Kata Pengantar

Ada kisah seorang ulama bercerita tentang kisah nya , kisah yang yang berkaitan fenomena pemikiran Takfiri yang menimpa anak-anak muda hari ini ‘’Dulu saat aku masih di Madiinah, Riyaadl As-Sa’iid pernah menghubungiku – dan ia seorang yang ma’ruuf dan ada di Riyadh sekarang -. Ia berkata kepadaku: “Sesungguhnya di sini, di Thaaif, ada lima puluh orang pemuda yang semuanya mengkafirkan Syaikh Al-Albaniy!!. Mengapa?. Karena ia tidak mengkafirkan quburiyyuun dan memberikan ‘udzur kejahilan kepada mereka!!!.

Thayyib. (Itu artinya) mereka juga harus mengkafirkan Ibnu Taimiyyah, Ibnul-Qayyim, dan banyak kalangan dari salaf, karena mereka memberikan ‘udzur kejahilan dan mereka mempunyai dalil-dalil, diantaranya: ‘Dan Kami tidak akan menurunkan adzab sebelum mengutus seorang rasul’ (QS. Al-Israa’ : 15). ‘Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali’ (QS. An-Nisaa’: 115). ‘Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi’ (QS. At-Taubah : 115). Dan nash-nash lain yang menunjukkan bahwa seorang muslim tidak (langsung) dikafirkan (secara mu’ayyan) akibat kekufuran yang ia terjatuh di dalamnya. Kami berkata : jatuh dalam kekufuran, kekufuran yang ia jatuh padanya karena kejahilan misalnya. Maka kami tidak mengkafirkannya hingga kami jelaskan kepadanya hujjah dan kami tegakkan padanya hujjah. Apabila ia menentang, baru kami mengkafirkannya.

Dan pendapat ini dipegang sejumlah ulama Najd; dan sebagian mereka perkataannya berlainan. Kadang mensyaratkan penegakan hujjah (qiyaamul-hujjah), dan kadang mengatakan: ‘tidak memberikan ‘udzur kejahilan!!’. Lalu orang-orang berpegang pada perkataan yang tidak memberikan ‘udzur kejahilan; dan mengabaikan nash-nash yang jelas yang mensyaratkan adanya penegakan hujjah, dimana seorang muslim yang terjatuh dalam kekufuran tidaklah dikafirkan hingga ditegakkan padanya hujjah. Diantaranya adalah apa yang aku sebutkan kepada kalian dari (perkataan) Al-Imaan Asy-Syaafi’iy rahimahullahu dan nash-nash yang aku sebutkan kepada kalian.

Aku mengenal seorang syaikh faadlil yang tidak memberikan ‘udzur kejahilan. Dan ketika (dulu) kami tinggal di Saamithah, syaikh tersebut mengunjungi kami dan membawa pemikiran ini. Namun demikian, beliau tidak menyalakan api fitnah, tidak membantah/mendebat, dan tidak pula menyesatkan orang yang memberikan ‘udzur kejahilan. Kami dan beliau hidup bersahabat dekat selama empat puluh tahun, dan beliau telah meninggal dunia belum lama ini – semoga Allah merahmati beliau -.

Di antara pintu masuk pemahaman Khawarij modern hari ini adalah persoalan Udzhur biljahl dalam perkara syirik akbar, demikian celah masalah ini yaitu (memberikan) ‘udzur kejahilan atau tidak memberikan ‘udzur, banyak ahlul-fitnah dalam masalah ini adalah aliran Khawarij modern yang berlari-lari di sekitarnya, bahkan permasalahan ini dijadikan komoditas musuh untuk  memecahkan di kalangan Muwahidin, salafiyyiin dan Mujahidin serta menyebabkan mereka bertikai satu dengan yang lainnya. Padahal masalah ini adalah perkara ikhtilaf yang banyak di bangun ijtihad oleh para ulama, ulama-ulama Najd menjadikan celah ini untuk memerangi seluruh Madzhab di Najd dan Hijaz dengan alasan mereka adalah orang-orang murtad dan orang kafir karena telah memberikan Udzhur Biljahl kepada pelaku kemusyrikan.

Udzhur bil Jahl Adalah Perkara Ikhtilaf

Padahal Diantara ulama-ulama tauhid hari ini banyak yang tidak memberikan Udzhur Jahl dalam perkara Syirik Akbar diantaranya adalah ulama kontemporer yang sudah kita kenal karya-karyanya di antara adalah Syaikh Hamud Al-Uqla Rahimahullah, Syaikh Abdul Aziz Bin Baz Rahimahullah, Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz Fakallahu Asrah, Syaikh Nasir Al-Fath Fakallahu Asrah, Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi hafizhahullah dan sebagian ulama mujahidin di Syabab Shumalia, dan sebagian Ulama-ulama Jihadis di pesisir pantai utara Afrika seperti di libya,Aljazair dan Tunisia, akan tetapi sekali lagi mereka tidak mengibarkan bendera Al-wala Wal Barra, menaikan panji permusuhan kepada pihak yang menyelisihinya (pihak yang memberikan Udzhur), tidak pernah kita mendengar mendengar Syaikh Al-Maqdisi mencela kepada ulama apalagi melaknat ulama yang memberikan Udzhur jahl, sesama mereka saling menghormati karena mereka paham ini adalah persoalan Ijtihadi yang banyak di bangun “gholabatuz zhan” banyak sangkaan baik perkara itu adalah perkara Ushul/pokok dan perkara Furu’/ cabang.

Akan tetapi kaum khawarij modern hari ini banyak berdusta dan banyak mengklaim bahwa ini adalah perkara Ushul yang tidak boleh menyelisihinya dan bahkan yang menyelisihinya bisa jatuh pada kekafiran, bukan hanya itu mereka juga tidak amanah dalam hal ilmu.

Udzhur bil Jahl tidak dikenal salaf dan yang Awalnya bukan perkara aqidah

Silahkan lihat dan diteliti kembali kitab-kitab klasik ulama yang membahas masalah aqidah maka kita tidak pernah melihat dan mendapatkan perkara Udzhur biljahl kedalam masalah Aqidah, Dilihat dari literatur kitab-kitab klasik yang tertua, terbukti bahwa Ibnu Hazm lah yang pertama membahas Udzhur bil Jahl, sejatinya ini adalah perkara Fiqh, Furu’iyyah dan Ijtihadiyah. Akan tetapi yang terjadi kemudian, pola ini menjadi acuan dan pijakan takfiriyun untuk membangun aqidahnya, memanipulasinya dari persoalan Fiqh ke dalam perkara Aqidah.

Masalah kebodohan terhadap perkara akidah apakah menjadi udzur atau tidak menjadi udzur merupakan permasalahan fiqih, bukan termasuk pokok-pokok masalah akidah. Permasalahan kebodohan terhadap perkara akidah apakah menjadi udzur atau tidak menjadi udzur dibahas dalam bab kemurtadan (ar-riddah) pada buku-buku fiqih. Sebab tujuan pembahasan tersebut adalah mencari kepastian apakah hujah telah tegak atau belum tegak atas diri mukallaf yang bodoh terhadap sebuah permasalahan tertentu dalam bidang akidah. Barangsiapa tidak mengetahui hukum permasalahan tersebut dan ia bukan orang yang teledor atau lalai dalam menuntut ilmu, maka ia dianggap memiliki udzur. Sebaliknya, barangsiapa tidak mengetahui hukum permasalahan tersebut karena ia teledor atau lalai dalam menuntut ilmu, maka ia dianggap tidak memiliki udzur.

Didalam Diskusi dalil juga dikatakan bahwa masalah Udzhur bil jahl adalah perkara Fiqh, sebagai mana dikatakan …Hal yang lain yang menunjukkan bahwa permasalahan ini adalah permasalahan cabang fiqih, bukan permasalahan pokok-pokok akidah adalah permasalahan ini adalah cara dan sarana untuk mengetahui nama-nama dalam agama (al-asma’, seperti nama: muslim, mukmin, fasik, musyrik, kafir, atau murtad –pent) dan hukum-hukum dalam agama (al-ahkam,seperti: terjaganya nyawa, harta dan kehormatan atau halalnya nyawa, harta, dan kehormatan; bisa mewarisi dan diwarisi atau tidak bisa mewarisi dan diwarisi; boleh menikahi dan dinikahi atau tidak boleh menikahi dan dinikahi).

Karena memvonis seorang muslim dengan vonis kafir, misalnya, karena ia melakukan sebuah kekufuran, menuntut penelitian dan pengkajian tentang kondisi muslim tersebut. Apakah ia memiliki udzur kebodohan karena ia telah berusaha mencari ilmu kebenaran namun tidak mendapatkannya, dan ia bukan orang yang teledor atau meremehkan kewajiban menuntut ilmu? Ataukah ia tidak memiliki udzur kebodohan karena ia meremehkan atau teledor dari kewajiban menuntut ilmu, padahal ia memiliki kesempatan dan kemampuan? Apakah ia memiliki udzur dipaksa yang disertai siksaan keras (al-ikrah) ataukah tidak? Apakah ia memiliki udzur salah memahami dalil (at-ta’wil) ataukah tidak? Apakah ia memiliki udzur kekeliruan dan tiadanya maksud (al-khatha’ atau intifa’ al-qasd) ataukah tidak?

Dengan demikian, permasalahan ini termasuk permasalahan sarana (al-wasail), bukan termasuk permasalahan tujuan dan pokok urusan akidah (al-maqashid dan al-ushul) sehingga orang yang berbeda pendapat tidak divonis sesat, ahli bid’ah, fasik atau kafir. (Masalatul Udzri bil Jahli fi Masailil I’tiqad Dirasah Nazhariyah Ta’shiliyah, hlm. 22-23)

Dengan demikian, permasalahan ini juga termasuk perkara ijtihadiyah, karena permasalahan meremekan atau tidak meremehkan, teledor atau tidak teledor, tidaklah memiliki batasan yang tegas dan baku untuk setiap individu mukallaf. Ia bisa berbeda-beda sesuai perbedaan individu, tempat, dan zaman, sehingga pendapat para ulama pun bisa berbeda-beda dalam menentukannya. (Lihat Naqdhu Asas At-Taqdis hlm. 5 dan Bughyatul Murtaad hlm. 311, keduanya karya Ibnu Taimiyah Al-Harrani dan Thariqul Hijratain wa Babus Sa’adatain, hlm. 611-612 karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah)

Oleh karenanya, syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dan syaikh Athiyatullah Al-Libi menegaskan bahwa masalah ini termasuk permasalahan fiqih. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata,

“Perbedaan pendapat dalam masalah udzur dengan kebodohan adalah seperti perbedaan-perbedaan pendapat dalam masalah fiqih ijtihadiyah lainnya. Dan terkadang perbedaan tersebut hanya berupa perbedaan lafal dalam sebagian kesempatan guna menerapkan hukum atas seorang individu tertentu. Maksudnya, semua pihak sepakat bahwa perkataan (keyakinan) ini adalah kekafiran, atau perbuatan ini adalah kekafiran, atau meninggalkan perkara ini adalah kekafiran. Namun apakah hukum (vonis kafir) ini telah sesuai untuk seorang individu tertentu karena telah terpenuhinya faktor penentu (terpenuhinya syarat pengkafiran –pent) pada dirinya dan tiadanya penghalang pada dirinya; ataukah hukum tersebut tidak sesuai sesuai untuk seorang individu tertentu tersebut karena belum terpenuhinya beberapa faktor penentu (terpenuhinya syarat pengkafiran –pent) pada dirinya atau adanya beberapa penghalang pada dirinya?” (Syarhu Kasyfi Syubuhat, hlm. 37 karya syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin)

Saat membahas beberapa catatan penting seputar permasalahan udzur dengan kebodohan, syaikh Athiyatullah Al-Libiberkata, “Pertama, ketahuilah bahwa masalah ini termasuk masalah ijtihad yang caranya adalah istinbath (penyimpulan hukum) dan cara mengetahuinya adalah penggalian makna dalil, karena ia bukanlah masalah yang telah disebutkan dalilnya secara nash dalam syariat. Wallahu a’lam.

Perkataan kami bahwa permasalahan ini tidak disebutkan dalilnya secara nash dalam syariat bermakna tidak ada nash terhadap masalah ini secara umum dan sebagai sebuah kaedah, misalnya. Hal ini tidak menegasikan bahwa di dalam nash-nash firman Allah dan sabda Rasulullah SAW terdapat hal yang menunjukkan udzur bagi seseorang tertentu pada suatu keadaan tertentu atau keadaan-keadaan lain. Kemudian nash-nash tersebut yang memuat penunjukan-penunjukan tersebut dipakai dan dijadikan dalil oleh para ulama fiqih, dan dalam mengambil kesimpulan hukum (istinbath) dari keseluruhan (penujukan-penunjukan nash tersebut) terjadilah perbedaan pendapat.

Kedua, oleh karena itu berbeda-berbeda pemahaman para ulama dan beragam ijtihad mereka, dan dalam masalah tersebut muncul pendapat-pendapat ulama yang berbeda-beda yang insya Allah akan kami isyaratkan, seperti halnya masalah-masalah ijtihad dan perbedaan pendapat lainnya.

Kelima, Ketahuilah bahwa masalah ini termasuk masalah fiqih (dengan pengertiannya secara istilah yaitu mengetahui hukum-hukum syariat dalam perkara-perkara ‘amaliyah yang disimpulkan dari dalil-dalil yang terperinci). Hal itu karena masalah ini adalah ‘amaliyah dan cara mengetahuinya adalah dengan menggali penunjukan dalil (istidlal) dan menggali kesimpulan hukum (istinbath) seperti yang tadi kami sebutkan.”

Ia berupa fatwa atau keputusan hakim, dan menurut para ulama masalah ini masuk dalam masalah kemurtadan (ar-ridah), yaitu sebuah bab dalam ilmu fikih. Hal ini tidak berarti masalah ini tidak disebutkan dalam pembahasan ilmu akidah dan tauhid, karena tidak samar lagi bahwa masalah ini memiliki kaitan yang erat dengan akidah dan tauhid. Hal ini termasuk bagian dari masuknya satu permasalahan ke dalam beberapa cabang ilmu. Selain itu, setiap hukum syar’i ‘amali memiliki kaitan dengan akidah, yaitu meyakini hukum tersebut. Namun masalah ini lebih spesifik dengan bab fiqih seperti telah saya sebutkan. Baik anda menganggapnya sebagai bagian dari ilmu ini (fiqih) atau ilmu itu (akidah dan tauhid), ia tetap saja termasuk masalah ijtihad.” (Fatwa syaikh Athiyatullah Al-Libi, dimuat dalam situs ana al-muslim)

Kebodohan terhadap masalah akidah yang disepakati oleh ulama bukan menjadi udzur

Kebodohan terhadap tauhid dan masalah-masalah akidah tidaklah satu tingkatan, melainkan bertingkat-tingkat. Oleh karenanya ia terbagi menjadi tiga bagian:

a. kebodohan yang disepakati oleh ulama sebagai udzur.

b. kebodohan yang disepakati oleh ulama tidak menjadi udzur.

c. kebodohan yang diperselisihkan oleh para ulama sebagai udzur atau bukan udzur.

Pembagian ini disebabkan karena sebagian kebodohan terjadi karena ada unsur keteledoran atau meremehkan dari mencari ilmu sehingga ia disepakati oleh ulama bukan menjadi udzur. Sebagian kebodohan terjadi meskipun mukallaf telah berusaha untuk mencari ilmu, sehingga ia disepakati oleh ulama sebagai udzur. Ada juga sebagian kebodohan yang berada di antara kedua keadaan tersebut, sehingga diperselisihkan oleh para ulama menjadi udzur atau bukan udzur.(Masalatul Udzri bil Jahli fi Masailil Aqidah Dirasah Nazhariyah Ta’shiliyah, hlm. 26)

Kebodohan terhadap masalah akidah yang disepakati oleh ulama bukan menjadi udzur adalah kebodohan yang kembalinya kepada tidak mengetahui secara global (al-ilmu al-ijmali) makna syahadat Laa Ilaaha Illa Allah Muhammad Rasulullah SAW, karena pengetahuan secara global terhadap makna dua kalimat syahadat adalah syarat sah syahadat.

Kebodohan seperti itu hanya terjadi karena adanya unsur meremehkan atau teledor dari kewajiban menuntut ilmu. Sebagian ulama bahkan berpendapat kebodohan seperti itu tidak ada sama sekali, karena hujah (bukti-bukti dan dakwah kebenaran) atas masalah tersebut telah tegak atas setiap individu.

Para ulama menyebutkan di antara bentuk-bentuk kebodohan yang disepakati tidak menjadi   udzur adalah sebagai berikut:

1. Tidak mengetahui hakekat dakwah Nabi Muhammad SAW yang mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah SWT semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Maka ia memperbolehkan beribadah kepada selain Allah atau ia meyakini ada sesuatu makhluk selain Allah yang berhak diibadahi, atau meyakini dan menamakan sesuatu makhluk sebagai Allah (Tuhan) yang berhak diibadahi. Kebodohan seperti ini menurut kesepakatan ulama tidak menjadi udzur. Pelakunya menurut kesepakatan ulama adalah orang kafir murtad dan tidak diberi udzur atas kebodohannya.

 Contoh:

  • Seorang muslim yang terkena virus sepilis (sekulerisme, pluralisme dan liberalisme) sehingga ia meyakini semua agama baik dan benar. Keyakinan ini berarti mengakui adanya makhluk selain Allah yang berhak diibadahi. Sebab agama selain Islam beribadah kepada selain Allah dan menuhankkan selain Allah. Orang Hindu beribadah kepada para dewa. Orang Budha beribadah kepada manusia (Sidharta Gautama), orang Sinto beribadah kepada matahari. Orang Kristen beribadah kepada Isa bin Maryam, Maria, dan Roh Kudus Yesus. Orang Konghucu beribadah kepada patung-patung dewa. Dan seterusnya. Meyakini semua agama baik dan benar berarti membenarkan peribadatan orang-orang kafir tersebut kepada makhluk selain Allah. Maka ia telah murtad menurut kesepakatan ulama dan tidak berlaku udzur kebodohan bagi dirinya.
  • Para filosof yang meyakini makhluk selain Allah boleh diibadahi. Seperti Fakhruddin Ar-Razi, seorang filosof, ulama tafsir dan fiqih yang mengarang buku As-Sirru Al-Maktum fis Sihri wa Mukhathabatin Nujum, di mana ia membolehkan bahkan menganggap baik peribadatan kepada matahari, bulan, bintang, dan benda-benda langit lainnya. Buku tersebut ia tulis sebagai hadiah bagi ibu dari penguasa Daulah Syiah Khawarizm Syah, sultan Alauddin Muhammad bin Laksy bin Jalaluddin Khawarizm Syah. Para ulama sepakat memvonis dirinya murtad dan udzur kebodohan tidak berlaku bagi dirinya (Majmu’ Fatawa, 13/180-181 karya syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)
  • Kelompok Syi’ah Saba’iyah menurut kesepakatan ulama adalah orang-orang murtad karena mereka dengan terang-terangan meyakini dan mengakui khalifah Ali bin Abi Thalib RA adalah Rabb yang menciptakan dan memberi mereka rizki. Ali bin Abi Thalib RA  telah memerintahkan mereka untuk bertobat, namun mereka tetap bersikeras di atas keyakinan mereka. Maka Ali bin Abi Thalib menghukum mati mereka dengan dibakar di gerbang masuk kota Kindah, Irak pada masa kekhalifahannya. Hadits tentang peristiwa tersebut diriwayatkan oleh imam Abu Thahir Al-Mukhlis dari Syarik Al-Amiri dengan sanad hasan (Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, 12/270 karya imam Ibnu Hajar Al-Asqalani)  Jika seorang muslim meyakini seorang makhluk sebagai Tuhan Yang menciptakan, memberi rizki, mengatur alam semesta, menghidupkan atau mematikan maka berarti ia mengakui adanya Ilah dan Rabb selain Allah. Ulama sepakat menyatakan orang seperti ini kafir murtad dan tidak berlaku udzur kebodohan bagi dirinya.
  • Kelompok Syi’ah Isma’iliyah meyakini bahwa Allah adalah Dzat Yang tidak memiliki sifat kesempurnaan apapun. Mereka meyakini bahwa Allah menciptakan makhluk pertama yang memiliki sifat kesempurnaan, yaitu Al-‘Aql Al-Awwal atau Al-‘Aql Al-Kulli (akal pertama atau akal yang menyeluruh). Mereka meyakini Al-Aql Al-Awwal adalah Maha Esa, Maha Kekal, dan Maha menciptakan seluruh makhluk lainya. Mereka juga meyakini bahwa para imam kelompok Syi’ah Isma’iliyah adalah cahaya Allah, wajah Allah, pinggang Allah, dzat yang akan melakukan perhitungan amal manusia pada hari kiamat dan memasukkan manusia ke surga atau neraka, Dzat Yang Maha Esa, Maha memenuhi seluruh kebutuhan hamba, jalan yang lurus, Al-Qur’an yang mulia, dan sifat-sifat ke-Tuhanan lainnya. Mereka meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib memiliki kedudukan di atas seluruh nabi dan wali, sebab Ali bin Abi Thalib adalah Dzat Yang Maha Esa (Al-Fardhu Al-Ahad), Maha memenuhi seluruh kebutuhan hamba (Ash-Shamad), tiada sekutu baginya dan tiada seorang makhluk pun yang setara dengannya. (Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Islami Aqaiduha wa Hukmul Islam Fiha, hlm. 86-89 dan 102-105 karya syaikh Muhammad bin Ahmad Al-Khathib)

Kelompok Syiah Isma’iliyah berhasil mendirikan sebuah negara di Maghrib (Tunisia) kemudian menaklukkan Mesir. Mereka menamakan negaranya secara palsu Daulah Fathimiyah, sedangkan para ulama Islam menamakannya Daulah Ubaidiyah. Para ulama Islam telah sepakat para penguasa Daulah Ubaidiyah adalah orang-orang kafir murtad. (Siyar A’lam An-Nubala’, 15/154-156 karya imam Adz-Dzahabi, Tartibul Madarik wa Taqribul Masalik, 3/30 karya qadhi Iyadh bin Musa Al-Yahsibi, dan Majmu’ Fatawa, 35/138-139 karya syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)

  • Kelompok Qaramithah, salah satu cabang dari kelompok Syi’ah Isma’iliyah, memiliki keyakinan yang sama dengan Syi’ah Isma’iliyah. Perbedaannya, kelompok Qaramithah secara terang-terangan menerapkan akidah dan agama Syi’ah Isma’iliyah di negara yang mereka kuasai yaitu Bahrain pada abad 3 dan 4 Hijriyah. Sementara Daulah Ubaidiyah tidak bisa sepenuhnya menerapkan akidah dan agama Syi’ah Ismailiyah di wilayah kekuasaannya, Mesir, karena mayoritas penduduknya adalah ahlus sunnah yang memusuhi Syi’ah Ismailiyah. Sesuai arahan dari raja Daulah Ubaidiyah, Ubaidullah Al-Mahdi kepada raja Qaramithah, Sulaiman bin Said Al-Janabi (Abu Sa’id Al-Janabi), kelompok Qaramithah menerapkan agama Syi’ah Isma’iliyah secara terang-terangan karena kekuatan yang mereka miliki.

Kepada masyarakat, Qaramithah menerapkan doktrin bahwa Al-Aql Al-Awwal atau Al-Aql Al-Kulli adalah Tuhan Yang Maha Sempurna dan Maha menciptakan seluruh makhluk. Mereka meyakini Imam (pemimpin kelompok Qaramithah) adalah penampakan dari Tuhan. Oleh karena itu kelompok Qaramtihah meyakini segala bentuk ibadah dan sifat kesempurnaan harus ditujukan kepada Imam, sebagai hijab dan bab (penghubung dan perantara) dengan Tuhan Yang di langit. ((Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Islami Aqaiduha wa Hukmul Islam Fiha, hlm. 159-161 karya syaikh Muhammad bin Ahmad Al-Khathib).

Para ulama Islam sepakat bahwa kelompok Qaramithah adalah orang-orang murtad dan udzur kebodohan tidak berlaku bagi mereka.

  • Kelompok Nushairiyah, sebuah kelompok sempalan dari Syi’ah Isma’iliyah, meyakini bahwa Tuhan Yang menciptakan, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan adalah Ali bin Abi Thalib. Oleh sebab itu mereka beribadah kepada Ali bin Abi Thalib. Mereka juga meyakini ketuhanan tiga unsur; Ali bin Abi Thalib, Muhammad bin Abdillah SAW, dan Salman Al-Farisi.

Mereka meyakini Allah secara berturut-turut menampakkan diri-Nya dalam wujud manusia agar dikenali dan diibadahi oleh umat manusia. Menurut keyakinan mereka, Allah menampakkan diri-Nya dalam wujud; Habil putra Adam, kemudian pada diri Syits, kemudian pada diri Sam putra Nuh, kemudian pada diri Ismail putra Ibrahim, kemudian pada diri Harun saudara Musa, kemudian pada diri Sham’un Ash-Shafa yang di kalangan umat Nasrani disebut Petrus, dan terakhir pada diri Ali bin Abi Thalib.

Mereka meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib secara batin adalah Tuhan yang berhak disembah (Ilah) dan secara lahir adalah imam, ia tidak beranak dan tidak diperanakkan, kekal selamanya tidak pernah mati dan tidak pernah dibunuh, tidak makan dan tidak minum, dan ia mengangkat Muhammad bin Abdullah SAW sebagai juru bicara. (Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Islami Aqaiduha wa Hukmul Islam Fiha, hlm. 341-354 karya syaikh Muhammad bin Ahmad Al-Khathib) Maka ulama Islam sepakat bahwa mereka adalah orang-orang murtad dan udzur kebodohan tidak berlaku bagi mereka.

  • Kelompok Druz, sebuah kelompok sempalan dari Syi’ah Isma’iliyah, meyakini bahwa Tuhan Yang menciptakan, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan adalah Al-Hakim bi Amrillah (Abu Ali Al-Manshur bin Nizar Al-Aziz billah Al-Ubaidi, 375-411 H), raja ketiga Daulah Ubaidiyah jika dihitung dari penguasaan Mesir dan raja keenam Daulah Ubaidiyah jika dihitung dari pendirian negara di Tunisia. Mereka meyakini Al-Hakim bi Amrillah adalah Rabb dan Ilah (Tuhan Yang berhak untuk diibadahi). Mereka meyakini Allah mengambil jasad manusia sebagai penampakan di muka bumi, yaitu Allah menampakkan dirinya di dunia dalam jasad Al-Hakim bi Amrillah agar seluruh umat manusia mengenal dan beribadah kepadanya. (Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Islami Aqaiduha wa Hukmul Islam Fiha, hlm. 223-238 karya syaikh Muhammad bin Ahmad Al-Khathib)

Al-Hakim bi Amrillah sendiri juga mengklaim dirinya adalah Tuhan yang berhak diibadahi, walaupun akhirnya ia mencabut klaimnya atas saran para penasehatnya karena khawatir pemberontakan rakyat Mesir terhadapnya. (At-Tarikh Al-Islami, 28/283 dan Siyar A’lam An-Nubala’, 15/173-177 keduanya karya imam Adz-Dzahabi)

Maka ulama Islam sepakat bahwa mereka adalah orang-orang murtad dan udzur kebodohan tidak berlaku bagi mereka.

2. Meyakini ada sebagian manusia yang tidak wajib beribadah kepada Allah. Seorang yang meyakini bahwa sebagian manusia tidak wajib beribadah kepada Allah atau tidak memiliki kewajiban melaksanakan perintah syariat Islam dan meninggalkan larangan syariat Islam, maka para ulama telah sepakat bahwa ia kafir murtad dan udzur kebodohan tidak berlaku baginya. Contoh:

– Kelompok sufi ekstrim yang berpendapat bahwa seorang sufi yang telah menggapai tingkatan (maqam) ma’rifah telah gugur atasnya kewajiban-kewajiban agama, sehingga ia tidak wajib beribadah kepada Allah SWT. Seperti kelompokHululiyah, Ittihadiyah, dan Wihdatul Wujud dengan tokohnya seperti Al-Hallaj, Muhyiddin Ibnul Arabi, Ibnu Faridh, At-Tilmisani, Ash-Shadr Al-Qaunawi, Ibnu Sab’in, Syamsuddin At-Tibrizi, syaikh Siti Jenar, dan lain-lain. 

– Kelompok Nushairiyah yang meyakini bahwa para imam dan pemimpin kelompok mereka telah gugur atas diri mereka kewajiban-kewajiban agama, sehingga mereka tidak wajib beribadah kepada Allah SWT. Menurut keyakinan mereka, semua larangan Islam (seperti berzina, homoseksual, lesbian, minuman keras, dan lain-lain) telah halal bagi mereka dan semua perintah Islam (dua kalimat syahadat, shalat, zakat, shaum Ramadhan, haji, dan lain-lain) telah gugur atas diri mereka.

– Kelompok Druz yang meyakini bahwa rukun Islam yang lima telah gugur atas diri para imam dan anggota kelompok mereka, sehingga mereka tidak wajib beribadah kepada Allah SWT. Menurut keyakinan mereka, semua larangan Islam (seperti berzina, homoseksual, lesbian, minuman keras, dan lain-lain) telah halal bagi mereka dan semua perintah Islam (dua kalimat syahadat, shalat, zakat, shaum Ramadhan, haji, dan lain-lain) telah gugur atas diri mereka. (Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Al-Islami, hlm. 276-284)

3. Tidak mengetahui bahwa Allah dan Rasulullah SAW itu dua hal yang berbeda karena nama keduanya disejajarkan dalam dua kalimat syahadat.

Imam Abu Abdillah Mayarah Muhammad bin Ahmad Al-Maliki (wafat  1072 H) dalam bukunya Ad-Durru Ats-Tsamin fi Syarh Al-Mursyid Al-Mu’in menyebutkan bahwa para ulama Bijayah di Magrib (Tunisia) pada abad 11 Hijriyah berkumpul dan melakukan kajian. Di antara permasalahan yang mereka kaji adalah bagaimana pendapat para ulama tentang seseorang yang melakukan amalan-amalan kebaikan bersama masyarakat, namun ia tidak mengetahui benar atau salahnya amalan tersebut, ia tidak mengetahui makna Laa Ilaaha Illa Allah, ia tidak membedakan antara Allah dan Rasul-Nya SAW karena (lafal Allah dan Rasulullah SAW, pent) disejajarkan dalam dua kalimat syahadat? Para ulama Bijayah menjawab, “Hal ini tidak terjadi kecuali pada penduduk pedalaman (badui) di mana tidak ada ilmu pada mereka.” Sebagian ulama saat itu bertanya, “Jika demikian keadaannya, apakah ia memiliki bagian dalam Islam?” Para ulama yang hadir semuanya menjawab bahwa orang itu dan orang yang sepertinya tidak memiliki bagian apapun dalam Islam.”

Imam Muhammad bin Ismail bin Al-Amir Ash-Shan’ani mengomentari, “Jawaban yang mereka fatwakan tersebut sangat jelas, tidak mungkin ada dua orang yang berselisih pendapat tentangnya.” (Tathirul I’tiqad ‘an Adranil Ilhad, hlm. 74 karya imam Ash-Shan’ani dan Taisirul ’Azizil Hamid Syarh Kitab Tauhid, hlm. 60 karya syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab)

4. Tidak mengetahui bahwa Dzat Allah dan sifat-Nya berbeda dengan dzat makhluk-Nya atau meyakini Dzat Allah bersatu dengan dzat makhluk-Nya atau meyakini Dzat Allah bersemayam dalam dzat makhluk-Nya. Ulama sepakat menyatakan muslim yang memiliki keyakinan seperti ini telah murtad dan udzur kebodohan tidak berlaku untuk dirinya.

Contoh:

– Kelompok Nushairiyah yang meyakini Dzat Allah bersemayam dalam diri Ali bin Abi Thalib RA. Mereka meyakini bahwa setelah Ali bin Abi Thalib meninggalkan jasad manusianya, ia bersemayam pada bulan atau matahari. Oleh karena itu sebagian kelompok Nushairiyah beribadah kepada bulan (disebut juga kelompok Shimaliyah), dan sebagian kelompok Nushairiyah lainnya beribadah kepada matahari (disebut juga kelompok Kalaziyah). (Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Al-Islami, hlm. 323)

– Kelompok Druz yang meyakini Dzat Allah bersemayam dalam diri raja daulah Ubaidiyah Mesir, Al-Hakim bi Amrillah.(Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Al-Islami, hlm. 323)

– Kelompok Satria Piningit Weteng Buwono yang meyakini manunggaling wujud (Allah menitis pada jasad pemimpin kelompok ini, yaitu Agus Imam Sholichin) sehingga meyakini tidak ada kewajiban shalat kepada Allah SWT.

– Kelompok sufi ekstrim yang meyakini Allah bersatu dengan jasad makhluk, seperti aliran Ittihadiyah, Al-Hululiyah, danWihdatul Wujud. Kelompok  Ittihadiyah meyakini ada dua Dzat yang bersatu yaitu Dzat Allah dan dzat makhluk. KelompokHululiyah meyakini ada dua dzat, yaitu Dzat Allah dan dzat makhluk, lalu Dzat Allah menempati jasad makhluk-Nya sehingga kedua dzat itu menyatu, namun kedua dzat itu bisa berpisah kembali. Kelompok Wihdatul Wujud meyakini bahwa hanya ada satu dzat, Dzat Allah adalah juga dzat makhluk, sehingga semua makhluk di alam semesta ini adalah Dzat Allah itu sendiri. (At-Takfir wa Dhawabituhu, hlm. 57-58 karya syaikh Safar Al-Hawali)

Qadhi Abu Yusuf meriwayatkan bahwa imam Abu Hanifah berkata, “Tidak ada udzur bagi seorang pun atas kebodohannya (ketidak tahuannya) tentang Sang Penciptanya, karena kewajiban seluruh makhluk adalah mengenal Rabb SWT dan mengesakan-Nya, berdasar apa yang ia lihat berupa penciptaan langit dan bumi, penciptaan dirinya, dan penciptaan seluruh makhluk Allah yang lain. Adapun perintah-perintah agama, maka barangsiapa belum mengetahuinya dan ilmunya belum sampai kepada dirinya, maka hujah secara hukum belum tegak atas dirinya.” (Badai’u ash-Shanai’ fi Tartibis Syarai’, 9/521 karya imam ‘Alauddin Al-Kasani Al-Hanafi)

Imam Ibnu Hazm Azh-Zhahiri berkata, “Adapun orang yang mengatakan bahwa Allah adalah si fulan yaitu seseorang tertentu, atau ia menyatakan bahwa Allah bersemayam (menyatu) dengan jasad seorang makhluk-Nya, atau ia menyatakan sepeninggal Nabi Muhammad SAW ada seorang nabi selain Isa bin Maryam, niscaya tidak ada dua orang pun yang berselisih dalam mengkafirkan orang tersebut, karena secara sah hujah atas setiap masalah tersebut telah tegak atas setiap orang.” (Al-Fashl fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal, 3/293 karya Imam Ibnu Hazm Azh-Zhahiri)

Imam Al-Anshari Muhammad bin Nizhamuddin Al-Hindi Al-Hanafi saat menjelaskan tentang kebodohan yang bisa menjadi udzur dan kebodohan yang tidak biisa menjadi udzur, mengatakan, “Kebodohan yang tidak bisa menjadi udzur dalam keadaan apapun, tidak di dunia tidak pula di akhirat, dan tidak menjadi syubhat pula, adalah seperti kebodohan orang kafir terhadap Dzat Allah dan Rasul-Nya, karena bukti-bukti yang menunjukkan atas keesaan (Allah), sifat-sifat (Allah), dan kerasulan baik berupa alam semesta maupun mu’jizat (para nabi dan rasul, pent) sangat jelas. Sehingga ia telah termasuk perkara dharuriyat (kepastian) yang sangat terang, maka mengingkari perkara-perkara yang telah pasti (dharuriyat) adalah kesombongan, sehingga tidak diperhitungkan dan tidak dijadikan udzur.”(Fawatihur Rahmaut Syarh Musallam Ats-Tsubut karya imam Al-Anshari Al-Hanafi, dalam catatan pinggir Al-Musthasfa fi Ushulil Fiqh, 2/387)

5. Tidak mengetahui bahwa nabi Muhammad bin Abdullah SAW adalah penutup seluruh nabi dan rasul, dan syariat beliau adalah syariat terakhir untuk seluruh manusia dan jin sampai hari kiamat. Ulama sepakat bahwa seorang muslim yang mengklaim dirinya sebagai nabi sepeninggal Rasulullah SAW atau ia membenarkan klaim kenabian seseorang sepeninggal Rasulullah SAW, maka orang tersebut telah kafir murtad dan udzur kebodohan tidak berlaku atas dirinya.

Contoh:

  • Pengikut agama Salamullah yang membenarkan klaim Lia ‘Eden’ Aminuddin bahwa malaikat Jibril menyampaikan wahyu kepadanya.
  • Pengikut agama Ahmadiyah atau Qadiyaniyah yang meyakini Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi yang menerima wahyu dari Allah dan memiliki kitab suci tersendiri yaitu At-Tadzkirah.
  • Kelompok Nushairiyah meyakini pendiri kelompok mereka, Muhammad bin Nushair An-Numairi (mati tahun 270 H), adalah nabi yang menerima wahyu Allah. (Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Al-Islami, hlm. 261-266)
  • Kelompok Druz yang meyakini tokoh kelompok mereka Hamzah bin Ali bin Ahmad Az-Zuzuni (mati tahun 431 H) adalah nabi yang menunjukkan umat manusia untuk beribadah kepada Al-Hakim bi Amrillah, sekaligus sebagai malaikat yang menurunkan wahyu Al-Qur’an kepada nabi Muhammad SAW, penghapus syariat seluruh nabi, yang mematikan dan membangkitkan seluruh manusia, bahkan Tuhan sebab ia adalah Al-Aql Al-Kulli. (Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Al-Islami, hlm. 261-266)
  • Ahmad Mushaddiq yang mengklaim dirinya adalah nabi yang menerima wahyu dari Allah setelah bertapa di gunung Bunder dan para pengikutnya yang membenarkan ajarannya.

Inilah sebagian bentuk kebodohan yang disepakati oleh ulama tidak menjadi udzur bagi seorang muslim. Dalil-dalil dari Al-Qur’an, as-sunnah, dan ijma’ atas hal-hal di atas sudah sangat terkenal dan dipaparkan panjang lebar oleh para ulama dalam buku-buku akidah (diskusi dalil, Ust Abu Ammar)

Kesimpulan

Dikarenakan permasalahan ini semakin jelas, maka kami menghimbau kepada pihak-pihak yang ngotot dan memaksakan diri, bahkan melakukan kedustaan didalam mempertahankan keyakinannya, berani yakin terhadap perkara-perkara Zhonniyat, memasang bendera wala wal barra kepada orang yang menyelisishinya, bahkan memberikan lakop buruk dengan sebutan jahmiyyun, Murjiah, Bid’ah, Shahawat dan Murtad kafir bukan langkah bijak dan bukan sikap ahlu sunnah, bahkan jika kita bandingkan maka pendapat yang paling rajih adalah memberikan Udzhur biljahl, maka untuk itu cara-cara orang seperti Aman Abdurahman adalah langkah para ahlu bid’ah,  bahkan mengkafirkannya adalah perbuatan keji dan dosa.

Maka sebetulnya metode Pengkafiran adalah hukum syar’i dan merupakan hak murni milik Allah ta’ala, tidak dimiliki oleh individu atau kelompok tertentu.

Konsekuensi dari kaidah ini adalah seseorang tidaklah dikafirkan kecuali yang memang telah dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

وهذا بخلاف ما كان يقوله بعض الناس كأبي إسحاق الإسفراييني ومن اتبعه يقولون لا نكفر إلا من يكفر فإن الكفر ليس حقا لهم بل هو حق لله وليس للإنسان أن يكذب على من يكذب عليه ولا يفعل الفاحشة بأهل من فعل الفاحشة بأهله بل ولو استكرهه رجل على اللواطة لم يكن له أن يستكرهه على ذلك ولو قتله بتجريع خمر أو تلوط به لم يجز قتله بمثل ذلك لأن هذا حرام لحق الله تعالى ولو سب النصارى نبينا لم يكن لنا أن نسبح المسيح والرافضة إذا كفروا أبا بكر وعمر فليس لنا أن نكفر عليا

“Hal ini bertentangan dengan pekataan sebagian orang seperti Abu Ishaq Al-Isfirayiiniy serta orang yang mengikuti pendapatnya, mereka mengatakan : Kami tidak mengkafirkan kecuali orang-orang mengkafirkan (kami). (Perkataan ini salah), karena takfir itu bukanlah hak mereka tapi hak Allah. Seseorang tidak boleh berdusta kepada orang yang pernah berdusta atas namanya. Tidak boleh pula ia berbuat keji (zina) dengan istri seseorang yang pernah menzinahi istrinya. Bahkan kalau ada orang yang memaksanya untuk melakukan liwath (homo sex), tidak boleh baginya untuk membalas dengan memaksanya untuk melakukan perbuatan yang sama, karena hal ini merupakan pelanggaran terhadap hak Allah. Seandainya orang Nashrani mencela Nabi kita, kita tidak boleh mencela Al-Masih (‘Isa ‘alaihis-salaam). Demikian pula seandainya orang-orang Rafidlah mengkafirkan Abu Bakar dan ‘Umar, tidak boleh bagi kita untuk mengkafirkan ‘Aliradliyallaahu ‘anhum ajma’iin[Minhajus-Sunnah, 5/244 – Muassasah Qurthubah, Cet. 1 Th. 1406].

Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata dalam Qashidah Nuniyyah-nya :

الكفر حق الله ثم رسوله*** بالنص يثبت لا بقول فلان

من كان رب العالمين وعبده*** قد كفراه فذاك ذو الكفران

“Kekafiran itu adalah hak Allah dan Rasul-Nya — dengan nash yang tetap bukan dengan perkataan si Fulan

Barangsiapa yang Allah dan Rasul-Nya —- telah mengkafirkannya maka diaah orang kafir”

[Qashidah Nuniyyah, hal. 277; Maktabah Ibni Taimiyyah, Cet. 2/1417, Kairo].

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata :

الحكم بالتكفير والتفسيق ليس إلينا بل هو إلى الله تعالى ورسوله صلى الله عليه وسلم، فهو من الأحكام الشرعية التي مردها إلى الكتاب والسنة، فيجب التثبت فيه غاية التثبت، فلا يكفر ولا يفسق إلا من دل الكتاب والسنة على كفره أو فسقه.

“Menghukumi kafir atau fasiq bukanlah hak kita, namun ia merupakan hak Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ia merupakan hukum-hukum syari’ah yang harus dikembalikan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Oleh karena itu, wajib untuk menelitinya dengan seksama. Tidak boleh mengkafirkan atau memfasikkan kecuali orang-orang yang memang telah ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang kekafirannya atau kefasikannya” [Al-Qawaaidul-Mutslaa, hal. 87; Universitas Islam Madinah, Cet. 3/1421].

Kedua : Asal dari seorang muslim secara dhahir adalah ‘adil dan tetap di atas ke-Islaman serta keadilannya sampai benar-benar diketahui lenyapnya dua hal tersebut darinya berdasarkan dalil syar’i.

Tidak boleh menggampangkan dalam mengkafirkan atau memfasikkannya karena dalam hal ini terdapat dua larang besar:

a.  Membuat-buat kedustaan terhadap Allah ta’ala dalam menghukumi dan terhadap orang yang dihukumi.

b.  Terjatuh dalam hal menuduh saudaranya, jika dia selamat dari tuduhan itu.

عن ابن عمر؛ أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : “إذا كفر الرجل أخاه فقد باء بها أحدهما”.

Dari Ibnu ‘Umar: Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

“Apabila seseorang mengkafirkan saudaranya, maka hal itu akan kembali pada salah satu dari keduanya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6104 dan Muslim no. 60].

Oleh sebab itu, merupakan kewajiban sebelum menghukumi seorang muslim dengan kekafiran atau kefasikan untuk memperhatikan dua perkara ini:

a) Bahwasannya Al-Qur’an dan As-Sunnah menunjukkan bahwa suatu perkara atau perbuatan itu mengharuskan kekafiran dan kefasikan (pelakunya).

b) Kesesuaian hukum tersebut, untuk diterapkan terhadap pembicara dan pelaku tertentu, dimana telah terpenuhi syarat-syarat pengkafiran dan pemfasikan pada dirinya serta tidak ada penghalang/pencegah yang menghalangi penjatuhan hukum tersebut.

Abu Jihad al Indunisi.

* * * * * * * * * * * *

Potret Pemikiran Tidak Adanya Udzur Jahil dalam Masalah Syirik Akbar, Dan Siapa Saja Yang Menganut Pemikiran Ini

Penulis:

Sultan bin Abdul Rahman al-Amiri

Gambaran dari pemahaman ini adalah bahwa apabila seorang muslim itu terjatuh dalam sebuah syirik akbar karena ketidaktahuannya mengenai hukumnya maka lepaslah status keislamannya dan dia dianggap telah keluar dari Islam. Di dunia tidak diberlakukan hukum-hukum yang berlaku bagi orang Islam; sehingga tidak boleh sholat di belakangnya, jika dia fakir tidak diperbolehkan membayar zakat kepadanya, jika mati tidak boleh didoakan kebaikan buatnya, tidak disholatkan, tidak dikafani, tidak dikuburkan di pekuburan kaum muslimin, tidak diwarisi, tidak ditunaikan kurbannya dan tidak boleh dimintakan ampunan. Namun di dunia ini dia diperlakukan dengan hukum-hukum yang berlaku buat orang-orang kafir.

Sampai batas ini banyak kelompok yang menganutnya. Akan tetapi selebihnya mereka berselisih pendapat:

Di antara mereka ada yang memastikan bahwa apabila seorang muslim itu terjerumus dalam kesyirikan karena ketidaktahuannya maka dia ini kafir dan keluar dari agama Islam dan statusnya di akherat seperti orang-orang kafir yaitu kekal di neraka jahannam selama-lamanya.

Di antara mereka ada yang tidak memastikan kekafirannya, namun yang mereka pastikan hanyalah lepasnya status keislamannya dan tersematnya status musyrik. Sementara di akherat mereka hukumnya sama dengan orang-orang yang hidup di masa fatroh (masa yang kosong dari kenabian).

Para penganut paham ini membedakan antara status di dunia dengan status di akherat. Bagi mereka, ketidaktahuan itu bukanlah udzur yang menghalangi berlakunya hukum di dunia. Makanya hukum itu berlaku bagi setiap orang yang tetjatuh dalam kesyirikan baik karena tidak tahu maupun karena takwil. Ketidaktahuan itu hanya menjadi udzur untuk mendapatkan siksaan di akherat.

Di sini kami akan menyebutkan perkataan para ulama yang berpendapat lepasnya status Islam dari orang yang terjerumus dalam kesyirikan karena ketidak tahu, tanpa membedakan antara yang memastikan kekafirannya dan yang tidak memastikan. Karena dua pendapat tersebut hasilnya sama saja untuk hukum yang berlaku di dunia. Akan tetapi kajiannya akan lebih mengarah kepada yang tidak memastikan kafirannya dan hanya menyematkan status musyrik saja; karena pendapat ini lebih banyak menyebar, lebih banyak pendukungnya dan lebih banyak dalil yang digunakannya.

Orang-orang Yang Menganut Pemahaman Kedua:

Dasar pemikiran seperti ini dibangun berdasarkan ungkapan-ungkapan sejumlah imam dakwah Nejed. Mereka juga memiliki kesimpulan-kesimpulan yang mengarah kepada paham semacam ini. Di antaranya adalah kesimpulan yang disampaikan oleh Hamd bin Nashir bin Ma’mar. Ia pernah ditanya tentang orang-orang yang hidup pada jamannya; apakah mereka itu orang-orang murtad ataukah status mereka itu sama dengan para penyembah berhala? Iapun menjawab: “Adapun orang yang telah masuk Islam di antara mereka lalu murtad maka mereka itu statusnya adalah orang-orang murtad. Orang-orang seperti mereka ini statusnya jelas bagimu. Adapun yang belum pernah masuk Islam, sehingga dakwah Islam itu datang kepadanya ketika dalam keadaan kafir seperti para penyembah berhala, maka statusnya adalah kafir asli. Karena kita tidak mengatakan bahwa pada asalnya mereka itu statusnya Islam sementara kekafiran itu muncul kemudian. Akan tetapi kita mengatakan: orang-orang yang tumbuh di tengah-tengah orang-orang kafir, yang mendapatkan bapak-bapak mereka menyekutukan Allah, mereka itu statusnya sama dengan bapak-bapak mereka, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits shohih yang berbunyi: (( … maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya yahudi atau nasrani atau majusi..)). Maka jika ajaran agama bapak-bapak mereka itu menyekutukan Allah, lalu mereka tumbuh dan meneruskan apa yang dianut bapak-bapak mereka, maka kita tidak akan katakan bahwa mereka itu status asalnya adalah Islam sementara kekafiran itu datang kemudian kepada mereka. Akan tetapi yang kita katakan adalah: Mereka itu adalah orang-orang kafir asli.” (Ad-Duror As-Saniyah 10/335, lihat juga Majmu’atu Ar-Rosail Wa Al-Masail An-Najdiyah 1/489)

Di antara pernyataan lainnya adalah apa yang dianut oleh Syaikh Abdullah Abu Buthen, di mana dia mengatakan: “Siapa saja yang pada hari ini melakukan itu semua di tempat-tempat ziyarah tersebut, maka tidak diragukan lagi bahwa dia itu musyrik dan kafir berdasarkan petunjuk Al-Qur’an, Sunnah dan ijma’. Dan kita tahu bahwa di antara mereka yang melakukan perbuatan tersebut dan yang mengaku Islam itu, tidaklah terjerumus dalam perbuatan tersebut kecuali karena ketidaktahuannya. Karena jika mereka mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan itu justru menjauhkan mereka dari Allah dengan sejauh-jauhnya, dan bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan syirik yang diharamkan Allah tentu mereka tidak akan melakukannya. Maka seluruh ulama’pun mengkafirkan mereka dan tidak memberikan udzur kepada mereka lantaran ketidaktahuan mereka sebagimana yang dikatakan oleh sebagian orang sesat yang mengatakan: Mereka ini mendapatkan udzur karena mereka tidak tahu.” (Ad-Duror As-Saniyah 10/405)

Para imam dakwah nejed juga punya kesimpulan-kesimpulan lain yang akan kami sebutkan di sela-sela pembahasan nanti.

Ulama lain yang pernyataan-pernyataannya menunjukkan kepada pemahaman seperti ini adalah Ash-Shon’ani. Dia memiliki kesimpulan bahwa sebutan kafir itu tersematkan kepada orang muslim yang terjerumus ke dalam perbuatan syirik. Di mana ia mengatakan: “Apakah orang-orang yang memiliki keyakinan tertentu terhadap pekuburan, para wali, orang-orang fasik dan orang-orang bejat itu statusnya menjadi musyrik sebagaimana para penyembah berhala?

Jawab saya: Ya, karena mereka telah melakukan apa yang dilakukan oleh para penyembah berhala tersebut, dan telah menyamakan diri dengan mereka dalam perbuatan tersebut. Bahkan mereka itu lebih kuat dalam keyakinan, ketundukan dan peribadatan. Maka tidak ada bedanya mereka itu.

Jika engkau mengatakan: Orang-orang yang beribadah kepada kuburan itu kan mengatakan; Kami itu tidak menyekutukan Allah SWT ataupun membuat tandingan, sedangkan bersandar kepada para wali dan memiliki keyakinan tertentu kepada mereka itu bukan syirik!

Jawab saya: Ya, mereka mengatakan dengan mulut mereka sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang ada dalam hati mereka. Akan tetapi ini merupakan kebodohan mereka terhadap makna kemusyrikan, karena sesungguhnya mengagungkan para wali dan menyembelih kurban kepada mereka itu perbuatan syirik.

Jika engkau mengatakan: Mereka kan tidak tahu bahwa mereka itu musyrik lantaran melakukan apa yang mereka lakukan tersebut.

Jawab saya: Para ulama fikih telah menegaskan di dalam kitab-kitab fikih bab kemurtadan bahwa siapa saja mengucapkan kata-kata kekafiran maka dia kafir meskipun dia tidak bermaksud kepada makna yang terkandung dalam kata-kata tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa mereka itu tidak memahami hakekat Islam dan apa itu tauhid. Dengan begitu maka mereka menjadi orang-orang kafir asli.” (Tathirul I’tiqod, karangan Ash-Shon’ani, hal. 23)

Di antara yang berpendapat tidak ada udzur ketidaktahuan dalam masalah syirik adalah Asy-Syaukani, di dalam fatwa-fatwanya ia mengatakan: “Siapa saja yang terjerumus dalam kemusyrikan karena tidak tahu maka dia tidak diberi udzur. Karena dengan diutusnya Nabi Saw itu berarti hujjah telah tegak kepada semua makhluq. Maka barangsiapa tidak tahu berarti ketidaktahuannya itu timbul dari dirinya sendiri karena ia berpaling dari Al-Qur’an dan Sunnah …” (Al-Fathu Ar-Robani Fi Fatawa Asy-Syaukani 1/145, lihat juga 1/186)

Namun demikian ia juga memiliki kesimpulan-kesimpulan lain yang secara zahir bertentangan dengan apa yang ia simpulkan dalam fatwa ini. (Lihat Ad-Durru An-Nadlid, hal. 27)

Ulama lain yang perkataannya menunjukkan kepada pemahaman ini adalah: para ulama Lajnah Daimah. Dalam hal ini mereka menyatakan bahwa ketidaktahuan itu merupakan udzur dalam pemberlakuan hukuman namun bukan udzur dalam penyematan status kafir. Hal ini sebagaimana yang mereka katakan: “Siapa saja yang beriman kepada risalah Nabi kita Muhammad SAW dan kepada semua ajaran yang terdapat dalam syariat Islam, apabila setelah itu dia bersujud kepada selain Allah; baik kepada wali, penghuni kubur atau seorang Syaikh thoriqot, maka dia dianggap telah kafir dan murtad dari agama Islam, dan dianggap sebagai orang musyrik yang menyekutukan Allah dengan selain-Nya dalam beribadah. Meskipun pada saat sujud itu dia mengucapkan dua kalimat syahadat; karena saat dia mengucapkan dua kalimat syahadat itu dia melakukan sesuatu yang membatalkannya yaitu berupa sujud kepada selain Alloh. Akan tetapi bisa saja dia diberi udzur sehingga tidak dihukum sampai dia mengerti, ditegakkan hujjah kepadanya dan diberi tenggang waktu tiga hari, untuk menghilangkan udzur padanya supaya dia mengevaluasi diri dengan harapan dia bertaubat. Namun jika setelah diberi penjelasan dia tetap bersujud kepada selain Alloh maka dia dibunuh karena dia telah murtad. Dengan demikian, pemberian penjelasan dan penegakkan hujjah itu adalah untuk menghilangkan udzur darinya sebelum dijatuhi hukuman, bukan untuk menyebutnya kafir setelah diberi penjelasan. Karena dia itu disebut kafir ketika dia melakukan sujud kepada selain Alloh atau bernadzar untuk berqurban atau menyembelih domba kepada selain Alloh, misalnya.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 1/334 fatwa no. 4400).

Lajnah Daimah juga pernah ditanya tentang masyarakat badui yang melakukan istighotsah kepada kuburan lantaran ketidaktahuan mereka. Dalam pertanyaan tersebut dikatakan: “Allah SWT berfirman: ((Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang beriman yang bersamanya untuk memintakan ampunan bagi orang-orang musyrik meskipun mereka itu kaum kerabatnya, setelah mereka mengetahui dengan jelas bahwa mereka itu adalah penduduk neraka jahim)). (At-Taubah: 113). Secara zahir ayat ini melarang memintakan ampun untuk orang-orang musyrik meskipun mereka itu masih kerabat sendiri. Sementara kami masyarakat badui ada yang memiliki orang tua dan kaum kerabat yang biasa melakukan penyembelihan di pekuburan, bertawassul kepada penghuninya, mempersembahkan nadzar dan meminta pertolongan dengan perantara penghuni kuburan untuk menghilangkan kesusahan dan menyembuhkan orang sakit. Dan mereka semua telah mati dalam keadaan seperti itu, sementara belum ada orang yang datang menjelaskan kepada mereka tentang makna tauhid dan makna laa ilaaha illalloh. Dan belum ada juga orang yang datang kepada mereka yang memberitahu mereka bahwa nadzar dan doa itu adalah ibadah yang tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada Alloh semata. Lalu (pertanyaannya adalah); bolehkah kita mengiringi jenazahnya, menyolatkan mereka, mendoakan dan memintakan ampun buat mereka, menunaikan haji dan sedekah buat mereka?”

Dalam menjawab pertanyaan ini, Lajnah Daimah mengatakan: “Orang yang mati dalam kondisi seperti yang anda ceritakan tersebut tidak boleh diiringi jenazahnya, atau disholatkan, atau didoakan dan dimohonkan ampun buatnya, atau ditunaikan haji dan sedekah buatnya. Karena amalan-amalan yang dia lakukan tersebut adalah amalah-amalan syirik. Padahal dalam ayat di atas Allah SWT telah berfirman: ((Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang beriman yang bersamanya untuk memintakan ampunan bagi orang-orang musyrik meskipun mereka itu kaum kerabatnya, setelah mereka mengetahui dengan jelas bahwa mereka itu adalah penduduk neraka jahim)). (At Taubah: 113)” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 9/12 fatwa no. 3548).

Ulama lain yang perkataannya menunjukkan pendapat seperti ini adalah Syaikh Abdul Aziz Bin Baz. Di mana pernah ada yang bertanya kepadanya sebagai berikut: “Banyak masyarakat awam yang terjerumus dalam penyimpangan yang parah pada persoalan tauhid, mereka ini bagaimana status hukumnya? Bisakah mereka diberi udzur karena ketidaktahuan mereka? Apa hukum menikah dengan mereka dan memakan sembelihan mereka? Dan apakah mereka diperbolehkan masuk kota Mekah dan Madinah?”

Dalam menjawab pertanyaan ini Syaikh bin Baz mengatakan: “Orang yang diketahui berdoa, beristighotsah dan bernadzar kepada orang-orang yang telah meninggal dunia, serta melakukan amalan-amalan ibadah lainnya kepada orang-orang yang telah mati tersebut, maka orang tersebut adalah orang musyrik dan kafir yang tidak diperbolehkan menikah dengannya, tidak boleh masuk masjidil harom, tidak boleh memperlakukannya sebagaimana memperlakukan kaum muslimin, meskipun dia mengaku tidak tahu sampai dia bertobat kepada Allah dari perbuatan-perbuatan tersebut … Tidak perlu dihiraukan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang tidak paham. Pokoknya mereka itu diperlakukan sebagaimana orang-orang kafir sampai mereka bertobat kepada Allah dari perbuatan-perbuatan tersebut. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT yang berkaitan dengan orang-orang seperti mereka: ((Apabila mereka melakukan perbuatan keji mereka berkata: Kami dapati bapak-bapak kami melakukannya dan Allah memerintahkan kami untuk melakukannya. Katakanlah: Sesungguhnya Allah itu tidak memerintahkan berbuat keji. Apakan kalian berani mengatakan tentang Allah apa yang tidak kalian ketahui. Katakanlah: Rabb ku memerintahkanku berlaku adil, dan hadapkanlah wajah kalian kepada-Nya pada saat sholat, serta beribadahlah kalian kepada-Nya dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Sebagaimana Allah memulai penciptaan kalian kepada-Nya pula kalian akan kembali. Sebagian Allah beri petunjuk dan sebagian lagi sudah pasti tersesat. Sesungguhnya mereka telah menjadikan setan sebagai pemimpin selain Allah dan mereka menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.)).” (Al-A’raf: 28-30)

Juga berdasarkan firman Allah SWT berkenaan dengan orang-orang nasrani dan yang semisal dengannya: ((Katakanlah: Maukah kalian aku beritahukan siapa orang-orang yang paling merugi amal perbuatanya? Yaitu orang-orang yang sia-sia amal perbuatannya dalam kehidupan dunia sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat baik)). (Al-Kahfi: 103-104). (Tuhfatul Ikhwan Bi Fatawa Tata’allaqu Bi Arkanil Islam, karangan Syaikh Bin Baz, hal. 45)

Dalam kesempatan lain ia ditanya mengenai hukum orang yang meyakini bahwa Nabi SAW itu bukan manusia. Orang itu beristighotsah kepadanya sedangkan dia tidak mengehahui hukum dari perbuatannya tersebut, sebab dia melakukan perbuatan tersebut hanya karena para ulama’ panutannya memberikan fatwa kepadanya agar melakukannya.

Syaikh Bin Baz pun menjawab: “Orang yang mati dalam keadaan memiliki keyakinan seperti ini, yakni bahwa Nabi Muhammad SAW itu bukan manusia dan bukan anak keturunan Adam, atau meyakini bahwa Nabi Muhammad itu mengetahui hal-hal yang ghaib, yang seperti ini adalah keyakinan kafir sehingga dia dianggap kafir. Demikian juga jika dia bertawassul dalam pengertian berdoa, beristighotsah dan bernadzar kepadanya. Karena tawassul itu ada rinciannya. Sebagian orang ada yang mengatakan bahwa tawassul itu adalah berdoa, meminta bantuan dan beristighotsah kepada orang mati. Yang seperti ini adalah kekafiran kepada Allah. Orang yang mati dalam keadaan seperti ini maka dia mati dalam kondisi kafir sehingga tidak boleh disedekahkan untuknya, tidak boleh disholatkan, tidak boleh dimandikan dan tidak boleh didoakan. Adapun nasibnya di akherat terserah Allah. Jika itu semua dia lakukan karena ketidaktahuan dan ketidakpahamannya sementara tidak ada orang yang mengajarinya, maka orang yang seperti ini statusnya pada hari qiyamat adalah seperti orang yang hidup di masa fatroh. Mereka akan diuji dan diperintah. Jika mau menyambut dan taat maka mereka akan selamat dan masuk surga, namun jika mereka membangkang maka mereka akan masuk neraka.

Adapun jika sebenarnya dia itu tahu tapi meremehkan dan tidak peduli, orang seperti ini hukumnya sama dengan orang-orang kafir. Karena dia mendustakan AllahSWT, di mana Allah SWT telah menjelaskan bahwa Muhammad SAW itu adalah manusia, dan bahwa tidak ada yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Allah, dan bahwasanya Allah-lah yang berhak diibadahi. Maka orang yang meyakini bahwa Muhammad itu bukan manusia, dan bahwa dia itu mengetahui hal-hal yang ghaib, berarti dia telah mendustakan Allah SWT dan dengan begitu ia kafir. Kita memohon keselamatan kepada Allah SWT.

Adapun jika dia tidak tahu maka nasibnya di akherat terserah Allah SWT. Adapun di dunia hukumnya adalah sama dengan orang-orang kafir; tidak boleh disholatkan dan tidak boleh didoakan.” (Fatawa Nur ‘Ala Ad-Darbi 1/177-178, lihat juga Fatawa Bin Baz 1/50).

Sebagian ulama dakwah nejed ada yang memiliki kesimpulan lain lagi meskipun tidak jauh berbeda dengan pendapat-pendapat di atas. Yaitu bahwa orang yang melakukan perbuatan syirik namun dia tidak mengerti maka orang semacam ini bukanlah orang muslim namun demikian dia juga bukan orang kafir. Akan tetapi di dunia dia diperlakukan sebagaimana orang-orang kafir. Di antara yang memiliki kesimpulan seperti ini adalah anak-anak Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri dan Hamd bin Nashir. Para Syaikh ini pernah ditanya mengenai orang tertentu yang melakukan perbuatan syirik karena tidak tahu. Para Syaikh tersebut menjawab: “Apabila dia melakukan kemusyrikan dan kekafiran itu karena ketidaktahuannya, atau karena tidak ada orang yang mengingatkannya, orang yang semacam ini tidak kami fonis kafir sampai ditegakkan hujjah kepadanya. Akan tetapi kami juga tidak menganggapnya sebagai orang muslim. Menurut pendapat kami perbuatan orang ini adalah perbuatan kafir yang mengakibatkan darah dan hartanya halal, meskipun kami tidak menghukumi apapun mengenai orang ini lantaran belum tegak hujjah padanya. Kepada orang semacam ini tidak dikatakan: Jika dia bukan orang kafir berarti dia muslim. Akan tetapi kita katakan: Perbuatan yang dilakukannya itu adalah perbuatan orang-orang kafir. Adapun penyematan status hukum terhadap orang seperti ini tergantung dengan sampainya hujjah risalah … Adapun mengenai apa yang kalian tanyakan: Apakah berguna bagi orang yang beriman tersebut semua amal kebaikan yang dia lakukan sebelum dia merealisasikan tauhid lantaran ketidaktahuannya? Jawabannya adalah: Orang tersebut tida bisa disebut sebagai orang Islam apalagi orang beriman. Namun yang bisa dikatakan adalah bahwa orang yang melakukan kekafiran atau memiliki keyakinan kafir sedangkan dia tidak tahu dan tidak ada yang mengingatkannya, itu apabila melakukan perbuatan baik akan Allah beri pahala jika dia memperbaiki keislamannya dan merealisasikan tauhidnya. Hal ini sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Hakim bin Hizam, bahwasanya Nabi SAW bersabda kepadanya: ((Kamu telah mengislamkan semua amalan baikmu yang telah lalu)).

Adapun ibadah haji yang dia kerjakan saat dalam kondisi seperti itu, kami tidak menganggap telah menggugurkan kewajiban hajinya. Sehingga kami menyuruhnya untuk mengulangi kembali hajinya, karena kami tidak menganggapnya sebagai orang Islam saat dia dalam keadaan seperti itu. Sementara di antara syarat sahnya haji itu adalah Islam. Maka bagaimana kita dapat menganggap sah hajinya sementara dia melakukan dan meyakini kekafiran.

Namun demikian kami tidak menghukuminya sebagai orang kafir lantaran hujjah belum tegak padanya. Tapi kalau telah tegak hujjah padanya lalu dia tidak mau menempuh jalan yang benar, niscaya dengan yakin akan kami suruh mengulang hajinya untuk menggugurkan kewajibannya.” (Majmu’u Ar-Rosail Wa Al-Masail An-Najdiyah 5/574, dan silahkan lihat Ad-Duror As-Saniyah 10/136-137).

Dua putra Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab; yakni Syaikh Husain dan Syaikh Abdulloh, tatkala ditanya tentang hukum orang yang mati sebelum datangnya dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sedangkan orang tersebut berbuat kemusyrikan, beliau berdua menjawab: “Orang pelaku syirik yang mati sebelum datangnya dakwah ini, hukumnya adalah: jika dia diketahui melakukan perbuatan syirik, menganutnya sebagai ajaran agama dan dia mati dalam keadaan seperti itu, maka secara zahir orang ini mati dalam keadaan kafir sehingga tidak boleh didoakan, atau ditunaikan kurban maupun sedekah buatnya. Adapun keadaan dia yang sebenarnya diserahkan kepada Allah SWT; jika pada saat dia masih hidup telah tegak hujjah kepadanya lalu dia tetap membangkang, orang semacam ini kafir lahir batin. Namun jika belum tegak hujjah kepadanya maka urusannya diserahkan kepada Allah SWT.” (Ad-Duror As-Saniyah 5/154)

Hamd bin Nashir mengatakan: “Mereka yang mati sebelum kemunculan dakwah Islam ini, sementara kondisi zahirnya mereka nampak musyrik, orang-orang yang semacam ini kita tidak akan ganggu dan tidak kita fonis sebagai orang kafir maupun sebagai orang Islam. Yang kita katakan adalah: Siapapun yang telah sampai kepadanya dahwah muhammadiyah ini lalu tunduk kepadanya, mentauhidkan Allah dan beribadah hanya kepada-Nya semata tanpa menyekutukan dengan sesuatu apapun, komitmen dengan syariat Islam, melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarangnya, orang yang semacam ini adalah orang-orang Islam yang dijanjikan masuk surga, kapanpun dan di manapun.

Adapun orang yang kondisinya seperti orang-orang jahiliyah; tidak memahami tauhid yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya dan yang didakwahkan oleh Rasul tersebut, tidak pula memahami kemusyrikan yang Allah utus Rasul untuk melarangnya dan berperang atas dasar itu, orang yang semacam ini tidak disebut sebagai orang muslim karena ketidaktahuannya. Akan tetapi barangsiapa yang secara zahir amal perbuatannya menyekutukan Allah SWT maka secara zahir dia ini orang yang kafir kepada-Nya, sehingga tidak boleh dimintakan ampunan, tidak boleh ditunaikan sedekah buatnya. Sementara nasibnya yang sebenarnya kita serahkan kepada Allah SWT yang maha mengetahui hal-hal yang rahasia dan tersembunyi dalam dada.

Kita tidak mengatakan bahwa si fulan itu mati dalam keadaan kafir. Karena kita ini membedakan antara orang tertentu dengan yang lainnya. Kita tidak memfonis kafir kepada orang tertentu, karena kita tidak mengetahui kondisi dia yang sebenarnya dan apa-apa yang tersebunyi darinya. Kita serahkan urusan orang tersebut kepada Allah.” (Ad-Duror As-Saniyah 11/75)

Konsekuensi dari pendapat ini berarti orang muslim yang tidak tahu lalu terjerumus dalam perbuatan syirik, dia tidak disebut sebagai orang muslim dan tidak berlaku baginya hukum-hukum yang berlaku bagi kaum muslimin. Karena secara zahir dia terjerumus dalam kemusyrikan. Namun demikian dia tidak disebut sebagai orang kafir karena sebutan kafir itu tidak disematkan kecuali setelah tegak hujjah.

Pendapat semacam ini juga dianut oleh sebagian ulama jaman sekarang dan mereka sangat membela pendapat ini. Sampai-sampai ada di antara mereka yang menulis buku bermacam-macam dalam rangka untuk menguatkan kebenaran pendapat tersebut. Mereka menampilkan banyak-banyak landasan yang mereka anggap memperkuat pendapat mereka. Mereka juga menukil banyak perkataan ulama dari kalangan empat mazhab.

Mereka juga mengumpulkan banyak nas syar’i untuk dijadikan dalil atas benarnya pendapat mereka. Mereka cari sebanyak-banyaknya pernyataan para ulama untuk membuktikan kebenaran pendapat yang mereka anut. Dalam buku-buku tersebut banyak terdapat nukilan dari para ulama mazhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali yang menurut pemahaman mereka menunjukkan bahwa tidak ada udzur bagi orang muslim yang karena ketidaktahuannya ia terjerumus dalam kemusyrikan, dan bahwa ia keluar dari agama Islam. Seandainya perkataan yang menunjukkan hal ini kita sebutkan semua niscaya akan sangat panjang sekali. (Lihat ‘Aridlu Al-Jahli, karangan Abu Al-‘Ala Ar-Rosyid, hal. 45-100). Selain itu tidak ada gunanya kita sebutkan semua. Karena intinya sebenarnya adalah mereka ingin membuktikan bahwa ada sejumlah ulama dari berbagai mazhab yang berpandangan tidak ada udzur karena tidak tidak tahu dalam masalah kemusyrikan. Perkara ini bukan masalah yang hendak ditentang dan bukan yang hendak dibahas di sini. Karena yang menjadi tujuan pembahasan di sini adalah benartidaknya perkataan-perkataan teresebut dan benartidaknya dalam memahami perkataan-perkataan tersebut, bukan benartidaknya perkataan itu diucapkan oleh orang yang mengucapkannya. Namun demikian kami tetap akan menyebutkan sebagiannya.

Di antara ulama yang pernyataannya mereka jadikan landasan untuk kesimpulan-kesimpulan mereka adalah Ibnu Jarir Ath-Thabari. Di mana ia mengatakan: “Adapun perkara yang tidak diperkenankan untuk tidak tahu dari ajaran Allah, bagi orang-orang yang telah masuk dalam golongan ahlu at-taklif, lantaran dalam perkara tersebut terdapat dalil-dalil yang penunjukannya terhadap perkara tersebut telah disepakati dan tidak lagi diperselisihkan, secara indera jelas dan tidak samar, adalah perkara mentauhidkan Allah SWT, dan ilmu tentang nama-nama, sifat-sifat dan keadilan Allah. Hal itu dikarenakan orang yang telah mencapai usia taklif, dari kalangan orang-orang yang sehat dan normal, niscaya tidak akan luput untuk mendapatkan dalil yang jelas dan bukti yang terang yang menunjukkan atas keesaan Allah SWT, yang menjelaskan kepadanya atas benarnya kenyataan tersebut. Oleh karena itu AllahSWT tidak memberikan udzur kepada seorangpun untuk tidak tahu terhadap sifat dan nama-nama-Nya, dan siapapun yang mati dalam keadaan tidak mengetahui nya maka Allahgabungkan ia dalam golongan orang-orang yang membangkang kepada-Nya…” (At-Tabshir Fi Ma’alimi Ad-Din, karangan Ibnu Jarir Ath-Thobari, hal. 116-117)

Akan tetapi perkataan Ibnu Jarir yang mereka jadikan landasan untuk memperkuat pendapat mereka ini justru rancu bagi mereka. Karena secara zahir Ibnu Jarir berpendapat bahwa ketidaktahuan tidak bisa dijadikan udzur dalam berbagai masalah asma’ wa shifat, sementara mereka sendiri menganggapnya sebagai udzur yang bisa diterima.

Di antara ulama lain yang mereka nukil perkataannya adalah Al-Qarafi. Di mana dalam menetapkan kaidah udzur kebodahan, Al-Qarafi mengatakan: “Barangsiapa melakukan sesuatu atas dasar kebodohan maka dia telah berdosa khususnya pada masalah keyakinan. Karena sang pembuat syariat telah menetapkan dengan sangat tegas dalam masalah keyakinan pokok-pokok ajaran agama, di mana seandainya seseorang telah mengerahkan segala kemampuannya untuk menghilangkan kebodohannya terhadap satu sifat dari sifat-sifat Allah SWT atau terhadap sesuatu yang wajib diyakini dari pinsip-prinsip ajaran agama, namun kebodohannya tidak hilang juga maka sesungguhnya dia itu berdosa dan kafir lantaran tidak meyakini sesuatu yang tidak dia ketahui tersebut yang merupakan bagian dari iman, dan dia kekal di neraka menurut pendapat yang masyhur di berbagai mazhab padahal dia telah maksimal dalam berijtihad, sehingga kebodohan itu menjadi sesuatu yang tidak mungkin dia hindari, namun begitu dia tidak diberi udzur.” (Al-Furuq, karangan Al-Qorofi 2/261)

Pernyataan Al-Qarafi ini tertolak oleh hal yang sama dengan yang menyebabkan tertolaknya pernyataan Ibnu Jarir. Yakni bahwa pernyataan ini menunjukkan bahwa ketidaktahuan itu bukan udzur dalam masalah tauhid asma’ wa shifat, sementara hal ini bertentangan dengan pendapat yang dianut oleh orang-orang yang berpendapat tidak ada udzur kebodohan dalam masalah syirik tersebut. Lebih dari itu hal ini bertentangan dengan pendapat para ulama peneliti. Selain itu Al-Qarafi menyatakan dengan tegas bahwa orang yang bodoh itu disiksa di neraka pada hari qiyamat kelak, sementara pendapat seperti ini tidak diakui oleh orang-orang yang berpendapat bahwa orang yang bodoh itu pada hari qiyamat akan diuji.

Yang perlu disinggung juga di sini adalah bahwa orang-orang yang menganut pendapat ini juga banyak menukil berbagai perkataan Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim yang mereka pahami bahwa perkataan-perkataan tersebut menunjukkan tidaklah adanya udzur ketidaktahuan dalam masalah syirik. Jawaban mengenai hal ini akan disampaikan di sela-sela kajian nanti. Namun yang kelihatan mencolok, kebanyakan mereka menutup mata terhadap pernyataan-pernyataan Ibnu Taimiyah yang sangat banyak dan jelas yang memberikan udzur dalam masalah ini, seolah-olah perkataan-perkataan tersebut tidak ada. Mereka sama sekali tidak memberikan jawaban atas pernyataan-pernyataan tersebut apalagi jawaban yang memuaskan.

Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan di atas sebagian orang jaman sekarang dari kalangan mereka ada yang membuat satu kaidah umum yang mereka pegangi serta mereka jadikan landasan dalam membangun pendapat mereka dan dalam memahami pernyataan-pernyataan para ulama, yang intinya adalah bahwasanya siapa saja yang berbuat kemusyrikan maka dia itu bukanlah orang Islam, sama saja apakah dia itu tahu atau tidak tahu. Dalam menjelaskan gambaran nyatanya penulis kitab Al-Jawabu Al-Mufidu mengatakan: “Dasar ajaran Islam ini adalah mengenal Allah SWT yang maha esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Yang ini tidak ada udzur untuk tidak tahu, sama saja apakah dia berada di tempat yang diperkirakan tersebar ilmu; seperti Darul Islam (negara Islam), atau tidak; seperti Darul Harbi (negara kafir yang diperangi). Sama saja apakah terbukti telah tegak hujjah atau belum. Dan orang yang tidak tahu wajib untuk dianggap sebagai orang kafir secara zahirnya.” (Al-Jawabu Al-Mufid Fi Hukmi Tariki At-Tauhid, hal. 17). Tentang apa yang dimaksud dengan dasar ajaran Islam, si penulis telah menjelaskan yaitu mentauhidkan Allah SWT.

Dasar ajaran ini di bangun atas prinsip bahwa Islam itu harus mencakup dua hal yang mana ia tidak sah tanpa keduanya. Yaitu (pertama) mengucapkan syahadat dengan memahami maknanya dan mengamalkan konsekuensinya, dan (yang kedua adalah) kufur terhadap thaghut dalam artian meninggalkan semua bentuk syirik kepada Allah SWT. Maka barasiapa mengerjakan salah satu dari dua perkara tersebut, namun belum melaksanakan yang satunya lagi berarti dia bukanlah orang Islam. Barangsiapa mengucapkan syahadat namun tidak meninggalkan syirik akbar berarti dia belum mewujudkan Islam yang dikehendaki Allah SWT.

Atas dasar ini maka orang Islam yang terjerumus dalam kemusyrikan karena ketidaktahuannya dia itu sama sekali belum berada dalam lingkaran Islam, karena dia belum mewujudkan hakekat Islam yang lengkap. Maka dalam kondisi seperti itu dia tidak dianggap sebagai orang Islam akan tetapi dianggap telah keluar dari Islam dengan sekadar perbuatannya tersebut, karena dia telah meninggalkan satu pilar utama yang mana hakekat Islam itu tidak terwujud kecuali dengannya.

Di antara efek dari prinsip ini mereka menganggap bahwa perkataan para ulama yang menunjukkan adanya udzur karena ketidaktahuan itu maksudnya bukanlah orang-orang yang beribadah kepada kuburan, karena orang-orang yang beribadah kepada kuburan itu bukanlah orang Islam. Sementara pembicaraan mengenai udzur ketidaktahuan itu berkenaan dengan orang Islam yang terjerumus dalam perkara-perkara yang menyelisihi syariat. Orang yang semacam inilah yang mendapatkan udzur lantaran rahmat Allah SWT kepadanya. Adapun orang-orang yang beristighotsah kepada kuburan mereka itu tidak masuk dalam kaidah yang diberi udzur karena ketidaktahuannya, karena pada dasarnya mereka itu bukan orang Islam.

Di antara yang memiliki kesimpulan seperti ini adalah Syaikh Abdul Lathif bin Abdur Rahman dalam beberapa perkataannya. Di mana tatkala ia memaparkan penyelewengan-penyelewengan Al-Iraqi, ia mengatakan: “Penyelewengan kedua: bahwasanya Syaikh (Ibnu Taimiyah) rohimahulloh mengatakan; ((Memvonis kafir terhadap kaum muslimin itu asalnya adalah …)), dan ungkapan-ungkapan Syaikh tersebut menunjukkan bahwa orang-orang yang beribadah kepada kuburan itu tidak masuk dalam sebutan kaum muslimin, sebagaimana yang akan kami nukilkan dari perkataannya yang menetapkan bahwa mereka itu tidak masuk dalam golongan kaum muslimin dalam kontek seperti ini.” (Minhaju At-Taqdis Wa At-Ta’sis, karangan Abdul Lathif Alu Asy-Syaikh, hal. 96). Madhat Alu Farroj mengatakan: “Orang-orang yang beribadah kepada kuburan itu, meskipun mereka itu orang-orang yang tidak tahu dan memiliki takwilan, mereka itu bukanlah orang-orang Islam menurut Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab dan anak keturunannya yang merupakan perpanjangan dari madrasah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya, Imam Ibnul Qayyim. Oleh karena itu ketika mereka mengatakan adanya udzur, maksudnya adalah selain orang-orang yang beribadah kepada kuburan dan orang-orang musyrik lain yang semacam mereka. Karena menurut para Syaikh tersebut mereka-mereka ini tidak masuk golongan kaum muslimin.” (Al-Mukhtasharu Al-Mufidu Fi ‘Aqoidi Ahli At-Tauhid, karangan Alu Farraj, hal. 409).

Cara berfikir seperti ini juga mereka berlakukan dalam memahami kaidah tentang bedanya antara status perbuatan dengan pelakunya, yang ditetapkan oleh para ulama seperti Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim dan yang lainnya. Mereka berlakukan kaidah tersebut untuk selain para pelaku istighotsah kepada kuburan dan orang-orang yang terjerumus dalam kemusyrikan. Mereka berlakukan kaidah tersebut hanya untuk selain perbuatan syirik. Di antara yang menyatakan seperti ini adalah Sulaiman bin Sahman dalam beberapa ucapannya, di mana dia mengatakan: “Perkataan Syaikhul Islam dan yang semisalnya adalah berkenaan dengan selain orang-orang yang beribadah kepada kuburan dan orang-orang musyrik. Perkataan tersebut memang harus dipahami seperti ini karena melihat tema pembicaraannya yang memang berkenaan dengan para penganut bid’ah yang menyelisihi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Hal ini dapat dipahami dari perkataan Syaikh. Jika engkau telah memahami bahwa perkataan Syaikh Ibnu Taimiyah itu berkenaan dengan para pengikut hawa nafsu, seperti Qodariyah, Khowarij dan yang semisal dengannya selain yang ekstrim, niscaya engkau dapat memahami bahwa orang-orang yang beribadah kepada kuburan itu tidak masuk dalam golongan tersebut. Perkataannya yang tidak memfonis kafir itu yang dimaksud adalah pada masalah-masalah tertentu yang dalilnya samar bagi sebagian orang seperti masalah taqdir, irja’ dan lain-lain yang semisal dengannya yang dianut oleh Ahlul Ahwa’.” (Adh-Dhiyau Asy-Syariq, karangan Ibnu Sahman, hal. 168)

Juga Abu Al-‘Ala Ar-Rasyid, setelah menyebutkan teks-teks perkataan Ibnu Taimiyah yang membedakan antara status perbuatan dengan pelakunya, ia mengatakan: “Semua teks perkataan yang telah kami sebutkan tersebut adalah berkaitan dengan para penganut bid’ah, dan bukan berkenaan dengan orang yang berbuat syirik secara zahir baik dengan ucapan maupun dengan amalan.” (Dhowabithu Takfiri Al-Mu’ayyan, karangan Abu Al-‘Ala Ar-Rasyid, hal. 94)

Pernyataan-pernyataan yang senada dengan ini juga sering diucapkan oleh orang-orang jaman sekarang dari kalangan mereka. (Lihat: Al-Jawabu Al-Mufid Fi Hukmi Tariki At-Tauhid, hal. 109 dan Al-‘Udzru Bi Al-Jahli Tahta Al-Mijhar, karangan Alu Farraj, hal. 207)

Kesimpulan dari pendapat ini adalah: bahwa orang Islam yang terjerumus dalam kemusyrikan lantaran dia tidak tahu bahwa apa yang dia lakukan itu adalah syirik akbar, orang yang semacam ini tidak bisa lagi disebut sebagai orang Islam. Karena dengan perbuatannya semata dia telah keluar dari lingkaran Islam dan masuk ke dalam lingkaran syirik. Hukum-hukum yang berlaku baginya di dunia adalah hukum-hukum yang berlaku bagi orang-orang kafir, dan tidak diberlakukan kepadanya sedikitpun dari hukum-hukum yang berlaku bagi orang Islam. Sementara di akherat, maka hukum-hukumnya tidak berlaku baginya kecuali setelah tegak hujjah. Sehingga siapa saja yang telah tegak hujjah kepadanya maka dia akan disiksa di neraka kekal selama-lamanya. Sementara kalau belum tegak hujjah kepadanya, maka pada hari qiyamat dia akan diuji. Dengan begitu mereka menganggap ketidaktahuan itu merupakan udzur dalam pemberlakuan hukuman dan bukan udzur dalam penamaan dan pemberlakuan hukum di dunia. Maka di dunia ini ketidaktahuan bukanlah udzur untuk disebut sebagai orang kafir dan diberlakukannya hukum-hukum kafir.

Para penganut paham ini berdalil dengan dalil-dalil yang banyak dari Al-Qur’an dan Sunnah, serta berpijak dengan kaidah-kaidah yang bermacam-macam. Dan kami akan mendiskusikannya dalam dua pembahasan berikutnya.

Sultan bin Abdul Rahman al-Amiri.

Advertisements