Kisah tentang seorang anak muda Suriah yang syahid (Insya Allah) karena serangan udara di Idlib.

Dua hari sebelum peristiwa serangan udara, seorang anak muda kembali setelah menyelesaikan Muaskarnya (pelatihan militer).

Dengan sangat antusias ia kembali dan penuh semangat ia keluar untuk berangkat berjihad.

Tapi ibunya selalu berkata, “Kau terlalu muda.” Ia menunjukkan video dari Muaskarnya. Ibunya terkejut, lalu berkata “Mereka semua lebih muda darimu.” Anak muda itu tersenyum dan berkata bahwa ia yang termuda tapi ia tampak lebih tua.

Akhirnya ia meyakinkan ibunya dan berencana berangkat untuk pertama kalinya.

Hari di saat ia terkena pecahan peluru, ia berada di rumah lalu keluar demi mendapatkan sinyal yang lebih baik untuk teleponnya.

Jet Bashar Asshad jatuhkan bomnya pada jarak tak jauh dari tempatnya berdiri, namun QadarAllah, lehernya tertusuk oleh pecahan bom. Sebagian besar orang yang hadir (mungkin anggota medis) mengatakan kepada ayahnya bahwa ia tidak akan bertahan. Tapi ayahnya memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit.

Ketika mereka sampai di rumah sakit, dokter bedah mengatakan bahwa jika ia bertahan ia tidak akan bisa bergerak sama sekali. Bahkan makanpun hanya bisa masuk melalui selang.

Sang ayah menjawab, “Saya siap mengurusnya sepanjang sisa hidup saya.”

Setelah operasi sang pemuda sadar kembali. Sang ayah sangat senang. Ayahnya mulai menyentuh kaki anaknya dan bertanya apakah dia merasakan sentuhannya. Anak itu tersenyum tipis dan menjawab dari matanya. Mungkin ia berusaha untuk menghibur ayahnya. Kemudian sang ayah berkata, “Tetaplah kuat, kita akan pulang sekarang. Ibu dan keluarga menunggumu.”

Air mata mengalir di pipi anak muda itu, saat ia mendengar ucapan ayahnya. Seolah-olah ia tahu ia tidak akan bertahan.

Setelah beberapa waktu kemudian anak itu syahid. Tangan kirinya menggenggam erat dan jari telunjuk tangan kanannya mengarah keatas (tanda tauhid).

Semoga Allah menerima dan memberinya Jannatul Firdaus. Aamiin.

– Dikisahkan oleh Maldivian Mujahid –

Advertisements