Rusia dan Amerika Serikat sudah dekat untuk memulai aksi militer bersama terhadap mujahidin di Aleppo Suriah, kantor berita Rusia pada Senin (15/8) mengutip perkataan Menteri Pertahanan Sergei Shoigu.

Pertempuran untuk menguasai kota yang terbagi dua dengan sekitar 2 juta orang penduduk telah semakin meningkat dalam beberapa pekan terakhir dan mujahidin telah meraih banyak kemenangan signifikan yang tentu saja itu merupakan keuntungan bagi umat Islam Aleppo.

Rusia mendukung penuh rezim Bashar al Assad dalam konflik Suriah lima tahun ini, sementara Amerika Serikat ingin melihat Assad mundur. Rusia melihat mujahidin adalah pedang terhunus yang bisa memenggal kepala Assad bila tidak segera dilumpuhkan, sedang AS tidak bisa menyembunyikan ketakutan mereka menyaksikan kekuatan besar mujahidin yang sedang bangkit tepat di samping pintu baraknya yang bila tidak ditangani akan menyapu bersih mereka dari jazirah Arab satu saat nanti.

ISIS tidak masuk dalam pertimbangan strategis jangka panjang Amerika Serikat apalagi Rusia, dari sudut kacamata militer ISIS adalah Hooligan dalam percaturan stabilitas dunia.

Para pejabat militer senior Rusia dan AS telah mengadakan negosiasi Jenewa untuk Aleppo dan memulihkan gencatan senjata secara keseluruhan, Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura mengatakan pada Kamis (11/8) lalu.

“Kami sekarang dalam fase negosiasi yang sangat aktif dengan rekan-rekan Amerika kami,” kata kantor berita RIA mengutip Shoigu yang mengatakan, “Kita sedang bergerak lebih dekat langkah demi langkah untuk rencana itu – dan saya hanya berbicara tentang Aleppo di sini -. Yang benar-benar akan memungkinkan kita untuk mulai berjuang bersama-sama untuk membawa perdamaian sehingga orang dapat kembali ke rumah mereka di negeri bermasalah ini”

Ditanya tentang pernyataan Shoigu ini, juru bicara Departemen Luar Negeri AS Elizabeth Trudeau mengatakan kepada wartawan di Washington: “Kami telah melihat laporan dan tidak ada yang harus diumumkan … Kami tetap dalam kontak dekat (dengan pejabat Rusia).”

Menggunakan gaya diplomatis Trudeau mengatakan Amerika Serikat terus mendorong penghentian permusuhan yang lebih luas di Suriah sesuai dengan Rusia.

Pernyataan itu menyiratkan dengan cukup kuat apa yang ada didalam kepala Amerika, bahwa penghentian permusuhan mujahidin kepada rezim Syiah Bashar Assad tidak akan hilang selagi panji Allah belum tegak disana, dan begitu juga permusuhan Bashar Assad kepada mujahidin dan muslimin Suriah tidak akan sirna apabila mereka masih berkeinginan untuk menegakkan hukum Allah dan menumpas segala bentuk kedzaliman rezimnya.

Oleh karenanya penghentian permusuhan yang dikatakan Amerika tidak akan mungkin dicapai dengan pembicaraan di meja perundingan. Dengan kata lain, Amerika meyakini hanya kekuatan senjata yang bisa “menghentikan permusuhan” dari mujahidin dan muslimin Suriah tersebut.

Pertempuran Aleppo adalah “salah satu konflik perkotaan paling dahsyat di zaman modern,” Peter Maurer, presiden Komite Internasional Palang Merah (ICRC), mengatakan pada Senin.

“Tidak ada seorangpun dan tidak ada tempat yang aman. Tembakan meriam tiada henti, dengan rumah-rumah, sekolah-sekolah dan rumah sakit semuanya menjadi sasaran tembak. Orang-orang hidup dalam keadaan ketakutan. Anak-anak telah trauma. Skala penderitaannya sangat besar,” kata Maurer dalam sebuah pernyataan.

Meskipun sampai sekarang AS masih enggan untuk terlibat langsung dalam konflik Suriah, dengan melihat berbagai perkembangan yang muncul baru-baru ini serta dari pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh pemerintah Rusia dan AS sendiri, boleh jadi dalam waktu ke depan AS akan melibatkan diri sepenuhnya, dan mereka telah mempersiapkan untuk itu dari jauh-jauh hari. (dbs/ansharalislam)

Advertisements