Karamah kedua adalah untuk Haydar dan Khalid. Saat itu adalah pertempuran yang hebat. Itu dari pertempuran terbesar kita yang berjumlah 100 mujahid. Apakah Anda tahu apa yang kami lakukan untuk mengumpulkan 100 mujahid ini? Saya bersumpah kepada Allah bahwa kami menghubungi tiga kamp mujahidin di tiga wilayah yang berbeda tidak seperti Kairo, Alexandria dan Asyut, mereka daerah yang jauh dan di setiap daerah ada mujahidin. Disini 35, dan di sini 40 sampai kita mengumpulkan 100 mujahid untuk melakukan operasi ini untuk memotong rute pasokan untuk musuh yang mengepung mujahidin di selatan, dan rute pasokan ini dilalui dengan banyak tank dan kami menyeberangi rute ini dalam 12 hari dengan 100 mujahid sementara musuh berjumlah ribuan dan memiliki ratusan kendaraan lapis baja dan tidak bisa dilewati. Dan kami 100 mujahid dengan senjata ringan dan satu meriam, Laa hawlaa walaa quwwata illa billaah, saya mengatakan ini kepada mereka yang mengatakan mujahidin lokal tidak menginginkan orang-orang melainkan uang, ketika saya meminta Fatwa dari para syaikh – yang saya tidak ingin menyebutkan nama-nama mereka – sebelum pergi berjihad.

Semoga Allah mengampuni keatas syaikh Hazim (Salah Abu Ismail), dan syaikh Muhammad Hassan dan Muhammad Abdulmaqsud. Ketiga memberi Fatwa bahwa Jihad adalah kewajiban individu dan kita harus pergi. Tapi semua yang saya mintai Fatwanya setelah dua orang syaikh tadi mengatakan kepada saya Tajikistan dan Chechnya ini tidak menginginkan orang-orang. Mereka tahu yang lebih baik dan mereka dapat mengelola uang. Saya bersumpah kepada Allah yang tidak ada Ilah selain Dia yang langit dan bumi berguncang bagi-Nya Yang Maha Kuasa, sumpah yang saya akan ditanya tentang hal itu pada hari penghakiman, saya bertanya kepada wakil Amir mujahidin yang ada dari para sahabat syaikh Abdullah Azzam dan dia bukan orang yang lemah atau bodoh, namanya adalah “Abu Abdullah.” Saya berkata kepadanya: “Mereka mengatakan kepada kami di negara kami bahwa Anda tidak menginginkan orang-orang.” Dia mengatakan: “Satu orang lebih baik bagi kita dari satu miliar dolar.”

Karamah ketiga adalah Abu Muthalib. Sebelum mengatakan Karamah ketiga, saya ingin mengatakan bahwa saya akan menyebutkan contoh tanpa nama. Seringkali mujahid terbangun dan membagikan apa yang dimilikinya dari uang dan barang-barang dan mengatakan bahwa saya akan menjadi syahid hari ini dan memang itu benar-benar terjadi seperti dia telah melihatnya dalam mimpi atau seorang penyeru tak terlihat telah mengatakan itu padanya, saya tidak tahu. Tapi kami banyak melihat ini. Bahkan pernah seseorang terbangun di hari ketika tidak ada operasi karena ada perjanjian dan gencatan senjata dan menghentikan tembakan selama 15 hari, dan mengatakan: “Saya akan menjadi syahid hari ini.” Kami katakan kepadanya: “Tidak ada jihad atau operasi, syahid apa yang kamu bicarakan.” Dia mengatakan: “Saya akan menjadi syahid hari ini,” dan ia membagikan segala yang dimiliki kecuali apa yang ia kenakan. Subhanallah! Pria itu memasuki dapur – yang merupakan sebuah pondok di luar pondok, bukan bangunan – karena ia adalah juru masak serta mulai memasak dan tiba-tiba bom untuk pertama kalinya sejak 15 hari (gencatan senjata) menghantam kamp dan hanya menyerang dapur dan orang itu pun syahid. Jadi, hati jenis apakah hati ini? Mereka adalah hati yang telah tergolong kepada Allah ketika mereka dikorbankan.

Saya bersumpah kepada Allah bahwa itu adalah pengorbanan. Apakah kamu tidak tahu pengorbanan itu adalah alasan untuk segala sesuatu dan yang teguh di atasnya. Kami melihat siapa yang akan berkorban – Semoga Allah memberikan kita dan Anda keteguhan – selama satu atau dua hari, tapi ketika ia melihat kepanikan dan luka-luka menganga, kembali ke ayah dan ibunya. Tapi kami melihat siapa yang berkorban dan teguh. Kami menemukan sahabat syaikh Abdullah Azzam dan Bin Ladin – semoga Allah merahmati mereka -, kami menemukan sahabat yang setia pada jihad yang menangis sedih setiap malam mengatakan: “Kami terlibat dengan jihad, dan ratusan dan ribuan saudara-saudara kita, tapi kita tidak diberikan syahadah. Allah marah kepada kita.”

Karamah ketiga adalah Abu Muthalib. Namanya Abdul Muttalib karena beberapa mendengar nama Arab dan berpikir bahwa itu adalah nama Islam, maka ayahnya memanggilnya Abdul Muttalib, tetapi ketika kami datang kami memanggilnya Abu Muthalib. Abu Muthalib benar-benar singa. Dia adalah Muadzin, sehingga ia akan menyeru untuk Adzan di puncak tertinggi di kawasan ini. Jadi saat kami menangkap tahanan dari musuh, mereka mengatakan Muadzin kalian melemparkan ketakutan di dalam hati kami ketika kami berada di kamp-kamp oleh Adzannya.

Abu Muthalib pada hari kesyahidannya kami sedang berada dalam operasi malam dan kami menyeberangi sungai dan menembak. Operasi gagal – dan itu langka – dan kita dipaksa untuk mundur. Dan kami melihat Abu Muthalib menyeberangi sungai dengan gesit dan bergegas ke hutan berjalan dengan gerakan trengginas dan meneriakkan takbir dan menembak dan mengatakan hal-hal aneh yang tidak pernah kami gunakan. Dia mengatakan: “Jika kalian ingin membunuh wahai musuh Allah, – tentu saja dalam Bahasa mereka – kalian tidak akan dapat melakukannya. Aku tidak akan ragu membunuh kalian.” Kami terpaksa untuk kembali dengan cepat. Situasi ini berlangsung selama 10 atau 15 menit dan kami terpaksa kembali untuk membawanya dan kami membawanya. Dan kami menemukan dia tertembak dengan peluru besar dari senjata berat di kepalanya dan itu tembus. Dia tetap hidup selama 10 atau 15 menit setelah ditembak dalam gerakan trengginas-nya, meneriakkan takbir dan menembak dan dia tidak mengerti apa-apa yang terjadi dengan dirinya. Jadi kami membawa dia dan dia tetap pada keadaan terluka parah seperti itu membaca Al Quran dan berkata: “Mari melawan mereka! Biarkan aku melawan mereka!” Dan meneriakkan takbir, sampai menjadi syahid lebih dari satu jam meski kepala dan otaknya ditembus peluru musuh berkaliber besar… Ini adalah hal-hal yang difirmankan Allah tentangnya: “agar orang yang beriman bertambah imannya,” surah al-muddassir ayat 31.

Karamah keempat adalah untuk Dudar Bek. Dia juga dari bangsa pemberani ini yang jika kita ingin menyerang benteng kita menjadikannya di depan, sehingga para mujahidin akan melihat Dudar Bek dan mereka akan pergi tanpa rasa takut. Dia berani, bernyali, tangguh yang tak memiliki rasa takut. Dari petualangannya, kita pernah menggerebek salah satu kamp dari kaum komunis Tajik, di dalamnya ada seorang musuh yang mulai menembak. Dudar Bek berdiri di depannya dan berkata: “Kamu jangan menembak, – dan dia menyebutkan namanya – saya anak bibimu. Saya datang karena saya menginginkanmu. Jika saya memukulmu maka saya akan melepaskanmu karena saya anak bibimu.” Jadi orang itu datang kepadanya, dan ia membawanya sebagai tahanan dan menyita senjatanya. Kami mengatakan kepadanya: “Kami tidak tahu bahwa engkau memiliki kerabat?” Dia mengatakan: “Saya bukan anak bibinya.” Kami mengatakan lagi: “Jadi bagaimana kau kenal dia?” Dia menjawab: “Saya tidak kenal dia.” Kami bertanya: “Bagaimana kau menyebutkan namanya?” Dia menjawab dengan jelas: “Ini adalah inspirasi dari Allah.”

Dudar Bek pada hari kesyahidannya terkena hantaman bom Napalm dan ketika kami menemukan tubuhnya tidak ada setetes pun darah hal yang menarik adalah bahwa kita menemukan jaketnya robek sepenuhnya dan dihitung ada 25 lubang pecahan peluru di jaketnya, sementara tidak ada darah di tubuhnya. Ini adalah Karamah teraneh mengagumkan yang kami lihat.

Karamah yang lain adalah peluru meriam yang tidak meledak. Saya tidak menyebutkan nama saya untuk mengatakan Karamah ini yang terjadi padaku. Allah menghormatiku dengan Karamah dan saya tidak akan mengatakan nama saya dan saya meminta kepada Allah bahwa siapa saja yang mendengarkan rekaman tape ini dan mengenali suara saya untuk melupakan saya dan tidak menyebutkan nama saya. Saya sedang duduk di salah satu parit dan salah satu tank menembaki saya. Ketika tank Rusia menembak pada Anda maka habis itu selesai dan Anda dianggap mati. Dalam militer peluru meriam dapat membunuh dalam diameter 200 meter dan setelah itu melukai. Apa yang terjadi dengan saya adalah bahwa tank melihat saya dan menembak saya dan peluru meriam jatuh pada saya dan meledak. Saya melihatnya jatuh di depan saya dan meledak, dan saya melihat diri saya puluhan meter, dan saya memiliki dengung aneh di telinga saya. Apa yang terjadi padaku aneh. Saya melihat peluru meriam dan kaki saya hampir meledak, dan merasa tubuh saya penuh dengan darah. Lalu saya menutup mata setelah ledakan ketika saya terlempar, dan mulai mengatakan “Ya Allah buatlah saya pergi dengan cepat ke Jannah,” dan melihat ke langit menunggu malaikat Ar-Rahman dan terus mengatakan “Ya Allah buatlah saya pergi dengan cepat ke Jannah.” Tapi saya melihat bahwa itu lama dan saya menyentuh kaki saya, kepala dan tubuh dan saya tidak menemukan darah apapun. Dan semua orang mengatakan “Assadullah telah syahid.” Aku berdiri dari lokasi dan saudara-saudara menatapku seperti mereka telah melihat hantu. Mereka berkata: “Apa yang terjadi?” Saya berkata: “Hanya Allah yang Maha Mengetahui rahasia dan apa yang lebih tersembunyi lagi, tahu apa yang terjadi.” Saya tidak tahu bagaimana saya selamat dari tembakan meriam ini. Namun Allah yang menakdirkan hidup dan kehidupan, dan tidak ada yang akan mati sebelum waktunya.”

Manusia yang berada di medan perang berpikir bahwa ia akan mati, tetapi tidak akan mati bahkan dengan peluru meriam jatuh di sekelilingnya dan hujan peluru dari depan dan belakangnya, maka ia pergi ke tempat tidurnya untuk mati (kematian itu sudah ditetapkan bagi setiap orang, tidak akan maju atau tertunda sedikitpun bila telah tiba pada waktunya, maka jika belum tiba ajalnya, seganas dan sebahaya apapun keadaannya tidaklah akan membuatnya mati, ed).

Karamah yang sama juga terjadi pada seorang mujahid yang berusia 62 tahun. Kami berada di parit dan mortir jatuh pada kami yang ditembakkan dari puncak gunung. Penembak mortar di gunung terus menembakkan mortir yang jatuh 10 meter di depan Anda atau di belakang Anda sampai ia mengenai sasaran. Kami menemukan bahwa peluru mortir datang meledak dekat parit, dan kami mengatakan hanya dua tembakan lagi saja dan dia akan mengenai parit sehingga kita harus meninggalkannya. Kami pergi keluar dari parit dan kami menemukan orang tua ini yang kita memanggilnya kakek dalam bahasa Farsi “BAABAA,” tidak bisa keluar. Kami mengatakan kepadanya: “BAABAA, keluar kita pasti akan tertembak mortir.” Dia berkata: “Aku malu untuk keluar sementara aku membaca Kitabullah.” Kami mengatakan kepadanya: “Anda harus keluar dan tidak ada alasan.” Dia mengatakan: “Saya malu bahwa Allah melihat saya membaca kitab-Nya dan kemudian pergi keluar.” Maka itu hanya sepuluh detik dan ada tembakan. Kita dipaksa untuk mundur setelah kami mencoba semua yang kami bisa untuk meyakinkan dia. Dan kemudian tembakan kedua datang dan meledak di parit. Tapi peluru mortir jatuh dan tergeletak di sampingnya dan tidak meledak. Saya bersumpah kepada Allah bahwa Dia “malu” dari orang ini.

Karamah yang lain adalah batu. Ketika musibah itu tinggi dan perut yang tipis (karena kelaparan) dan pikiran jadi terganggu di dalam parit, kita tidak bisa pergi keluar karena pemboman yang gencar dan cuaca dingin yang buruk dan salju lebih parah dari itu, saat suhu -25 sampai -30 ° C dan dengan hujan yang terus menerus, dan parit ini berubah menjadi lumpur dan salju. Kami tidak bisa keluar karena pemboman untuk makan atau minum atau menjawab panggilan alam (buang hajat, ed). Kami menjawab panggilan alam dengan menyembunyikan diri dari satu sama lain dalam parit. Allah tahu bahwa kita tinggal di kondisi ini selama satu bulan di bawah pemboman gencar. Kami bersembilan dalam parit di utara kota. Dan yang seperti kita ada sepuluh di selatan kota, dan ada sekitar 15 parit di kota, dan jika saya menghitungnya, masya Allah, mereka tidak akan banyak. Tapi itu sebuah bantuan dan ketabahan dari Allah SWT ketika kita menyaksikan batu memuji Allah SWT (mengatakan Tasbih). Kami mendengar apa yang di sekitar kami, dari pohon-pohon dan barang-barang dan sebagainya memuji Allah, mengatakan “Subhanallah.” Saya bersumpah kepada Allah bahwa saya melihat dan mendengar Karamah ini.

Karamah lainnya adalah meskipun para penyerang dari mujahidin sedikit, tetapi Allah memberikan mereka kemenangan. Kami menyerang desa atau kamp dengan 10 … 15 … 20 orang yang membawa senjata ringan dan akan ada di desa atau kamp itu ratusan infanteri dengan banyak senjata, pesawat tempur dan kendaraan lapis baja. Ketika kami yang bersepuluh itu akan menjadi pertarungan untuk satu hari dan dua malam, dan ketika kami berjumlah 20 itu akan jadi pertempuran siang dan malam hari karena kami telah dibiasakan oleh Allah membebaskan desa ini dalam waktu seperti itu, dan kami mengumpulkan ratusan tahanan dan puluhan kendaraan lapis baja, senjata dan rampasan, dan kami hanya bersepuluh, bahkan pernah kami berjumlah 15 atau 18 orang ketika kami menangkap mereka dan Allah menganugrahkan kemenangan atas mereka, mereka mengatakan kepada kami bahwa; “kami melihat Anda di ratusan dan puluhan dan kami merasa dikalahkan dan mendengar banyak suara meneriakkan takbir dan Laa ilaaha illallah, tetapi Anda hanya 18, di mana sisanya?” Subhanallah!

Dalam parit-parit ini ketenangan yang aneh akan jatuh pada kami dan aroma aneh yang akan menyebar di mana-mana ketika kami tidur. Musuh tidak bisa datang kepada kami karena mereka tahu bahwa di dalam parit itu kami sedang menunggu mereka, dan Alhamdulillah mereka tidak mengetahui jumlah kami. Karena jika mereka tahu bahwa kami hanya sembilan orang dan tertidur mereka akan mengambil kota sementara kita masih dalam parit. Tapi itu ketenangan dari Allah ketika kita sedang tidur selama berhari-hari tanpa makan atau minum, meskipun lapar, haus dan kelelahan membunuh kami, tapi kami akan tidur. Dan kutu yang mulai menyebar dan bertelur di dalam tubuh kami dan ada juga serangga aneh yang menghisap darah kita, yang saya tidak pernah melihat sebelumnya. Kami membuang lebih dari 40 ekornya dari tubuh salah satu saudara. Subhanallah, Allah memberikan kemenangan kepada mujahidin untuk keteguhan mereka dan karena mereka tidak mengeluh. Kami tidak mengeluh. Kami biasa berkata “Subhanallah, Alhamdulillah” saat kondisi parah tersebut.

Karamah lain ada orang yang disebut Abdurrahman. Dia adalah seorang Afghan, yang berusia 75 tahun. Dia dari kalangan mujahidin Afghan pertama yang memulai jihad sebelum tentara atau organisasi lainnya. Dia melakukan jihad dari tahun 1975. Pada tahun 1995 ia menyelesaikan 20 tahun jihad. Kami para pemuda tidak bisa membawa bom dan roket di bahu kami untuk naik gunung, tapi ia bisa membawa bom dan roket di bahunya dan naik gunung. Memang sebagaimana syaikh Abdullah Azzam menyebut mereka “ibexes” (karena kekuatan dan ketangguhannya, ed). Dia berusia 75 tahun. Anda tidak tahu dari mana ia mendapat kekuatan itu.

Pada hari kesyahidannya kita berkata kepadanya ketika Rusia menyerang kami – dan ini adalah saat-saat dimana mereka mulai langka menyerang kita – : “BAABAA, kami tidak siap dan Amir sedang dalam sebuah pertemuan di luar kamp. Kita akan mundur.” Dia menganggukan kepalanya untuk “ya.” Jadi, kami sangat sibuk mengumpulkan amunisi kami yang kami butuhkan sehingga kita tidak meninggalkan harta rampasan bagi musuh dan mulai mundur. Kemudian beliau mengambil keuntungan dari kurangnya perhatian kami ketika kami naik gunung dan bergegas turun menuju Rusia yang telah mendarat dengan helikopter pada penembakan ke gunung dan beliau naik serta menembaki mereka dan meneriakkan takbir. Demi Allah, mereka tetap adu tembak sampai beliau membunuh banyak dari musuh dan ia menjadi syahid. Mungkin ada Karamah dalam hal ini. Tapi saya berbicara dengan Anda tentang seorang pria yang berusia 75 tahun. Dia melihat para pemuda melarikan diri dan mundur. Mungkin akan bermanuver, atau untuk melawan lagi, tapi ia menolak itu, ia tidak melakukan itu … 75 tahun umurnya.

Penghormatan lainnya, “BAABAA” yang lain berusia 65 tahun. Namanya “BAABAA” Abdullah, tetapi kaum Kuffar memanggilnya “BAABAA pemburu.” Orang ini memiliki senjata sniper. Dia membunuh 100 orang, sehingga mereka memanggilnya “Pemburu” … “BAABAA” pemburu bangsa Rusia. Dari keajaiban orang ini adalah bahwa ia mendengar tentang seorang pengkhianat yang hidup dengan aman di sebuah desa di mana orang-orang Rusia tinggal, dan kami berada di gunung. Para mujahidin telah mendengar tentang pengkhianat tersebut, jadi ia berkata: “Saya harus pergi ke orang itu dan memberinya pelajaran.” Kami mengatakan kepadanya: “Itu tidak mungkin. Desa ini sangat dilindungi dan kami tidak memiliki cukup tenaga dan amunisi untuk menyerang sekarang.” Dia mengatakan: “Tidak, saya akan pergi sendiri. Saya hanya menginginkan orang itu di desa ini.” Jadi dia berjalan bersembunyi di malam hari dan Allah membantunya untuk menyeberangi semua rintangan dan ia mencapai orang itu ketika ia sedang duduk dengan teman-temannya menghina para mujahidin, Sayid Abdullah Nuri, seorang ekstremis dan teroris yang mengganggu ketenangan masyarakat. Dia diantara teman-temannya di sebuah kafe. Jadi “BAABAA pemburu” datang kepadanya dan berkata engkau mengatakan begini dan begitu dan melesakkan sebutir peluru ke kepalanya, tanpa peringatan, dan orang-orang takut kepadanya karena usia dan janggut putihnya yang menakutkan orang yang melihat. Ketika mereka melihat dia seperti itu mereka berkata: “Tidak kita tidak melakukan apa-apa.” Dia mengatakan bahwa, “orang ini melakukan ini dan itu dan saya telah datang diantara para penjaga keamanan dan keselamatan mereka untuk mengambil nyawanya. Jadi jika ada yang lain seperti dia saya akan lakukan untuknya hal yang sama,” dan ia meninggalkan mereka.

Dia mengingatkan saya pada salah satu kisah yang diceritakan oleh mujahidin Arab yang berada di Afghanistan. Mereka mengatakan kepada kami bahwa ada seorang yang mirip dengan pengkhianat itu di Kabul. Salah seorang mujahid unit sabotase dari Amir Kabul membunuh dan membiarkannya di tengah jalan selama pemerintahan komunis dan menyatakan ke seluruh kota bahwa siapa saja yang memindahkan tubuh pengkhianat ini sebelum tujuh hari akan menghadapi akhir yang sama. Bahkan tidak ada seorang tentara atau petugas Rusia atau Afghan pun atau Najibullah sendiri (salah seorang pemimpin komunis Afghan, ed) yang mampu memindahkan tubuhnya sebelum tujuh hari. Ada banyak cerita seperti itu.

Saya meminta kepada Allah untuk meningkatkan Iman kita dan mengangkat status kita ketika kita bangga dengan Islam kita. Saya meminta Allah untuk menjadikan saya diantara orang-orang yang Nabi Shalallahu `alaihi wassalam berkata tentang mereka: “Kehidupan yang terbaik adalah orang yang memegang kendali kudanya di jalan Allah dan terbang diatas punggungnya ke tempat dari mana ia mendengar teriakan perang atau denting senjata, mencari syahid atau terbunuh di medan perang.” Saya meminta Allah untuk menjadikan saya seperti orang ini … saya meminta Allah untuk menjadikan Anda seperti orang ini karena tidak ada kebanggaan bagi kita kecuali dengan jihad, dan tidak ada keutamaan bagi kita kecuali dengan jihad. Kita adalah sebuah bangsa yang tidak diciptakan untuk bersenang-senang dan melangsungkan hidup. Kita adalah orang-orang yang diciptakan untuk berjihad sebagaimana yang dikatakan Rubi bin Amir, “Kami adalah bangsa yang dikirim oleh Allah,” ya jika Anda mengerti itu artinya Anda seperti nabi-nabi Allah yang dikirim untuk memimpin orang-orang yang menyembah manusia untuk menyembah Allah saja, Allah akan mengubah banyak keadaan kami dan Anda. Saya mengharapkan keikhlasan bagi kami dan Anda.

سبحانك أللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك.

أللهم أحينا سعداء، وتوفنا شهداء، وإحشرنا في زمرة المصطفى صلى الله عليه وسلم.

والحمدلله رب العالمين، وصلي أللهم وسلم وبارك على خاتم الأنبياء والمرسلين وسيد المجاهدين محمد بن عبدالله، وعلى آله وصحبه أجمعين.

 

Dikisahkan oleh: Asadullah al Muhajir

Advertisements