Anshar Al Islam – Khalifa Haftar telah meninggalkan AS dan negara-negara lain yang mendukungnya yang tidak punya pilihan selain untuk membebaskan diri darinya karena bersikukuh dalam penolakannya untuk mendukung pemerintahan rapuh PBB yang diusulkan, Washington Post melaporkan pada hari Kamis (18/8), menambahkan bahwa Haftar, yang merupakan aset CIA dan figur militer latihan-AS telah membahayakan harapan untuk stabilitas (kepentingan Barat, ed) di Libya.

Jenderal pengkhianat, Haftar telah lama menyebut dirinya sebagai lawan bagi kelompok Islam padahal ia membangun basis kekuasaannya sendiri, yang akhirnya membuat dia begitu keras kepala untuk menyetujui kesepakatan politik yang diperantarai oleh PBB, tulis koran di Amerika.

“Haftar mengancam banyak inisiatif yang didukung Barat di Libya dan pembentukan kekuasaan politik yang diakui,” Barak Barfi, seorang sarjana di New Amerika, sebuah think tank Washington mengatakan kepada Washington Post.

Barafi menambahkan bahwa Haftar tidak cukup kuat di medan perang untuk menepati janji dan mengalahkan ekstremis atau yang dia sebut “Islamis,” karena ia dapat bertindak sebagai perusak.

Haftar telah menjadi hambatan utama ke Amerika Serikat yang berharap untuk memulihkan demokrasi setelah revolusi 2011 dimana diktator pemerintahan lama Moammar Gaddafi berakhir, koran itu menambahkan.

“Seorang mantan pejabat senior AS mengatakan bahwa koneksi Haftar disepanjang Timur Tengah dan di luarnya telah membuat sulit bagi pemerintahan Obama untuk mengembangkan strategi terpadu guna menghadapi atau mengkooptasi dia.”

“Bahkan jika telah terjadi kesatuan pemikiran dalam pemerintahan AS, kami tidak memiliki kemampuan untuk meminggirkan dia dan kami juga tidak memiliki kapasitas untuk mengintegrasikan dia,” kata pejabat itu. “Dia adalah elektron yang bebas ini.” Kata The Washington Post. (lo/ansharalislam)

Advertisements