Anshar Al-Islam

Pembaca yang dimuliakan Allah, beberapa hari yang lalu dunia dikejutkan oleh adanya insiden “tabrakan” oleh sebuah truk pendingin berwarna putih yang berakhir dengan baku tembak antara pengemudi truk tersebut dengan pihak kepolisian Perancis di kota Nice. Serangan yang kemudian disebut sebagai salah satu aksi teror terburuk dan terancam tak bisa dihentikan (jika ada serangan serupa) ini, telah menyebabkan kegoncangan di seluruh Eropa yang menjadi pusat negara-negara salibis yang hari ini menyebarkan kuku-kukunya di seluruh penjuru dunia Islam.

Publik menjadi bertanya-tanya terkait serangan tersebut, apa motivasinya, mengapa menggelar serangan di kota Nice yang notabene menjadi tempat perayaan Festival Hari Bastille dan siapa yang bertanggung jawab di balik operasi ini? Tidak ada satupun pihak yang memunculkan tanggapannya terkait operasi tersebut, sampai redaksi menemukan sebuah pernyataan yang dimuat di Channel Telegram Inspire Muslim yang mengetengahkan ucapan selamat, pertanggung jawaban serta uraian terperinci dan evaluasi terkait aksi tersebut.

Sebagaimana yang diketahui, pernyataan tersebut kemudian menjadi viral di internet dan segera menjadi bahan diskusi lembaga-lembaga anti teror Barat dan mereka pun sangat mengenali identitas channel tersebut sebagai bagian dari Tim Edukasi dan Media Tanzhim Al-Qaidah Jazirah Arab.

Berikut ini, redaksi mengetengahkan terjemahan lengkap dari uraian tim Majalah Inspire tersebut. Selamat menyimak

TANZHIM QAIDATUL JIHAD DI JAZIRAH ARAB

ARAHAN TIM MAJALAH INSPIRE

OPERASI NICE-PERANCIS

Penjelasan Seputar Operasi Jihad di kota Nice Perancis.

Segala puji hanya bagi Allah semata, yang telah memberikan kemenangan kepada hamba-hamba-Nya, memberikan kehormatan kepada prajurit-Nya dan mengalahkan musuh-musuh mereka. Segala puji hanya bagi Allah yang mengatakan, “Tetapi orang-orang yang membela diri setelah dizhalimi, TIDAK ADA ALASAN untuk menyalahkan mereka (QS [42]: 41) dan Allah ta’ala berfirman, “Diijinkan  berperang bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka dizhalimi. Dan sungguh, Allah Mahakuasa menolong mereka itu (QS [22]: 39).

Dunia Islam dan Arab masih hidup dalam keadaan krisis, terjajah, dipecah belah dan dikuasai oleh sistem penjajahan Perancis dan Inggris yang termaktub dalam akta perjanjian yang ditandatangani oleh Sykes (dari Inggris) dan Picot (dari Perancis). Dan kaum Muslimin, hingga hari ini masih mengalami penjajahan bangsa bangsa Perancis secara tidak langsung dalam bentuk campur tangan kebijakan (POLEKSOSBUDHANKAM-pnj) di berbagai negari Muslim, di antaranya adalah negeri-negeri Maghrib Islam dan negara-negara Afrika lainnya. Perancis terus-menerus merampas harta kekayaan kaum Muslimin di sebagian besar wilayah di benua Afrika, menanamkan politik kotor dan peperangan yang licik demi menghisap harta kaum yang lemah. Dan meskipun bentuk fisik penjajahan itu telah lenyap. Perancis melanjutkan upayanya untuk tetap menguasai daerah-daerah bekas jajahannya, menyusupkan agen-agen intelijennya, membentuk dan mendukung pemerintahan bonekanya  dalam rangka memperkuat cengkeramanya dan memuaskan upayanya untuk menghisap darah kaum Muslimin demi memuaskan keserakahan ekonominya. Dan kejahatan Perancis di seluruh dunia telah terekam jelas di benak kaum Muslimin.

Perancis juga telah bahu-membahu bersama Amerika untuk membunuhi ribuan anak-anak dan para wanita di Afghanistan. Pada saat yang sama, Perancis melanjutkan aksi campur tangan terhadap kepentingan kaum Muslimin, demi mendapatkan bagian keuntungan dan kesempatan untuk merampok harta kaum Muslimin. Dan semua ini terjadi dengan restu dari rakyat Perancis.

Dan saat ini, Perancis telah menyaksikan sebuah aksi Inghimaasi (terjun menyerang ke dalam barisan musuh) yang penuh dengan keberanian dan ketegasan dari salah seorang pahlawan JIhad Mandiri di salah satu kota terpenting di Perancis, yaitu kota Nice. Operasi ini berhasil menanamkan rasa takut yang luar biasa di Perancis dan di seluruh benua Europa. Operasi ini membawa pesan, indikasi-indikasi dan konsekuensi-konsekuensi yang harus (kita syukuri dan) “harus kita evaluasi”, dengan mempertimbangkan ide-ide serangan, metode dan tujuan-tujuan serangan bagi para Mujahid Mandiri, yang akan membuat para Mujahid itu mampu untuk mengulangi dan menginspirasi serangan-serangan semacam ini.

 Agar nantinya para Mujahidin tersebut bisa lebih kreatif dalam menggunakan berbagai sarana-sarana yang memungkinkan untuk mengeksekusi aksi operasi Jihad yang akan menghancurkan musuh.

Pahlawan Mujahidin ini bernama Muhammad, ia membawa truk kontainer pendingin, yang telah ia sewa 5 hari sebelum pelaksanaan operasi. Ia kemudian mengendarai kendaraan tersebut ke arah kerumunan massa yang didalamnya terdapat warga negara Perancis dan turis-turis asing dari berbagai negara, di antara mereka terdapat warga Amerika, Inggris, Rusia, sejumlah warga Arab dan lainnya yang menghadiri Perayaan Hari Bastille dan segera setelah festival kembang api selesai, Mujahid ini mengarahkan truk ke arah target dan mempercepat truk dengan kecepatan maksimum dan menabrak setiap target yang berada di hadapannya hingga jarak 2 km. Tercatat 84 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka, 50 orang dari mereka mengalami kondisi  kritis. Ia kemudian menghentikan truknya dan menggunakan senjata api untuk mulai menembak target yang melarikan diri, serta melibatkan diri dalam baku tembak dengan pasukan kepolisian hingga ia terbunuh. Semoga Allah menerimanya sebagai salah satu syuhadanya dan mengangkat derajatnya. Operasi ini mengambil waktu pukul 10:10 malam waktu Perancis

Analisis Operasi

Poin pertama: Hal pertama yang kita perlu perhatikan secara lebih mendalam adalah mempelajari pemilihan lokasi serangan operasi ini, dan operasi ini telah mengakibatkan kerugian yang besar di pihak musuh, yang menandai kesuksesan operasi ini. Mujahid tersebut memilih kota Nice. Sebagaimana yang diketahui, kota Nice adalah kota yang dikenal dengan pandangan RASISnya dan menjadi markas politisi sayap kanan ekstrim (Kristen/Kulit Putih Radikal). Kota ini juga terkenal karena kebenciannya terhadap Islam dan kebijakan-kebijakan kerasnya trhadap kaum Muslimin, seperti larangan membangun masjid dan menunjukkan syiar-syiar Islam. Oleh karena itu, serangan di wilayah tersebut sangat sesuai sebaga sarana untuk menyampaikan pesan serangan.

Kota Nice juga dikenal sebagai salah satu kota terpenting di negeri Perancis. Maknanya bahwa operasi ini mengakibatkan efek kerugian ekonomi. Khususnya bahwa pada realitanya Prancsi dianggap sebagai negara yang memprioritaskan pendapatan negara dari sektor pariwisata yang mencapai miliaran pertahun.

Poin penting dari pemilihan tempat target serangan ini adalah didapatkanya faktor serangan kejutan. Aparat keamanan sebenarnya telah mengetahui adanya potensi serangan, namun mereka tidak pernah memperkirakan bahwa serangan tersebut akan terjadi di Nice. Mereka berpikir bahwa serangan itu barangkali akan terjadi di luar negeri, seperti di Turki atau tempat lain, sehingga mereka menarik para duta besar dan diplomat mereka ,dan mengonsentrasikan pengamanan di kota-kota besar Perancis seperti di Paris, akan tetapi Mujahid ini berhasil mengejutkan mereka dengan menyerang kota Nice.

Kemudian, setelah ia memilih tempat operasi dengan tepat dan tidak serampangan. Ia kemudian memilih tempat yang didalamnya terdapat kerumunan orang dalam jumlah besar. Hal lain adalah bahwa ia memilih jalan yang merentang panjang, sehingga dia bisa mempercepat laju truknya hingga sampai pada kecepatan tertinggi, untuk memastikan hasil kerusakan dan kerugian yang besar di pihak target serangan, dan agar truk tersebut dapat bergerak hingga jarak terjauh.

Poin penting kedua dalam operasi ini adalah pemilihan waktu pelaksanaan operasi. Mujahid ini telah menjadwalkan waktu operasi agar bertepatan dengan Hari Festival Bastille-Hari Libur Nasional Perancis-dalam rangka memberikan kejutan yang lebih spesifik kepada sistem keamanan dan intelijen negara Perancis.

Sebagaimana yang diketahui, Perancis telah mencurahkan segala kemampuannya untuk mengamankan jalannya pertandingan Piala Eropa. Dan setelah mereka menganggap bahwa mereka mampu mengontrol situasi keamanan di Perancis dan setelah mereka kehilangan kendali atas situasi keamanan ini, tepat setelah Presiden Prancis mengumumkan berakhirnya situasi darurat inilah, serangan kejutan ini dilancarkan, hal ini mengakibatkan Perancis jatuh dalam keadaan bahaya dan menjadikan mereka merasakan situasi tidak stabil yang sebenarnya, menjerumuskan Perancis dalam keadaan darurat perang, sebagaimana yang dikatakan oleh sang Presiden “Kami berada dalam keadaan Perang.” yang ia ucapkan pada hari terjadinya serangan jihad dalam perayaan Hari Bastille, ketika banyak warga negera Perancis yang tumpah ruah di jalanan yang dengan itu memberikan ruang yang luas bagi Mujahid untuk menghajar targetnya.

Poin Penting Ketiga: Jenis senjata yang digunakan dalam operasi*

Ketika aparat keamanan Perancis memfokuskan diri untuk melacak bahan-bahan utama untuk membuat peledak/ bom. Serta mencurahkan perhatian mereka untuk melakukan tindakan pencegahan dan pelarangan beredarnya sarana-sarana yang digunakan dalam aksi-aksi yang pernah terjadi sebelumnya, maka datanglah Mujahid Muhammad ini dengan senjata baru, sebuah senjata yang aslinya digunakan oleh warga sipil. Pemilihan jenis senjata ini membuatnya mampu untuk “tidak menarik perhatian” musuh saat memilih jenis senjatanya, saat menggunakan dan menggerakkanya atau bahkan saat melaksanakan proses eksekusinya. Dan diantara hal penting dalam memilih jenis senjata dalam jenis operasi ini adalah *kesederhanaan, mudah untuk digunakan dan menggunakannya selama proses eksekusi operasi jihad ini.

Poin penting ke empat: Mujahid menggunakan senjata api dalam aksi penyerbuannya

Hal ini membuat kita memahami bagaimana Mujahid tersebut mempelajari tahap demi tahap operasinya dari awal hingga akhir, dan juga menganalisis dampak yang terjadi setelah operasi. Kita dapat mempelajari lebih lanjut tentang penggunaan senjata api dalam operasi jihad dengan melihat pada apa yang terjadi selama berjalannya operasi. Mujahid ini menggunakan senjata api untuk menembak target-target yang melarikan diri menghindari serangan truk, sebagaimana ia juga mempersiapkan senjata itu untuk ia gunakan sebagai serangan cadangan, jika truk mengalami kerusakan.

Kami berpendapat bahwa faktor terpenting mengapa ia menggunakan senjata api dalam operasi ini adalah agar ia mampu melanjutkan operasi jihad, hingga ia terbunuh syahid, agar ia dapat menceburkan diri hingga jauh ke dalam garis pertahanan musuh dan agar ia tidak lagi memiliki pilihan untuk mundur. Dan inilah yang sebenarnya terjadi. Setelah ia menggilas musuh-musuhnya dengan truk, pasukan kepolisian segera mendekati kendaraannya dan operasi jihad ini berubah menjadi aksi tembak menembak antara dirinya dengan pihak kepolisian, yang berakhir dengan terbunuhnya sang Pahlawan, Mujahid, Muhammad

 Poin Kelima

Barangkali ada yang mengatakan, “Ada kemungkinan bahwa di sana barangkali ada orang-orang yang berkumpul untuk menghindar dari serangan truk, baik ke arah kanan maupun kiri.”

Jawabannya adalah bahwa kita memiliki dua faktor yang menghambat banyak orang dari melarikan diri. Yang pertama adalah bahwa truk tersebut bergerak dengan kecepatan tinggi sehingga menghancurkan banyak orang. Poin kedua adalah bahwa setiap kali ada kerumunan besar orang berkumpul, gerakan truk bisa jadi melambat dan pada sebagian besar kasus,  apa yang terjadi pada situasi seperti itu, adalah truk semakin terdorong diantara orang-orang di kerumunan besar, sehingga terjadi penyumbatan akibat jumlah massa yang banyak dan terpusat pada titik tabrakan, akibatnya jumlah korban tewas semakin meningkat..

Poin Keenam

Mujahid tersebut menempatkan bahan peledak palsu dan senjata di dalam truk, maka ini bisa dipahami bahwa ia memiliki rencana untuk mundur dari lokasi serangan setelah serangannya berhasil dilaksanakan. Pola semacam ini umumnya digunakan untuk menahan gerak laju aparat keamanan untuk mengejarnya, jika ia memungkinkan untuk bisa mundur. Senjata-senjata dan peledak palsu yang ditempatkannya di dalam truk akan memecah perhatian pasukan keamanan dan membuat mereka kebingungan, sehingga memberinya lebih banyak waktu untuk mundur dengan aman. Dan ini juga dapat menjelaskan keberadaan sepeda motor di dalam kontainer truk yang sama, yang memberikan wawasan kepada Mujahid bahwa ia mungkin memiliki rencana melarikan diri.

 Pesan-Pesan di Balik Operasi

Operasi Jihad di kota Nice membawa banyak pesan penting, sebagai berikut:

Pesan pertama adalah bahwa serangan ini bertujuan untuk menciptakan situasi menakutkan dan teror serta menyebarkannya ke seluruh negara-negara Eropa. Dan hal ini berhasil diraih dengan cara menargetkan pertemuan umum yang melibatkan berbagai kalangan. Sasarannya adalah agar rakyat Perancis hidup dalam sebuah malam yang menakutkan dan penuh suasana teror, sehingga mereka akan bertanya-tanya pada diri mereka sendiri, “…Mengapa terjadi disini?” Dan “Apa alasannya?” Jawaban secara langsung datang ketika mereka mengatakan, “Ini adalah Terorisme Islam!” Maka Mujahidin pun menjawab dan meluruskan jawaban mereka dengan mengatakan, “Kalian akan diperlakukan sama, sebagaimana kalian memperlakukan orang lain.” Dan “Jika kamu membunuh, maka kamu juga akan dibunuh.” Dan, “Jika kami hidup dalam ketakutan, maka kamu juga akan hidup di dalam ketakutan.” Kami semua tengah mempertahankan diri kami (dan serangan ini adalah bentuk mempertahankan diri-pnj). Syaikh Usamah telah menawarkan gencatan senjata selama 10 tahun dan kalian menolaknya serta memutuskan untuk bertindak secara ekstrim. Maka hari ini, keputusan akan berada di tangan rakyat Perancis, merekalah yang memiliki kapabilitas untuk menghentikan semua ini.

Hal yang semakin menambah rasa takut mereka terhadap operasi jihad ini adalah karena ke-unik-annya, operasi jihad ini dijalankan dalam bentuk dan gaya baru, yang sama sekali tidak terkirakan. Senjata yang digunakan tersedia dengan begitu mudah di jalanan. Dan apa yang semakin menambah ketakutan mereka dalam hal ini adalah adanya pengakuan sejumlah pejabat resmi bahwa mereka tidak mungkin mampu menghentikan jenis operasi jihad yang sama seperti ini.

Pesan kedua adalah bahwa sektor pariwisata di Perancis mulai saat ini tidak akan aman lagi. Dan ini akan berakibat fatal bagi pendapatan tahunan Prancis dari sektor pariwisata. Hal ini menjadi sebuah pesan yang jelas bagi setiap wisatawan dari seluruh penjuru dunia bahwa Perancis bukan lagi tempat yang aman.

Pesan ketiga: adalah bagi kaum Muslimin. Perancis yang tengah merayakan Hari Bastille, yang merupakan pencerminan semangat kebebasan, persaudaraan dan kesamaan. Bangsa Perancis yang telah membuat isu tentang penyerangan penjara Bastille sebagai simbol revolusi dan kebebasan. Pada saat yang sama, Bangsa Perancis adalah salah satu bangsa yang paling banyak memenjarakan kaum Muslimin, menganiaya mereka, merampok harta mereka, membunuhi anak-anak dan para wanita Muslimah dengan pertolongan Amerika sebagai sekutu mereka. Maka jelas bahwa “Kemerdekaan” ini hanya berlaku bagi Perancis, tapi sama sekali tidak berlaku bagi kaum Muslimin.

Arahan Operasi

Pada kenyataannya, sang Mujahid, Muhammad (rahimahullah) telah berhasil mengeksekusi sebuah operasi jihad secara utuh dan sempurna, dan tidak ada satupun yang tertinggal untuk kita kecuali sekadar menambahkan beberapa poin pengamatan seputar operasi ini. Dan sebagaimana yang telah diketahui bersama, kami (di Tandzhim Al-Qaidah Yaman) sebelumnya telah menyajikan di dalam Majalah Inspire Edisi II, tentang arahan-arahan untuk menggunakan kendaraan dan menabrakkanya ke arah tempat berkumpulnya orang-orang kafir. Kami menambahkan sebuah metode agar serangan tersebut dapat menambah jumlah target yang tewas dan memastikannya. Metode tersebut termasuk menempatkan pisau tajam di bagian depan kendaraan dengan cara yang rapi agar tidak menimbulkan kecurigaan, seperti menambahkan bumper sebagai alat kamuflase. Anda dapat merujuk pada edisi kedua majalah Inspire untuk referensi lebih lanjut.

Poin kedua adalah hendaknya sang eksekutor mengirimkan pesan motivasi serangannya. Ia hendaknya menggunakan berbagai sarana untuk mengirimkan pesan sehingga orang-orang memahami dan mengetahui motif serangannya tersebut.

Terakhir

Terakhir kami katakan, menjadi keharusan bagi rakyat Perancis untuk memutuskan, apakah mereka akan terus melanjutkan peperangan melawan kami? Atau apakah mereka akan memutuskan untuk menghentikan penjajahan Rezim Perancis atas kami? sedangkan bagi kita, maka kita akan melanjutkan untuk menargetkan Perancis dan mengajak pihak-pihak yang bersedia untuk menargetkannya serta mengorganisir sebuah operasi jihad terhadapnya atau dengan cara menggerakkan unit Jihad Mandiri-Insya Allah-selama Perancis melanjutkan penjajahan politiknya dan selama ia terus berpartisipasi dengan pasukan sekutu AS dalam memerangi apa yang disebut “terorisme”. Kami akan terus melawan Perancis sampai negara itu berhenti campur tangan dalam urusan kaum Muslimin dan berhenti merampok harta kekayaan kaum Muslimin, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dan seruan terakhir kami adalah segala puji hanya bagi Allah Rabbul ‘alamiin. Dan shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad saw, beserta keluarga dan para shahabatnya.

Tanzhim Qaidatul Jihad

Unit Pembimbing Jihad Mandiri

(NCSB/AR/AnsharAlIslam)

 

 

Advertisements