Syaikh Abu Mahmud Al-Filistini mengomentari serangan bom bunuh diri di Istambul, Turki.

“Pemerintah Turki Islam atau kafir bukanlah ukuran untuk melakukan operasi militer di sana,

Seperti diketahui di dalam fikih Jihad:

Operasi militer tidak wajib dilancarkan ke semua pihak yang sah diperangi. Ada prioritas dalam masalah ini. Perang hanya akan dilancarkan terhadap orang-orang yang sah diperangi bila tujuan Jihad terealisasi dengan memerangi mereka. Dan jika tujuan jihad tidak terealisasi, tidak perlu memerangi mereka cukup melakukan gencatan senjata atau perjanjian damai.

Dan Nabi Saw juga menerapkan kebijakan menetralisir musuh. Ada prioritas dalam memerangi musuh. perang melawan Quraish diprioritaskan daripada memerangi kaum Yahudi di Madinah dan kabilah-kabilah yang tersisa. Sebaliknya Nabi Saw bahkan menerima kabilah Khuza’a dalam koalisi padahal mereka bukan Muslim.

Mereka yang berkoar-koar soal kekafiran pemerintah Turki untuk melegitimasi pemboman di Turki telah bersikap berlebihan. Dan setiap orang yang berupaya menganggap Turki sebagai Islami untuk melegitimasi mencari bantuan dari Turki juga keliru.

Dan saya tidak berpikir bahwa ada seorang tholabul ilmi yang akan menyetujui operasi militer di Turki, mengingat dalam fase ini bisa merusak dan merugikan pengungsi, tentu juga terhadap Mujahidin.

Dan ulama kita selama puluhan tahun telah menolak pemboman di negara-negara Muslim karena korban keseluruhan adalah Muslim. Saya mengacu pada buku “Merenungi hasil-hasil Jihad” (Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi).

Saran saya kepada tholabul ilmi agar meninggalkan perdebatan apakah pemerintah Turki itu Islam atau kafir, karena masalah ini tidak menguntungkan dan hanya merugikan.” (tgr/ansharalislam)

Advertisements