Semarang, Anshar al Islam – Komunitas Kajian Ilmu ‘Anshar Al-Islam’ menggelar bedah buku “Mudah Mengkafirkan” Akar Masalah, Bahaya & Terapinya” terjemahan kitab Jawabus Sual fi Jihad Daf’i karya ‘Syaikh Athiyyatullah Al-Libby Rahimahullah’.

Bedah buku yang bekerjasama dengan Jamaah Anshar Syariah (JAS) Semarang, Laskar Umat Islam Semarang (LUISS), dan Pemuda Muhamadiyah Semarang ini menghadirkan Pemerhati Gerakan Islam, Ustadz Abu Tholut Al-Jawy dan Majelis Syariah JAS, Ustadz Fuad Al-Hazimi sebagai pembicara.

Dalam pemaparannya, Ustadz Abu Tholut menjelaskan bahwa buku itu pada dasarnya menyoroti paham sesat yang sudah ada sejak lama dalam sejarah Islam yaitu sekte Khawarij.

Sekte Khawarij menjadi salah satu dari empat sekte bid’ah besar dalam sejarah Islam, selain Rawafidh (Syiah), murjiah, dan muktazilah.

“Ciri khas khawarij adalah pengkafiran tanpa kekufuran yang jelas (takfir ghoiru haq) dan pembunuhan tanpa alasan yang jelas (qatlu ghoiru haq),” katanya pada Ahad Sore, (12/6/2016), di Masjid At-Taqwa Kompleks RS. Roemani, Jl.Wonodri Baru Raya, Semarang, Jawa-Tengah.

Sehingga, buku “Mudah Mengkafirkan” meski membedah penyimpangan seorang tokoh bernama Abu Maryam Al-Mukhlif. Tetap, relevan dalam menyoroti Khawarij masa kini yang direpresentasikan oleh Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Kemudian, Ustadz Abu Tholut juga menjelaskan kapasitas keilmuan penulis yang cukup mumpuni berdasarkan cara metode penulis menjawab pertanyaan dan data yang disajikan oleh penulis.

“Penulis mengikuti manhaj Rasulullah SAW, dalam menjawab pertanyaan. Yaitu, menjelaskan secara detail dan luas dari pertanyaan yang singkat, terangnya.

Selain itu, Ustadz Abu Tholut juga membeberkan indikator-indikator sikap dan pandangan ISIS yang mirip dengan kelompok Khawarij klasik ‘azariqoh’ seperti pandangan mereka bahwa selain di luar kelompok mereka tidak menegakkan hukum Allah.

“Dalam pernyataan tokoh-tokoh mereka bahwa seluruh kaum Muslimin berada di darul kufur dan menolak legitimasi kelompok-kelompok Islam,” ujarnya.

Lanjutnya, ISIS juga membajak nama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam menyebarkan pahamnya. Sebab, ketika diteliti Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, muridnya, dan anak keturunannya berpendapat ada udzur jahil (dispensasi kebodohan) dalam Syirik Akbar. Hal ini, berbeda dengan pandangan ISIS yang meyakini tidak ada udzur jahil dalam Syirik Akbar. Sehingga, ketika seseorang dituduh melakukan amalan kesyirikan langsung divonis kafir tanpa diberikan udzur.

“Jadi clear, ISIS ini bukan Wahabi,” tukas ustadz Abu Tholut.

Terakhir, Ustadz Abu Tholut menyampaikan nasihat penulis buku dalam meredam penyebaran paham Khawarij ini. Dia meringkas menjadi empat poin dari delapan poin yang dijelaskan. Pertama, menyebarkan ilmu dengan dakwah dan pendidikan. Kedua, memahami realita aktual, ketiga, sabar dalam menghadapi kelompok-kelompok tersebut.

Sementara itu, Ustadz Fuad Al-Hazimi menilai gerakan ekstrim takfir atau Khawarij dalam gerakan jihad bukan terjadi secara alamiah saja. Tetapi, ada intervensi intelijen ke dalam gerakan jihad.

Dalam pemaparan awal, ustadz Fuad menjelaskan bahwa umat Islam sudah sekian lama terlibat jihad dan perang melawan kelompok Salibis. Ada beberapa peristiwa sejarah yang dianggap bagian dalam perang Salib.

Berangkat dari pergulatan sejarah perang Salib, dapat dikatakan bahwa umat Islam selalu menang dalam peperangan fisik. Sehingga, musuh-musuh Islam berpendapat umat Islam hanya bisa dikalahkan dengan menjauhkan mereka dari ajarannya sendiri.

“Dari sinilah, muncul istilah Ghozwul fikri atau perang pemikiran,” katanya.

Sejak saat itu, perang pemikiran dilancarkan oleh musuh Islam untuk menjauhkan umat dari ajaran jihad. Jihad dibuat oleh Barat terkesan kejam, seram, dan menakutkan. Sehingga, umat Islam alergi dengan istilah jihad.

“Jihad distigma teror dan didemonologi,” cetusnya.

Padahal, menurutnya, jihad sudah mendarah daging dalam sejarah perjalanan umat Islam. Jihad bukan hal yang aneh. Bahkan, jihad berkontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Berdasarkan beberapa peristiwa sejarah perjalanan jihad diberbagai belahan dunia, Ustadz Fuad meyakini ada intervensi intelijen untuk memburukka wajah jihad dengan cara radikalisasi gerakan jihad.

“Gerakan jihad menjadi ekstrim dan ngawur, sehingga dijauhi oleh unat Islam,” tuturnya.

Padahal, sudah menjadi prinsip bahwa suatu perjuangan tidak akan dapat menang tanpa dukungan umat. Di sinilah peran intelijen melakukan radikalisasi, ternyata untuk melemahkan jihad itu sendiri. (bm/ansharalislam)

IMG-20160612-WA0001
Persiapan terakhir sebelum acara berlangsung.
IMG-20160612-WA0004
Pembukaan acara bedah buku.

IMG-20160612-WA0005

IMG-20160614-WA0002
Para peserta yang terus berdatangan setelah acara dimulai.
IMG-20160614-WA0005
Setelah selesai acara bedah buku, dilanjutkan dengan ifthar shaum bersama.
Advertisements