Kehilangan Sirte adalah kemunduran terbaru bagi gerombolan ekstremis, meskipun begitu para pejabat lokal mengatakan mereka masih bisa meluncurkan serangan balasan membabi buta.

TUNISIA – para militant ISIS asal Tunisia melarikan diri dari kubu mereka di Libya, Sirte, dan berusaha untuk menyeberangi perbatasan ke negara tetangga atau mungkin berkumpul kembali di kota-kota selatan, Barat dan para pejabat setempat mengatakan.

Ekstremis telah menuju ke perbatasan panjang yang banyak celah, yang bersinggungan langsung dengan Aljazair dan Niger. Negara-negara yang berbatasan dengan Libya telah siaga tinggi, kata para pejabat, sebagai bagian dari upaya untuk memblokir pejuang asing yang mungkin mencari jalan untuk kembali pulang ke bagian lain dari Afrika. Tapi hamparan gurun wilayah Sahel yang luas menawarkan perlindungan untuk para militan.

Tank turut menggempur posisi ISIS di Sirte, yang dulunya merupakan salah satu benteng terkuat mereka di Libya dan kini telah roboh.
Tank turut menggempur posisi ISIS di Sirte, yang dulunya merupakan salah satu benteng terkuat mereka di Libya dan kini telah roboh.

Sirte adalah satu-satunya kota ISIS yang sepenuhnya dikendalikan di Libya dan dianggap sebagai pijakan para militan di Afrika Utara dan di jalur sempit Laut Mediterania dari Eropa. Tapi kehilangan Sirte adalah kemunduran terbaru untuk kelompok militant ISIS, yang juga sedang di bawah tekanan di Suriah dan Irak setelah kehilangan kota-kota kunci dan melihat sumber daya dan jalur pasokannya terjepit.

Para pengamat menilai bahwa ratusan militan yang melarikan diri dari Sirte minggu lalu sebelum kota itu sepenuhnya dikepung, pergi menuju ke selatan. Sekitar setengah dari pejuang ISIS di Sirte diduga asing, menurut pejabat yang memantau serangan. Mayoritasnya adalah Tunisia tetapi mencakup juga berbagai kebangsaan sub-Sahara, terutama Sudan dan Nigeria.

Pasukan pro rezim pemerintah dukungan PBB di Libya menembaki posisi ISIS di lingkungan perumahan Sirte dalam PHOTO Ahad (14/08). MAHMUD Turkia / AFP / GETTY IMAGES
Pasukan pro rezim pemerintah dukungan PBB di Libya menembaki posisi ISIS di lingkungan perumahan Sirte dalam PHOTO Ahad (14/08). MAHMUD Turkia / AFP / GETTY IMAGES

Tetangga Libya mengadopsi metode lain untuk memperlambat aliran ekstremis kembali ke rumah-rumah mereka. Tunisia tahun lalu mulai membangun tembok dan parit air di sepanjang perbatasan dengan Libya. Sementara itu, Aljazair dilaporkan membangun pagar untuk menyumbat aliran militan dan perlengkapan mereka, di samping mengeluhkan keamanan perbatasan.

ISIS mengumumkan pembentukan cabang Libya pada awal 2014, dengan memanfaatkan keuntungan dari celah yang ada dalam peperangan antara mujahidin dan rezim boneka untuk membangun pijakan di negara itu. Sebelum serangan saat ini, para pejabat Barat menganggap operasi ISIS Libya akan menjadi franchise paling kuat dari kelompok ekstrim tersebut di luar komando Suriah dan Irak.

Italia

Selain ke negara-negara yang berbatasan langsung dengan Libya, para pejuang dari kelompok ekstrim ISIS, bisa mencoba untuk menyeberangi Laut Mediterania ke Eropa menyamar sebagai pencari suaka, seperti yang diperingatkan Italia.

Menurut kepala komite parlemen yang bertugas di intelijen Italia, risiko militan ISIS mencoba masuk ke Eropa telah “meningkat secara substansial,” lansir Telegraph.

Dengan jebolnya benteng mereka di Sirte, gerombolan bersenjata ISIS tak ubahnya seperti semut yang ambruk sarangnya, mereka berhamburan keluar menyelamatkan diri. Dan sayangnya karena strategi ISIS adalah sebanyak-banyaknya mencari musuh dan sering melakukan kejahatan kemanusiaan kepada muslim Libya – membunuh siapapun yang dianggap merugikan dan menolak berbaiat kepada mereka, kelompok ekstrem ini memiliki budaya menumpahkan darah yang kontinyu  – militant ISIS tidak dapat pergi ke sembarang tempat, banyak lapisan masyarakat yang ingin menuntut keadilan kepada mereka. Selain itu akibat dari keganasan dan kecurangan mereka yang selalu memerangi dan membokong mujahidin Libya, gerombolan ISIS inipun akan dibawa ke mahkamah Syar`i jika tertangkap mujahidin dan tentu akan diberi hukuman adil yang setimpal sesuai kejahatannya.

Karena terbatasnya pilihan tempat melarikan diri, mereka bisa saja menjadikan pantai-pantai Italia – yang merupakan gerbang masuk pertama bagi jutaan migran dan pengungsi – sebagai tempat pelarian.

“Mereka kehilangan persenjataan, pasukannya pada lari,” Giacomo Stucchi, kepala komite parlemen, mengatakan kepada Telegraph. “Kita perlu memahami niat mereka – apakah mereka ingin menghilang tanpa jejak, atau apakah mereka ingin terus berjuang atas nama kelompok mereka.”

Waktu yang terus berjalan akan menggiring kelompok ekstrem ini kepada takdirnya, selama ini ISIS dikenal karena berhasil menyebarkan kegembiraan semu ke dunia Islam, terutama kepada mereka yang memiliki semangat melebihi wawasan keilmuan, kelompok pimpinan Al-Baghdadi ini gencar menyuntikkan euphoria lewat propaganda media. Tetapi di lapangan fakta dan realitanya tak seindah yang diangankan organisasi itu, satu persatu bagian-bagian bangunan prematurnya roboh rata dengan tanah. (dbs/ansharalislam)

Advertisements