Anggota ISIS yang meloloskan diri mengungkapkan realitas kebrutalan kelompok menyimpang ini: ‘Mereka menyiksa dan memutilasi mayat.’

‘Mereka sangat brutal, membunuhi perempuan dan orang tua yang tidak mematuhi mereka,’ kata mantan militan tersebut.

Dia menggambarkan realitas kehidupan dalam kelompok super ekstrem itu sebagai “lebih buruk dari tirani pasukan pemerintah (Suriah).”

Pria Rusia, yang menyebut dirinya Zurab berada dalam ketakutan akan balas dendam dari Isis, memberitahukan media tentang pengalaman langsungnya tentang kekejaman kelompok radikal itu.

“Mereka sangat brutal, membunuh perempuan dan orang tua yang tidak mematuhi mereka,” katanya. “Mereka disiksa dan mayat mereka dimutilasi. Mereka memotong-motong mayat, mengikat mereka ke bagian belakang mobil dan menyeretnya bersama.”

Dia mengatakan orang-orang Kristen dibunuh dengan segera tanpa ada kata yang diucapkan (dibunuh hanya karena beragama Kristen, bukan karena berbuat salah yang mengharuskan qishash, ed): “Mereka akan menemukannya (kaum kristen) dan mengeksekusi mereka di depan publik. Saya menyaksikan banyak eksekusinya.”

Zurab memberitahu RT media, dia tertarik kepada kelompok ekstrem ISIS oleh video-video propaganda yang apik.
Zurab memberitahu RT media, dia tertarik kepada kelompok ekstrem ISIS oleh video-video propaganda yang apik.

“Kami menyaksikan video-video promo tentang perempuan, anak-anak dan orang tua yang menangis (sambil berkata), ‘di manakah engkau, kaum Muslimin? Mengapa engkau bersembunyi? Ketika darah umat Islam sedang ditumpahkan, engkau memutuskan engkau ingin menjadi seorang yang cinta damai? ‘

“Saya punya perasaan bersalah, kasih sayang dan tanggung jawab. Kami pergi ke sana bukan karena kami tahu fakta-fakta tetapi karena emosi kita,” katanya.

BACA JUGA: Kesaksian Mantan Pemeran Dalam Video Propaganda ISIS

Dia dilaporkan membeli tiket ke Istanbul, di mana ia bertemu dengan orang lain yang berharap dapat masuk wilayah Isis. Setelah naik bus ke perbatasan Suriah, mereka menyeberang ke negara itu pada malam hari.

Setelah di Suriah, kelompok pendatang itu dibawa ke sebuah “rumah Syariah” dan kemudian ke kamp pelatihan di desa Atme. Dua bulan kemudian, Zurab dikirim ke garis depan.

Penampilan Harry Sarfo dalam sebuah video propaganda video yang dikeluarkan Isis pada bulan Agustus 2015, di mana dua tahanan dieksekusi oleh para militan.
Penampilan Harry Sarfo dalam sebuah video propaganda video yang dikeluarkan Isis pada bulan Agustus 2015, di mana dua tahanan dieksekusi oleh para militan.

Perjalanannya mirip dengan Harry Sarfo, yang mengatakan kepada The Independent bagaimana ia terpikat ke Suriah oleh video-video yang ia percaya menunjukkan “kesatuan di bawah satu bendera … kulit putih, hitam, Asia dan Arab dari semua lapisan masyarakat untuk melindungi Muslim Sunni.”

Pria 27 tahun itu, yang saat ini berada di dalam penjara menunggu persidangan atas tuduhan teror, muncul di salah satu film eksekusi kejam kelompok ISIS yang terkenal.

Zurab memutuskan untuk melarikan diri dari Isis setelah menyaksikan banyak kekejaman dan kebrutalan kelompok tersebut. Untuk melakukannya, ia menjadi pengawal salah satu pemimpin kelompok yang paling terkenal, Abu Omar al-Shishani.

Shishani, yang dikenal sebagai “Omar Chechnya”, dilaporkan tewas dalam serangan udara AS pada bulan Maret, tapi Isis membantah laporan kematiannya dua bulan kemudian.

Setelah memenangkan kepercayaan al-Shishani sesudah berbulan-bulan, Zurab berkata kepada pemimpin Isis ia harus melihat ibunya dan berjanji untuk kembali.

Ketika ia kembali ke Ingushetia, wilayah Kaukasus, ia menyerahkan diri ke pihak berwenang dan diadili serta dinyatakan bersalah menjadi bagian dari kelompok bersenjata ilegal yang kejam.

Zurab mengaku tak pernah membunuh warga sipil dan diberi hukuman percobaan lima tahun.

Dia mengatakan dia sekarang hidup dalam ketakutan akan balas dendam dari Isis yang hanya mengetahui bagaimana caranya menumpahkan darah. (ind/ansharalislam)

Advertisements