Anshar al Islam – Peristiwa yang terjadi di semenanjung Libya berjalan dengan begitu cepat, peristiwa demi peristiwa seakan saling berkaitan ibarat untaian mata rantai yang saling terkait. Dimulai dengan gelombang demonstrasi dalam rangkaian revolusi Musim Semi, yang berujung dengan tewasnya thaghut Muammar Qaddafi, berlanjut dengan perlawanan rakyat melawan upaya Amerika dan kaum sekuler dalam rangka melanggengkan upaya penghancuran Islam di Libya, yang berhasil menewaskan Duta Besar Amerika di Libya.

Kota-kota seperti Benghazi, Derna, Tarablus, Sirte dan berbagai wilayah lainnya menjadi saksi medan-medan jihad kaum Muslimin yang menginginkan tegaknya Islam di kawasan Afrika Utara tersebut. Perjuangan kaum Muslimin pun sempat ternodai oleh munculnya ISIS di sebagian Benghazi, Derna dan wilayah lainnya, yang sempat memperlemah posisi Mujahidin dan memberi kesempatan Amerika Serikat untuk menyusun kekuatan Milisi Boneka di bawah pimpinan Jenderal Khalifah Haftar, seorang jenderal yang telah lama bermukim di Amerika Serikat dan diberi mandat oleh Amerika untuk menjalankan kepentingannya di Libya.

Mujahidin pun segera bergerak untuk melawan konspirasi musuh, di kota Derna, Mujahidin sukses melibas habis ISIS, dan kini mereka dapat berkonsentrasi menghadapi Khalifah Haftar. Sedangkan di Benghazi, Majelis Syura Revolusi Benghazi telah memfokuskan serangan mereka menghadapi Khalifah Haftar.

Meskipun kejahatan Khalifah Haftar dan pasukannya yang sangat jelas dan lagi teramat keji, namun sikap Dewan Kepresidenan dan Komisi Rekonsiliasi Libya (suatu badan yang diakui oleh kekuatan politik internasional sebagai badan pembentuk pemerintahan baru Libya paska Qaddafi) justru malah mendukung milisi boneka Amerika tersebut dan secara semena-mena menyematkan tuduhan teroris kepada para Mujahidin yang berjihad demi menyelamatkan agama dan dunia mereka.

Hal tersebut ternyata justru semakin memperjelas kedok Badan Boneka Amerika ini. Hal tersebut menyebabkan salah satu elemen Mujahidin bersenjata yang mempertahankan provinsi Benghazi-Libya, yakni Saraya Difa’ Benghazi (Pasukan Pertahanan Benghazi) mengeluarkan pernyataan resmi menolak sikap Dewan Kepresidenan Libya, sekaligus berupaya untuk bersatu-padu dengan seluruh pergerakan Mujahidin di Libya dalam rangka mengusir Haftar dan milisinya dari tanah Libya.

Berikut ini kami sajikan terjemahan pernyataan Saraya Difa’ Benghazi, selamat menyimak.

* * * * * * * * * * * *

PERNYATAAN SARAYA DIFA’ BENGHAZI MENGENAI SIKAP DEWAN KEPRESIDENAN ATAS PERISTIWA DI KOTA AJDABIYA

Segala puji bagi Allah saja, Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi yang tidak ada lagi nabi setelahnya, amma ba’du:

Kejahatan dan kekejaman pasukan teroris Haftar sudah bukan menjadi rahasia lagi, kejahatan dan teror terselubung mereka terungkap melalui pengakuan para pemimpin mereka sendiri, mereka mengakui bahwa mereka lah yang berada dibalik sejumlah pembunuhan dan penculikan, serta menempatkan para korban mereka di penjara-penjara rahasia. Bahkan mereka juga mengaku telah mengkader ratusan bandar dan pengedar narkoba serta para residivis.

Mereka membunuh para masyayikh dan penghapal Alquran, Mereka membakar dan menghancurkan rumah-rumah orang tak bersalah, membuat ribuan orang menderita karena terpaksa mengungsi, dan membunuhi para wanita dan anak-anak Darnah melalui bombardir pesawat mereka.

Meskipun mereka telah melakukan sekian banyak kejahatan yang brutal, kejahatan yang ditentang oleh syariat dan juga budaya ini, namun kami sangat heran mengapa Dewan Kepresidenan Pemerintahan Rekonsiliasi justru memuji pihak pasukan teroris Haftar yang secara sewenang-wenang melakukan pengrusakan, kejahatan dan pembinasaan di Benghazi, Ajdabiya dan Darnah. Kami juga terkejut dengan tudingan teroris yang mereka sematkan kepada para pembela kebenaran yang hanya ingin kembali ke rumah-rumah mereka yang direbut dan mengembalikan keluarga mereka yang terusir.

Karenanya kami ingin memperjelas sikap kami dan menyebutkan beberapa hal:

  1. Sesungguhnya hak-hak dan prinsip-prinsip kami yang menjadi dasar didirikannya Saraya Difa’ An Benghazi (Satuan Pertahanan Kota Benghazi) ini adalah hak-hak yang diakui oleh syariat yang lurus dan didukung oleh setiap mereka yang berjiwa bebas dan mulia di seluruh dunia.
  2. Kami membela sikap Muhammad Al Ammari dan Abdus Salam Kajman yang menolak pernyataan Dewan Kepresidenan mengenai peristiwa di Ajdabiya.
  3. Sesungguhnya kami Alhamdulillah sedang dalam proses berkomunikasi dengan para pejuang revolusi Libya, dan proses bersepakat untuk bersama-sama membuat sang penjahat Haftar hengkang dari tanah Libya, yang perbuatannya lebih bahaya dari pada perbuatan ISIS (kaum Ad Dawaish).
  4. Kami mengajak seluruh pejuang revolusi Libya untuk kembali menjiwai semangat revolusi 17 Februari, dan merasa peduli terhadap keselamatan Libya dan penduduknya, serta kemuliaan para ulamanya.

Semoga Allah menjaga Libya, penduduknya dan para pejuang revolusinya dari segala keburukan.

Saraya Difa’ An Madinah Benghazi

Senin, 20 Juni 2016
15 Ramadhan 1437

(tgr/ansharalislam)

Advertisements