Para pembuat hukum Israel pada Rabu (03/8) telah menyetujui memenjarakan anak-anak berumur 12 tahun yang dihukum karena “delik terorisme” setelah terjadi serangan berulang-ulang oleh para pemuda Palestina terhadap aparat penjajah Israel.

Menurut pernyataan mereka, keseriusan serangan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir “menuntut pendekatan yang lebih agresif, termasuk terhadap anak-anak di bawah umur.”

Pernyataan itu mengutip Anat Berko, seorang anggota parlemen dari partai sayap kanan Likud Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan sponsor Rancangan Undang-Undang itu, mengatakan “mereka yang dibunuh dengan pisau di jantung tidak peduli jika anak itu berumur 12 atau 15 tahun.”

Kekerasan di wilayah Palestina dan Israel sejak Oktober telah menewaskan sedikitnya 219 warga Palestina, 34 warga Israel, dua orang Amerika, seorang Eritrea dan Sudan, menurut hitungan AFP.

Banyak dari para penyerang adalah orang-orang muda, termasuk remaja. Pemuda lainnya telah ditembak mati selama protes dan bentrokan dengan pasukan penjajah Israel.

Kelompok HAM Israel B’Tselem telah mengkritik RUU itu dan perlakuan penjajah Israel terhadap para pemuda Palestina.

“Daripada mengirim mereka ke penjara, Israel akan lebih baik mengirim mereka ke sekolah di mana mereka bisa tumbuh dalam martabat dan kebebasan tidak di bawah pendudukan,” dikatakan dalam sebuah pernyataan Rabu. “Memenjarakan anak di bawah umur seperti menyangkal kesempatan masa depan mereka yang lebih baik.”

Seorang gadis Palestina berusia 12 tahun dari Tepi Barat, yang dihukum karena percobaan pembunuhan yang tidak dapat dibuktikan oleh pengadilan militer sebagai bagian dari tawar-menawar dan dihukum empat bulan, dibebaskan dari penjara pada bulan April lalu.

Para penjajah Israel begitu memperhitungkan resiko dan korban jiwa ataupun kerugian yang mereka alami, meskipun itu angkanya teramat jauh lebih sedikit daripada angka korban jiwa, luka-luka, cacat permanen, kerugian harta benda dan perampasan kemerdekaan dari bangsa Palestina sebagai penduduk yang sah di negerinya sendiri oleh tangan-tangan mereka, berapa juta muslim Palestina telah mereka bantai, berapa juta lagi yang telah mereka usir. Tetapi seperti itulah cara berhitung penjajah yang menunjukkan bahwa mereka tidak bisa dipahamkan dengan bahasa diplomasi, para penjajah hanya bisa dipahamkan dengan bahasa perlawanan dan perjuangan. (dbs/ansharalislam)

Advertisements