KOMENTAR SYAIKH AL ALLAMAH ABU MUHAMMAD AL MAQDISI HAFIZHAHULLAH MENGENAI PERNYATAAN MAJELIS SYURA AHLI ILMU SYAM

Fatwa Majelis Syura Ahli Ilmu Syam terbantahkan dan tertolak, serta tidak layak disebut fatwa, karena di dalamnya para ahli ilmu ini mengakui bahwa AKP (Partainya Tayip Erdogan) tidak mempunyai wewenang untuk mengambil keputusan.

Mereka memaafkan partai yang tidak menegakkan hukum syariat ini! Kemudian mereka menganjurkan untuk meminta tolong kepada militer Turki dengan alasan bahwa yang memegang kendali militer adalah AKP yang menurut mereka adalah partai islam, dan bukan para jendral NATO.

Seandainya AKP berkuasa atas militer, maka tetap saja tidak ada alasan baginya untuk menghapus syariat, bayangkan seandainya militer yang berkuasa atas AKP, maka batallah sandaran fatwa yang membolehkan bekerjasama dengan AKP dengan alasan keislaman partai tersebut.

Sebenarnya yang memimpin perang di Suriah bukanlah AKP, akan tetapi para jendral sekuler yang akibat keberadaan mereka, AKP tidak mampu untuk menegakkan syariat, sedangkan pasukan mereka sendiri adalah sekutu NATO dan Amerika.

Intervensi (Turki di Suriah) adalah keputusan Turki dan bukan karena dimintai tolong, walaupun fatwa ini membolehkan meminta tolong akan tetapi realita di darat dan di udara para jendral sekulerlah yang bermain, bukan AKP.

Fatwa ini menonjolkan keislaman AKP untuk menghilangkan rasa malu karena pasukan Turki membantu untuk memerangi orang-orang islam yang ghuluw, fatwa ini juga mengklaim bahwa tujuan dari kerjasama ini adalah menumpas Daish dan pihak-pihak yang bersekutu dengannya.

‘Pihak-pihak yang bersekutu dengannya’ ini masih tidak jelas, fatwa ini mempersilahkan kelompok-kelompok yang bekerjasama dengan pasukan sekuler Turki untuk mendukung kelompok-kelompok itu melawan siapa saja yang mereka ingin masukkan ke dalam golongan yang belum jelas ini.

Berdasarkan fatwa ini diketahui bahwa tujuan melabeli mereka dengan khawarij adalah agar dapat menerapkan hasil dari nash fatwa berikut ini: “wajib memerangi mereka baik itu posisinya bertahan atau menyerang mereka terlebih dahulu, wajib mengejar pasukan mereka yang sedang bergerak mundur, wajib untuk menghabisi prajurit mereka yang terluka dan wajib membunuh prajurit mereka yang tertawan.”

Terakhir ingatlah bahwa ini adalah fatwa mengenai kerjasama dan koordinasi, bukan mengenai meminta tolong, kalaupun harus meminta tolong maka syaratnya adalah kekuatan dan kekuasaan harus dimiliki dan jatuh ke pihak islam. (dbs/ansharalislam)

Advertisements