Hari Jumat sore tanggal 26 Ramadhan kemarin agaknya menjadi hari yang spektakuler bagi seluruh Mujahidin Islam di kota Dhaka, ibukota Bangladesh. Hari yang berbarakah tersebut menjadi saksi serangan satu tim penyerbu Mujahidin yang berhasil menyerbu masuk sebuah hotel restoran elit, yang hanya boleh dikunjungi oleh para pejabat elit pemerintahan rezim boneka Amerika di Bangladesh dan para pejabat serta petugas Kedutaan Amerika, para agensi intelijen Internasional serta para kontraktor dan diplomat asing lainnya.

Serangan di kompleks hotel dan restoran yang terletak di kota Gulshan yang terletak di Dhaka, ibukota Bangladesh tersebut dikabarkan berhasil menawan 20 orang yang sebagian besarnya adalah para pejabat diplomatik asing    ♦️♦️

Dalam penyerbuan itu, sejumlah aparat kepolisian Bangladesh tewas di tangan Mujahidin

Serangan ini menjadi serangan Mujahidin Bangladesh pertama dan terbesar yang menargetkan zona diplomatik dari kalangan pasukan Salibis dan yang berhasil menawan tokoh-tokoh penting mereka.

Salah seorang jurnalis setempat mengatakan bahwa, “Tempat kejadian penyerangan ini adalah tempat berkumpulnya para pejabat asing, dan tentu saja, Anda akan menemukan sejumlah pemimpin elit Bangladesh di tempat tersebut. Tempat ini cukup populer di kalangan pejabat diplomatik asing yang bertugas di Bangladesh.”

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Dhaka menyatakan dalam Twitter resmi mereka bahwa “kami menerima laporan situasi penembakan dan penawanan.”

Serangan terkoordinasi ini jelas menargetkan kekuatan Aliansi Salibis di sebuah area yang dipenuhi oleh para pejabat Salibis. Selain itu, serangan ini dilakukan secara terencana dan memilih target dengan hati-hati dan bukan merupakan serangan dengan target acak sebagaimana yang terjadi di Bandara Istanbul Turki, yang menewaskan begitu banyak kaum Muslimin.

Dalam penyerangan ini, tercatat 10 orang luka-luka dan hanya ada 1 orang aparat kepolisian yang tewas, selain itu tidak ada satu informasi pun yang menyebutkan bahwa Mujahidin melepaskan sandera. Hingga berita ini diturunkan, Mujahidin masih menguasai penuh medan pertepuran dan sandera yang mereka tawan.

Serangan terkoordinasi yang membatasi target hanya kepada kepentingan Amerika dan dan Salibis di Bangladesh tersebut, seakan menjadi penanda penting beraksinya cabang Al-Qaidah di Anak Benua India di wilayah Sub Operasi Bangladesh yang dikenal dengan nama Jamaah Ansharul Islam.

Sebagaimana diketahui, serangan dengan pola yang sama persis juga digelar oleh Al-Qaidah Mali, ketika menyerang hotel pasukan Perancis, PBB dan diplomat Amerika di Timbuktu-Mali. Dalam serangan tersebut, Al-Qaidah membebaskan kaum Muslimin yang bisa membaca Al-Qur’an.

Meskipun berbagai klaim dan pemberitaan yang digembar-gemborkan oleh sayap media Khawarij ISIS yang mengklaim serangan Bangladesh tersebut, namun kejelasan Manhaj dan Karakter Serangan yang dipegang teguh oleh para Mujahidin Al-Qaidah ini berhasil membedakan serangan Bangladesh yang begitu berhati-hati ini dengan serangan di Bandara Istanbul beberapa hari sebelumnya. Sebagaimana diketahui, serangan ISIS di bandara Istanbul ini, sebagaimana biasanya, telah menewaskan begitu banyak kaum Muslimin.

Terkait tindakan klaim serampangan atas aksi-aksi jihad Mujahidin Al-Qaidah yang dilakukan oleh ISIS pun bukan lagi menjadi hal yang baru. Tercatat sejumlah serangan yang terjadi di Libya, Mali, Afghanistan dan bahkan Suriah menjadi saksi klaim-klaim palsu ISIS. Hal tersebut akhirnya terkuak beberapa hari dengan munculnya statemen resmi Al-Qaidah dan begitu berbedanya karakter serangan yang dilakukan dengan karakter serangan ISIS selama ini.

Dan sekali lagi, tindakan serakah lagi serampangan yang dilakukan oleh ISIS dengan mengklaim aksi-aksi jihad Mujahidin Al-Qaidah, tidak lebih dari upaya ISIS untuk meng-ISIS-kan segala bentuk jihad di muka bumi, yang pada ujungnya menjadi pembenaran bagi pihak Intelijen Kuffar dan Apara Kuffar untuk membenturkan jihad dengan umat dan memberangus jihad dengan mengatasnamakan pemberantasan ISIS.(f/alfirdaws/ansharalislam)

Advertisements