Oleh: Abu Al-Hasna’ Al-Abyani

 بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji hanya milik Allah Azza wa Jalla. Shalawat dan salam semoga selalu dianugerahkan atas nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya. Amma ba’du:

Semoga Allah memuliakan anda semua wahai saudara dan saudariku, semoga keselamatan, keberkahan dan rahmat Allah selalu dilimpahkan atas kalian.

Fokus Pertama: “Tandhim Al-Qaeda akan tetap berjalan, dan Allah ridha kepada mereka!”

Kalimat diatas saya kutip dari perkataan seorang lelaki tua dari wilayah Abyan, Yaman, pada tahun 2012 silam. Kalimat tersebut ia teriakkan setelah ia keluar dari Mahkamah Syariat di kota Waqar, yang pada saat itu dikuasai dan diatur oleh mujahidin Al-Qaeda atau dikenal dengan nama Ansharus Syariah Yaman.

Apa yang menjadikan bapak tua ini mengeluarkan kalimat seperti ini?

Adalah bapak tua ini memiliki sebidang tanah yang telah dirampas darinya dengan cara yang dhalim dan sepihak. Ia telah mencoba untuk menuntut haknya melalui pengadilan negeri di ibukota Sana’a. Pihak pengadilan negeri menuntut bayaran dari lelaki ini sebagai biaya sidang, dan mereka senantiasa memperpanjang proses sidang agar bisa terus memeras lelaki ini sebanyak mungkin.

Lalu lelaki ini memutuskan untuk mengadukan persoalannya pada Mahkamah Syariat yang diselenggarakan oleh mujahidin Al-Qaeda. Sungguh ia telah bersaksi bahwa qadhi tandhim Al-Qaeda tidak menuntut biaya apapun darinya, dan tidak pula menuntut bagian dari tanah yang disengketakan sebagaimana yang dilakukan oleh para hakim thagut. Lelaki tua ini lantas berkata pada sang Qadhi: “Allah meridhaimu!”

Lelaki ini telah menyaksikan bahwa para mujahidin Al-Qaeda bukanlah pencari dunia, sehingga mereka tidak meminta biaya apapun darinya. Bahkan mereka telah menjalankan hukum Allah yang adil atasnya, sehingga tanahnya kembali sah menjadi miliknya.

Lelaki tua ini telah merasakan langsung bahwa Al-Qaeda menjalankan fungsinya untuk menolong kaum yang didhalimi dan untuk memberantas kedhaliman. Bagaimana tidak? Ia telah melihat bagaimana para pemuda shalih ini menegakkan keadilan hukum Allah atas tanahnya yang telah dirampas oleh seorang muslim yang dhalim, dan tidak ada yang mau membelanya selama itu.

Bapak tua ini sungguh sangat terkejut dan terkesan dengan keadilan hukum syariat yang dijalankan oleh Al-Qaeda atas tanah miliknya. Ketika ia keluar dari persidangan ia dalam keadaan sangat gembira bercampur bingung, lantas ia bertanya:

“Benarkah saya berada pada tahun 2012 sekarang?”

Ia merasa seakan-akan Al-Qaeda telah mengembalikannya pada masa keemasan Islam dan kaum muslimin 1400 tahun yang lalu.

Lantas lelaki tua yang lemah ini berkata seraya tersenyum bahagia:

“Al-Qaeda telah mengembalikan hakku setelah bertahun-tahun aku menderita dengan sistem pengadilan Yaman. Tandhim Al-Qaeda akan tetap berjalan, dan Allah ridha kepada mereka!”

Fokus Kedua: Al-Qaeda Adalah Ideologi, Manhaj dan Metodelogi Sebelum Ia Menjadi Sebuah Jama’ah!

Al-Qaeda merupakan sebuah ide revolusioner yang menahkodai jihad di masa kita. Allah telah meruntuhkan impian-impian Uni Soviet melalui tangan-tangan para pendiri tandhim ini. Kemudian mereka mengobarkan perang atas kekuatan terdahsyat yang pernah dikenal manusia; Kekuatan Zionis dan Salibis Internasional yang dipimpin oleh Amerika!

Maka dengan izin Allah:

  • Al-Qaeda telah menginjak-injak hidung Amerika di Afghanistan!
  • Al-Qaeda telah menghinakan para pembesar Amerika di Irak!
  • Al-Qaeda telah menghancurkan harga diri Amerika di Yaman!
  • Al-Qaeda telah menampar telak Amerika di Nejad!
  • Al-Qaeda telah mempersenjatai pasukannya di Somalia!
  • Al-Qaeda telah menanam kuat duta-dutanya di Afrika Utara!

Diatas itu semua, adalah:

  • Al-Qaeda telah berhasil menyerang pusat jantung Amerika!
  • Al-Qaeda telah memukul dengan kuat pusat ekonomi riba Amerika di Manhattan!
  • Al-Qaeda telah meremukkan dua gedung makar musuh “Pentagon” dan “Gedung Putih”!

Iya benar, merekalah Al-Qaeda yang pada tahun 2001 dikepung di pegunungan Tora Bora, dan pada saat itu jumlah para pemimpin dan pasukan Al-Qaeda tidak lebih dari 500 mujahid!

Dan pada hari ini:

  • Mujahidin tandhim Al-Qaeda telah terbentang di Syam mulai dari tembok perbatasan Dataran tinggi Golan hingga pagar-pagar Damaskus!
  • Di Yaman, tentara tandhim Al-Qaeda sedang merong-rong induk kekafiran dengan terus memerangi dan menhantam Amerika dan agen-agennya!
  • Di Somalia, tentara tandhim Al-Qaeda sedang mengepung sarang-sarang kemurtadan dan terus memerangi Nasrani Afrika, serta semakin memperluas wilayah kekuasaan Islam!
  • Di Magrib Islami (Afrika Utara), singa-singa Al-Qaeda sedang memberikan pelajaran keras kepada pasukan salib Perancis, disana mereka sedang menginjak hidung musuh-musuh Islam diatas tanah, dan mereka juga sedang mengajarkan adab pada agen-agen musuh di Aljazair, Libya dan Mali.

Wahai saudaraku pembaca yang mulia, cobalah anda bayangkan bagaimana taufik Allah mengalir atas tandhim ini:

Pada 2001 silam, tandhim ini dikepung di pegunungan Tora Bora oleh lebih dari 20.000 tentara Amerika dan tambahan ribuan kaum munafikin murtad. Amerika menyerang Al-Qaeda tanpa henti dengan segala persenjataan tercanggih yang ia bawa. Adapun tentara Al-Qaeda yang dipimpin oleh Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullahu dan Syaikh Ayman Az-Zhawahiri hafidhahullahu hanya memiliki senjata tua (Automatic Kalashnikov) yang melekat di badan mereka masing-masing, dengan peluru terbatas, dan mereka hanya memiliki sebuah pelontar mortir. Iya benar, hanya sebuah pelontar mortir!

Dengan fadhilah dan taufik Allah, tentara Al-Qaeda mampu mengusir bala tentara yang diakui sebagai kekuatan terkuat pada abad 21 ini!

Hari ini, silahkan anda kerahkan sejenak pandangan anda untuk melihat kekuatan tandhim ini, mulai dari Khurasan, Magrib Islami (Afrika Utara), Yaman, Syam, Somalia dan seluruh wilayah cabang-cabangnya. Maka anda tidak akan dapati para tentara Al-Qaeda jika mereka mereka mendengar teriakan orang yang dianiaya, melainkan mereka akan menjawab seruan itu dan bergegas padanya!

Dengan fadhilah Allah, tandhim Al-Qaeda telah berhasil mengkader generasi baru di setiap wilayah, dan tandhim ini mampu menjadi dermaga tempat berlabuhnya putra-putra terbaik umat!

Kemarin Amerika mengepung tandhim Al-Qaeda di gunung Tora Bora, tetapi hari ini tandhim Al-Qaeda lah yang sedang mengepung Amerika di seluruh wilayah Timur Tengah!

Syaikh Usamah bin Ladin, Abu Hafs, Abu Laits Al-Libiy, Abu Yahya Al-Libiy, Syaikh Athiyatullahu Al-Libiy, Abu Mus’ab Az-Zarqawi, Abu Anas As-Syami, Abu Muhammad Al-Lubnani, Sa’id As-Syahri dan banyak lainnya para pemimpin tandhim Al-Qaeda telah gugur di jalan ini, dan ribuan tentara tandhim ini juga telah banyak yang gugur di berbagai medan pertempuran. Akan tetapi ideologi dan manhaj Al-Qaeda tetap abadi dengan fadhilah Allah! Jihad yang telah mereka kobarkan akan terus berjalan dengan izin Allah! Karena ia adalah sebuah ide dan manhaj yang dimiliki umat, bukan ideologi yang diusung oleh elit tertentu saja!

Karena itulah kami memilih Al-Qaeda!

Fokus Ketiga: “Setengah Hari di Depan Rumah Sakit Waqar – Abyan Yaman.”

Pada hari itu teman saya jatuh sakit, lalu saya mengantarkannya ke rumah sakit Ar-Razi di kota Waqar, Abyan. Saat itu kota Waqar baru saja dikuasai oleh mujahidin tandhim Al-Qaeda, dan pertempuran masih berlangsung sengit di Zanjibar, wilayah Abyan bagian lain.

Ketika saya dan teman saya tiba di gerbang rumah sakit, saya disambut oleh salah seorang mujahidin Al-Qaeda yang sedang menjaga rumah sakit. Ia menghampiri kami dengan senyuman yang indah sekali dan wajah yang berseri-seri, ia bertanya tentang kabar kami dan kondisi sahabat saya. Saya merasa begitu nyaman dengan keramahannya.

Ia lalu mempersilahkan kami masuk, dan berkali-kali dalam percakapan itu ia memanggilku dengan “Ya Al-Habiib” (wahai kekasih hatiku). Lalu ia berkata pada saya:

Maafkan saya akhi, Tandhim telah menetapkan peraturan larangan membawa masuk senjata ke gedung-gedung publik.”

Saya berkata padanya:

“Akhi, ini adalah senjata pribadiku, kau tak bisa menyitanya!”

Dia berkata:

Wahai akhi, demi Allah, bahkan pasukan tandhim juga kami ambil senjata mereka”

Saya lantas berkata:

Baiklah, ambillah ini!”

Dia kemudian berkata:

“Maafkanlah saya akhi, jika saya telah berlaku lancang padamu”

Saya menjawabnya:

“Tidak, demi Allah, dengarkan saya wahai akhi yang terpuji, saya akan antarkan teman saya ke dalam, nanti mari kita bertemu dan saling berkenalan”

Setelah saya bawa masuk teman saya ke ruangan dokter, dan ia selesai diperiksa, maka saya tinggalkan ia sejenak beristirahat di atas ranjang pasien. Lalu saya keluar ingin menemui pemuda yang telah membuat saya sangat terkesan di gerbang rumah sakit. Saya duduk dan berbincang-bincang dengan mereka, dan semua mereka adalah pemuda asli kota Waqar. Kami mendiskusikan keadaan dalam negeri dan kondisi perang di Zanjibar, dan kekejian pemerintah Yaman yang membumi hanguskan Zanjibar dengan bom.

Tatkala kami asyik mengobrol, tiba-tiba datang sebuah mobil yang di dalamnya terdapat 4 orang yang asing di mata saya. Mereka mengucapkan salam kepada kami dan tersenyum hangat. Saya tidak mengenal sopir mobil tersebut, dan tidak diragukan lagi bahwa ia bukan dari Abyan. Saat itu rambut dan jenggotnya kusut masai, dan wajahnya dipenuhi debu, menunjukkan bahwa orang ini baru keluar dari front tempur.

Kemudian salah seorang dari pemuda ini menyapanya: “Selamat datang, wahai Syaikh Ammar Al-Waili.”

Saya bergumam dalam hati “siapa Ammar Al-Waili?” Nama ini tidak asing di telinga saya. Kemudian saya teringat, Ammar Al-Waili adalah komandan divisi mortir tandhim Al-Qaeda Yaman.

Lalu, tatkala Syaikh dan teman-temannya hendak masuk ke dalam rumah sakit, salah seorang pemuda yang bertugas menjaga rumah sakit menghentikan mereka dan berkata:

“Wahai syaikh, dengan segala hormat, tolong tinggalkan senjata kalian di pos jaga!”

Seketika itu saya merasa sangat malu sekali! Saya menanti-nanti apa yang akan dijawab oleh Syaikh untuk pemuda ini. Yang terjadi adalah syaikh memohon maaf pada si pemuda, ia minta maaf karena kelupaannya, kemudian beliau serahkan senjata pribadinya kepada ikhwah yang menjaga di pos.

Sungguh saya sangat malu pada diri saya sendiri dan kapala saya pun tertunduk malu. Tatkala syaikh telah masuk masuk ke dalam rumah sakit, si pemuda tadi menatap ke arah saya dan berkata: “Akhi, angkatlah kepalamu!”

Saya pun berkata padanya: “Saya yakin pasti engkau sedang membandingkan sikap saya tadi dengan sikap syaikh!?”

Ia tertawa dan berkata pada saya: “Antum memang pembangkang! Hahaha”

Lalu di hadapannya, saya memuji aturan ini dan penerapan disiplin yang dilakukan oleh para ikhwah Al-Qaeda. Dia beritahukan saya bahwa aturan –aturan kedisiplinan seperti ini adalah perintah langsung Syaikh Al-Wuhaisyi dan Syaikh Abu Sufyan Al-Azidi.

Selang beberapa waktu kemudian, sebuah mobil jeep datang menghampiri pos jaga rumah sakit. Mobil tersebut disupiri oleh seorang mujahid dan di sampingnya duduk seseorang yang memakai topeng, sepertinya ia seorang petinggi dalam tandhim.

Pria bertopeng tersebut mulai berbicara pada para ikhwah, menguatkan semangat mereka, dan mengingatkan mereka pada Allah, dan hendaknya memperbanyak doa yang baik untuk kaum muslimin dalam ribath mereka. Kalimat-kalimat seperti ini sangat identik dengan para pemimpin tandhim Al-Qaeda, gumam saya dalam hati.

Tatkala syaikh bertopeng masih sedang memberikan tausiyahnya, beliau melihat salah satu dari ikhwah ada yang mengangkat moncong senjatanya ke arah depan. Maka syaikh berkata padanya:

Wahai anakku, ketika engkau sedang mengangkat ujung senjatamu seperti ini, lalu lewat di hadapanmu anak kecil atau wanita dan mereka ketakutan karena ulahmu ini, maka engkau menanggung dosa dan kami juga. Wahai anakku, bukan suatu keharusan engkau jadikan manusia dan pasien-pasien rumah sakit melihat senjata kalian, singkirkan senjata kalian dari pandangan mereka sebisa mungkin!”

“Kita disini untuk melindungi mereka, bukan untuk menakut-nakuti mereka.”

Lantas si pemuda yang ditegur oleh syaikh bertopeng ini berkata:

“Mafkan saya wahai syaikh”

Seketika itu juga syaikh turun dari mobil dan mencium kepala mereka semua dan memerintahkan kepada pengawalnya untuk menghadiahkan mereka daging bakar.

Saya sangat terkesan dengan syaikh ini, karena kelembutannya atas kaum muslimin dan kasih sayangnya pada pasukannya. Setelah syaikh beranjak darisana, saya bertanya pada mereka siapa syaikh yang bertopeng itu. Mereka pun berkata:

“Engkau tidak kenal beliau?”

Saya hanya bisa menjawab: “Bagaimana bisa saya mengenal beliau!?”

Mereka berkata: “Coba ingatlah suara beliau dan serak suaranya..”

Saya berkata: “Saya mulai ingat, jangan bilang ke saya bahwa beliau adalah Syaikh Abu Zubair!”

Mereka tersenyum: ”Benar, itu adalah Syaikh Abu Zubair”

Syaikh yang lembut dan sangat mengasihi pasukannya ini ternyata adalah Syaikh Abu Zubair, beliau adalah ketua Lajnah Syar’iyyah dalam Tandhim Al-Qaeda Jazirah Arab.

Inilah fakta yang kami saksikan langsung dengan mata kami tentang keadaan Al-Qaeda, baik para pemimpinnya dan juga para ulamanya. Sungguh kami telah menyaksikan keadaan ini langsung di dunia nyata, bukan dari rekaman atau rilisan!

Kami tegaskan kembali, karena inilah MENGAPA KAMI MEMILIH AL-QAEDA!

Advertisements