Membedah Dakwah Najdiyah dan Gerakan Jihad Global: Sebuah Renungan Kesejarahan

Pembaca yang dimuliakan Allah, perjalanan Jihad di dunia Islam, khususnya pada zaman ini, tidak bisa dilepaskan dari aliran pemikiran yang dibawa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi, yang sering dikenal dengan aliran Wahabi. Akan tetapi, benarkah Aliran Wahabi ini merupakan satu-satunya aliran yang menjadi dasar pemikiran gerakan jihad?

Sejauh manakah aliran ini bertanggung jawab dalam perjalanan sebuah gerakan jihad?

Benarkah aliran ini memiliki begitu banyak kelemahan yang berpotensi menyebabkan rusaknya jihad dan tumbuh suburnya aliran Takfir Ekstrim?

Asy Syarif Al-Hasan Al Kattani menyajikan sebuah tulisan ringkas yang menghadirkan rekam jejak kesejarahan pemikiran ini dan kaitannya dengan perkembangan jihad Global, serta membedah sejumlah perbedaan penting antara , Manhaj Dakwah Najd dengan Manhaj Ibnu Taimiyah, dan betapa aliran ini, jika tidak berhati-hati dalam mempelajarinya, terbukti telah melahirkan aliran takfir ekstrim. yang justru merugikan perjalanan jihad.

Selamat menyimak!

 

* * * * * * * * * * * * * * *

 

Dakwah Najdiyah dan Gerakan Jihad
Oleh : Asy Syarif al Hasan al Kattani

Segala puji bagi Allah dan shalawat serta salam atas Rasulullah Saw.

PASAL PERTAMA

Diantara gerakan Islam paling kuat yang muncul pada abad belakangan ini adalah gerakan Najdiyah yang dibangun oleh Muhammad bin Abdul Wahhab at Tamimi an Najdi di negeri Najd tengah-tengah jazirah Arab. Gerakan ini sangat terkesan dengan kitab-kitab syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah dan para muridnya, disertai mengambil madzhab Hambali dalam cabang fiqh. Namun bagi mereka yang menjadi pemerhati sastra dakwah ini dan gerakannya secara sejarah terdapat banyak perbedaan antara dirinya dengan dakwah Syamiyah yang dipimpin oleh Ibnu Taimiyah, perbedaan-perbedaan ini akan saya sebutkan setelah saya sampaikan kelebihan dakwah dan gerakan ini serta dampaknya dalam kehidupan nyata.

Bisa dipastikan bahwa berbagai perbedaan ini muncul karena dakwah ini datang pada masa akhir, suatu masa yang didalamnya sebagian besar kaum muslimin di seluruh muka bumi mengalami perselisihan dan kabut besar pada akidah mereka serta pandangan pemikiran mereka yang terjerumus pada amalan kesyirikan dan bid’ah besar yang menyamarkan keindahan agama, maka gerakan ini menyeru untuk kembali kepada tauhid yang bersih dari kesyirikan dan penerapan syariat serta membuang kebid’ahan dan hal-hal baru yang telah menyamarkan keindahan Islam, dan mengharuskan manusia untuk berjihad di bawah tajamnya pedang, dakwah ini dalam menyebarkan pemikirannya membantu terbangunnya keluarga Saud, dan mendasarkan daulah mereka di atas sinar pemikiran ini serta penunjukan mereka atas ulama-ulama dakwah, sebaliknya ulama’ berjanji untuk loyal kepada keluarga Saud dan menganggap mereka sebagai pemimpin dan imam kaum muslimin.

Daulah Saudi itu ada tiga periode, pertama sampai beberapa kali berubah wajah hingga intervensi daulah Utsmaniyah dan menghancurkannya di ibukota Najd yaitu Dir’iyah pada tahun 1233. Kedua, memilih terpisah dengan adanya perselisihan antara keluarga Saud dan saling berperang yang dapat mengembalikan Daulah Utsmaniyah dan para penolongnya ke negeri mereka. Ketiga, Daulah Sekarang ini yang telah memiliki persenjataan dan membuat garis batas pada tahun 1350, dan dinamakan dengan Mamlakah Al Arabiyah as Su’udiyah, dan memiliki keistimewaan dengan menyebarkan kitab-kitab salaf, membangun universitas-universitas dan mendukung pemikirannya di luar negerinya.

Hasil dari ini semua adalah tersebarnya manhaj salafi dalam bentuk yang lebih umum dan luas dan kembalinya sebagian besar sunnah dan hilangnya bid’ah, namun dakwah dan gerakan Najdiyah ini berbeda dengan gerakan dakwah Syamiyah (Syam) yang dibawa oleh Al-Imam Ibnu Taimiyah, dalam perkara-perkara yang berbahaya dan kesalahan-kesalahan yang tidak bisa diterima, inilah yang seharusnya para ulama menguasai pencerahannya dan mengkritisinya, kesalahan itu adalah: Ketidak adaan udzur jahl yang dianggap sebagai ashlu din (dasar dan pokok agama). Dan setiap orang yang terjerumus pada kesyirikan maka dia musyrik bukan muslim sebelum ditegakkan hujjah, jika mati maka dia di bawah kehendak Allah ta’ala seperti ahlul fitrah, dan siapa yang sudah ditegakkan hujjah maka dia kafir murtad seperti orang-orang yang diperangi oleh Abu Bakar ra, dan hujjah yang ditegakkan atas manusia sekedar tersampainya kabar padanya meskipun dia tidak memahaminya.

Setiap pentakwil sifat adalah Jahmiyah dan setiap Jahmiyah kafir dengan adanya 500 saksi dari para imam salaf sebagaimana yang dinukil oleh al Laalikai, dan setiap orang yang mendengar dakwah lalu ia memeranginya atau menentangnya atau tidak perhatian dengannya maka dia murtad, adapun yang loyal kepadanya meskipun karena takut maka dia juga murtad. Barangsiapa yang bodoh dalam masalah tauhid maka dia murtad. Dan hasil dari kaedah-kaedah ini adalah orang-orang arab yang bodoh adalah kafir, orang-orang sufi, asy’ariyah, zaidiyah, syi’ah dan ibadhiyah semuanya kafir, dan para ulama madzhab Hambali yang menentang ke-ghuluw-annya dakwah ini juga dianggap kafir, khilafah Utsmaniyah dianggap sebagai pelindung kesyirikan secara mutlak, maka Khilafah ini dianggap kafir dan tentaranya, pembelanya dan para ulamanya serta orang-orang yang loyal kepadanya semuanya dianggap kafir.

Anda pasti akan heran jika mengetahui bahwa orang-orang Najd itu belum pernah memerangi orang kafir asli selamanya, akan tetapi semua peperangannya adalah melawan kaum (murtad), atau seluruh perkataan mereka tentang berwala kepada orang kafir maksudnya adalah Daulah Utsmaniyah, ketika mereka menjajah pinggiran pantai jazirah mereka memperbaiki keislamannya (mengislamkan kembali) para penduduk pantai tersebut, dan yang mengherankan dari orang-orang Najd ini adalah sikap mereka yang mengkafirkan orang yang menyelisihi kekuasaan mereka meskipun ia seorang muslim salafi, mereka mengkafirkan Alu (keluarga) Rasyid dan mengkafirkan ikhwan yang taat kepada Allah karena ia keluar dari kerajaan Abdul Aziz, dan menghalalkan darah mereka. Buku-buku sejarah mereka mengingatkan kita kepada Ibnu Ghanam dan Ibnu Basyar bahwa mereka memasuki sebuah desa lalu mereka membunuh setiap orang yang ada di jalan mereka dan mengambil harta mereka sebagai ghanimah dan dalam sejarah-sejarah lain disebutkan bahwa mereka menjadikan wanita sebagai rampasan.

Pandangan orang-orang Najd mulai lurus pada akhir-akhir daulah mereka yang kedua, mereka merubah dan mempelajarinya, inilah diantara yang menjelaskan kepada Anda tentang sebab marahnya Ishaq bin Abdurrahman dalam risalahnya (Takfir Muayyan). Kemudian di dalam Daulah Modern mereka banyak sekali berubah kepada manhaj Ibnu Taimiyah dan dakwah Syamiyahnya, di antara sebab hal itu semisal syaikh as Sa’di dan madrasahnya dan karena bercampur dengan Ikhwanul Muslimin, dan orang-orang yang aktif dalam gerakan-gerakan Islam serta dakwahnya syaikh al Albani yang menentang ghuluw (berlebih-lebihan) dalam takfir. Telah terjadi tukar pemikiran antara para pemikir ikhwan dan tokoh salafi melalui beberapa tahapan, Imam al Banna sendiri terkesan dengan pemikiran salafi sebagaimana hal itu nampak dalam 20 dasar miliknya, kemudian setelah terjadi ujian pada gerakan al ikhwan maka muncul generasi baru dari para pemuda yang membawa pemikiran Islam dengan mengambil manhaj salafi, dan hal itu tampak jelas dalam jama’ah-jama’ah jihad di Mesir yang banyak sekali bersandar kepada kitab-kitab Ibnu Taimiyah dan mengambil sebagian kitab-kitab Najd dalam beberapa masalah tanpa mengetahui masalah-masalah yang menyelisihi manhaj Ibnu Taimiyah, sehingga mereka memahami kitab-kitab Najd melalui Manhaj Ibnu Taimiyah. Allahumma… kecuali masalah-masalah udzur bil jahli (udzur karena kebodohan) dan wala dan bara’ khususnya oleh para ekstrimis (ghuluw) yang menjadi catatan bagi gerakan Islam, dan tidak seorangpun dari para pimpinan amal jihad yang mendasarkan pada seluruh pemikiran-pemikiran Najd, dan tidak menelaahnya secara mendalam. Akan tetapi pemikiran jihad berdiri di atas tulisan-tulisan para tokoh gerakan Islam modern yang besar dan tulisan-tulisan Ibnu Taimiyah serta para muridnya.

PASAL KEDUA

Hubungan kelompok-kelompok jihad dengan pemikiran dakwah Najd:

Sebelumnya kita membahas bahwa dakwah Najdiyah memiliki ciri khusus dari manhaj salafi secara umum dalam perkara-perkara khusus oleh karena itu dakwah Najdiyah memiliki perbedaan tersendiri dari dakwah Syamiyah oleh syaikh Islam Ibnu Taimiyah dan sahabat-sahabatnya yang menjadi perpanjangan dari manhaj para imam salaf rh.

Maka kami katakan:

“Sesungguhnya awal-awal gerakan jihad modern yang bentuknya dikenal dengan kelompok-kelompok jihad, memungkinkan untuk kami anggap sebagai gerakan yang berpijak pada prinsip-prinsip khusus Ikhwanul Muslimin, prinsip inilah yang dibuat sebagai dasar oleh Al-Imam asy Syahid Hasan al Banna rh, dan orang-orang di dalam hidupnya terbagi pada lembaran-lembaran kitab dan senjata senapan, dan tujuannya adalah jihad melawan penjajah dan melindungi dakwah, oleh karena itu al Hasan terkena ujian melawan Inggris dan juga melawan penjajah Yahudi di Palestina jika bukan karena adanya pengkhianatan para penguasa Arab.

Imam asy Syahid dalam beberapa risalahnya telah mengancam penguasa Mesir dengan jihad jika tidak menerapkan syariat islam, dan prakteknya dilakukan aksi pembunuhan terhadap beberapa menteri yang telah mengganggu dakwah dan mulailah kekuar dari kekuasaan, oleh karena itu para ikhwan meninggalkannya pada masa selanjutnya setelah adanya ujian mereka yang pertama, namun ujian itu menjadikan Al-Ustadz asy Syahid Sayyid Qutb rh menulis tulisan-tulisan yang mendalam tentang kekuasaan dan hukum pemerintahan, wala dan bara’ dan pandangan Islam yang lebih dalam daripada apa yang ditulis oleh Hasan al Banna, begitu juga buku-buku sebelumnya yang ditulis oleh ustadz asy syahid Abdul Qadir Audah, namun Sayyid Qutb menulis tentang kewajiban adanya sayap militer untuk melindungi dakwah dari kekejian penguasa dan mungkin dari satu kelompok dari teman-temannya untuk itu. Dan dengan ini terbentuklah beberapa kelompok jihad di atas pemikiran Sayyid Qutb.

Bersamaan dengan hilangnya para pimpinan ikhwan di penjara, para pemuda mengambil manfaat dari para syaikh salafi di Jama’ah Ansharus Syariah, di antara mereka adalah syaikh Khalil Harras, beliau adalah guru bagi syaikh Dr. Aiman Adz Dzhawahiri, dan di universitas-universitas Mesir terbentuklah Al-Jama’ah Al-Islamiyah yang dididik di atas buku-buku para pimpinan al Ikhwan dan tulisan-tulisan serta risalah-risalah para syaikh salafi di Kerajaan Saudi dan yang juga melengkapi sisi akidah dan fiqh bagi para pemuda, oleh karena itu di Mesir pada akhir abad yang lalu (14 H) muncul kebangkitan (kesadaran) paham salafi sangat kuat sekali, dan banyak sekali pemuda universitas (mahasiswa) yang menjadi murid syaikh Al Azhar, Umar Abdurrahman – semoga Allah membebaskannya – yang termasuk seorang alim yang salafi, maka muncul fenomena penampakan sunnah atas para pemuda berupa jenggot yang lebat, bergamis, baju syar’iy yang longgar dan cadar, memerangi bid’ah dan kesyirikan serta yang lainnya, yang belum dikenal oleh Ikhwanul Muslimin.

Selanjutnya, di sini para pemuda mulai menelaah tulisan-tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan sahabat-sahabatnya dalam persoalan jihad, lalu muncul risalah yang berjudul (Al Faridhah Al Ghaibah) karangan asy syahid Muhammad Abdus Salam Faraj rh yang mayoritas tulisannya menukil dan merujuk kepada syaikh Ibnu Taimiyah, kemudian diikuti pembahasan lain seperti (Hukmu Thawaif al Mumtani’ah) milik Al-Jama’ah Al-Islamiyah dan di dalamnya banyak sekali penukilan dari syaikhul Islam.

Lalu muncul perselisihan yang sangat masyhur antara Tandzim Jihad dengan Jama’ah Islamiyah dalam masalah udzur bil jahl (udzur karena kebodohan) dan hukum para pembela thaghut, dimana tandzim Jihad berusaha keras untuk memperkuat argumennya dengan merujuk kepaxda beberapa tulisan Dakwah Najd dari kitab “Maj’muatu at Tauhid” dan “Fathul Majid” tanpa memperluas referensi. Maka Tandzim Jihad cenderung keras dalam dua masalah ini dan diselisihi oleh Al-Jama’ah Al-Islamiyah. Dan masalah ini akan tampak jelas dalam tulisan-tulisan syaikh Abdul Qadir Abdul Aziz (Sayyid Imam) yang berlebih-lebihan dalam takfir terutama dalam persoalan berwala kepada orang kafir dan tidak ada udzur karena kebodohan dalam masalah tauhid dan bukunya (Al Jami’ Fii Tholabil Ilmi) menjadi sumber hal itu.

Selain itu, pada awal abad 15 H para pemuda banyak yang pergi untuk jihad Afghan dan syaikh Abdullah Azzam memiliki peran penting dan besar dalam hal itu, dan para pemuda jazirah arab baik Najd, Hijaz maupun Yaman juga memiliki peran besar dalam hal itu, sebagaimana kelompok jihad Mesir memberi fatwa wajibnya berjihad sehingga para pimpinan besar mereka pergi ke Afghanistan dan saling tukar pikiran dengan seluruh elemen yang ada.

Diantara para syaikh yang perhatian dengan tulisan-tulisan Najd adalah syaikh Madahat bin Hasan al Farraj rh, dan dalam kitabnya (al Udzru bil Jahli tahtal Majhar asy Syar’iy) memiliki dampak yang besar bagi para pemuda kemudian mengumpulkan tulisan hingga dalam 4 jilid besar yang diberi judul (Aqwalu Aimmatud Dakwah An Najdiyah fil Masaailil Ashriyah), dan pada awal dekade kedua tepatnya pada tahun 1410 H para pemuda mengambil ilmunya dalam masalah wala wal baro dari kitabnya al Qahthani dan Al Jal’ud dan keduanya menukil banyak pendapat ulama Najd dalam bab itu.

Kemudian muncul tulisan-tulisan syaikh Abu Muhammad al Maqdisi -semoga Allah melindunginya – yang sangat terkesan sekali dengan kitab (ad Durarus Saniyyah fil Fataawa an Najdiyah) maka tidak ada satu kitab pun dari tulisannya kecuali di dalamnya penukilan dari kitab itu bahkan di dalamnya ada istilah-istilah buku-buku ulama Najd seperti (Muwahhid) dan semisalnya, dia menerapkan kaedah-kaedah mereka atas masalah-masalah hari ini seperti berhukum dengan selain syariat, pemilu, ikut terjun dalam parlemen dan bekerja di pemerintahan yang tidak berhukum dengan syariat, lalu beliau memilih tidak ada udzur karena bodoh dalam masalah tauhid dan kafirnya seluruh tentara pemerintahan yang tidak berhukum dengan syariat dan menggunakan parlemen yang ikut serta dalam pemiu legislatif.

Beliau juga menulis sebuah buku yang menjadi rujukan bagi para pemuda jihadis di selurub dunia. Namun syaikh bersikap lebih longgar dalam masalah khafiyyah (yang tersembunyi atau samar) berbeda dengan ulama Najd dan tidak menerapkan ushul atau dasar-dasar mereka secara harfiah bahkan tidak diterapkan terhadap Syiah, Sufi, Filosof maupun pentakwil sifat-sifat Allah. Di sinilah letak perbedaannya, semua itu beliau sikapi dengan manhaj Ibnu Taimiyyah bukan dengan manhaj dakwah Najdiyah belaka, dan beliau jelaskan secara detail hal itu dalam risalahnya yang memberi rambu-rambu tegas dalam persoalan takfir agar terhindar dari sikap berlebihan (Risalah Ats-Tsalatsiniyyah Al-Ghuluw fit Takfir), sehingga sebagian orang dari kalangan orang-orang ekstrim dan para pengikut fanatik dakwah Najd mengira bahwa beliau taraju’ (menarik kembali pandangannya), padahal yang benar itu adalah pemikiran beliau sejak dari awal. Dari situlah berkembangnya pemikiran jama’ah Daulah yang berlepas diri dari Syaikh Al-Maqdisi

PASAL KETIGA DAN AKHIR

Sebelumnya sudah kita jelaskan bahwa kelompok-kelompok jihad dimulai dengan ushul atau dasar ikhwani salafi, dan bahwa pemikiran Najd masuk ke dalamnya secara bertahap, dimulai dari beberapa tandzim (organisasi) di Mesir, dan pimpinannya yang dulu adalah Abdul Qadir bin Abdul Aziz, kemudian dengan tulisan-tulisan para ulama Jazirah Arab masa kini dalam masalah hukum pemerintahan, wala wal baro dan semisalnya khususnya tulisan-tulisan kelompok kebangkitan (yang sadar kembali kepada agama), meskipun seluruh kelompok kebangkitan itu dalam seluruh perkaranya jauh dari manhaj ulama Najd akan tetapi sangat terpengaruhi oleh buku-buku syaikh isl dan para sahabatnya dibarengi dengan pengaruh Allamah as Sa’di dan muridnya syaikh Utsaimin rh semuanya, dan kelompok Allamah Abdurrahman bin Nasr as Sa’di sangat terpengaruh oleh Syaikh Ibrahim Jasir yang mana beliau menentang sikap ekstrim ulama Najd salafi atsari, dan para muridnya juga berjalan sepertinya. Kemudian tulisan-tulisan syaikh Abu Muhammad al Maqdisi -semoga Allah menjaganya – sangat terpengaruhi oleh kitab “Ad Durar as Saniyah”, dan banyak sekali para pemuda di Yordan maupun di luar Yordan terpengaruh dengannya, dan itu nampak sekali pada sahabatnya yang paling agung syaikh Abu Mush’ab az Zarqawi rh.

Setelah serangan Amerika pada tahun 1421 H, dan munculnya al Qaeda dengan kekuatan dan serangan Amerika atas Afghanistan maka muncul para masyayikh di Jazirah Arab dan khususnya di Najd untuk menolak bekerja sama dengan pasukan Amerika dan membela Imarah Islam Afghanistan kemudian menghadapi para ahli bid’ah dan sekuler dengan kekuatan, dan tokohnya adalah Hamud bin Uqla asy Syuaibi rh dan para sahabatnya: Ali Khudhair, Nashir al Fahd dan Ahmad al Khalidi semoga Allah membebaskan mereka.

Mereka memiliki pengaruh yang besar pada para pemuda Jazirah Arab kemudian pada banyak para pemuda yang cinta jihad. Dan diantara tujuan para masyayikh itu adalah menghidupkan kembali dakwah Ulama Najd. Maka syaikh al Khudhair mengarang buku syarah kitab (at Tauhid) dan meletakkannya sesuai kondisi pada masa kini, dan mengarang (al Mutammimah li Kalami Aimmatid Dakwah), beliau menetapkan bid’ahnya Udzur bil Jahl dalam masalah-masalah syirik, dan risalah (Haqaiqut Tauhid) yang dianggap sebagai matan dalam manhaj ulama Najd dan syarahnya, sebagaimana juga syaikh Fahd mengarang sebuah kitab tentang kafirnya Daulah Utsmaniyah dan pembelaan terhadap dakwah Najd, dan syaikh Khalidi mentahqiq risalah (Takfir Muayyan) karangan Ishaq bin Abdurrahman Alu Syaikh, dan buku-buku ini disebarkan dalam situs Mimbar Tauhid wal Jihad sehingga tersebar di penjuru dunia dan menjadi sebuah manhaj bagi kebanyakan aktivis jihad di seluruh dunia.

Dan ketika jihad Irak mulai membesar, syaikh Az Zarqawi memiliki peran lebih dulu di dalamnya, dan beliau bergabung dengan al Qaedah meskipun manhajnya berbeda dengan manhaj al qaeda, sebagaimana yang beliau katakan. Beliau bergabung dengan Al-Qaeda demi kemaslahatan Islam daripada kemaslahatan manhaj, sehingga kitab-kitab al Khudhair dan para sahabatnya tetap sebagai manhajnya para mujahidin Al-Qaeda Irak dan Jazirah Arab secara umum, inilah yang mungkin disebut dengan (Dakwah Najdiyah Modern), akan tetapi para masyayikh itu memiliki ciri tersendiri yang berbeda dengan ulama Najdiyah yang lama, yaitu dengan memiliki sifat toleran dengan dalam menyikapi berbeda pendapat dengan mujahidin lain seperti Thaliban yang menganut aliran Deobandiyah dan selain mereka, dan tidak tergesa-gesa dalam memberikan hukum kufur atas orang-orang yang menyelisihi atau menentang mereka.

Akan tetapi mereka sangat keras dalam mengkafirkan para pembela penguasa yang tidak berhukum dengan hukum syariat, dan begitu juga mereka lebih longgar dalam menghukumi kafir karena loyalitas (wala), lalu ketika muncul jihad Syam dan Al-Qaeda Irak yang diperankan oleh Daulah Islam Irak ikut masuk ke dalamnya maka tersebarlah pemikirannya diantara para pemuda kemudian ketika terjadi perselisihan antara dirinya dengan mujahidin Syam menjadi jelas perbedaan manhajnya dengan manhaj al Qaeda dan mujahidin Syam lainnya, dan manhajnya semakin ekstrim dan menerapkannya secara harfiyah (kaku), dan selanjutnya, manhaj Daisy itu menyelisihi manhaj asli yang sudah lama bagi kelompok jihad dengan perbadaan yang besar. Dan Hanya kepada Allah meminta pertolongan dan dan kepadany bertawakkal.

Inilah yang nampak padaku sesesuai apa yang telah aku ikuti dan telaah, jika benar maka ini dari Allah dan rasulnya dan jika salah maka itu dari diriku sendiri dan dari setan, dan Allah dan rasul-Nya berlepas diri dari keduanya, dan segala puji bagi Allah dan shalawat dan salam atas penghulu kita Muhammad dan keluarganya.

Catatan Penulis: Demi Allah bukanlah maksudku menikam seorang yang alim mujahid yang menyuarakan kebenaran dan membela syariat Allah lalu ia disiksa di jalan Allah sehingga ia sabar atau masih berada dalam ujian, akan tetapi saya ingin menjelaskan dan menerangkan kondisi waqi’.

 

Diterjemahkan oleh:

Logo AI

Advertisements