlahir dari sebuah keluarga besar dimana ia adalah salah satu dari sebelas anak. Saudara-saudaranya menyatakan bahwa di masa mudanya, Abu Walid suka membaca buku-buku agama dan mempelajari Al-Quran.

Beliau mendengarkan ceramah di masjid tentang bagaimana seharusnya Muslim hidup secara terhormat melalui jihad dan bagaimana umat sekarang telah tertindas, sehingga menyentuh hati beliau untuk pergi bergabung bersama kafilah di Afghanistan di mana ia memulai dan bergabung bersama saudara tercintanya Khattab.

Pada tahun 1987, Abu Walid berangkat ke Peshawar, titik transit bagi para relawan dari Arab dan negara-negara lainnya menuju ke Afghanistan. Di sana, ia akan menerima pelatihan dan dukungan dari Maktab al-Khidmat, sebuah organisasi yang dijalankan oleh Dr. Abdullah Azzam rahimahullah dan didanai oleh Syaikh Usama bin Ladin. Ketika perang Afghanistan selesai, Abu Walid melakukan perjalanan pulang singkat sebelum terjun kembali dalam operasi jihad baru di Bosnia pada tahun 1993.

Di Bosnia, Abu Walid bergabung dengan sekitar 300 veteran perang Afghanistan lainnya. Mereka, para veteran ini terbukti sebagai pejuang-pejuang yang sangat efektif, mereka bergabung dengan ratusan Muslim asing lainnya yang masih belum terasah kemampuan militernya. Banyak para veteran Afghanistan menjadi bagian dari Angkatan Darat regular Bosnia Batalyon 7 di bawah komando Abu Abd al-Aziz ‘Barbaros,’ seorang Muslim India dengan pengalaman di Afghanistan dan Kashmir.

walid4
Abu Walid bersama Syamil Basayev, Hamzah Gelaev dan seorang komandan mujahidin Chechnya.

Abu Walid telah bergabung dengan Ibnu Khattab di Chechnya pada awal Maret tahun 1995, terlibat dalam perencanaan dan berpartisipasi dalam beberapa operasi perang yang paling sukses melawan konvoi Rusia. Tahun 1997 tanggal 22 Desember, Abu Walid berpartisipasi dalam serangan dadakan ke markas Brigade Lapis Baja 136 Angkatan Darat Rusia, yang bertempat di Buynaksk, Dagestan. Dalam perannya sebagai wakil Ibnu Khattab, ia turut bergabung dalam Brigade Penjaga Perdamaian Islam Internasional (digagas oleh Ibnu Khattab) yang melancarkan serangan balasan dan pembelaan pada tahun 1999 di Dagestan, saat Rusia melakukan pemboman ganas yang biadab terhadap beberapa desa disana yang ingin menegakkan hukum Islam.

Bulan April 2000 ia memimpin sebuah serangan yang berhasil terhadap Resimen Penerjun Payung Rusia VDV 51  di Tula.

Pada tanggal 9 April 2002, Abu Walid mengumumkan bahwa pasukannya telah menembak jatuh helikopter tempur Mil Mi-24 Hind dan menahan tiga orang awaknya (Abu Walid sendiri adalah seorang yang sangat ahli menggunakan roket panggul anti-pesawat, banyak pesawat dan helikopter tempur Rusia yang berhasil ditembak jatuh olehnya). Dia merilis nomor seri helikopter dan informasi rinci tentang para awak. Pada tanggal 16 Mei ia mengeluarkan ultimatum kepada penguasa militer Rusia: mengancam untuk membunuh tiga tahanan jika Rusia tidak melepaskan 20 orang Chechnya yang ditahan di penjara-penjara Rusia.

Ketika Ibnu Khattab syahid akibat racun yang dibubuhkan pada amplop yang diberikan seorang pengkhianat (Maret 2002), beliaulah yang menggantikan posisi Amir Khattab. Abu Walid menikah dengan muslimah Chechnya dan dikaruniai dua anak.

Kesyahidan

Abu Hafs al-Urduni (penggantinya) menuturkan, Pada suatu hari di bulan April 2004 (informasi menyebutkan tanggal 16), disaat itu Abu Walid sedang berkeliling ke semua resimen untuk menugasi mereka dengan operasi dan rencana logistik. Di desa Tsa-Vedeno pihak Rusia berhasil mengetahui kehadirannya.

Ketika beliau sedang bersama dengan Mujahidin Chechnya dan berada di sebuah rumah yang dikepung diam-diam oleh kuffar Rusia, para kuffar mencoba masuk dan Abu Walid tidak tahu apa yang terjadi.

Ia membuka pintu, ketika itu juga pistol telah diarahkan ke dadanya oleh kafir Rusia, beliau ditembak dari jarak dekat, saat itulah seorang Mujahidin melompat dan membunuh tentara Rusia tersebut.

Setelah penyergapan tersebut, Abu Walid mengeluhkan peluru yang bersarang di dadanya, ikhwan Mujahidin pun segera memeriksanya.

Namun, ketika mereka memeriksa dadanya, mereka kagum karena melihat warna merah di dadanya tanpa sebutir peluru apapun.

Semoga Allah menerima Mujahidin tercinta kita Abu Walid dan memasukkannya ke barisan para Syuhada-Nya.

Aamiin.

Advertisements