HUKUM BEKERJASAMA DENGAN PEMERINTAH TURKI UNTUK MELAWAN ORGANISASI DAISH

Pertanyaan:

Apa hukum meminta tolong dan bekerjasama dengan pemerintah Turki yang mempunyai misi menumpas Daish dan mengkondisikan keamanan di sepanjang wilayah perbatasannya? Apakah suatu kelompok jihadis boleh berkoalisi dengan Turki dan bekerjasama dalam melakukan misi itu, karena ada sebagian kelompok yang berfatwa bahwa perbuatan tersebut haram hukumnya, bahkan ada yang menyebutnya sebagai bentuk wala’ kepada musuh-musuh Allah sehingga pelakunya bisa mencapai ambang batas kekufuran, tolong berikan fatwa kepada kami.

Jawaban:

Segala puji bagi Allah rabb semesta alam, tidak ada permusuhan kecuali kepada orang-orang zhalim, shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada semoga senatiasa tercurahkan kepada Nabi yang diutus sebagai rahmatan lil alamin, beserta keluarga, sahabat  dan siapa saja yang mengikuti mereka dalam kebaikan hingga hari kiamat kelak, amma ba’du:

Kita tidak mungkin dapat memahami kasus ini kecuali dengan memahami realita darinya, karena sesuai kaidah:

الْحُكْمَ عَلَى الشَّيْءِ فَرْعٌ عَنْ تَصَوُّرِهِ

”Fatwa mengenai hukum tertentu merupakan bagian dari pemahaman orang yang memberi fatwa (terhadap pertanyaan yang disampaikan).” Jadi kita harus memahami fakta-fakta tentang Daish dan perbuatan-perbuatannya, serta kondisi pemerintah Turki dan agenda-agendanya, kemudian memahami kaidah-kaidah syariat dan tujuan-tujuan syariat yang berlaku, hingga proses penetapan hukum dilakukan dengan memerhatikan faktor terwujudnya kemaslahatan dan terhindarnya dari kemafsadatan sesuai dengan kemampuan. Dengan ini maka kami katakan:

PERTAMA:

sesungguhnya Daish adalah organisasi yang keyakinannya, pernyataannya dan perbuatannya mencerminkan sikap berlebihan, dan terjadi penyusupan hingga tingkat petinggi yang berwenang dalam mengambil kebijakan, terutama kebijakan perang. Mereka adalah kaum khawarij berdasarkan ijma’ dari berbagai kalangan yang mereka tentang pendapatnya, seperti para ulama, para masyayikh, para penuntut ilmu, lembaga-lembaga dan institut-institut keilmuan serta syariat. Bahkan banyak dari mereka yang dahulu turut membesarkan organisasi ini dan tumbuh bersama ideologinya yang ekstrim kini berlepas diri darinya dan menudingnya sebagai kelompok ekstrim dan radikal.

Pada realitannya, mereka adalah kepanjangan tangan musuh-musuh Allah yang ingin mewujudkan tujuannya, yaitu menumpas kegiatan jihad di Syam. Jika sebagian ulama telah mengkafirkan kaum khawarij generasi-generasi awal, padahal mereka terkenal dengan kezuhudan serta ibadahnya, dan mereka tidak membantu musuh-musuh Allah yang ada di era mereka, seperti Persia dan Romawi, lalu bagaimana apabila para ulama tersebut menyaksikan Daish berikut perbuatannya hari ini, terutama sikapnya yang menolak pemutusan perkara berdasarkan syariat Allah atas perselisihannya dengan kelompok-kelompok lain, serta dukungannya kepada musuh-musuh Allah untuk melawan mujahidin, padahal ia mengkafirkan kelompok lain yang melakukan perbuatan buruk serupa bahkan perbuatan buruk yang lebih ringan darinya. Organisasi ini telah menimbulkan kerusakan dahsyat melalui perbuatan-perbuatan mereka seperti mengkafirkan kaum muslimin, menghalalkan darah mereka, menyerobot kegiatan jihad di Iraq dan Syam, merealisasikan agenda-agenda musuh, dan memberikan dampak buruk kepada generasi yang akan datang, dengan memaksa anak-anak untuk bersikap ekstrim dan melakukan kejahatan sehingga memberikan ancaman akan kehancuran besar di masa depan.

Karenanya kita wajib berjihad melawan mereka dengan pedang dan kekuatan serta hujjah dan penjelasan, dalam rangka mengikuti jejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah menyerukan untuk memerangi dan membunuh mereka, bahkan melenyapkan mereka. Di dalam sebuah hadits yang tercantum di dalam Shahihain dan diriwayatkan oleh Ali Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata; saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِي آخِرِ الزَّمَانِ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Di akhir jaman nanti muncul suatu kaum yg umur-umur mereka masih muda, pikiran-pikiran mereka bodoh, mereka mengatakan dari sebaik-baik manusia, padahal iman mereka tak sampai melewati kerongkongan, mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah keluar dari busurnya, dimanapun kalian menemukannya, bunuhlah dia, sebab siapa membunuhnya mendatangkan ganjaran pagi pelakunya di hari kiamat.” [HR. Bukhari No.6418].

Begitu pula hadits yang juga tercantum di dalam Shahihain dan diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudriy Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ

“..Mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala; mereka keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya. Seandainya aku masih mendapati mereka, akan kumusnahkan mereka seperti musnahnya kaum ‘Ad. [HR Muslim No. 1762]

Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan barangsiapa memerangi mereka maka ia mendapat pahala yang besar, hal ini sebagaimana yang terdapat di dalam hadits di Shahih Muslim, dari Zaid bin Wahb Al Juhni Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

لَوْ يَعْلَمُ الْجَيْشُ الَّذِينَ يُصِيبُونَهُمْ مَا قُضِيَ لَهُمْ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَاتَّكَلُوا عَنْ الْعَمَلِ

“Sekiranya pasukan yang memerangi mereka tahu pahala yang telah ditetapkan bagi mereka atas lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, niscaya mereka akan berhenti beramal [HR Muslim No. 1773]

Maksudnya mereka akan meninggalkan seluruh amal saleh dan fokus untuk memerangi mereka.

Di dalam sebuah riwayat yang shahih disebutkan:

طُوبَى لِمَنْ قَتَلَهُمْ وَقَتَلُوهُ يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِي شَيْءٍ مَنْ قَاتَلَهُمْ كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ

“..Maka beruntunglah orang yg membunuhnya & mereka membunuhnya. Mereka mengajak kepada Al-Qur’an, tetapi mereka sendiri tak mengamalkannya sama sekali. Siapa memerangi mereka, maka yg demikian lebih mulia di sisi Allah..” [HR. Abu Daud No. 4137].

Oleh karena itu, maka seluruh mujahidin di Syam wajib melaksanakan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memerangi mereka, apalagi kebinasaan yang ditimpakan Daish kepada para pejuang pilihan di kancah peperangan, bantuan kemanusiaan, media massa, peradilan dan dakwah semakin dahsyat, padahal pihak rezim saja tidak mampu melakukan hal yang demikian kepada para pejuang, pengkhianatan dan kedengkianlah yang menyebabkan Daish mampu membunuh para pejuang, sikapnya yang berpura-pura baik juga mampu mengelabuhi banyak pejuang sehingga mereka enggan memerangi para dawaish dengan alasan takut terkena fitnah, atau alasan bahwa mereka juga saudara kita. Sikap seperti ini muncul dikarenakan kebodohan atau cara berfikir yang salah.

KEDUA:

Semenjak menerima tampuk kekuasaan, pemerintah Turki yang sekarang telah berhasil meraih berbagai prestasi fisik maupun moral, baik di sektor domestik maupun global, seperti menampakkan syiar-syiar islam, mencetak pertumbuhan ekonomi yang positif, dan yang paling utama adalah memberikan dedikasi dan bantuan terhadap berbagai problematika kaum muslimin di seluruh dunia, terutama problem Palestina dan revolusi Suriah.

Sejak hari pertama Turki telah berdiri di barisan rakyat Suriah yang terzhalimi dan memberikan aspirasi kepada mereka, serta mendampingi mereka di seluruh forum yang ada, di saat semua pihak menjauhi mereka. Dan ketika rakyat Suriah diusir dari kampung halaman mereka, Turki adalah negara pertama yang menyambut mereka dengan hangat, Turki dengan rela mengayomi mereka, membantu mereka, memberi mereka makan, minum, tempat tinggal, perawatan medis, pendidikan dan kemudahan untuk masuk ke wilayahnya. Turki juga setia mendampingi seluruh perkembangan revolusi. Dan kebanyakan negara tidak melakukan hal ini kepada rakyat Suriah.

Secara umum Turki adalah negara islam dan rakyatnya muslim, pemerintahnya berupaya sekuat tenaga untuk menerapkan syariat dan menyingkirkan segala bentuk kebijakan yang bertentangan dengan syariat melalui proses ijtihad secara bertahap. Maka merupakan sikap yang bodoh dan zhalim jika seseorang menghukumi bahwa pemerintahan ini kufur dan riddah.

Ketika raja Najasyi dari Habasyah meninggal dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkannya kepada para sahabat, kemudian beliau mendirikan shalat jenazah dan beliau bertakbir sebanyak 4 kali di dalam shalat tersebut, lalu beliau bersabda: “mintakanlah ampun untuk saudara kalian ini”. Padahal Najasyi yang seorang raja dan telah memeluk islam pada saat itu belum mampu menerapkan syariat sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala.

Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah berkata di dalam Minhaj As Sunnah An Nabawiyyah jilid 5, halaman 112:

“Walaupun Najasyi adalah seorang raja bagi rakyatnya yang nasrani, namun ia tidak bisa membuat kaumnya masuk islam, yang masuk islam bersamanya hanya segelintir orang dari kaumnya, karena itulah ketika ia meninggal dunia tidak ada yang menshalatkannya, sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lah yang menshalatkannya di Madinah. Beliau keluar menemui kaum muslimin di tempat shalat, lalu beliau mengatur barisan shaf dan mulai mendirikan shalat, kemudian mengabarkan kepada mereka tentang kemangkatan Najasyi, semua ini dilakukan pada hari yang sama dengan kemangkatannya, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya salah seorang saudara kalian yang saleh dari negeri Habasyah telah meninggal dunia.”

Banyak atau mayoritas dari syariat islam belum pernah ia kerjakan karena keterbatasan situasi yang ia hadapi, ia tidak berhijrah, tidak berjihad, tidak pergi haji, bahkan ada riwayat yang menyatakan bahwa ia tidak mengerjakan shalat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan zakat, karena pernah suatu kali ketika ia mengerjakannya, kaumnya mengingkarinya, dan ia tidak mampu membantah mereka.

Kita tahu pastinya bahwa kondisi saat itu tidak memungkinkan bagi Najasyi untuk menerapkan hukum Alquran pada mereka, karena Allah telah menetapkan sebuah keputusan kepada Nabi-Nya di Madinah, yaitu apabila ada ahli kitab datang untuk meminta keputusan, maka beliau harus memutuskan hukum sesuai dengan apa yang Allah turunkan kepada mereka, Allah juga mengingatkan agar beliau berhati-hati terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan beliau dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepada beliau. Contohnya seperti hukum zina bagi seseorang yang telah menikah yaitu rajam, dan juga seperti diyat atas darah yang ditetapkan dengan adil dan sama rata antara si kaya dan terhormat dengan si miskin dan hina, jiwa harus dibalas dengan jiwa, mata harus dibalas dengan mata, dan seterusnya.

Kondisi tidak memungkinkan bagi Najasyi untuk berhukum dengan hukum Alquran, karena kaumnya tidak mengakui Alquran. Begitu juga banyak orang menunjuk seseorang menjadi qadhi untuk memutuskan perkara antara kaum muslimin dengan bangsa Tartar, dan di dalam benaknya terdapat nilai-nilai keadilan yang ingin ia terapkan, namun kondisi tidak memungkinkan baginya untuk menerapkan nilai-nilai tersebut, bahkan ada yang menolaknya. Dan Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.”

Maka dari itu kami menyatakan bahwa bekerjasama dan berkoordinasi dengan pemerintah Turki untuk menumpas musuh-musuh revolusi Suriah terutama Daish adalah diperbolehkan, berdasarkan hal-hal berikut:

1 ) Sesungguhnya menumpas Daish merupakan kebaikan dan ketaqwaan yang paling besar, Allah sendiri melalui firman-Nya telah menyeru kita untuk bekerjasama dalam melaksanakannya:

“..Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. [QS Al Maidah: 2]

Di dalam Shahih Bukhari tepatnya di dalam bab kisah perjanjian Hudaibiyyah dengan orang-orang musyrik terdapat sebuah hadits yang mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَسْأَلُونِي خُطَّةً يُعَظِّمُونَ فِيهَا حُرُمَاتِ اللَّهِ إِلَّا أَعْطَيْتُهُمْ إِيَّاهَا

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, mereka tidaklah meminta kepadaku satu langkah perbuatan yang membuat mereka mengangungkan kehormatan-kehormatan Allah melainkan aku pasti akan memenuhinya.” [HR. Bukhari No. 2529]

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah Rahimahullah menerangkan faidah-faidah fiqhiyyah dari kisah perjanjian Hudaibiyyah ini di dalam Zaad Al Ma’ad (3/269):

“Sesungguhnya kaum musyrikin, ahlul bidah, ahlul fujur, para pemberontak dan orang-orang yang zhalim, jika mereka menuntut sesuatu untuk mengagungkan salah satu dari syariat-syariat Allah, maka permintaan mereka itu dipenuhi dan ditunaikan, serta mereka dibantu, meskipun pada perkara-perkara lain (yang bukan merupakan syariat Allah – penj.) mereka tidak dipenuhi permintaannya. Jelasnya mereka dibantu pada perkara-perkara yang padanya ada pengagungan terhadap syariat Allah, bukan ditolong dalam kekufuran dan kezoliman mereka, dan tidak dibantu pada perkara-perkara yang lain.

Maka setiap orang yang meminta pertolongan dalam perkara yang dicintai oleh Allah dan mendatangkan keridhaan-Nya maka permohonan bantuannya boleh dipenuhi siapapun orangnya. Selama tidak menimbulkan perkara yang dibenci oleh Allah yang lebih parah. Ini termasuk pembahasan yang paling detail, paling sulit, dan paling berat bagi jiwa.”

Jadi memberantas Daish merupakan upaya untuk merealisasikan tuntutan syariat terbesar di Suriah pada hari ini, yaitu mencegah tumpahnya darah dan terampasnya harta para mujahidin .

2 ) Walaupun kemungkinan timbulnya mafsadat dari intervensi Turki itu ada, namun tetap saja mafsadat-nya tidak sebesar mafsadat yang ditimbulkan oleh ucapan dan perbuatan Daish, karena faktanya tidak ada kejahatan yang ditimpakan kepada umat melebihi kejahatan yang ditimpakan oleh kaum khawarij, dan kejahatan para Dawaish tingkatannya di atas kejatahan kaum khawarij generasi terdahulu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mengomentari mereka dengan “Seburuk-buruk korban yang dibunuh dibawah kolong langit.” Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah berkata di dalam Minhaj As Sunnah An Nabawiyyah (5/248):

“Maksudnya kejahatan mereka terhadap kaum muslimin tidak ada yang menandingi, sesungguhnya mereka, tidak ada seorangpun yang lebih besar kejahatannya kepada kaum muslimin melebihi mereka, tidak Yahudi dan tidak pula Nasrani. Mereka bersungguh-sungguh dalam membunuh setiap muslim yang tidak sepaham dengan mereka, mereka menghalalkan darah dan harta kaum muslimin, membunuh anak-anak mereka dan mengkafirkan mereka, itu semua mereka lakukan dengan meyakini bahwa itu merupakan bagian dari ajaran islam, hal ini akibat kebodohan dan kebidahan mereka yang menyesatkan.”

Ada kaidah, mafsadat yang lebih besar harus dicegah terlebih dahulu dari pada mafsadat yang lebih kecil. Dan faktanya Daish hingga saat ini masih berupaya untuk membunuhi kaum muslimin dan mujahidin, sedangkan Turki tidak berupaya membunuhi mujahidin, bahkan justru membantu mereka.

3 ) Jika seandainya ada pendapat yang melarang dan mengharamkan kerjasama ini, maka statusnya berubah menjadi boleh atau mubah, atau bahkan bisa berubah menjadi wajib, karena rakyat Suriah sedang berada dalam puncak kondisi darurat, bencana mengepung mereka dari segala penjuru, perang terus memanas, kehormatan dan harta telah terampas, bangunan telah dimusnahkan, jutaan orang terusir dan tersebar di seluruh penjuru dunia, banyak dari mereka yang meninggal dunia karena kelaparan dan kedinginan. Sedangkan ada kaidah; kondisi darurat membuat hal-hal yang diharamkan menjadi mubah, bahkan meminta tolong kepada orang-orang kafir yang tadinya dilarang kini menjadi boleh karena ada kondisi darurat, di dalam Al Iqna’ Fie Halli Alfazh Abi Syuja’ (2/549) disebutkan:

“tidak boleh memintakan tolong untuk orang islam kepada orang kafir, karena menjadikan orang kafir berkuasa atas orang islam itu diharamkan, kecuali dalam keadaan darurat.”

Ibnu Hazm berkata di dalam Al Muhalla Bil Atsar (11/355):

“Orang-orang berbeda pendapat dalam urusan ini, ada yang berpendapat tidak boleh memintakan tolong kepada mereka baik itu yang harbi atau dzimmi, atau yang kekuatannya mustahil untuk diperangi, ini adalah pendapat madzhab Syafi’i, sedangkan pendapat para pengikut Abu Hanifah adalah tidak mengapa meminta tolong kepada mereka baik itu yang harbi maupun dzimmi, dan golongan yang semisal mereka, seperti para bughat, kami telah membahas hal ini di Kitab Al Jihad, dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “Sesungguhnya kami tidak meminta tolong kepada orang musyrik.” Ini adalah larangan umum untuk tidak meminta tolong kepada orang musyrik dalam urusan kekuasaan, perang atau apapun itu, kecuali jika ada ijma’ yang membolehkan meminta tolong kepadanya dalam suatu urusan, seperti mengurusi binatang ternak, sewa-menyewa, atau menyelesaikan kebutuhan, dan sebagainya yang tidak keluar dari kategori hal-hal yang kecil. Musyrik adalah nama yang mencakup semua orang kafir, baik yang dzimmi maupun harbi.” Kemudian beliau melanjutkan:

“Berikut ini adalah pendapat kami, selama orang-orang yang baik tidak terkalahkan, dan mewaspadai terjadinya kehancuran, dan kondisi mereka terpojokkan dan tidak ada pilihan lain, maka tidak mengapa jika mereka meminta tolong kepada kafir harbi, namun mereka harus menahan diri dari meminta tolong kepada kafir dzimmi, selama mereka yakin bahwa selama para kafir harbi itu memberikan pertolongan, mereka tidak menyakiti orang islam dan kafir dzimmi, baik itu nyawa, harta, maupun kehormatan yang statusnya tidak halal, penjelas dari pendapat ini adalah firman Allah Ta’ala:

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ

“..Padahal Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya..” [QS Al An’am: 119]

Ayat ini berlaku secara umum terhadap segala kondisi darurat, kecuali yang dilarang oleh nash atau ijma’.”

4 ) Antara meminta tolong dengan ber-wala’ kepada musuh-musuh Allah harus dibedakan, karena urusan meminta tolong ini masuknya ke dalam ranah boleh atau tidak boleh, bukan ranah yang menyebabkan kekafiran, sedangkan bentuk ber-wala’ yang dapat menyebabkan kekafiran adalah mendukung musuh-musuh Allah untuk memerangi kaum muslimin, dengan misi menjadikan kekufuran lebih tinggi dari keimanan, adapun jika tujuan dari mendukung itu adalah dunia, maka ini termasuk jenis maksiat yang bisa saja merupakan dosa besar, namun bukan termasuk kekufuran yang dapat mengeluarkan seseorang dari agama, meskipun  sebagian ulama yang membolehkan meinta tolong kepada mereka menganggap ini sebagai kekufuran. Bahkan kami mendapati mereka yang mengharamkan justru membolehkan jika ada kondisi darurat sebagaimana yang telah dibahas tadi. Di dalam kitab Al Mabsuth karya As Sarkhasi (10/134) disebutkan:

“tidak mengapa jika orang-orang baik (ahlul ‘adl) meminta tolong kepada para bughot dan kafir dzimmi untuk memerangi khawarij apabila hukum yang ditegakkan oleh orang-orang baik itu berlaku, karena nantinya mereka akan berperang untuk menyokong agama.” Begitu pula koalisi untuk menuntut keadilan bagi kaum tertindas dan mewujudkan keadilan merupakan identitas siyasah syariat yang paling menonjol di dalam islam, contohnya adalah peristiwa Hilful Fudhul[1] yang mendapat pengakuan yang jelas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَوْ دُعِيْتُ بِهِ فِيْ الإِسْلاَمِ لأَجَبْتُ

“..seandainya aku diajak melakukannya dalam Islam, tentu aku kabulkan.”

5 ) kita harus mengetahui bahwa pemerintah Turki tidak akan menunggu fatwa dibolehkan atau tidak dari kita, Turki akan tetap melaksanakan apa yang menjadi kepentingannya, yaitu memerangi para Dawaish dan Marxis (PKK), sesungguhnya bekerjasama dan berkoordinasi dengan Turki dapat mewujudkan kemaslahatan bagi rakyat Suriah sehingga rakyat Suriah dapat mengambil keuntungan dari segi kondisi dan harta, jika kita tidak melakukannya, maka kita akan kehilangan banyak kesempatan untuk meraih keuntungan. Ini lebih baik dari pada kita harus menentangnya, memeranginya, mengkafirkannya atau menyesatkannya, sehingga dampaknya rakyat Suriah akan kehilangan paru-paru yang selama ini memberi nafas bagi revolusi mereka.

Terakhir sebagai penutup, hendaknya orang-orang ghuluw bertaqwa kepada Allah dan tidak mengeluarkan fatwa tanpa dasar ilmu untuk menyesatkan masyarakat, sehingga mereka semua tersesat dari jalan yang lurus dan akan membuat orang lain sesat. Dan juga tidak menyelewengkan ucapan dari posisi yang seharusnya serta tidak menerapkan hukum bukan pada tempatnya. Ya Allah sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini, berikanlah kami arahan dan hindarkanlah kami dari keburukan diri kami. Bebaskanlah negeri kami dan juga negeri-negeri kaum muslimin yang lain. Terakhir kami ucapkan segala puji bagi Allah rabb semesta alam.

Lajnah Fatwa Majelis Islam Suriah
Selasa 19 Syawal 1436 – 4 Agustus 2015

 

 


[1] Silahkan kunjungi https://muslim.or.id/13509-peristiwa-hilful-fudhul.html untuk mengetahui lebih lanjut mengenai Hilful Fudhul

Advertisements