ISIS mengeksekusi lima orang warga dengan cara menembak mereka di kepala.

Kesalahan mereka menurut kelompok ISIS adalah karena membantu beberapa keluarga meninggalkan wilayah kekuasaan ISIS, untuk melarikan diri dari pemboman tentara salibis dan dari ketidakadilan gerombolan ISIS.

Awalnya mereka menyangkal bahwa mereka mencegah warganya meninggalkan wilayah mereka, dan sekarang mereka justru membunuh warganya sendiri.

Sebagaimana banyak fakta di lapangan telah membuktikan, Daulah Islam Irak dan Syam yang lebih dikenal sebagai ISIS, membangun kekuasaannya melalui paksaan, kekerasan dan pembunuhan. Mereka akan menganggap siapa saja yang menolak berbaiat kepada mereka sebagai lawan dan musuh, dalam banyak kasus akan segera dilabeli murtad atau kafir, sehingga nantinya menjadi sebuah legitimasi bagi ISIS untuk melakukan tindak kekerasan dengan segala cara terhadap mereka.

Khilafah versi kelompok ISIS, yang dipimpin oleh – yang disebut “khalifah” – Abu Bakar al-Baghdadi, didirikan diatas genangan darah dan banyak nyawa yang menjadi korban dari sebuah ambisi kelompok yang sangat kental meniru cara-cara kejam para diktator dunia dalam mewujudkan kejayaannya.

Penyiksaan, pembunuhan, pemboman, itu semua telah menjadi pola standar mereka. Eksekusi keji telah dijadikan sebagai budaya tontonan, seolah itu merupakan hiburan dan disebarluaskan secara sengaja dengan kebanggaan, dan ISIS sangat menggali “kreativitas” dalam bentuk pembunuhan; korbannya bisa ditenggelamkan, dilempar, dibakar, dibom, meledakkan kepala dengan bom dipasang di leher, dan bentuk lainnya. Sungguh sebuah perilaku psikopat berjamaah yang nyata.

Semoga Allah melindungi warga yang tak bersalah yang mencoba melarikan diri dari rezim ISIS yang buruk dan kejam.

Salah satu korban (foto bawah) yang dieksekusi oleh ISIS karena membantu warga sipil yang mencoba menyelamatkan diri mereka dari pemboman salibis.

photo_2016-08-13_19-19-06

Advertisements