Khawarij adalah bagian dari dinamika Islami, ia muncul sebagai salah satu sekte yang menyimpang dari ajaran Islam, dengan ciri khas sikapnya yang berlebih-lebihan dalam pengkafiran dan penghalalan darah, harta dan kehormatan kaum Muslimin, sekaligus sederet penyimpangan lainnya seperti, “Membunuhi para Ahlul Islam dan membiarkan para penyembah berhala.” Yang membuat Nabi Saw bersabda mengenai mereka, “Mereka adalah kaum yang keluar dari agama ini, seperti anak panah yang keluar menembus buruannya.” (Al-Hadits)

Begitu beratnya jenis pelanggaran yang dilakukan oleh para penganut ajaran khawarij ini, menyebabkan Rasulullah saw sampai mengeluarkan ultimatum, “Sungguh, aku akan memerangi mereka (sampai habis-edt) sebagaimana Allah ta’ala membinasakan kaum ‘Aad.” (Al-hadits).

Inilah yang menyebabkan kaum Muslimin, yakni Ahlussunnah wal Jamaah harus menyisihkan satu pedang lagi untuk memerangi Khawarij sebagai salah satu prioritas musuh yang harus didahulukan untuk diperangi, mengingat, sebagaimana perkataan ulama ahlul jihad, “Memerangi khawarij adalah persoalan menyelamatkan modal, dan modal perjuangan ini adalah kaum Muslimin, sedangkan khawarij membinasakan kaum Muslimin dan membiarkan para penyembah berhala.”

Dan sebagaimana yang kita lihat, bara pertempuran di berbagai tempat di muka bumi ini, mulai dari Libya, hingga Afghanistan, dari Yaman hingga Irak dan Suriah, membuat kaum Muslimin terbelalak akan kenyataan wujudnya kaum Khawarij ini di muka bumi berikut kejahatan-kejahatan keji mereka, sebagaimana yang disinyalir oleh Rasulillah saw. Sehingga menjadi wajar, atau bahkan wajib, ketika kaum Muslimin kemudian menghunuskan pedang untuk bertempur melawan Khawarij.

Akan tetapi, bagaimana kita menempatkan roda pertempuran dan prioritas peperangan ketika Gembong Salibis, Amerika Serikat sang Fir’aun umat ini mulai ikut mencengkeramkan kuku-kukunya dan mengerahkan antek-anteknya di ranah pertempuran melawan Khawarij?

Bagaimana seharusnya kita bersikap sebagaimana yang diinginkan oleh Al-Kitab dan As-Sunnah dalam menghadapi fenomena tersebut? Jawaban dari syaikh Abu Qatadah al-Filisthini ini menjadi solusi bagi kita, bagaimana seharusnya kita bersikap dalam melawan Khawarij, ketika kepentingan Salibis Amerika dan sekutunya mulai membayang-bayangi pertempuran tersebut, selamat menyimak!

* * * * * * * * * * * * * * *

HUKUM BEKERJASAMA DENGAN KOALISI SALIBIS UNTUK MEMERANGI DAESH/ISIS
Syaikh Abu Qatadah Al Filishthini Hafizhahullah

Pertanyaan pertama:

Assalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh

Kepada Syaikh kami yang terhormat Abu Qatadah Hafizhahullah, bisakah kiranya anda menjelaskan status hukum kelompok-kelompok yang memerangi jamaah Al Baghdadi di wilayah utara Suriah dengan dibantu oleh pasukan koalisi salibis, kelompok-kelompok tersebut memberikan informasi mengenai lokasi-lokasi keberadaan jamaah Al Baghdadi kepada pesawat-pesawat koalisi, diantara kelompok tersebut adalah Firqah Al Hamzah dan Liwa’ Al Mu’tashim, apa status hukum mereka sebagai pasukan dan komandan, sedangkan semua orang tahu bahwa mereka bekerjasama dengan koalisi salibis. Semoga Allah memberkahi anda wahai syaikh.

Informasi ini berasal dari seorang saudara yang dapat dipercaya, dia pernah mendengar melalui penangkap gelombang sinyal walkie talkie bagaimana mereka memberikan update informasi di daratan kepada pesawat-pesawat salibis, ditambah lagi ada beberapa ikhwah yang menyusup ke dalam barisan mereka.

Firqah Al Hamzah sendiri berada di bawah komando Divisi 30, sedangkan Liwa’ Al Mu’tashim dikomandani oleh Abu Al Abbas Al Mari’i, berdasarkan sejumlah informasi media massa, mereka terbukti bekerjasama dengan CIA, bahkan melalui pernyataan mereka, mereka mengakui tudingan tersebut.

Jawaban:

Perbuatan ini adalah perbuatan kufur yang mengeluarkan pelakunya dari agama islam, baik seorang muslim atau sebuah organisasi tidak boleh melakukannya, karena menolong salibis untuk membunuh seorang muslim ahli bid’ah yang bertindak brutal seperti kaum khawarij dawaish ini adalah bentuk pertolongan yang kufur, seorang muslim tidak boleh coba-coba melakukannya apalagi sampai benar-benar melakukannya, dan siapapun yang terlanjur melakukannya wajib bertaubat dan ber-istighfar kepada Allah Azza wa Jalla.

Dan di sini saya ingin memperingatkan bahwa demi Allah saya yakin apa yang mereka lakukan ini akan menyebabkan Allah membuat mereka kalah oleh kaum salibis, hingga mereka bersedia memerangi kaum tersebut, dan demi Allah tidaklah seorang muslim menyerang muslim lainnya dengan bantuan orang kafir kecuali Allah akan menjadikan orang kafir itu berkuasa atas dirinya.

Saya sampaikan kepada orang-orang, bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya fitnah ini tidak boleh dilawan dengan maksiat, sesungguhnya fitnah dawaish tidak boleh dilawan dengan kemaksiatan, ia hanya boleh dilawan dengan kebenaran dan ilmu, serbuan dan serangan mereka hanya boleh dilawan dengan cara nabi, bukan cara orang-orang salibis, maka hendaknya mereka bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla. Setiap kali orang-orang salibis itu ikut campur ke dalam suatu hal pasti mereka akan merusaknya, kalian mungkin tahu ketika mereka berkomitmen untuk menolong suatu golongan, pada akhirnya mereka akan berlepas tangan dari golongan tersebut, hal ini berlaku bahkan kepada orang-orang kafir musyrik sekalipun. Coba kaji sejarah kerjasama antara Kurdi dengan Amerika, coba kaji sejarah bagaimana Amerika lepas tangan dari polemik yang menimpa rezim Shah Iran. Jadi operasi yang ada sekarang ini bertujuan untuk membunuh dan memusnahkan kaum muslimin, mereka tidak mungkin akan membela agama dan kebenaran.

Perangilah para dawaish khawarij itu dengan cara yang syar’i bukan cara mereka, cara mereka ini adalah cara yang menyebabkan kemurtadan, mereka yang terlibat di dalamnya sehingga ikut menolong salibis untuk memerangi khawarij maka terjerumus kemurtadan, baik suka atau tidak. Satu-satunya kondisi yang membolehkan kaum salibis membantu mereka adalah jika salibis menyerang dengan tujuan membantu orang islam untuk menjalankan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “kami akan membunuh mereka sebagaimana kaum Ad dibunuh”, maksudnya yang memerangi kaum khawarij adalah kalian, bukannya kalian membantu salibis untuk memerangi mereka (khawarij) yang mana tujuannya adalah memerangi agama mereka dan maksud mereka yang ingin menerapkan syariat (walaupun salah – red).

Jadi mereka tidak akan mau berperang bersama kalian ketika kalian ingin menerapkan syariat, saya katakan kepada kelompok-kelompok ini, seandainya kalian mengumumkan bahwa kalian berjuang demi menerapkan syariat, apakah Amerika akan menolong kalian?!

Tentu Amerika akan menjadikan kalian sebagai target serangan seperti halnya Dawaish, sebagaimana ia meletakkan Jabhah Nushrah dengan Dawaish ke dalam satu target. Maka bertaqwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa ini adalah fitnah yang akan menyeret banyak pihak, dan akan menjadi ujian yang besar, tidak akan ada yang selamat darinya kecuali siapa saja yang bergantung kepada kebenaran yaitu sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

*****

Pertanyaan kedua:

Assalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh, wahai syaikh yang mulia, mudah-mudahan ketika anda menerima pesan ini, anda dan orang-orang yang mencintai anda dalam keadaan yang paling baik, dan mudah-mudahan Allah menjadikan bulan penuh berkah ini sebagai pembuka pintu-pintu kebaikan kepada anda dan orang-orang yang mencintai anda.

Wahai syaikh kami yang mulia, hari ini telah tersebar rekaman suara anda yang di antara isinya adalah ucapan anda: “Satu-satunya kondisi yang membolehkan kaum salibis membantu mereka adalah jika salibis menyerang…”.

Dapatkah anda menjelaskan maksud dari ucapan tersebut, dan bagaimana mengkolaborasikan antara ucapan tersebut dengan anggapan bahwa perbuatan tersebut pada dasarnya perbuatan riddah? Apa maksud dari kerjasama dalam konteks ucapan ini? Apakah maksud anda kerjasama ini terjadi karena adanya kesamaan waktu dan tempat, tanpa ada koordinasi sebelumnya?

Jawaban:

Apabila seorang penuntut ilmu telah sepakat bahwa Jamaah Daulah adalah khawarij, dan insya Allah ini benar, kemudian ia telah sepakat bahwa khawarij tidaklah kafir dan musyrik, namun masih tergolong ke dalam ahlul qiblat, dan insya Allah ini juga benar, maka ketentuannya adalah sebagai berikut:

Ahlus sunnah harus memerangi mereka hingga mereka binasa secara keseluruhan, jika ahlus sunnah mampu, inilah yang disabdakan oleh Al Habib Al Mushthafa mengenai mereka: “kami akan membunuh mereka sebagaimana kaum Ad dibunuh”, ketentuan ini timbul dikarenakan dahsyatnya kejahatan yang mungkin dapat mereka timpakan terhadap kaum muslimin.

Sebagian orang bertanya-tanya; bagaimana mendudukkan antara ucapan ini dengan pendapat sebagian orang – dan saya salah satunya – : “jika tidak ada lagi orang yang tersisa di medan perang melawan kaum musyrikin selain mereka, maka kaum muslimin boleh berperang di bawah komando mereka dengan tujuan untuk melawan serangan kaum musyrikin.”?

Maka saya katakan bahwa permasalahan ini masuk ke dalam bab menimbang antara kebaikan dan keburukan, mengukur kejahatan-kejahatan yang ada beserta derajat-derajatnya, ini bisa didapati dalam firman Allah:

“dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari kekafiran), Maka Sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan.” [QS Al Anfal: 39]

Dan firman Allah yang lain:

“..dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya..” [QS At Taubah: 36]

Namun walaupun permasalahan ini sudah jelas, kaum muslimin pada umumnya justru menerapkan ayat:

“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu..” [QS At Taubah: 123] dan mereka tidak memandang adanya konflik atau benturan dalam penerapan ini selamanya, karena perintah berperang terkait secara langsung dengan kemampuan dan kemaslahatan, itupun harus ada izin umum sebagaimana yang dapat anda saksikan, ataupun perintah umum, karenanya maka memerangi kelompok semacam ini termasuk dari jenis ini, yang di sana berlaku hukum jihad dan perang, jika sesuai dengan kemaslahatan, maka lakukan konsolidasi, dan perang ditunda, dan yang berhak melakukan tugas ini adalah para pakarnya. Inilah yang dilakukan oleh para imam madzhab Maliki yang berperang di bawah komando mereka (khawarij – red.) demi mengalahkan kaum zindiq Ubaidiyyin.

Tidak akan terjadi kontradiksi atas konsep ini kecuali jika ia menentang nash-nash yang ada tanpa membaca realita, seperti orang yang menentang firman-Nya:

“mereka tidak akan memerangi kamu dalam Keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng..” [QS Al Hasyr: 14]

Dan firman-Nya:

“..apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, Maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). [QS Al Anfal:15]

Ia tidak mengetahui adanya dua macam kehadiran, dan tidak menerapkan setiap ayat sesuai dengan takarannya.

Karenanya saya katakan kepadamu:

Sesungguhnya yang diharapkan adalah apabila kaum muslimin mampu memberantas mereka kemudian setelah itu kemenangan ada di tangan kaum muslimin dan kekuasaan jatuh ke tangan ahlus sunnah, dan kejahatan mereka dapat dicegah berkat ahlus sunnah mampu menerapkan sabda nabi: “kami akan membunuh mereka sebagaimana kaum Ad dibunuh” dengan baik. Namun apabila mereka diperangi sebagaimana kaum Ad diperangi kemudian yang merasakan kemenangan adalah kaum zindiq dan Rafidah misalnya, maka ini adalah pendapat orang bodoh atau jahat, atau misalnya kemenangan justru dirasakan oleh orang-orang murtad, nashrani atau yahudi, maka ini tidak menggambarkan ucapan seorang yang berilmu.

Barangsiapa mengaku sedang menerapkan hadits namun mereka di saat yang sama membantu kaum kafir nashrani dalam memerangi mereka (khawarij) dan kemudian yang merasakan kemenangan dan mendapat kekuasaan bukan ahlus sunnah, maka ia berperang demi thaghut, Allah Ta’ala berfirman:

“..dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut…” [QS An Nisa’: 76]

Perbuatan semacam ini harus dihentikan oleh siapa saja yang masih mempunyai akal.

Adapun kasus yang memperbolehkan orang islam bekerjasama dengan kalangan lain untuk memerangi khawarij atau setiap kelompok yang ingin menyerang, maka diperbolehkan jika niatnya hanya untuk mencegah mereka yang ingin merenggut jiwa, kehormatan dan agama. Dalam kasus ini para ahli ilmu berpendapat bahwa boleh meminta pertolongan kepada orang kafir asli untuk melawan kaum pemberontak, khawarij dan yang semisalnya.

Pendapat para ulama mengenai permasalahan ini wajib didefinisikan secara jelas, adapun jika seseorang menolong orang kafir secara mutlak dengan alasan mempraktekkan hadits “kami akan membunuh mereka sebagaimana kaum Ad dibunuh” maka ia orang yang mempermainkan agama Allah dan tidak mengerti ucapannya sendiri.

Dengan begini maka kemungkinan terjadinya perselisihan di antara masyarakat dalam permasalahan ini bisa dihindari, jika mereka bertaqwa kepada Allah dan memahami cara ulama dalam memahami nash-nash yang sifatnya mutlak.

Karenanya saya katakan; tidak boleh meminta tolong kepada mereka kecuali untuk mencegah serangan saja. Adapun jika ahlus sunnah memerangi mereka untuk membasmi kejahatan mereka, yang mana buah dari pembasmian tersebut ahlus sunnah dapat meraih kekuasaan, maka ini yang disebut dengan mempraktekkan hadits “kami akan membunuh mereka sebagaimana kaum Ad dibunuh”.

Adapun pertanyaan anda mengenai ada atau tidaknya koordinasi, maka syariat tidak membahasnya jika jawaban pertama dapat difahami.

Akan tetapi masih ada satu kondisi, yaitu ketika ahlus sunnah memerangi mereka untuk menerapkan hukum syariat, tiba-tiba orang kafir datang dengan sendirinya untuk memerangi khawarij, apakah yang harus dilakukan oleh ahlus sunnah ketika itu?

Jawaban: ini kembali kepada pertimbangan amir, jika ia mau ia boleh berdamai dengan khawarij untuk bersama-sama memerangi orang kafir, namun dengan syarat mereka adalah khawarij yang mau berfikir, bukan orang-orang bodoh dan gila. Dan jika ia mau ia juga boleh melanjutkan misinya untuk mempraktekkan hadits “kami akan membunuh mereka sebagaimana kaum Ad dibunuh”. Dengan syarat harus ada pertimbangan dari sisi kemaslahatan syariat dan agama. Ini yang saya ketahui dari agama Allah mengenai permasalahan ini.

Saya ulangi kembali untuk mempertegas; bahwa siapa saja yang menolong orang-orang kafir musyrikin untuk memerangi kaum muslimin, maka demi Allah ia telah kafir, karena dengan itu berarti ia telah memberikan wewenang kepada orang kafir untuk berkuasa atas kaum muslimin, menerapkan hukum mereka kepada kaum muslimin, dan menegakkan undang-undang kufur terhadap orang islam, tak peduli siapapun orang islam itu.

Dan hari ini kalian menyaksikan bahwa upaya untuk menghapus sebagian hukum khawarij justru menjadikan orang-orang zindiq berkuasa atas kaum muslimin, sehingga kedepannya akan terjadi musibah yang hanya Allah yang tahu seberapa besarnya, kejahatan khawarij dalam hal ini tidak bisa dibandingkan dengan kejahatan kaum zindiq beserta tuan-tuan mereka kaum nashrani dan yahudi. Banyak orang tahu bahwa siapa yang membantu kaum musyrik untuk memerangi khawarij maka pada dasarnya ia bukan muslim, karena ia telah berusaha untuk menegakkan hukum thaghut.

Inilah yang bisa saya sampaikan, wa Billahi at taufiq wal hamd.

Jumat, 5 Ramadhan 1437 – 10 Juni 2016

Advertisements