Pembaca yang dimuliakan Allah, kesesatan manhaj Jamaah Daulah yang mengusung fikrah Khawarij, semakin lama semakin tampak nyata, seiring dengan semakin banyak kesaksian demi kesaksian para korban mereka.

Akan tetapi, ternyata munculnya fikrah khawarij ini bukan sebatas pada jamaah Daulah pimpinan Baghdadi al-Khariji semata, tetapi 20 an tahun sebelumnya di Al-Jazair, sekitar tahun 1995-an juga muncul kelompok yang serupa, bermanhaj khawarij lagi sangat sadis dalam membantai kaum Muslimin, kaum Muslimin yang terbunuh dalam tragedi Jamaah Khawarij di Al-Jazair pun menembus angka ratusan ribu orang.

Demikianlah, Khawarij bukan semata-mata sebuah fenomena aksi belaka yang tidak berpijak pada sebuah pemikiran dan keyakinan ideologis. Dengan kata lain, tidak mungkin akan muncul khawarij di zaman ini, jika tidak berawal dari sebuah pemikiran yang melahirkan sebuah keyakinan.

Sejumlah ulama pun mulai mengusut akar pemikiran Khawarij ini, sebelumnya para ulama Mujahidin dan ahluts Tsughur lainnya telah menemukan bahwa salah satu penyebab munculnya pemikiran Khawarij di zaman ini berawal sebuah buku berjudul Al-Jami’ fi Thalabil Ilmi Syarif karya Dr. Sayyid Imam, khususnya pada bab Al-Iman wal Kufur.

Namun, sebagian ulama Mujahidin lainnya mulai menyadari bahwa buku tersebut hanyalah fenomena cabang dari sebuah fenomena mendasar. Kesadaran ini di awali dari nasihat syaikh Abu Muhammad al-Maqdisi yang meminta para pemuda untuk berhati-hati dalam membaca buku-buku Dakwah Najdiyah, yang terkenal dengan seruan dakwah tauhidnya. Karena pada kenyataannya, banyak pemuda yang hanya sekadar membaca sekali atau dua kali buku-buku Dakwa Najdiyah seperti Fathul Majid, atau yang lainnya, maka seterusnya ia menjadi begitu mudah mengkafir-kafirkan kaum Muslimin dengan landasan buku yang hanya ia baca sekali atau dua kali tersebut.

Tulisan di bawah ini mengangkat dialog para Mahasiswa Muslim di Timur Tengah yang menghadapi fenomena pengkafiran yang merebak di kalangan mereka. Para Mahasiswa tersebut pun menghadapi fenomena pengkafiran ini, dan sebagaimana sikap ahlul ilmi, mereka mengembalikan persoalan diniyyahnya kepada para ulama ahluts tsughur, yang salah satunya adalah syaikh Abu Muhammad Hasan bin Ali Al-Kattani, yang pada saat ditulisnya surat pertanyaan para Mahasiswa tersebut, beliau masih dalam keadaan ditawan di dalam penjara musuh.

Berikut ini kami sampaikan terjemahan dialog para ahlul ilmi secara berseri, mengingat panjangnya pembahasan. Selamat menyimak!

Membedah Penyimpangan Dakwah Najd, Meluruskan Kesalahpahaman Wahabi
Oleh Abu Muhammad Hasan bin Ali Al-Kattani

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Syaikh kami, semoga Allah Swt. menerima ketaatanmu. Pertama, kami beritahukan kepadamu bahwa kami mencintaimu karena Allah dan untuk Allah, dan kami menebusmu dengan jiwa kami.

Wahai syaikh, kami ingin engkau menjawab beberapa pertanyaan yang sering menjadi perdebatan di antara kami hingga perkara di antara para ikhwah sampai pada sebagian mengafirkan sebagian yang lain, dan melihat ketidaktahuan akan perkataan ahli ilmu dalam beberapa bab. Berilah fatwa kepada kami dengan sedikit lebih panjang lebar. Semoga Allah menghadiahkan pahala untukmu. Kami percaya dengan amalmu, karena aku tahu keadaanmu yang berusaha sungguh-sungguh mencari kebenaran, mengamalkannya serta mendakwahkannya.

Semoga Allah berbuat baik kepadamu. Aku memohon kepada Allah agar membebaskan keadaanmu yang tertawanan dan seluruh tawanan orang-orang salih, dan mengembalikanmu ke tempat di mana kalian tinggal.

Ditulis oleh muridmu, Abu Rayyan Ar-Rabathi.

JAWABAN

Bismillahirrahmanirrahim, selawat serta salam bagi nabi kami, Muhammad Saw. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Telah sampai kitab kalian. Aku tahu isinya dan juga perdebatan kalian dengan orang-orang ekstrim (ahlu ghullat). Semoga Allah memberi petunjuk kepada kalian dan memperbaiki mereka dengan perantara kalian.

Kalian telah meminta jawaban kepada kami, maka semoga Allah memberi berkah kepada kalian melalui jawaban yang sedikit panjang lebar. Karena perdebatan semakin memanas hingga condong kepada pengafiran sebagian muslim dengan sebagian lainnya.

Sebenarnya perkara itu milik Allah ta’ala. Kalian menyebutkan, bahwa kalian percaya dengan para ulama kami, dan kalian tidak tahu tentang kami kecuali kebaikan. Semoga Allah membalas kebaikan kalian atas baik sangka kalian kepada kami, meskipun kami tidak seperti yang engkau lihat.

Jika ahlul ilmi menuntun maka ia terputus dengan kematiannya….
Dan untuk mendapatkan ilmu orang yang bodohlah yang menuntun…
Ia mengira sama bahwa ia memiliki keutamaan….
Dan menjadi kebiasaan terlepas dengan kematian orang yang memiliki keutamaan…

Kami katakan apa yang dikatakan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra., “Ya Allah jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka kira dan ampunilah aku apa yang tidak mereka tahu.” Semoga Allah merahmati para tokoh imam, mereka laksana gunung kokoh di hadapan umat, adapun keadaan kami dengan keadaan mereka seperti yang telah kami katakan di awal.

Adapun para ekstrimis (ghulat), aku tidak mengira bisa sebanyak ini, laa haula wa laa quwwata illa billah. Sesungguhnya keadaannya sebagaimana dalam sahih, “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu itu secara tiba-tiba dari dada manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu itu dengan cara mewafatkan para ulama. Sampai-sampai apabila tidak tersisa lagi orang alim maka orang-orang pun mengangkat pemimpin-pemimpin dari kalangan orang yang bodoh. Mereka pun ditanya dan berfatwa tanpa ilmu. Mereka itu sesat dan menyesatkan.”

Syariat menganggap agung kehormatan kaum muslimin dan darah mereka sebagaimana dalam khutbah wada’, “Sesungguhnya darah kalian, kehormatan kalian dan harta kalian haram sebagaimana haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini dan di negeri kalian ini, sungguh janganlah kamu kembali seperti orang-orang kafir sepeninggalku dengan sebagian kalian menebas leher sebagian lainnya.”

Allah ta’ala berfirman, “Wahai orang yang beriman! Janganlah suatu kaum memperolok-olokkan kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik daripada mereka (yang memperolok-olokkan), dan janganlah pula wanita-wanita (memperolok-olokkan) wanita-wanita lain, boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik daripada mereka (yang memperolok-olokkan), dan janganlah kamu mencela diri kamu sendiri, dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelaran yang buruk. Seburuk-buruk nama (panggilan) ialah (panggilan) yang fasik (jelek) sesudah iman, dan sesiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang yang zalim.” ( Al-Hujurat: 11).

Ayat sebelumnya, “Sesungguhnya orang Mukmin adalah bersaudara, maka damaikanlah antara kedua-dua saudara kamu, dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” ( Al-Hujurat: 10).

Rasulullah Saw juga bersabda, “Satu dirham riba di sisi Allah lebih berat dibandingkan 36 zina, yang paling rendah adalah seseorang mendatangi ibunya secara terang-terangan, dan sesungguhnya riba yang paling tinggi adalah kehormatan seorang muslim.”

Nabi juga bersabda, “Mencela seorang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran.” Jika mencela seorang muslim itu merupakan kefasikan, lalu apa jadinya jika menuduhnya dengan murtad dari agama, sebagaimana ketika menuduh seorang Muslim yang bodoh yang tidak berwudu dengan baik dan tidak bisa membedakan antara rukun salat dan syarat-syarat serta kewajiban-kewajibannya?

Sabda Rasulullah yang lain, “Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya: Wahai kafir, jika memang seperti itu, jika tidak maka akan kembali kepadanya.” Hadits-hadits shahih dengan makna ini sangat masyhur.

Oleh karena itu, para ulama sangat mengingkari orang yang begitu mudahnya mengafirkan kaum muslimin, mengeluarkan mereka dari millah tanpa alasan yang benar. Dan orang yang pertama kali membuat bidah buruk dalam Islam ini adalah Khawarij yang dicirikan oleh Nabi Saw., “Kaum berusia muda dan bodoh pemikirannya, mereka berkata dengan perkataan sebaik-baik manusia, mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah keluar dari buruan, mereka membaca Al-Quran namun tidak melewati kerongkongannya.” Mereka dinamakan sebagai anjing-anjing neraka.

Para penjahat itu sengaja menjatuhkan harga diri para sahabat Ra. lalu mereka mengafirkan dan memeranginya. Dosa keji mereka yang paling besar adalah membunuh Amirul Mukminin, imam kaum muslimin pada waktu itu, yaitu Ali bin Abi Thalib r.a, semoga Allah memuliakan wajahnya dan meridhainya. Tidak cukup dengan itu, penyair mereka yang keji Imran bin Khaththan (semoga Allah melaknatnya) memuji pelakunya:

Wahai pembunuh orang yang bertakwa yang ia tidak bermaksud…
Kecuali mencari keridaan yang di atas Arsy….
Sungguh aku akan selalu mengingatnya dan aku kira…
Dia manusia yang memenuhi timbangan di sisi Allah….

Maksud bahwa para ekstrimis itu telah menyerupai Khawarij dalam kesembronoan mereka yaitu mengafirkan kaum muslimin tanpa alasan yang benar. Kemudian di atas semua itu, kapan seorang awam yang bodoh boleh berbicara perkara penting dalam Islam tanpa ilmu? Allah Swt. Berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan ditanya mengenainya.” ( Al-Isra: 36).

Dikatakan oleh Nabi Saw., “Orang yang berani berfatwa seperti orang yang berani dengan neraka.” Para sahabat Nabi Saw. saling menolak berfatwa hingga kembali kepada orang yang pertama diminta berfatwa, karena khawatir salah di dalamnya. Dan telah aku temui seorang ulama yang takut salah seorang mereka memberi fatwa tentang masalah talak karena sangat penting dan bahayanya. Lalu, bagaimana dengan masalah-masalah status nama dan hukum, padahal itu lebih dan sangat penting lagi bahaya tanggung jawabnya?

Para ulama ushul telah sepakat bahwa orang bodoh jika menanggung beban fatwa maka dia telah berdosa baik fatwanya itu benar atau salah, karena dia memilih sesuatu yang tidak dia ketahui. Dalam hadis disebutkan, “Sesungguhnya seorang hakim jika dia berijtihad dan benar maka dia mendapat satu pahala dan jika berijtihad lalu salah maka dia mendapat satu pahala.” Itu karena dia memang ahlinya, lain halnya dengan orang bodoh.

Para ulama posisinya adalah wakil Allah. Jika dia tidak ahli dalam menempati posisi, maka dia akan menjadi pendusta dan pembohong. Kami memohon kepada Allah atas hidayah dan bimbingan-Nya. Mari sekarang kita lihat pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawabannya dengan memohon ampun kepada Allah ta’ala.

Bersambung….

Advertisements