Oleh:  Abu Jihad Al-Indunsiy a.k.a. Sofyan Tsauriy

Belum lama ini kita telah dikejutkan sebuat Amaliah atau rangkaian operasi yang dilakukan orang-orang diklaim sebagai para junud khilafah, dibulan suci penghujung Ramadhan dikota suci Madinah menjelang Maghrib pada tanggal 4 Juli 2016, dan dilakukan juga di indonesia di markas Polres Kota Solo pada pagi hari tanggal 5 Juli 2016  oleh tangan kotor Mujrim, perbuatan Teroris /Irhabiyyah yang Allah Ta’ala melaknat pelakunya, juga yang memberi fatwa, yang merencanakan operasi terkutuk yaitu para Junud khilafah, sebuah kelompok yang dinisbatkan kelompok pendukung khalifah al-Bahgdadiy,

Perbuatan keji lagi Jahat yang tidak mungkin dikerjakan oleh musuh-musuh Islam sekalipun, maka benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengomentari mereka dengan “Seburuk-buruk korban yang dibunuh dibawah kolong langit.” Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah berkata di dalam Minhaj As Sunnah An Nabawiyyah (5/248):

“Maksudnya kejahatan mereka terhadap kaum muslimin tidak ada yang menandingi, sesungguhnya mereka, tidak ada seorangpun yang lebih besar kejahatannya kepada kaum muslimin melebihi mereka, tidak Yahudi dan tidak pula Nasrani. Mereka bersungguh-sungguh dalam membunuh setiap muslim yang tidak sepaham dengan mereka, mereka menghalalkan darah dan harta kaum muslimin, membunuh anak-anak mereka dan mengkafirkan mereka, itu semua mereka lakukan dengan meyakini bahwa itu merupakan bagian dari ajaran islam, hal ini akibat kebodohan dan kebidahan mereka yang menyesatkan.”

Maka peperangan kita melawan Khawarij adalah tuntutan Aqidah dan Manhaj didalam Islam, bukan peperangan politik semata, apalagi adanya ajakan Move On dari memerangi ISIS karena alasan tidak strategis memerangi mereka, atau ada yang menganggap bodoh karena adanya adu domba oleh musuh-musuh Islam terhadap gerakan JIhad, sekalipun musuh-musuh Islam tidak mendadu domba ketahuilah bahwa memerangi teroris ISIS sebagai Khawarij modern tetap akan berlanjut,  sebagaimana banyak Ulama Ijma` atasnya karena tanda-tanda khusus dan tanda-tanda umum yang melekat pada Daulah Baghdadi hari ini.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah menyerukan untuk memerangi dan membunuh mereka, bahkan melenyapkan mereka. Di dalam sebuah hadits yang tercantum di dalam Shahihain dan diriwayatkan oleh Ali Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata; saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِي آخِرِ الزَّمَانِ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Di akhir jaman nanti muncul suatu kaum yg umur-umur mereka masih muda, pikiran-pikiran mereka bodoh, mereka mengatakan dari sebaik-baik manusia, padahal iman mereka tak sampai melewati kerongkongan, mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah keluar dari busurnya, dimanapun kalian menemukannya, bunuhlah dia, sebab siapa membunuhnya mendatangkan ganjaran pagi pelakunya di hari kiamat.” [HR. Bukhari No.6418].

Begitu pula hadits yang juga tercantum di dalam Shahihain dan diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudriy Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ

“..Mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala; mereka keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya. Seandainya aku masih mendapati mereka, akan kumusnahkan mereka seperti musnahnya kaum ‘Ad. [HR Muslim No. 1762]

Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan barangsiapa memerangi mereka maka ia mendapat pahala yang besar, hal ini sebagaimana yang terdapat di dalam hadits di Shahih Muslim, dari Zaid bin Wahb Al Juhni Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

لَوْ يَعْلَمُ الْجَيْشُ الَّذِينَ يُصِيبُونَهُمْ مَا قُضِيَ لَهُمْ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَاتَّكَلُوا عَنْ الْعَمَلِ

“Sekiranya pasukan yang memerangi mereka tahu pahala yang telah ditetapkan bagi mereka atas lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, niscaya mereka akan berhenti beramal [HR Muslim No. 1773]

Maksudnya mereka akan meninggalkan seluruh amal saleh dan fokus untuk memerangi mereka. Di dalam sebuah riwayat yang shahih disebutkan:

طُوبَى لِمَنْ قَتَلَهُمْ وَقَتَلُوهُ يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِي شَيْءٍ مَنْ قَاتَلَهُمْ كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ

“..Maka beruntunglah orang yg membunuhnya & mereka membunuhnya. Mereka mengajak kepada Al-Qur’an, tetapi mereka sendiri tak mengamalkannya sama sekali. Siapa memerangi mereka, maka yg demikian lebih mulia di sisi Allah..” [HR. Abu Daud No. 4137].

Logika ngawur yang sering digunakan untuk Operasi semacam Bom Madinah

Sering kami dapatkan fatwa dan logika ngawur yang dipahami literal telah membawa salah paham dan menimbulkan bencana atas operasi – operasi mengatas namakan Jihad sudah sering  terjadi, fatwa ini di copy paste untuk negeri-negeri muslim yang belum menegak hukum syariat Islam, atau menurut mereka negeri yang masih menjalankan syariat Islam tetapi memberikan wala nya kepada negeri-negeri kafir maka dia menjadi negeri kafir (contoh. Saudi ) dan mereka menganologikan jika Turki yang pusat Khilafah Islam saja di kafirkan apalagi negeri seperti Indonesia [1], maka akan lebih layak untuk dikafirkan dan dimurtadkan , dalam beberapa dialog[2] Aman selalu mengatakan ‘’ kita tidak bisa mengatakan bahwa penduduk Indonesia ini beragama Islam, akan tetapi Indonesia adalah penduduk yang hanya mengaku ngaku muslim[3], hal ini dikuatkan didalam buku mereka yang di berikan kata pengantar oleh Mustaqim alias Abu Yusuf dengan judul  ” Inilah Aqidah Kami, Daulah Islamiyyah.

“Kami meyakini bahwa negeri-negeri bila yang berlaku di dalamnya adalah syiar-syiar kekafiran dan yang mendominasi di dalamnya adalah hukum-hukum kekafiran bukan hukum-hukum Islam, maka negeri-negeri ini disebut negeri kafir. Konsekuensinya, kita mengkafirkan penduduk yang mendiami negeri-negeri tersebut, kecuali ada udzur yang mu’tabar (dianggap) secara syar’i. Dan karena hukum-hukum yang berlaku di seluruh negeri-negeri Islam hari ini adalah hukum-hukum thaghut dan syariat kufurnya, maka sesungguhnya kami meyakini kafir dan murtadnya seluruh pemerintah tipe ini dan bala tentaranya. Dan memerangi mereka hukumnya lebih wajib dari memerangi pemerintah salibis,..”

Negeri-Negeri Islam yang belum tunduk Oleh ISIS adalah Darul Kufr

Mereka beranggapan negeri-negeri Muslim hari ini adalah negeri Kufr yaitu Syiar-syiar kekafiran mendominasi mereka yaitu selama mereka tidak meng Izharkan (menampakan ) sebagai seorang Muslim versi mereka, sikap tersebut sama persis dengan sekte khawarij Azariqoh sebagaimana yang dikatakan Imam abu hasan al-Asy-ariy ” Azariqoh telah mengklaim bahwa barang siapa tinggal di darul kufri maka dia kafir, tidak boleh baginya kecuali keluar . Sebagian dari mereka meyakini “. Bila si pemimpin telah kafir, maka semua rakyatnya menjadi kafir pula, baik yang tidak hadir diantara mereka maupun yang menyaksikan “. ( maqalat Al-Islamiyin 1/88)

Adapun mereka terpaksa tinggal di negeri-negeri Muslim semata-mata untuk berdakwah dan sedangkan metode Khawarij Modern dengan keyakinannya menjadikan negeri yang mayoritas Muslim  sebagai darul harbi yang berlaku hukum perang yang disana mereka menghalalkan harta dan darah orang yang menyelisihi mereka[4], dan sikap ini dikuatkan oleh fatwa dan qaul Najd seperti :

–  Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq berkata: Ulama telah ijma’ bahwa barangsiapa memalingkan satu macam ibadah kepada selain Allah maka dia itu telah musyrik, walaupun dia itu mengucapkan Laa ilaaha illallaah, dan walaupun dia itu shalat, shaum serta mengaku muslim.  (Ibthalut Tandid: 76) Mengutip dari buku Al-Urwah Al-Wutsqo hal. 62, penyusun . Aman Abdurahman )

–  Syaikh Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab  berkata: “Sesungguhnya keislaman itu tidak sah kecuali dengan memusuhi para pelaku syirik akbar, dan bila dia tidak memusuhi mereka maka dia itu termasuk bagian dari mereka walaupun dia tidak melakukan syirik itu” [Mufidul Mustafid Fi Kufri Tarikit Tauhid, lihat Tarikh Nejed: 372]. Yang dimaksud Syirik Akbar menurut pemahaman Khawarij Modern hari ini adalah paham Demokrasi yang melanda hampir seluruh negara Islam hari ini. Demokrasi adalah Syirik Akbar maka jika rakyatnya memilih Demokrasi sebagai Dienun maka Kafir dan yang tidak mengkafirkannya maka dia Kafir juga sebagaimana Kaidah ‘’ MAN LAM YUKKAFIR AW SYAKKA FIE KUFRIHI FAHUWA KAFIER ‘’ dan hal ini dibenarkan oleh perkataan Syaikh Ali Al Khudlair di awal kitab Ath Thabaqat menyebutkan bahwa di antara golongan yang termasuk ‘Ubbadul Qubur adalah: Para penyembah penguasa (thaghut), para penganut ideologi-ideologi dan falsafah-falsafah (kafir), para penyembah negara-negara kafir, para budaknya, para penganut sistim-sistim kafir, para hamba hukum dan perundang-undangan buatan, serta yang lainnya. [Kitab Ath Thabaqat: 3].

–  Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab  berkata: “Siapa yang membela-bela mereka (para thaghut dan pelaku syirik akbar) atau mengingkari terhadap orang yang mengkafirkan mereka, atau mengklaim bahwa: ‘perbuatan mereka itu meskipun bathil tetapi tidak mengeluarkan mereka pada kekafiran’, maka status minimal orang yang membela-bela ini adalah fasiq, tidak diterima tulisannya, tidak pula kesaksiannya, serta tidak boleh shalat bermakmum dibelakangnya” [Ad Durar As-Saniyyah: 10/53], maka dari sini mereka tidak mendengar nasehat-nasehat Ulama, orang Bijak dan para Komandan Jihad sekalipun diluar kelompok mereka wal iyyadzubillah.

– Para Imam dakwah Najd berkata: “Di antara hal yang mengharuskan pelakunya diperangi adalah sikap tidak mengkafirkan pelaku-pelaku syirik atau ragu akan kekafiran mereka karena sesungguhnya hal itu termasuk pembatal dan penggugur keIslaman. Siapa yang memiliki sifat ini maka dia telah kafir, halal darah dan hartanya serta wajib diperangi sehingga dia mengkafirkan para pelaku syirik” [Ad Durar As Saniyyah: 9/291] demikian karena tidak mengkafrkan pelaku kafir maka mereka tidak segan-segan mengkafirkannya, dihalalkan darahnya dan wajib memeranginya walau dia shalat di masjid-masjid karena hanya tidak mengkafirkan Demokrasi. Laa hawla walaa quwwata illa billah.

Para Imam dakwah Najdiyyah telah menjelaskan maksud sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, Dan dia kafir terhadap segala sesuatu yang diibadati selain Allah”, maksud kalimat tersebut adalah: Mengkafirkan pelaku syirik dan berlepas diri dari mereka dan dari apa yang mereka ibadati [Ad Durar As Saniyyah: 9/291]. Demikian aqidah wala wal barra yang banyak mengambil dari qaul dan Fatwa Najd yang di sistematiskan telah menjadi musibah di negeri-negeri Muslim. Dari uraian diatas maka qaul dan fatwa di atas menjadi spirit untuk mengkafirkan sesama muslim karena sebab menyelisihi mereka, sebagaimana kekhawatiran para ulama seperti Hassan Al-Kattani, Al-Maqdisi, Abu Qotada dan Ulama-ulama lainnya dalam banyak risalah mereka.

Maka jelaslah dari sini Ashlul Khawarij atau pokok-pokok pemikiran Khawarij yang melekat pada diri mereka, dan kesesatan mereka muncul dan menyebar menjadi sebuah pemikiran dan manhaj para takfiri hari ini, pemikiran ini berkembang menjadi kepribadian, lalu fikrah pola pikir, lalu menjadi perilaku yang menyimpang, harus ada terapi dan lembaga konseling untuk menyadarkan setiap individu yang selalu menganggap ini adalah sebuah jalan untuk mendekatkan kepada Tuhannya,  sebuah persoalan yang sangat berbahaya bila didiamkan begitu saja, persoalan yang harus disikapi secara komperensif dengan kontra ideologi dan kontra narasi pemikiran dan menjawab syubhat-syubhat pemikiran tersebut, kiranya membutuhkan waktu, sikap bijak dan kecermatan jika tidak Indonesia menjadi zona berbahaya terhadap berkembanganya pemikiran ini.  Waallahu alam 

Depok, 5 Juli 2016

Jam 08.00 WIB

 

 


[1] Ucapan ini kami dapatkan di dalam kitab Al-Urwatul Wustqo yag disusun Aman Abdurahman tokoh ISIS di Indonesia

[2] Ucapan beliau selalu beliau ulang-ulang dalam banyak  kesempatan terutama di LP Cipinang ditahun akhir 2011-2012 sebelum beliau dipindahkan  ke Nusa Kambangan Cilacap Jawa Tengah.

[3] Wawancara anonim dengan Aman dalam celah waktu taklim beliau dengan Mukhtar Khaeri narapidana dengan vonis 8 tahun ditahun 2012

[4] Lihat pernyataan Al-Adnani dan qaul Najd seperti ini mudah kita dapatkan dalam fatwa-fatwa diatas.

Advertisements