Rumus Musuh Islam Dalam Memanfaatkan Para Ghulat Takfir untuk Menghancurkan Islam

Studi Kritis Mengungkap Makar Musuh-Musuh Islam Dalam Memanfaatkan Potensi Konflik Pada Tubuh Umat Islam

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang memberikan hikmah kepada saja yang dikehendaki, salam dan shalawat terlimpah kepada Qudwatuna wa Uswatuna nabi Muhamad shalallahu alaihi wassalam, kepada keluarga dan kepada sahabat juga kepada umatnya yang senantiasa sabar, istiqamah dan teguh di jalan Dakwah dan Jihad.

Allah ta’ala berfirman :

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”.(QS. Ash-Shaff [61] : 7-8)

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala menegaskan pula:

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai”. (QS. At-Taubah [9] : 32)

Allah Ta’ala juga berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan, supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahannam. Mereka itulah orang-orang yang merugi”. (Q.S. Al-Anfal : 36-37)

Allah Ta’ala di sini menjamin dan berjanji untuk menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun musuh-musuhnya tidak menyukai, daya dan upaya terus dilakukan dengan harta dan jiwa, makar dari yang paling lembut hingga yang paling keji dilakukan oleh musuh-musuh-Nya tetapi Allah Ta’ala menyempurnakan cahaya-Nya, terbukti Makar Allah lebih baik dari orang-orang kafir.

Kebangkitan Islam Akan Terulang

Siapakah yang lebih menepati janjinya selain dari Allah Ta’ala? Janji itu amat sangat dekat tetapi terkadang kita tidak sabar ingin meraih buah yang belum masak, kita terburu-buru mengambilnya dan memanennya. Padahal jikalau kita sedikit bersabar tentu itu akan lebih baik bagi diri kita.

Allah Ta’ala Berfirman :

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. (QS: An-Nuur Ayat: 55)

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

“Periode an-Nubuwwah (kenabian) akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang periode Khilafatun ‘ala Minhaj an-Nubuwwah (kekhalifahan atas manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’aala mengangkatnya, kemudian datang periode Mulkan Aadhdhon (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa, selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’aala, setelah itu akan terulang kembali periode Khilafatun ‘ala Minhaj an-Nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam”. (HR Ahmad 17680).

Kita akan membagi hadits ini dengan 5 periodisasi perjalanan umat Islam dan kami akan mencukupkan pada pembahasan zaman kita hidup.

1. Periode an-Nubuwwah (kenabian) akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya…

Yaitu masa kepemimpinan langsung Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘Alahi Wassalam yang disebut sebagai masa An-Nubuwwah (Kenabian) selama 23 tahun. Para ahli sejarah membagi periode ini dengan 2 (dua) fase yaitu fase:

  1. Fase Makkiyah, ini adalah fase ketika Rasulullah menempa aqidah dan mentarbiyah sahabatnya dengan tarbiyah langsung, para ahli sirah menyebut sebagai Marhalah ” Sirriyatu Da’wah wa Sirriyatut Tanzhim.” Yaitu biasa kita sebut masa menyembunyikan struktur organisasi dan menyembunyikan da’wah yang dalam perkembangannya berubah menjadi ” Sirriyatu Tanzhim wa Jahriyyatud Da’wah” yang biasa kita sebut sebagai merahasiakan struktur organisasi dan menampakkan dakwah. Fase ini adalah fase menanamkan keyakinan, di dalamnya terdapat pemberitahuan adanya ancaman Allah bagi mereka yang menyekutukan-Nya dan ada kabar gembira dari Allah bagi mereka yang bertauhid, beriman dan beramal shalih.
  2. Fase Madaniyah. Adapun fase Madaniyah adalah fase “Jahriyyatut Tanzhim wa Jahriyyatu Da’wah” yaitu menampakkan struktur dan menampakkan dakwah, dari sinilah taklif atau beban syariat mulai diperintahkan kepada orang-orang beriman dari Puasa di bulan Ramadhan, Zakat, Haji dan Jihad, pada fase inilah syariat Jihad diberlakukan, sehingga selama 13 tahun seluruh jazirah Arab takluk kepada pemerintahan di Madinah

2. Setelah itu datang periode Khilafatun ‘ala Minhaj an-Nubuwwah (kekhalifahan atas manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah Ta’ala mengangkatnya…

Ini adalah periode kedua, yang merupakan kepemimpinan para sahabat utama yakni Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib yang dikenal dengan julukan Khulafaur Rasyidin (Para khalifah yang adil, jujur, benar dan terbimbing oleh Allah SWT) sehingga masa mereka adalah sebaik-baik qurun dan predikat Khairu Ummah / umat terbaik melekat kepada mereka. Di dalam hadits tersebut periode ini dikenal sebagai periode Khilafatun ’ala Minhaj An-Nubuwwah (Kekhalifahan yang mengikuti Manhaj/Sistem/Metode/Cara Kenabian).

3. Kemudian datang periode Mulkan Aadhdhon (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa…

Yaitu masa kekuasaan bani Ummayah (100 tahun), Masa Abbasiyyah 450 tahun, Masa Utsmaniyah Turki Saljuk (700 tahun). Dikatakan Aadhdhon (menggigit) karena walaupun sistem monarki akan tetapi mereka masih menegakan hukum-hukum Allah ta’ala.

4. Selanjutnya datang periode Mulkan Jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’aala…

Adalah masa kita hari ini dimana syariat Islam telah dicampakan, kita hidup pada titik nadir terendah dalam perjalanan umat Islam, kezhaliman, dan pembantaian umat Islam terjadi di mana-mana mewarnai periode ini.

5. Setelah itu akan terulang kembali periode Khilafatun ‘ala Minhaj an-Nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam”.

Inilah masa yang kita nanti-nantikan, kita tunggu, masa ini kegelapan akan terangkat menjadi masa kecahayaan dan keemasan, kemenangan, kebahagiaan, kesejaterahan melanda ke seluruh negeri. Akan tetapi peristiwa yang mengiringi kemenangan ini bukanlah barang gratis begitu saja, masa-masa kritis umat menjadi menu pelengkap di dalam menyongsong kejayaan Islam ini. Pembataian dan pembunuhan yang sebelumnya diderita umat ini, menjadi syarat kemenangan agama ini, semuanya adalah ujian Allah Ta’ala, semuanya saringan, ujian kesabaran adalah hikmah, bahwa Allah akan menyiapkan generasi yang membawa panji-panji hitam dari timur untuk melicinkan jalan Imam Mahdi yang akan mendobrak keangkuhan materialistik dunia hari ini.

Janji Allah Pasti Terwujud

Allah Ta’ala Berfirman : “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS: An-Nuur Ayat: 55)

Dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katsir menceritakan tentang ayat ini, yakni bahwa ketika di Makkah dulu para shahabat selalu membawa pedang karena jiwa mereka terancam gangguan orang Musyrik Quraisy Makkah.

Kisah tentang hal tersebut juga diriwayatkan oleh Hakim dengan sanadnya yang sampai kepada Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dan para shahabatnya datang ke Madinah, maka orang-orang Anshar mendatangi mereka. Orang-orang Arab kemudian melempar panah dari satu busur, di mana mereka tidak bermalam kecuali dengan senjata dan tidak berada di pagi hari kecuali dengannya, maka mereka berkata, ‘Tidakkah kamu melihat bahwa kita bangun sampai tidur malam dalam keadaan aman, tenang dan tidak takut kecuali kepada Allah.’ Maka turunlah ayat, ‘Wa’adalahulladziina aamanuu minkum…dst’.” (Hadits ini menurut Hakim shahih isnadnya, namun keduanya (Bukhari-Muslim) tidak menyebutkannya dan didiamkan oleh Adz Dzahabi).

Hal ini kita alami sehingga hari ini kita memegang ajaran agama kita laksana memegang bara api Rasulullah shallahu alaihi wasalam bersabda: “Akan datang suatu zaman dimana orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi)

Hadits ini merupakan berita tentang masa-masa sulit yang akan dilalui oleh orang-orang yang ingin tetap menegakkan kebenaran dan teguh di atas prinsip hidup para salafus shalih. Prinsip untuk tetap meniti jalan kebenaran meskipun terjal dan berbatu. Prinsip untuk tetap memelihara kejujuran di tengah arus kebohongan dan kepalsuan. Prinsip untuk tetap memelihara amal kebajikan di tengah gelombang kemaksiatan dan pasang surut keimanan. Kondisi saat inilah kita merasakan bahwa memegang agama kita laksana memegang bara api yang panas.

Dalam salah satu riwayat disebutkan: Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Akan datang kepada manusia suatu masa yang ketika itu orang yang sabar di atas agamanya seperti menggenggam bara api.” (HR. At-Tirmidzi no. 2260. Dishahihkan oleh al-Albani di as-Silsilah ash-Shahihah 2/645).

Inilah keadaan yang hari ini kita alami, dan zaman yang kita hidup di dalamnya. Sebuah keadaan dan kondisi zaman yang penuh dengan fitnah dan kerancuan. Sungguh, hanya dengan berbekal kesabaran untuk terus menempuh jalan-Nya dan berharap kepada pertolongan-Nya lah kita baru bisa melewati segala fitnah tersebut.

Salah Satu Bibit Fitnah itu Bernama Ghulat Takfiri (Pengkafiran Ekstrem)

Salah seorang Ikhwah bercerita ketika berada di Afghanistan, pada tahun 1994 di camp Arab Peshawar Pakistan ‎ada sekelompok orang-orang yang hidupnya eksklusif (sangat tertutup), mereka hidup menyendiri menjauhi keramaian manusia, jarang bersosialisasi, ikhwah-ikhwah Arab tersebut berasal dari Aljazair. Bahkan tempat tinggal mereka sudah dibuat menjadi semacam benteng pertahanan.

Suatu hari salah seorang ikhwah dari kelompok Ikhwah eksklusif Aljazair ini, ada satu orang yang keluar dari pemahaman kelompok ini, entah mengapa dan apa alasannya, Ikhwah Aljazair ini ditembak mati ketika berjalan melewati sebuah gang di depan kamp Aljazair tersebut.

Pada waktu itu, ikhwah-ikhwah arab ‎lainnya ingin menolong, tetapi ditembaki dari depan markas kelompok eksklusif tersebut, sehingga tidak ada yang berani mengevakuasinya, sampai akhirnya istri ikhwah tersebut yang menyeret mayat sang suami sendirian.

Kejadian tersebut memancing ikhwah-ikhwah arab lainya dan ikhwah-ikhwah Afghanistan untuk mengepung kamp kelompok Aljazair yang dikenal membatasi pergaulannya. Karena ikhwah-ikhwah Aljazair menolak menyerah maka terjadi baku tembak sengit. Untuk menghindari fitnah tersebut ikhwah-ikhwah Arab keluar dari operasi pengepungan dan tinggallah ikhwah-ikhwah Afghanistan yang pada akhirnya juga menghindari kontak senjata ini.

Tidak lama kemudian Pasukan Elit Pakistan datang mengepung tempat tersebut dan terjadilah baku tembak sengit yang akhirnya 6 (enam) dari delapan orang ‎tewas dan 2 dua orang lainnya dapat meloloskan diri. Setelah kejadian tersebut, barulah diketahui bahwa mereka adalah orang-orang dari Jamaah Khilafah yang berasal Aljazair dan mereka membunuh bekas mantan anggota kelompok ini yang divonis murtad dikarenakan telah keluar dari Jamaah Khilafah ini. (Sumber : wawancara anonim Ikhwah Alumni Afghanistan).

Keterangan yang sama juga diceritakan oleh ustadz Imran Baihaqi alias Musthafa atau yang kita kenal dengan nama Ustadz Abu Thalut, saat ditanya mengenai sepak terjang kelompok ekstrim/ahlul ghulat takfiriyun di dunia jihad, beliau mengatakan:

“…(keterangan tentang munculnya kelompok takfiri sejak zaman jihad Afghan pertama) itu benar, saya sendiri waktu itu ada di sana dan mengalami. Kita waktu itu sampai mukafaah kita hilang mereka rampok! Ya, mereka anggap fa’i itu, saya dan beberapa ikhwan mengalami itu, jadi korban dari perampokan mereka itu. Jadi ketika sebulan sampai 2 bulan kok kita nggak dapat mukafaah, kemudian saya dan pak Zulkarnain mendatangi bendaharanya itu yang itu, apa namanya, maktabnya syaikh Abdullah Azzam, Usamah bin Ladin dan kawan-kawan itu (maksud beliau adalah Maktab Khidmat al Mujahidin-Peshawar, Pakistan,-red). Mereka mengatakan, ‘Kami baru saja dirampok sama orang-orang itu.’ Jadi di-fa’i iya…

Kemudian, dalam perkembangannya, mereka nggak laku di Peshawar, di Pakistan itu mereka nggak laku, nggak laku nggak ada yang ngikutin terus bubar mereka. Nah, ketika ada jihad di Aljazair, mereka kemudian ke Aljazair sana, gabung. Akhirnya kemudian di antara mereka ada yang jadi pimpinan bahkan Amir, Amir Jamaah Salafiyah lid Dakwah wal Qital di sana itu (maksud beliau adalah Al-Jama’ah Al-Islamiyah Al-Musallahah. karena pada periode tersebut belum muncul Jamaah As-Salafiyah lid Dakwah wal Qital-silakan cek Dakwah Muqawamah Al-Islamiyah Al-Alamiyah karya syaikh Abu Mush’ab As-Suri-wallaahu a’lam,-red), petinggi-petingginya dari kalangan mereka. Setelah itu, terjadilah pembunuhan-pembunuhan seperti yang dilakukan ISIS sekarang ini kepada sesama Mujahidin. Habis itu, apa namanya…ada reaksi dari Mujahidin, terus mereka terbunuh pimpinannya itu. Akhirnya, mereka geger…bubar.

Habis itu, kemudian di Irak muncul jihad Irak, di antara mereka yang masih hidup ikut jihad di Irak. Nah, sekarang orang-orang itu menjadi petinggi di ISIS, menjadi muftinya ISIS, ada yang menjadi salah seorang panglimanya. Jadi, ya…wajarlah kalau ISIS punya pandangan semacam itu karena ada orang-orang itu…”. ­– Sampai disini perkataan Ust. Abu Thalut , fakallahu asrah-.

Kebenaran cerita juga kita dapatkan dari Syaikh Al-Maqdisi dan Syaikh Ayman Adz-Dzawahiri Hafizhahullah. Api fitnah ini juga sudah diprediksikan. Syaikh Ayman berkata:

“Beliau [Syaikh Abu Khalid As-Suri] memberitahukan kepadaku bahwasanya ia melihat di negeri Syam bibit-bibit fitnah, yang dahulu beliau pernah menyaksikannya secara langsung di Peshawar [Pakistan], yaitu fitnah kebodohan, hawa nafsu, dan kezaliman yang menghalalkan darah dan kehormatan atas dasar klaim-klaim, syubhat-syubhat, hawa nafsu dan ambisi [terhadap kekuasaan].”

Syaikh Aiman Az-Zhawahiri melanjutkan kisahnya :

“Hal ini mengingatkanku dengan sebuah kisah yang membuat tertawa sekaligus membuat tangisan, yang aku alami sendiri di Peshawar. Ringkas cerita, saya bertemu dengan saudaraku tercinta Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi semoga Allah menjaganya dari segala keburukan dan menyegerakan kebebasan beliau dari penjara. Saya katakan kepadanya: ‘Ada satu kelompok yang mengkafirkan saya karena saya tidak mengkafirkan mujahidin Afghanistan.’ Maka Abu Muhammad Al-Maqdisi tertawa dan berkata kepadaku, ‘Engkau tidak tahu kalau mereka itu mengkafirkan aku karena aku tidak mengkafirkan kamu.’ Semoga Allah menerima Syaikh Abu Khalid As-Suri rahimahullah dalam golongan syuhada’, menerima amal kebaikannya, mengampuni kesalahannya dan menempatkannya dalam surga yang tertinggi Al-Firdaus.”

Gerakan Ekstrimis Takfiri dan Kemiripannya dengan Prinsip-Prinsip Khawarij Modern Jamaah Takfir wal Hijrah di Mesir

Diantara ciri-ciri ushul atau dasar Jama’ah Takfir wal Hijrah adalah menjauhi masyarakat dan meninggalkannya dengan alasan bahwa masyarakat ini telah kafir. Karena itu kita harus mengetahui perkembangan jama’ah ini dan mengetahui asal-usul mereka serta ciri-cirinya.

Jama’ah Takfir wal Hijrah dikategorikan sebagai cerminan Khawarij modern, mereka bahkan menamai dirinya sendiri dengan nama Jama’atul Muslimin, sebuah nama yang hanya pantas disandang oleh Imamatul Udzhma/Khalifah Kaum Muslimin? Jama’ah ini telah berkembang di Mesir di bawah pimpinan seorang mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Asyut yang bernama Syukri Mustofa. Ia telah memunculkan kembali pemikiran Khawarij setelah penahanannya sekitar tahun 1385 H. Demikianlah, kebanyakan pemikiran ini tumbuh berkembang ketika berada dalam penjara hingga tahun 1391 H. Kemudian, berkembanglah jamaah ini dan meluaslah pemikirannya menuju sikap ghuluw hingga para tokohnya dibunuh akibat dari penculikan dan pembunuhan terhadap Dr. Muhammad Husain adz-Dzahabi. (Lihat kitab al-Khawarij, Dr. Nashir al- Aql, hal. 132.)

Ciri-ciri khawarij pada jamaah modern pimpinan Syukri Musthofa adalah sebagai berikut:

1. Prinsip At-Takfir

Hal itu menurut mereka meliputi:

  1. Mengkafirkan orang yang melakukan dosa besar dan mengatakan dia telah keluar dari agama, dan ia kekal dalam neraka, seperti dikatakan Khawarij dulu.
  2. Mengkafirkan orang yang menyalahi mereka dari orang-orang Muslim (ulama dan selainnya) serta mengkafirkan orang tertentu.
  3. Mengkafirkan orang yang keluar dari jama’ah mereka atau orang-orang yang menyalahi sebagian usul-usul mereka.
  4. Mengkafirkan masyarakat Muslim (selain mereka) dan mengklaim bahwa mereka merupakan masyarakat jahiliyah.
  5. Mengkafirkan dengan mutlak setiap orang yang menghukumi dengan selain apa yang diturunkan Allah.
  6. Mengkafirkan orang yang tidak hijrah kepada mereka dan orang-orang yang tidak hijrah dari masyarakat dan lembaga-lembaga.
  7. Mengkafirkan orang-orang yang tidak mengkafirkan orang yang kafir menurut mereka secara mutlak.

2. Prinsip Wajib Hijrah dan Uzlah

Menurut mereka prinsip wajibnya hijrah dan uzlah ini meliputi:

  1. Hijrah dari masjid orang-orang Muslim dan tidak melaksanakan shalat di dalamnya, serta tidak melaksanakan shalat Jum’at.
  2. Hijrah dari masyarakat Muslim yang ada di sekitar mereka.
  3. Hijrah dari belajar dan mengajar dan mengharamkan masuk ke universitas-universitas dan sekolah-sekolah.
  4. Hijrah dari jabatan-jabatan pemerintah dan bekerja di yayasan-yayasan masyarakat dan mengharamkan berinteraksi dengan masyarakat yang mereka sebut dengan masyarakat jahiliyah yaitu setiap orang selain jama’ah mereka, yakni Jama’ah Takfir Wal Hijrah (Lihat Kitab al-Khawarij, Dr. Nashir al- Aqli, hlm. 132.)

Sebagai akibat dari penahanan, penindasan dan sikap represif rezim Thagut Mesir kepada gerakan Islam ini maka lahirlah gerakan-gerakan aneh lagi menyimpang semacam Jamaah Takfir wal Hijrah ini.

Hal ini menjadi kajian dan dianalisa oleh Rezim Thaghut Saudi, Yordan dan Mesir yang dibiayai pangeran Nayef. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Abu Mus’ab As-Suri bahwa Badan Intelijen Saudi Arabiya yang berada di bawah Menteri Dalam Negeri Pangeran Nayif bin Abdul Aziz sejak 1991 (beberapa tahun paska insiden Jamaah Takfir wal Hijrah) telah mendirikan badan intelijen yang represif, keputusan ini diambil berkat masukan dari tim kerja intelijen Mesir berserta mantan menteri dalam negeri Mesir yang bercitra buruk bernama Zaki Badr dan tim intelijen Yordan tentang metode untuk memunculkan dan memanfaatkan gerakan semacam ini untuk dibenturkan kepada musuh-musuh negara dari gerakan Islam itu sendiri.

Maka dimulailah proyek untuk melahirkan gerakan takfiri sekaligus memberangus gerakan jihad…

Asy-Syaikh Abu Mush’ab As-Suri, sebagai salah seorang ulama jihadis modern mengatakan :

“Sejumlah aktifis jihad, baik di Saudi ataupun lainya, yang selamat dari penjara Ruwais di kota Jeddah yang terkenal kekejamannya bercerita bahwa paska peristiwa dua peledakan di Riyadh dan Al-Khaibar tahun 1994, Ribuan pemuda yang mempunyai latar belakang Jihad, atau dicurigai berpaham Jihadi diinterogasi oleh aparat. Para pemuda tadi mengalami berbagai macam penyiksaan dari badan keamanan Saudi Arabia juga dari petugas bayaran dari Mesir,Tunisia, Suriah dan negara-negara yang piawai dalam ilmu penyiksaan.

Badan Intelijen Saudi Arabia benar-benar mengambil pelajaran dari eksperimen keamanan Aljazair dan kesimpulan yang mereka ambil adalah Kegunaan Aliran Takfiri untuk Membinasakan Jihad! Inilah eksperimen terpenting sehingga para intelijen gigih mengcopy paste dan membangkitkan aliran Takfir dengan mewujudkan sayap kanan sebagai penyeimbang”. (lihat kembali buku Dakwah Muqawamah karya Abu Mush’ab As-Suri dan diterjemahkan dengan judul Perjalanan Gerakan Jihad 1930-2003 penerbit‎ Jazeera-Solo hlm. 34 -35 )

Dengan melihat kembali buku Perjalanan Gerakan Jihad maka kita akan memahami konspirasi jahat ini. Inilah salah satu makar musuh-musuh Islam Global dari kalangan Rezim Thaghut Murtad yang memanfaatkan sikap-sikap aneh di dalam beragama. 

Bibit Ghulat Takfir Menurut Syaikh Abu Mus’ab As-Suri

Syaikh Abu Mus’ab As-Suri Fakallahu Asrah, beliaulah guru kita dan Hudzaifah Al-Yamani jaman kita sekarang ini. Beliau telah mengetahui makar busuk dan jahat ini. Bahwa tindakan-tindakan represif Rezim Murtad telah menghasilkan bibit Takfiri secara tidak langsung, persoalan ini telah menjadi rumus baku, dan bagaimana dengan rumus tersebut, gerakan takfiri bisa dikuasai dan ditunggangi untuk kepentingan jangka panjang demi untuk mempertahankan status quo rezim murtad ini.

Demikianlah, thaghut pun mengulangi kesuksesan mereka. Setelah sebelumnya mereka sukses membuat aliran Salafi (Salafi Maz’um) untuk dibenturkan dengan pemikiran IM (Ikhwanul Muslimin) yang kian menggurita dan menguasai berbagai sektor di seluruh jazirah Arab, maka menghadapi kaum “Radikal” semacam Al-Qaeda yang telah menjadi ancaman nyata juga sudah di rancang cukup lama, apalagi Al-Qaeda merupakan buah dari Rahim Ikhwanul Muslimin (lihat kembali kitab Dakwah Muqawamah) yang secara pemikiran dan gerakan adalah bahaya laten bagi para thaghut sehingga harus selalu diwaspadai pertumbuhan dan penyebarannya.

Para tokoh intelijen di berbagai negara pun saling berlomba untuk memprediksi pertumbuhan dan perkembangan gerakan Al-Qaeda, sekaligus menentukan faktor alami yang tepat untuk dibenturkan dengan gerakan ini. Oleh sebab itu, rezim thaghut menciptakan tokoh dan simpatisan guna dibenturkan untuk memperlemah gerakan ini menjadi agenda penting musuh-musuh gerakan ini, dimulai dari pangeran Nayef yang berkerja sama dengan agen intelijen Mesir dan intelijen Yordan untuk memilih salah satu aliran menyimpang dalam tubuh umat Islam untuk dibenturkan demi menghancurkan Al-Qaeda pada khususnya dan Jihad pada umumnya.

Dan pilihan mereka pun jatuh kepada aliran gerakan takfiri ini…

Berkenaan dengan hal tersebut, Syaikh Abu Mush’ab as-Suri mengatakan di dalam kitab Dakwah Muqawamah :

“Untuk memahami fenomena lahirnya Aliran Takfiri, harus kita pahami rumus pembentuk aliran tersebut, kami telah memformulakan hal itu, yaitu:

Penguasa Kafir dan Zhalim + Algojo bengis dan jahat + Kebangkitan Islam yang lemah + Masyarakat awam yang rusak + Kelompok pemuda yang bersemangat tetapi bodoh dan terzalimi = Kelahiran Aliran Takfiri

Kesimpulan apa yang di alami oleh fenomena ‎ini sejak kelahirannya pada awal tahun 1970 an hingga hari ini adalah bahwa aliran ini masih bersifat terbatas dan terisolir, aliran ini tidak populer dan tidak menyebar luas, baik di tengah-tengah aktivis Ash-Shahwah Al-Islamiyah (Kebangkitan Islam) maupun di kalangan masyarakat awam”. (Perjalanan Gerakan Jihad (1930-2002) Sejarah, Eksperimen, dan Evaluasi penerbit Jazeera hal. 31) 

Analisa ini juga pernah saya muat dalam tulisan analisa saya pada serial Komunikasi Politik Al-Qaeda bagian ke dua dalam bab Jihad Suriah :

“Ketika badan intelijen mempelajari fenomena ini, mereka menemukan formula dan rumus lahirnya gerakan ini, badan-badan intelijen ini memprediksikan akan lahirnya gerakan jihad beraliran takfiri karena faktor penjajahan pasukan asing dan tindakan represif rezim thaghut, serta jauhnya para aktivis jihad dari ulama yang tulus. Sehingga merekapun terjebak dalam takfir yang berlebihan karena dangkalnya ilmu serta kekecewaan terhadap mereka yang tidak sepaham.

Kehadiran bibit-bibit gerakan takfiri ini terus dikontrol dan dibina oleh intelijen, mereka menjadi alat kepentingan intelijen. Kehadiran mereka dibutuhkan seiring tumbuhnya bibit-bibit ekstrim dengan pola yang sudah dikenali oleh pihak intelijen. Intelijen pun kemudian dengan mudah melakukan operasi infiltrasi kedalamnya, mengambil data-datanya, jaringannya dan dengan keberadaan mereka, intelijen merancang skenario untuk membuat stigma buruk bagi gerakan Islam lainnya untuk menggulung habis mereka. Demikianlah yang pernah terjadi di Aljazair.

Copy-paste benih-benih takfiri ini kemudian diadopsi sisa-sisa rezim Baghdad era Saddam Husein dan Rezim murtad Nushairiyah Suriah hari ini, yang dalam dekade sebelumnya telah menanam agennya di Daulah Islam Iraq, yang keberadaannya semakin menguat paska habisnya elemen Al-Qaeda di tubuh Daulah Islam Iraq, baik karena terbunuh maupun tertawan.”(‎http://m.muqawamah.com/sangat-penting-mengenal-komunikasi-politik-al-qaeda-dalam-memimpin-umat-bag-2.html)

Akar Idiologi dan Bibit Kerusakan Gerakan Takfiri

Syaikh Athiyyatullah Al-Libi rahimahullah mengatakan didalam Jawabus Su’al fi Jihad Difa’i:

“Kami pernah menemui orang-orang seperti mereka, dan orang-orang lain pun pernah menemui orang-orang seperti mereka di banyak negara; Mesir, Libya, Aljazair, Afghanistan, Pakistan dan lain-lain. Sunnatullah tentang orang-orang seperti mereka sudah ditetapkan, ditulis dan dikenal luas oleh para ulama, orang-orang yang berakal sehat dan orang-orang yang berpengalaman; yaitu mereka mengkafirkan para ulama, penuntut ilmu, mujahidin dan seluruh masyarakat. Lalu sebagian mereka mengkafirkan sebagian lainnya.

Pada akhirnya keadaan mereka menjadi sangat buruk sekali, sampai-sampai mereka terkadang menghalalkan banyak perkara yang keharamannya telah qath’i (tegas dan pasti), seperti khamr, narkoba dan zina secara terang-terangan serta hal-hal lainnya. Kami telah melihat mereka di Pakistan menghalalkan opium dan narkoba. Pada awalnya mereka meyakini kehalalan memperjualbelikannya, lalu secara bertahap meyakini kehalalan mengkonsumsinya dan meyakini ia bukan hal yang haram; atau mereka mengatakan bahwa saat ini mereka berada di sebuah zaman yang menyerupai zaman Makkah, itulah zaman dakwah kepada tauhid semata dan tidak ada tasyri’ (penetapan hukum) yang mengharamkan perkara-perkara (opium, ganja dan narkoba) ini. (Jawabus-Su’al fi Jihad Difa’i hlm. 18) 

Saya katakana : “Sungguh! demi Allah kami menemui ‎banyak orang seperti mereka di negeri kami Indonesia. Jelas bahwa aqidah nyeleneh ini merupakan celah konflik yang akan dimanfaatkan musuh untuk ditunggangi.”

Karena sikap ekstrem dalam beragama berbanding lurus dengan kepentingan musuh, ketika musuh kita tidak mampu menjangkau kita, maka mereka akan mempergunakan orang-orang ghuluw ini untuk kepentingan sesat mereka tanpa mereka sadari, bibit-bibit kerusakan ini sudah biasa kita rasakan di Suriah, Iraq dan Aljazair. 

Benang Merah Ghulat Takfir dan Intelijen

Syaikh Athiyyatullah Al-Libi Rahimahullah, mengisahkan sebuah pengalaman berharga ketika beliau diutus oleh Komando Pusat Al-Qaeda ke Aljazair dan Libya. Beliau mengatakan:

“Demi Allah, kami telah melihat mereka dan bergaul dengan mereka di lebih dari satu negara. Para Thaghut murtad membiarkan saja mereka itu berkeliaran bebas, bergerak bebas, tidak diapa-apakan sama sekali.

Kami melihat hal itu dengan mata kami sendiri dan kami bergaul dengan mereka di Libya pada akhir-akhir tahun 80-an abad ke-20 Masehi yang lalu, saat itu serangan-serangan terhadap saudara-saudara kami yang berkomitmen dengan Islam mencapai puncak keganasannya oleh thaghut Moammar Qaddafi, para tentara dan dinas intelijennya. Meski begitu, thaghut Moammar Qaddafi, para tentara dan dinas intelijennya membiarkan begitu saja para Khawarij “Takfiriyyun”, tidak mendekati mereka, bahkan mereka diberi peluang di setiap bidang.

Mengapa demikian? Karena thaghut Moammar Qaddafi, para tentara dan dinas intelijennya mengetahui bahwa para Khawarij “Takfiriyyun” memberikan bantuan penting bagi mereka. Para Khawarij “Takfiriyyun” itu tidak menimbulkan bahaya apapun bagi thaghut Moammar Qaddafi, para tentara dan dinas intelijennya. Bahkan para Khawarij “Takfiriyyun” itu sebenarnya membantu mereka dalam memerangi kaum muslimin yang tertindas!

Bagaimana tidak, sedangkan sifat para Khawarij “Takfiriyyun ” itu sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah Alaihi Wa Sallam : “Mereka memerangi umat Islam dan membiarkan para penyembah berhala.” (. HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, An-Nasai dan ahmad )

Demikianlah, wahai ikhwah! Potensi konflik internal umat Islam digunakan musuh Islam untuk ‎menguras energi kita, menyibukkan kita dari musuh utama kita. Hal semacam inilah yang membuat kita tidak pernah menang dalam segala bidang, baik dalam memilih pemimpin, maupun meraih kemenangan jihad, sebagaimana yang terjadi di Syam, Iraq, Mesir dan Indonesia ini.

Sikap Ghuluw / Ekstrem Adalah Kartu As Musuh

Ketika musuh menemukan rumus ini, maka mereka mengulangi kesuksesan mereka ‎dengan memanfaatkan kaum ekstremis di dalam menggebuk aliran jihad yang berpotensi menjadi ancaman, mereka menciptakan tokoh dengan “tim sukses” nya untuk memutuskan langkah skenario mereka, mereka membuat aqidah dan manhaj sendiri, pedoman pergerakan dan persiapan dana agar simpul kaum ekstrem/ghulat berkumpul dan biasanya mereka akan digunakan untuk proyek-proyek jangka pendek dan digunakan untuk menggebuk lawan politik.

Intelijen Thaghut Tunggangi Kaum Ghulat Demi Memadamkan Jihad Bumi Syam

Wilayah Syam adalah proyek sukses dalam eksperimen thaghut menggunakan kartu kaum ekstrimis, hal ini sebetulnya amat wajar karena wilayah Syam (Suriah) adalah safe house dan  transit para jihadis yang ingin memasuki Iraq waktu itu. Selama 1 dekade (10 tahun sejak 2003) sejak invasi Iraq dan belakangan ini ancaman penjajah Amerika yang bercokol di Iraq menjadi alasan untuk menggalang kekuatan rakyat yang militan dalam menghadapi agresor penjajah Amerika pada waktu itu.

Walau ancaman tersebut tidak memasuki Suriah, akan tetapi perkembangan yang terjadi dalam ranah jihad Iraq menjadi pengalaman Suriah untuk menggalang kekuatan kaum Ghulat/Ekstremis, sekaligus menjadi detonator yang siap digunakan untuk menghadapi ancaman selanjutnya. Melalui jaringan database milik partai Ba’ats yang pernah menguasai Iraq dalam beberapa dekade, membuat Suriah amat mudah mencari nama-nama DPO musuh-musuh politik mereka.

Kasus pembunuhan seluruh Komandan Ahrar Syam, pembunuhan sejumlah Komandan Jabhah Nusrah dan Liwa’ Tauhid bukanlah perkara mudah, akan tetapi menjadi sangat mudah ketika memanfaatkan potensi kekuatan kaum ekstrimis yang militan berkedok Daulah Islamiyah ini. Karena mereka terkenal memiliki keberanian dan kecermatan serta kesabaran. Peranan mereka dalam pembunuhan para komandan tersebut, memberikan keuntungan bagi rezim Bashar Assad, baik secara langsung atau tidak langsung.

Geopolitik dan pengaruh kawasan yang sarat konflik membuat ketajaman intelijen Suriah ‎menjadi terasah, dari konflik Israel dan peperangan di Libanon adalah latihan sesudah pemantapan teori, potensi kekuatan digalang, dirawat dan digunakan untuk melanggengkan kekuasaan Nushairiyah di kawasan tersebut.

Walau teori ini sempat digunakan dalam program politik praktis di dalam memberangus lawan-lawan politik seperti yang terjadi Suriah hari ini, terkadang kelompok Daulah yang dalam program perangnya sejalan dengan rezim Assad itu (sama-sama memberangus kelompok militer di luar mereka) terbukti ampuh di dalam menghajar musuh-musuh utama rezim Bashar Assad. Lihatlah bagaimana rezim Assad meminjam kekuatan kelompok ini, sehingga mereka dapat menikmati hasilnya, berupa terbunuhnya para komandan lapangan Al-Qaeda di Raqqah dan Idlib (lihat kasus Abu Khalid As-Suri, Abu Saad Al-Hadrami, dan Abu Muhamad Al-Fatih, dll).

Pembunuhan para komandan jihad ini terbukti ini menaikkan nilai tawar Suriah dihadapan Amerika untuk menjadikan kawasan ini menjadi status quo, yakni mengembalikan posisi rezim Assad ke tampuk kepemimpinan. Kekhawatiran Amerika dan Israel jika Suriah jatuh ke tangan gerakan Islam menjadi cerita horror selanjutnya, maka kita bisa melihat kasus Suriah akan menjadi konflik berkepanjangan kedepannya karena sikap standar ganda Amerika yang berlagak seperti Polisi Dunia. Membaca situasi seperti ini hendaknya gerakan Islam lebih berhati-hati untuk tidak berkonfrontasi kepada peperangan antar sesama mujahidin di Suriah yang seharusnya bisa dihindari.

Sikap cerdas ini seharusnya menjadi standar baku bagi semua gerakan jihad di sana. Karena musuh seperti rezim murtad Suriah mengerti betul cara memanfaatkan potensi konflik ini, dan inilah yang digunakan Assad di dalam memukul lawan-lawan politiknya di Suriah.

Semoga para qiyadah jihad di bumi Syam senantiasa dalam kewaspadaan akan hal ini, dan dia harus memahami geoplitik dan sosial disana, harus bisa memahami masyarakat disana, karena disitulah kekuatan sesungguhnya, terpisahnya mujahidin dengan masyarakat Syam adalah malapetaka bagi Jihad.

Secuil Kooptasi Intelijen dalam Tubuh Gerakan Jihad Indonesia

Gerakan Jihad yang di bangun S.M. Kartosuwiryo adalah gerakan Jihad yang murni untuk Tathbiq Syariah di bumi Indonesia yaitu penegakan syariat Islam secara Kaffah. Sebagai akibat dari pengkhianatan Soekarno dengan menghilangkan 7 (tujuh) kata di dalam konstitusi negara adalah kecelakaan sejarah.

Hal ini mendorong ketidakpuasan umat Islam yang akhirnya sebagian dari mereka memutuskan untuk menunaikan kewajiban jihad melawan pemerintah thaghut Soekarno. Sebagai sebuah jawaban atas penyumbatan aspirasi kaum muslimin dan upaya kaum sekuler untuk menggagalkan penegakan syariat Islam di Indonesia.

Perlawanan ini bermula di Malangbong Tasikmalaya Jawa Barat, terus menyebar dari Banten hingga Jawa Tengah lalu diikuti oleh Kahar Muzakar di Sulawesi, Tengku Daud Bereueh dan Andi Aziz di Kalimantan, puncak perlawanan ini adalah pada tahun 1960 an, kemudian pada 1962 S.M. Kartosuwiryo tertangkap dan tidak lama kemudian dieksekusi di Jakarta.

Pada tahun 1970 beberapa tokoh DI berkumpul dan ingin melanjutkan perjuangan penegakan Syariat Islam ini dengan perjuangan bersenjata, akibat banyaknya ketimpangan sosial dan tersebarnya kemaksiatan, dan gerakan ini dikenal sebagai KOMJI atau Komando Jihad. Dalam perjalanannya, gerakan ini mengalami kegagalan mewujudkan cita-citanya. Para tokohnya pun banyak yang tertangkap seperti Adah Djaelani, Tengku Daud Bereueh, Danu Muhammad Hasan, Aceng Kurnia, Djaja Sudjardi. Namun demikian, rezim sekuler di Indonesia tetap saja menjadikan gerakan ini sebagai bahaya laten yang mengancam keamanan negara.

Rezim sekuler di Indonesia menganggap bahwa gerakan perlawanan Islam sebagai bahaya laten yang mengancam keselamatan Negara, bukan sekadar hipotesa teori di atas kertas akan tetapi sudah pada taraf sangat berbahaya, gerakan ini akan muncul tiba-tiba pada momentum yang tepat, bahaya ini sangat dirasakan oleh rezim thaghut Indonesia ketika kondisi negara sedang terpuruk.

Oleh karena itu, sejak tahun 1980-an gerakan ini mulai disusupi intelijen untuk di-“Cipta Kondisi”, selain untuk mengetahui Struktur Jaringan Komando gerakan ini, isu perlawanan yang akan diangkat, dan kesiapan mereka mengambil momentum adalah bagian penting yang ingin diketahui oleh rezim thaghut dari Gerakan Islam di Indonesia.

Setelah informasi mengenai gerakan ini dianggap cukup, maka rezim thaghut mempersiapkan langkah selanjutnya; yakni menciptakan tokoh dan mengkooptasi gerakan ini, maka ditampilkanlah KW 9 yang sengaja dibuat oleh BIN untuk membangun black campaign, pencitraan buruk sekaligus pembunuhan karakter bagi gerakan Islam ini khususnya NII atau DII yang murni. Siapapun melihat bahwa aksi-aksi KW9 dalam mengumpulkan dana umat baik melalui Fa’i dan Ghanimah yaitu pencurian dan penipuan menjadi warna gerakan ini.

Pola-pola di atas masih diperparah dengan pemahaman sesat lainnya, seperti menyebarkan keyakinan bahwa mereka masih dalam fase Mekkah, sehingga mereka tidak perlu melaksanakan Syariat seperti Shalat, Puasa, Zakat dan lain sebagainya. Pemahaman semacam ini memiliki benang merah kesamaan dengan gerakan Khawarij Syukri Musthofa di Mesir dengan pola yang sama, sebagaimana juga dijelaskan oleh Syaikh Athiyyatullah Al-Libi Rahimahullah di atas. Ini semua merupakan bentuk pencitraan buruk terhadap Islam dan Gerakan Islam, membuat umat menjauhi dan trauma dengan Islam yang berbau Islam , semua yang berbau Jihad, Islam, Hukum Islam adalah buruk, keji, biadab. Demikianlah, musuh-musuh Islam membuat makar kepada Islam, Jihad dan Mujahidin dan Allah Ta’ala adalah sebaik-baik Pembalas makar mereka.

Sejumlah media Islam yang cukup eksis di internet mengungkap sebuah artikel yang cukup panjang mengenai persoalan tersebut, cuplikan dari tulisan media tersebut menyatakan:

Mengenal Ciri-Ciri Gerakan NII

Sekarang media massa hingar bingar dengan peristiwa dialami anak-anak muda yang “hilang”, dan kemudian diketemukan dalam keadaan seperti “linglung”, serta menurut pengakuan mereka, mereka mengalami pencucian otak. Benarkah mereka yang “hilang” itu menjadi korban dari proses cuci otak yang dilakukan oleh NII?

Berbagai kajian yang pernah diterbitkan media massa Islam, menilai ada NII yang menyimpang jauh dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah, dan disebut-sebut memiliki kaitan erat dengan Pondok Pesantren Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat.

Pondok pesantren modern ini berdiri pada akhir tahun 1990-an, dan diresmikan oleh Presiden RI B.J. Habibie. Pondok Pesantren yang dipimpin oleh Abu Toto alias Syeikh Panji Gumilang itu, bukan hanya diresmikan oleh Presiden BJ Habibie semata, tetapi sejumlah tokoh penting pernah berkunjung dan memberikan bantuan kepada Pesantren Az-Zaytun, konon termasuk diantaranya sejumlah tokoh penting militer dan intelijen, dan bahkan diisukan mendapat suntikan dana dari Pemerintah Kerajaan Inggris.

Sampai sekarang media massa meributkan tentang NII dan dikaitkan dengan Az-Zaytun, tetapi tidak pernah ada tindakan apapun terhadap pesantren dan pengasuhnya. Seakan Pesantren itu kebal dari aparat dan hukum. Sementara itu, orang-orang yang mempunyai kaitan dengan NII, banyak yang kemudian menjadi tersangka atau dipenjara dalam waktu tertentu. Entah dituduh sebagai teroris atau melakukan gerakan yang dianggap menjadi ancaman keamanan negara.

Berbagai media massa Islam menampilkan hasil-hasil penelitian, analisis para pakar, hingga kesaksian para mantan santri pesantren tersebut sebagai bukti “kesesatan” Al-Zaytun dengan NII “jadi-jadiannya”.

Banyak yang mengatakan bahwa yang muncul ke permukaan yang menjadi fenomena sekarang ini, dan berlanjut menjadi sebuah permasalahan pelik, merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh pihak tertentu untuk menghancurkan umat Islam di Indonesia. Seandainya, argumentasi ini benar, wajar bagi umat Islam untuk menjadikan pihak-pihak yang terkait dengan gerakan tersebut sebagai ancaman serius yang selalu harus diwaspadai. (Untuk lebih detail mengenai kesesatan NII yang ditunggangi musuh-musuh Islam, ‎silahkan kunjungi:  http://www.nahimunkar.com/ciri-ciri-aliran-sesat-nii-dan-cara-mereka-cari-mangsa/atau https://moslemsunnah.wordpress.com/2011/04/25/bukti-kesesatan-nii-negara-islam-indonesia/)

Lemkari ,Islam Jamaah atau LDII

Pendiri dan pemimpin tertinggi pertamanya adalah Madigol Nurhasan Ubaidah Lubis bin Abdul bin Thahir bin Irsyad. Lahir di Desa Bangi, Kec. Purwoasri, Kediri Jawa Timur, Indonesia, tahun 1915 M (Tahun 1908 menurut versi Mundzir Thahir, keponakannya).

Faham yang dianut oleh LDII tidak berbeda dengan aliran Islam Jama’ah/Darul Hadits yang telah dilarang oleh Jaksa Agung Republik Indonesia pada tahun 1971 (SK Jaksa Agung RI No. Kep-089/D.A/10/1971 tanggal 29 Oktober 1971). Keberadaan LDII mempunyai akar kesejarahan dengan Darul Hadits/Islam Jama’ah yang didirikan pada tahun 1951 oleh Nurhasan Al Ubaidah Lubis (Madigol). Setelah aliran tersebut dilarang tahun 1971, kemudian berganti nama dengan Lembaga Karyawan

Islam (LEMKARI) pada tahun 1972 (tanggal 13 Januari 1972, tanggal ini dalam Anggaran Dasar LDII sebagai tanggal berdirinya LDII. Maka perlu dipertanyakan bila mereka bilang bahwa mereka tidak ada kaitannya dengan LEMKARI atau nama sebelumnya Islam Jama’ah dan sebelumnya lagi Darul Hadits.). Pengikut tersebut pada pemilu 1971 mendukung GOLKAR.

Ediologi Takfir Jamaah ini

 Mereka juga mengatakan dalam beberapa penjelasannya bahwa mereka mengklaim golongannya yang benar dan diluar mereka salah. Hal dapat kita dapatkan di antaranya :

“Dan dalam nasehat supaya ditekankan bahwa bagaimanapun juga cantiknya dan gantengnya orang-orang di luar jama’ah, mereka itu adalah orang kafir, musuh Allah, musuh orang iman, calon ahli neraka, yang tidak boleh dikasihi,” (Makalah LDII berjudul Pentingnya Pembinaan Generasi Muda Jama’ah dengan kode H/ 97, halaman 8).

Menganggap shalat orang Muslim selain LDII tidak sah, hingga dalam kenyataan, biasanya orang LDII tak mau makmum kepada selain golongannya, hingga mereka membuat masjid-masjid untuk golongan LDII. Bagaimanapun LDII tidak bisa mengelak dengan dalih apapun, misalnya mengaku bahwa mereka sudah memakai paradigma baru, bukan model Nur Hasan Ubaidah.

Dengan hal ini Ulama indonesia yang berkumpul dalam wadah MUI bersepakat bahwa aliran ini sesat dan menyesatkan. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat: Bahwa ajaran Islam Jama’ah, Darul Hadits (atau apapun nama yang dipakainya) adalah ajaran yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya dan penyiarannya itu adalah memancing-mancing timbulnya keresahan yang akan mengganggu kestabilan negara. (Jakarta, 06 Rabiul Awwal 1415H/ 13 Agustus 1994M, Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia, Ketua Umum: K.H. Hasan Basri, Sekretaris Umum: H.S. Prodjokusumo).

Intinya, berbagai kesesatan LDII telah nyata di antaranya:

  1. Menganggap kafir orang Muslim di luar jama’ah LDII.
  2. Menganggap najis Muslimin di luar jama’ah LDII dengan cap sangat jorok, turuk bosok (vagina busuk).
  3. Menganggap sholat orang Muslim selain LDII tidak sah, hingga orang LDII tak mau makmum kepada selain golongannya.

Detail tentang aliran ini dapat kita dapatkan dari testimoni dari mantan anggota mereka yang telah keluar dari aliran sesat ini. (Lihat surat 21 orang dari Bandung yang mencabut bai’atnya terhadap LDII alias keluar ramai-ramai dari LDII, surat ditujukan kepada DPP LDII, Imam Amirul Mu’minin Pusat , dan pimpinan cabang LDII Cimahi Bandung, Oktober 1999, Bahaya Islam Jama’ah Lemkari LDII, LPPI Jakarta, cetakan 10, 2001, halaman 276- 280).

Lihat buku Bahaya Islam Jama’ah Lemkari LDII, LPPI Jakarta, cetakan 10, 2001. Dan kita juga bisa mengunjungi web site di bawah ini  : http://www.nahimunkar.com/keluar-dari-kubangan-sesat-jamaah-galipat-burengan-kediri/#more-2349

Baik KW9 dan LDII adalah underbow bagi partai pemerintah rezim murtad orde baru yaitu Golkar yang merasa diuntungkan dengan penyimpangan ormas dan jamaah ini, sehingga ummat islam merasa alergi dengan islam itu sendiri dan kemudian mendukung partai pemerintah, mereka juga menjadi penyeimbang bagi gerakan yang mengancam kekuasaan orde baru saat itu. 

Cara ini terbukti cukup efektif dalam memberikan pencitraan buruk Islam, sehingga dakwah kita tersendat dikarenakan Ummat Islam akan bersifat Apriori / curiga, hal ini secara tidak sadar telah menjauhkan gagasan Islam dengan ummat islam itu sendiri, maka terkadang para du’at dan Astatidz perlu pandai bermanuver dan berkompromi terhadap kebiasaan-kebiasaan masyarakat, jika tidak mereka akan dimusuhi, ditolak dakwah nya dan bahkan  terusir dari wilayah garapan dakwahnya .

Modus dan penyimpangan ini cukup sukses dan di adopsi banyak pemerintah thaghut di negeri Islam didalam menghadapi radikalisme Islam, mereka dibenturkan, menjadi penyeimbang, manjadi isu hangat, pembentukan opini dan menjadi alasan untuk memberangus gerakan Islam dimana saja, sekalipun gerakan Islam itu menempuh jalur non kekerasan sekalipun seperti Ikhwanul Muslimin di mesir, La Haula walaa quwwata.

Makar Jahat Thaghut dan Kebodohan Kaum Ekstrim dalam Merusak Jihad Al-Jazair

Setelah merdeka dari negara Perancis pada tahun 1962, Aljazair dipimpin oleh Presiden Bella. Kemudian munculah Boumedienne sebagai Presiden setelah menggulingkan Bella dan berkuasa selama 16 tahun. Posisi Presiden Aljazair kemudian digantikan oleh Chadli Benjedid, Dia adalah Sekjen Partai Pembebasan Nasional (FLN). Asal tahu aja, FLN adalah satu-satunya partai yang ada di Aljazair. Setelah terjadi pemberontakan dan penentangan terhadap pemerintahan dan FLN, Bendjedid melakukan reformasi dengan mengizinkan berdirinya partai-partai baru. Nah baru pada tahun 1989 berdirilah sebuah partai yang bernafaskan Islam bernama le Front Islamic du Salut (FIS). FIS ini didirikan atas desakan masyarakat Aljazair yang mayoritas muslim. Umat Islam Aljazair kecewa karena satu-satunya partai yang dibentuk pada masa pemerintahan Boumedienne yaitu FLN yang berasaskan sekular gagal dalam mewujudkan kemajuan.

Pendekatan intensif yang dilakukan terhadap rakyat oleh FIS rupa-rupanya berhasil. Hasilnya dalam waktu yang singkat, simpati rakyat pun tertuju pada FIS, hingga mengantarkannya kepada kemenangan pemilu. Umat Islam menyambut gembira kemenangan FIS ini. Rakyat Aljazair menginginkan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik dengan Islam. Kemenangan FIS pada pemilu putaran pertama dan kedua menunjukan bahwa sebagian besar rakyat Aljazair menginginkan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, kehidupan yang lebih Islami. Sudah cukup bagi FIS dan pemerintahan yang akan terbentuk setelahnya untuk menerapkan Islam.

Akan tetapi sayang sekali, keinginan mulia kaum muslimin Aljazair untuk hidup dalam naungan Islam harus sirna ditelan sang diktaktor yang menjadi bodyguard-nya sistem sekuler. Harapan tegaknya pemerintahan Islam pun tinggalah harapan, kemenangan FIS pada pemilu saat itu membawa dilema tersendiri bagi presiden Aljazair kala itu, Benjedid. Pada satu sisi ia harus menegakkan demokrasi yang berarti dia harus mengakui kemenangan FIS, membiarkan FIS berkuasa. Tapi di lain pihak ia mendapat tekanan dari militer dan Barat untuk membatalkan hasil pemilu untuk menjegal FIS.

FIS harus menelan pil pahit saat militer mengambil alih dan memburu para aktivisnya untuk dijebloskan ke penjara, dalam tragedi pembantaian junta militer Aljazair terhadap para tokoh, anggota dan pendukung Partai Front Penyelamat Islam (le Front Islamique du Salut/FIS). Tindakan junta militer Aljazair yang membantai ribuan rakyat Aljazair, belum ditambah dengan penahanan, penyiksaan dan pemerkosaan kaum muslimin dan muslimat yang mencita-citakan tegaknya syariat Islam, telah merubah gerakan Islam di daerah tersebut untuk mengambil jalan Jihad fi Sabilillah dalam wadah Al-Jamaah Al-Islamiyah Musalahah.

Namun, bergabungnya sejumlah tokoh yang telah bebas dari penjara dan para bekas tawanan Muslim dalam gerakan jihad, serta masuknya tokoh-tokoh yang terkenal penyimpangannya di Peshawar sejak era Jihad Afghan I melawan Soviet, telah membawa atmosfer kemarahan yang tidak wajar, dendam terhadap lingkungan yang berujung pada sikap ghuluw (berlebihan), saling mengkafirkan bahkan saling bunuh sesama mujahidin yang puncaknya pada peristiwa kegagalan total gerakan jihad dan diberangusnya eksistensi mujahidin. Keadaan tersebut, bahkan memaksa Syaikh Athiyatullah Al-Liby keluar dari Aljazair karena nyaris dibunuh oleh kelompok takfiri ini. Sementara pada saat itu, Syaikh Athiyatullah mendapat mandat dari Syaikh Usamah bin Laden dalam membantu Jihad.

Rusaknya gerakan Jihad di Aljazair pada saat itu disebabkan oleh masuknya pemahaman takfiri di kalangan Jihadis di sana, operasi militer di pasar-pasar, masjid-masjid dan tempat-tempat umum telah membuat trauma yang cukup efektif sehingga berhasil memisahkan ‎mujahidin Al-Jazair dari umat Islam disana.

Oleh sebab itu, ketika terjadi Arab Spring / Musim Revolusi Arab pada pertengahan 2011, umat Islam di sana tidak banyak merespon terhadap kejadian seperti di Mesir, Yaman, Suriah, Tunisia dan Bahrain.

Memang benar, umat Islam di Aljazair trauma dengan bentuk-bentuk kekerasan melawan militer pasca pembatalan kemenangan partai FIS di masa-masa sulit pada tahun 1990an sehingga menimbulkan antipati rakyat terhadap pemerintah. Akan tetapi, pemahaman takfiri membuat Jihad di Aljazair gagal mencapai cita-citanya akibat komukasi politik yang sangat buruk terhadap umat.

Hal ini terbukti efektif membungkam gerakan Islam dan menjauhkan kekuatan pendukungnya. Syaikh Abu Mus’ab As-Suri Fakallahu Asrah menjelaskan bahwa kebijakan Barat Salibis melalui penguasa rezim murtad adalah dengan membantu aliran takfir untuk tampil kepermukaan, juga menyebarkan benih-benih takfir dengan operasi badan intelijen. Mereka juga menggunakan sarana media untuk mencampur adukan pemikiran takfiri dengan pemikiran Jihadi. Tujuannya adalah membenturkan antara kedua kelompok tersebut, inilah yang diterapkan tahun 1993-1997 dan mereka berhasil ( Perjalanan Gerakan Jihad 1930-2002 penerbit Aljazeera) 

Hal ini pula lah yang disebutkan berungkali oleh Syaikh Athiyyatullah Al-Libi Rahimahullah bahwa jihad Aljazair telah dirusak oleh orang-orang yang ghuluw (ekstrem) di dalam beragama sehingga orang sebaik beliau pun tidak luput dari upaya makar dan pembunuhan dari orang-orang ghuluw tersebut ‎dan kisah beliau telah di tulis oleh Syaikh Abu Bara’ Al-Kuwaiti murid beliau sekaligus kawan seperjuangan beliau, di antara kisah beliau yang ia sebutkan :

“Pada tahun 1995 M dan atas arahan Syaikh Usamah bin Ladin, Syaikh Athiyatullah Al-Libi berangkat ke Aljazair untuk turut serta memimpin jihad di Aljazair. Namun karena orang-orang yang gampang mengkafirkan (Takfiriyyun) seperti Antar Az-Zawabiri, Jamal Az-Zaituni dan lain-lain menguasai medan jihad di sana, maka Syaikh Athiyatullah Al-Libi keluar dari Aljazair dengan terpaksa —sebagaimana beliau ceritakan kepada saya— setelah beliau mengalami upaya pembunuhan oleh kelompok takfiriyah tersebut.

Beliau dan dua orang ulama mujahidin yang bersama beliau akan dibunuh karena mereka mengingkari sebagian tindakan kelompok takfiriyah (Jama’ah Islamiyyah Musallahah) tersebut. Maka mereka membuat makar dengan menempatkan Syaikh Athiyatullah Al-Libi di sebuah tempat, lalu mereka mengatakan: “Jamal Az-Zaituni akan datang untuk menemuimu di sini.”

‎Namun syaikh dengan kecerdasan dan ketajaman firasatnya mencium bau persekongkolan busuk mereka. Maka beliau pun melarikan diri dan menempuh perjalanan yang sangat panjang untuk keluar dari Aljazair. Beliau dikaruniai berkah sehingga akhirnya bisa tiba di Afghanistan untuk kedua kalinya.” (Majalah resmi Al-Qaeda Khurasan,Thalai’ Khurasan Edisi 21 / Ramadhan 1433 H)

Hal demikian juga diceritakan ‎beliau didalam kitab beliau Jawabus Su’al fi Jihad Difa’i tentang keadaan mereka, kisah tersebut sebetulnya juga terjadi di Indonesia sebagaimana yang saya sebutkan di atas, dan Syaikh menceritakan pengalamannya menurut yang beliau lihat dan saksikan sendiri di beberapa negara tentang perasoalan tersebut. Beliau menutup keterangannya tentang mereka dengan mengatakan:

“Demikian juga yang kami dengar tentang keadaan mereka, di beberapa tempat dan beberapa negara. Kisah-kisah mereka hampir serupa di setiap tempat. Kalian nanti juga akan melihat keadaan tersebut pada diri mereka, Abu Maryam Al-Mukhlif dan para pengikutnya. Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang memiliki akal sehat.

Hal ini, demi Allah, merupakan bukti nyata bagi orang yang memiliki hati, mau merenungkan dan menginginkan kebenaran. Bagaimana mungkin thaghut rela kepada mereka dan membiarkan mereka bebas bergerak dan beraktifitas di negaranya, seandainya mereka memang benar di atas kebenaran, tauhid dan jalan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Namun thaghut mengetahui bahwa mereka adalah benih kerusakan dalam “jama’ah muslimah”, yaitu di tengah kaum muslimin. Maka thaghut membiarkan mereka membuat kerusakan (di tengah umat Islam), bahkan terkadang thaghut mendukung mereka, membuka pintu lebar-lebar untuk mereka dan memberi bantuan kepada mereka dalam sikap ekstrim mereka sehingga thaghut mempergunakan mereka untuk “memukul” kaum muslimin. Cukuplah Allah sebagai pelindung kita dan Dialah sebaik-baik pembela.” (Jawabus Su’al fi Jihad Difa’i dan diterjemahkan oleh Manjaniq Media dengan judul Mudah Mengkafirkan ‎hlm. 67-68) 

Dari kasus kejadian di atas, terlihat bahwa kegagalan Dakwah dan Jihad kita ‎semua justru di akibatkan masalah internal kaum muslimin, baik dalam perkara-perkara strategi maupun perkara pemahaman, kita terjebak kepada masalah yang sebetulnya tidak penting tetapi menganggapnya sebagai persoalan yang sangat penting, kita lupa kepada musuh utama kita, sedangkan potensi konflik sesama kita, kita obral dan angkat sehingga secara tidak sadar menjadi celah pintu masuk musuh umat Islam untuk membuat makar, perpecahan, permusuhan dan kebencian. Lalu kita saling baku bunuh didalamnya.

Sungguh musuh-musuh kita menikmati pertikaian ini, mereka dapat bersantai sejenak, duduk sejenak dan tidur sejenak, sementara kita habis binasa dengan pertikaian sesama kita. Hal inilah yang menjadi sebab kekalahan kita, jauhnya kita dari pertolongan Allah, jauhnya kemenangan kita di dalam menghadapi musuh-musuh utama kita.

Musuh-musuh kita telah sukses memperdaya kita, memecah belah persatuan dan barisan kita, lihatlah para ulama dan para asatidz, tokoh umat Islam dalam thiyyar jihadi saja sudah seperti ini, dahsyatnya fitnah Dajjal dan Fitnah Duhaima / kegelapan ini, walau oknum Dajjalnya sendiri belum datang, tetapi peristiwa yang mengiringinya tidak beda jauh kesesatanya dan gelapnya dari Dajjal itu sendiri, sehingga Al-Haq dianggap Al-Batil, begitupun sebaliknya Al-Batil dianggap sebagai Al-Haq.

Maka benarlah nasihat tokoh tabi’in bernama Sufyan bin Uyainah Rahimahullah:

“Jika manusia berselisih (dalam perkara agama ini di masa kamu hidup didalamnya) maka berpeganglah (kembalilah) kepada fatwa / ucapan ahli tsugur karena kebenaran ada pada mereka, Allah ta’ala berfirman:

‘Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik’.” (Q.S. Al-Ankabut: 69)

Berdasarkan pendapat para Ulama tersebut, jika ada orang yang berselisih pendapat dengan orang-orang yang secara nyata telah berjuang di medan jihad, sedang dirinya sendiri sama sekali belum pernah ke medan jihad maka pendapatnya harus ditinggalkan dan mengambil pendapat para ulama yang berjuang yaitu para ulama yang kita kenal kejujuran, karya-karyanya, keteguhannya di dalam jihad, istiqomahnya mereka di dalam perkataan dan perbuatan mereka walau musuh-musuh Islam menawannya.

Maka dalam masalah ini kita akan melihat bagaimana kekhawatiran dan kehati-hatian mereka, firasat mereka akan lahir dan tumbuhnya praktik-praktik penyimpangan dalam jihad hari ini, yang secara tidak sadar telah menggembosi Jihad, merusak Jihad, memperburuk citra Jihad dan mujahidin yang penuh barokah ini.

Kekhawatiran para Qiyadah Al-Qaeda Akan Penyusupan Kaum Ghulat/Ekstrimis

Keprihatinan Ulama dan Komandan Mujahidin Al-Qaeda akan fenomena kemunculan individu dan kelompok yang sangat mudah dan gegabah dalam mengkafirkan sesama muslim ini (sedangkan dalam benak dan keyakinan orang-orang “aneh” tersebut: mereka tengah mengkafirkan orang musyrik) telah memberikan dampak sangat buruk, tidak saja kepada aspek dakwah, namun juga kepada aspek jihad di jalan Allah ta’ala.

Bahkan, Asy-Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah pun ikut menyayangkan fenomena ini. Dalam surat yang beliau tulis kepada syaikh Athiyatullah Al-Libi rahimahullah, beliau merekomendasikan kepada syaikh Athiyatullah Al-Libi untuk menulis sebuah buku panduan ringkas guna menyikapi fenomena mudah dan gegabah dalam mengkafirkan sesama muslim tanpa mengindahkan kaedah-kaedah syariat tersebut.

Dalam surat yang melampirkan pernyataan bela sungkawa atas gugurnya syaikh Musthafa Abul Yazid rahimahullah (amir Al-Qaeda wilayah Afghanistan dan Pakistan) dan pengangkatan syaikh Athiyatullah Al-Libi sebagai amir baru Al-Qaedah wilayah Afghanistan dan Pakistan tersebut, syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah antara lain menulis:

“Setelah ikhwan-ikhwan di daerah-daerah melaksanakan dengan penuh komitmen buku panduan (operasi militer Al-Qaeda, edt) tersebut, maka alangkah baiknya apabila antum dan syaikh Abu Yahya Al-Libi menulis sejumlah artikel untuk menasehati para aktivis di media jihad secara umum, termasuk di dalamnya para penulis yang membela mujahidin dalam situs-situs internet.

Syaikh Yunus (Al-Mauritani, pengawas operasi militer Al-Qaedah untuk wilayah Asia Barat dan Afrika, edt) telah menulis surat kepada saya menjelaskan pentingnya merilis sebuah buku panduan ringkas yang menjelaskan sikap kita dari masalah pengkafiran yang tidak mengindahkan kaedah-kaedah pengkafiran dalam syariat.

Maka saya menulis surat balasan kepadanya bahwa saya akan mengirimkan kepada Anda surat yang telah beliau tulis kepada saya. Surat tersebut saya lampirkan di akhir surat saya ini. Saya juga telah meminta beliau untuk terus-menerus mengirimkan pengamatan-pengamatan beliau kepada Anda, agar Anda menulisnya dengan gaya bahasa Anda, mengingat musuh (AS dan aliansinya, edt) bisa mengetahui sosok beliau yang sebenarnya melalui para tawanan yang mengenal gaya bahasa beliau melalui penelaahan artikel-artikel beliau di situs internet.” (Rasail Syaikh Usamah bin Ladin al-lati Nusyirat Ba’da Istisyhadihi, risalah no. 19, hlm. 14).

Surat-surat Syaikh Usamah tersebut ditemukan di rumah beliau di Abottabad oleh pasukan salibis AS dan dipublikasikan oleh Combating Terrorism Center (CTC). Surat syaikh Usamah no. 19 tersebut ditulis pasca gugurnya syaikh Musthafa Abul Yazid, sekitar bulan Mei 2010 M.

Adapun syaikh Yunus Al-Mauritani dalam suratnya kepada syaikh Usamah bin Ladin ~yang juga dilampirkan oleh syaikh Usamah dalam suratnya kepada syaikh Athiyatullah Al-Libi~ menyebutkan dua bentuk ketergelinciran yang sangat berbahaya, yaitu dalam bidang keamanan (security) dan sikap ekstrim-mengkafirkan tanpa mengindahkan kaedah-kaedah pengkafiran sesuai syariat.

Beliau menulis:

“Kedua, ketergelinciran sikap ekstrim dan mengkafirkan tanpa mengindahkan kaedah-kaedah syariat. Dalam hal ini sangat perlu menjelaskan sikap kita dengan cara yang tidak mendua dan tidak ada kesamaran lagi, dan harus dibuat sebuah buku panduan ringkas namun jelas dan tegas, ditujukan kepada setiap pemuda kebangkitan.

Faedah-faedah buku panduan ringkas tersebut tidak asing lagi, seperti menjelaskan keyakinan yang kita yakini dalam agama Allah, nasehat bagi diri kita dan orang-‎orang yang kita cintai dari kalangan seluruh makhluk, dan mencampakkan tuduhan-tuduhan ini (bahwa kita adalah orang-orang yang serampangan mengkafirkan, edt) dari diri kita dan meluaskan cakrawala wawasan saudara-saudara kita.

Sebab saat ini kita menghadapi suatu fase di mana sempitnya cakrawala wawasan telah menjadi fenomena mematikan, kebodohan terhadap syariat menjadi hal yang menghancurkan, tidak menyebar ratanya kesadaran syariat dalam taraf yang mencukupi telah menjadi padang penggembalaan yang buruk. Apalagi saat ini mulai menyebar luas di situs internet istilah “salafi jihadi”, sehingga dikatakan “fulan bukan berada di atas manhaj salafi jihadi” dan ucapan-ucapan semisalnya.

Ini merupakan perkara yang sangat berbahaya, terutama dengan mulai munculnya “tokoh-tokoh” aliran ini yang dianggap sebagai bagian dari kita (Al-Qaedah, edt) namun membangun pendapat-pendapat yang sangat ekstrim dan tegas (pasti, qath’i) dalam perkara-perkara ijtihad yang sifatnya zhanni. Lalu atas dasar pendapat-pendapat sangat ekstrim tersebut mereka memilah-milah manusia dan mengklasifikasikan mereka dengan cara yang nampak jelas tidak terlepas dari tangan-tangan DINAS INTELIJEN dan para INFILTRAN. Kemungkinan itu ada, meskipun kita tidak memastikannya.

Hal ini akan membatasi kita dan mengucilkan kita dari umat Islam oleh klasifikasi-klasifikasi yang sakit seperti ini, yang lebih dekat kepada sikap saling mencela dengan pangggilan yang buruk, daripada kepada upaya menegakkan agama.

Kalian telah mengalami hal seperti itu di Peshawar ‎dan kalian telah melihat dampak-dampak negatifnya di Aljazair.

Jika prinsip (mengklasifikasikan orang atas dasar pendapat-pendapat sangat ekstrim) ini telah tertanam secara mendalam dalam diri manusia, maka ia terkadang menyebabkan orang-orang akan terhalangi dari mengatakan kalimat kebenaran karena takut klasifikasi-klasifikasi tersebut.

Maka penyakit ini harus diberantas sejak dini, meluaskan cakrawala pemahaman manusia dan mengajak mereka kepada kebenaran dengan cara yang bijak.

Kita bukanlah pihak yang memonopoli orang-orang salafi, bukan pula memonopoli para pengikut madzhab-madzhab. Justru kita menjadi bagian dari seluruh umat Islam dan kita mengambil pendapat para ulama mereka sesuai kadar kesesuaiannya dengan kebenaran dengan dalilnya.

Dalam hal itu kita tidak memiliki sedikit pun kerendahan. Kita tidak menjauhi para pengikut madzhab-madzhab yang diikuti meskipun mereka mengendarai punuk unta taklid. Kita juga tidak menjauhi para pengikut salafi meskipun mereka mengendarai punggung kuda ijtihad.

Setiap kelompok tersebut adalah bagian dari umat Islam, dan pendapat masing-masing kelompok tersebut bisa diambil dan bisa ditolak (berdasar kesesuaian atau ketidak sesuaiannya dengan syariat Islam, pent), kecuali pendapat orang yang kepadanya diturunkan surat al-Baqarah Shallallahu ‘alaihi wa Salam (maka wajib diterima semua pendapatnya karena berdasar wahyu Allah).

Dalam perkara-perkara yang sifatnya ijtihadiyah ‘amaliah (amal perbuatan), maka ada kelonggaran. Sementara ‎mayoritas perkara yang sekarang ini kita berperang karenanya adalah perkara-perkara yang telah disepakati oleh para ulama Islam yang diakui kapabilitasnya.

Oleh karena itu harus dibuat sebuah buku panduan ringkas oleh sebagian ulama seperti syaikh Abu Yahya (Al-Libi, edt) dan syaikh Mahmud (Athiyatullah Al-Libi, edt), yang didalamnya mereka menjelaskan masalah-masalah pengkafiran dan menonjolkan aspek kehati-hatian dalam menjatuhkan vonis kafir atas individu-individu (takfir mu’ayyan) serta menjelaskan bahwa kehati-hatian dalam perkara tersebut adalah lebih layak daripada sikap gegabah, terlebih dalam kondisi-kondisi yang masih samar.

Adapun orang yang telah jelas statusnya dan telah terang perkaranya, maka ia dikafirkan dan vonis tersebut dijatuhkan oleh orang-orang yang memiliki kapabilitas dan kelayakan atas hal itu.

Demikian juga selayaknya membuka pikiran mereka terhadap masalah-masalah syar’i dan masalah-masalah siyasah (taktik, politik, edt) sehingga mereka naik kepada level: “Orang mukmin itu cerdas dan teliti (tak gegabah).”

Saya berpendapat bahwa memakai sarana artikel “Jawaban atas pertanyaan tentang jihad defensif” ( jawabus Su’al Jihad Difa’i) karya syaikh Mahmud ( Syaikh Athiyyatullah Al-Libi) akan sangat bermanfaat sekali dalam masalah tersebut dan hendaknya artikel tersebut dipublikasikan seluas mungkin dengan beragam cara dan sarana.” (Rasail Syaikh Usamah bin Ladin al-lati Nusyirat Ba’da Istisyhadihi, risalah no. 19, hlm 47-48 juga telah dimuat muqadimah terjemahan Jawabus Su’al penerbit Manjaniq media)

Hari ini kekhawatiran para Syuyukh menjadi kenyataan, setelah kaum ghulat/ekstrimis berhasil menggagalkan Jihad di Aljazair dan Iraq kini mereka mengulangi kesuksesan di Syam. hal ini mungkin tidak disadari oleh kita semua, akan tetapi kesamaan modus operandinya bisa kita kenali dari tanda-tandanya, ciri-ciri dan sifat-sifatnya. Dan kejadian seperti ini kembali terulang berkali-kali tanpa kita sadari.

Terdapat sebuah riwayat yang menyatakan:

Orang yang beriman tidak jatuh/tersakiti pada satu lubang dengan dua kali.

Benar! Orang mukmin tidak akan jatuh pada lubang yang sama, benarlah ‎ungkapan hadits di atas dan Abu Ubaid berkata: “Makna dari hadits diatas adalah tidak layak seorang mukmin apabila dilukai dari satu sisi kemudian ia kembali padanya.”

Agama kita melarang kita berbuat ceroboh dan mudah tertipu serta wajib bagi kita senantiasa sadar dan waspada. Maka apabila seorang mukmin tersengat binatang dalam satu lubang untuk kali pertama maka itu satu kelalaian. Namun jika ia kembali memasukkan tangannya kedalam lubang tersebut maka itu kebodohan, kedunguan dan ketololan.

Kesimpulan Gerakan Takfiri ini

Syaikh Abdul Aziz bin Syakir Asy-Syarif hafizhahulah menyebutkan bahwa sikap mereka yang ekstrim, mudah dan gegabah dalam mengkafirkan tersebut ~sadar maupun tidak sadar~ telah melayani musuh-musuh Islam. Sikap mereka tersebut ~sadar maupun tidak sadar~ telah merusak dakwah dan jihad dari tiga aspek:

Pertama, memisahkan mujahidin dari umat Islam dengan menggambarkan mujahidin ~bagi orang awam yang bodoh dan tidak mengenal hakekat mujahidin~ sebagai orang-orang ekstrim yang mengkafirkan kelompok-kelompok, ulama-ulama dan juru dakwah Islam yang berbeda pendapat dengan mujahidin.

Kedua, menyebarluaskan pemahaman-pemahaman ekstrim di tengah kelompok-kelompok mujahidin dalam perkara-perkara yang sifatnya ijtihad fiqih yang bersifat zhanni. Akibatnya sebagian mujahidin yang terkena racun pemikiran-pemikiran tersebut akan mengarahkan peperangan mereka kepada umat Islam sendiri, yaitu orang-orang Islam yang mereka vonis sebagai “orang-orang musyrik”, “orang-orang kafir” dan “ahlu bid’ah”. Hal itu akan mengalihkan konsentrasi mujahidin dari memerangi aliansi zionis, salibis, paganis dan komunis yang memerangi kaum muslimin.

Ketiga, mengecilkan dan meremehkan kedudukan para ulama mujahidin dan komandan mujahidin dalam pandangan masyarakat serta mencela mereka, dengan tuduhan para ulama mujahidin dan komandan mujahidin memiliki kelemahan di bidang kajian syariat dan tidak memiliki ilmu yang mumpuni.

Dengan demikian masyarakat luas akan meragukan kemampuan para ulama mujahidin dan komandan mujahidin. Lalu masyarakat akan meninggalkan para ulama mujahidin dan komandan mujahidin, terutama para ulama dan komandan yang memiliki peranan penting dalam mengatur jihad di bidang syariat maupun operasi lapangan.

Jika umat Islam telah hilang kepercayaan kepada para ulama mujahidin dan komandan mujahidin serta meninggalkan mereka, maka umat Islam akan menyerahkan kepemimpinan dakwah dan jihad mereka kepada orang-orang bodoh dan “anak-anak kecil”.

Usaha memetik kemenangan dakwah dan jihad yang telah dirintis selama puluhan tahun oleh para ulama mujahidin dan komandan mujahidin akan musnah begitu saja dalam hitungan‎ waktu yang singkat oleh orang-orang yang disifati oleh nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa Salam sebagai “orang-orang yang muda usianya dan sempit wawasannya”.

Pada saat itulah umat akan menemui kehancurannya dan musuh-musuh Islam bertepuk tangan karena meraih kemenangan dengan “meminjam” tangan orang-orang Islam sendiri. (Syaikh Abdul Aziz bin Syakir Asy-Syarif, Tanzihu I’lam Al-Mujahidin ‘an ‘Abatsi Al-Ghulat Al-Mufsidin, hlm. 17)

Tidak heran apabila banyak ulama dan komandan mujahidin mensinyalir bahwa dinas intelijen para thaghut dan LSM-LSM zionis-salibis biasa menunggangi atau melakukan infiltrasi lewat orang-orang yang sangat ekstrim, mudah dan gegabah dalam mengkafirkan tanpa mengindahkan kaedah-kaedah syariat.

Silahkan mengkaji, misalnya, artikel yang dimuat oleh situs mimbar at-tawhid wal jihad yang berjudul “Hal hunaka ‘alaqatun baina Muassasah Rand wa ghulat at-takfir” (Apakah ada kaitan antara Rand Corporation dan orang-orang yang ekstrim dalam masalah pengkafiran?), lihat http://www.tawhed.ws/r?i=16011030.

Kita tertipu dengan euforia khilafah palsu ala Al-Baghdadi, hausnya kita kepada Khilafah Islamiyah hari ini tidak menjadi alasan hilang kewarasan otak kita , insting kita dan logika kita!

Rindu kita, semangat kita dalam penegakan Syariat Islam di bumi ini tidak menjadikan alasan kita sebagai busur dan mata pedang untuk dada-dada kaum muslimin lainnya.

Tidakah kita mengambil pelajaran dari kegagalan kita yang lalu, cukuplah pengalaman pahit kegagalan saudara-saudara kita di Mesir dan Aljazair menjadi Ibrah/pelajaran yang baik untuk tidak di ulangi dan disebarkan. Mengapa kita tidak melihat dulu, bersabar dan meminta nasihat kepada penghulu kita dalam Jihad kita?

Sadarkah kita‎, bahwa kita telah di gunakan musuh untuk melawan saudara-saudara kita yang tidak sependapat dalam beberapa masalah Furu’ dan yang kita anggap Ushul/ pokok, dan tidak masuk akal jika ini menjadi alasan kita untuk meng-eksekusi, memenggal kepala saudara-saudara kita muslim terlebih sesama Mujahid , wal Iyyadzubillah.

Demikian adanya, bila ada kebenaran datangnya dari Allah dan kekurangan, kesalahan dan kealpaan dari pribadi saya-Wallaahu a’laam bis-shawaab.

Wassalamu alaikum warahmatullaahi wabarakatuh

  • Penulis: Abu Jihad al Indunisi
Advertisements