Salah satu ikhwan bercerita dalam mimpinya, “Abu Mahdi terlihat gagah dengan baju askarinya, dan berkata;

“Yaa akhii… aku telah syahid di atas bukit itu.!!”

Seraya menunjuk ke atas sebuah bukit.

Begitu terbangun, sang ikhwan menceritakan mimpinya kepada ikhwan yang lainnya.

Kemudian ikhwan yang lain yang bersama Abu Mahdi sebelum saat-saat kesyahidannya mengatakan;

Ketika menjelang perang tersebut, Abu Mahdi meminta dengan sangat kepada komandan perang Mujahidin untuk maju membawa mobil istisyhadiyah ke arah musuh.

Tapi komandan menolak, karena mengingat peran beliau masih sangat dibutuhkan tandhim.

Akan tetapi kerugian personil di pihak Mujahidin tidak dapat terelakkan dalam peristiwa tersebut.

Allah panggil 20 syuhada. 16 pasukan dari Jund Al-Aqsa dan 4 pasukan dari Jabhah Nusrah. Salah satu dari syuhada itu adalah akh Abu Mahdi Al-Indunisi.

Setelah terkena hujan rocket grad musuh, Beliau menghembuskan nafas terakhirnya menghadap Allah.

Perang di tunda untuk sementara dan jenazah para syuhada segera di evakuasi, serta pasukan yang terluka segera di bawa ke rumah sakit.

Tepat di waktu tengah malam, terdengar suara ambulan meraung-raung. Mengantar jenazah Abu Mahdi ke rumah beliau di Jabal Zawiyah.

Keluarga yang telah mendapat berita dari gelombang radio, menyiapkan tempat untuk kedatangan jenazah.

Sampai di rumah duka, Jenazah diangkat dibawa ke rumah. Satu persatu kerabat beliau mendekat, mencium dan memandang haru jenazah. Begitu juga anak dan istri beliau terlihat sedih.

Waktu itu wajah jenazah Abu Mahdi terlihat bersih, walaupun dengan luka di wajahnya.

Ketika salah satu kerabatnya yang bernama Abu Saad berkata dengan intonasi yang agak keras hingga dapat didengar oleh hadirin… ;

“Yaa Abu Mahdi, kami keluargamu tak akan menangisi kesyahidanmu..!!

Seperti yang kau pesankan kepada kami!!”

Sontak keluarga menahan kesedihan dan tetesan air mata mereka.

Tetapi Subhanallah, wajah jenazah beliau yang sebelumnya bersih, tiba-tiba meneteskan air mata .. seolah-olah mendengar apa yang dikatakan oleh kerabatnya tersebut.

Sebuah pesan terakhir yang ditunaikan oleh keluarga beliau yang membuat akhir penutup beliau meneteskan air mata walaupun telah mati.

* * * * * * * *

Pada hari Ahad, (02/6/2016) suara rocket dan mitfa jahannam di lontarkan Mujahidin ke arah pertahanan syiah di Tall Eizz, Allepo.

Semakin sore semakin banyak yang di tembakkan.

Pasukan pemburu dan pencari syahid siap untuk menggempur pertahanan musuh, tanpa menoleh ke belakang hingga Allah memutuskan dengan keputusannya “Menang Atau Mati Sebagai Syuhada.”

Nyaring terdengar dari garis terdepan senandung Nasyid dari Mujahidin indonesia, mengiring semangat mereka yang sebentar lagi akan masuk ke dalam kancah pertempuran yang sengit.

Abu Mahdi .. salah satu mujahid yang melantunkan nasyid yang sangat menggelora.

Satu persatu Mujahidin berpelukan dan saling berwasiat sebelum maju dalam peperangan.

Tiba pukul 05.00 sore..

Tank mujahidin bersiap maju, begitu pula BMB personil juga BMB istisyhadiyah telah di parkir di garis paling depan yang berdekatan dengan musuh.

Tapi keadaan berubah drastis, Drone pasukan syiah terus memantau pergerakan Mujahidin, dan pada satu titik ketika Mujahidin sedang berkumpul, ditembakkanlah puluhan rocket grad dari posisi koalisi musuh. Qadarullah menghujani tepat di sekumpulan Mujahidin.

Salah satu rocket mengenai penyimpanan nitroselulose, majmuah mitfa Mujahidin.

Sehingga menimbulkan ledakan besar dan api yang berkobar-kobar. Bahkan membakar BMB istisyhadiyah di dekatnya.

SubhanAllah BMB itu tidak meledak.

Sebuah kejadian yang luar biasa yang Allah karuniakan pada mujahidin.” (tgr/ansharalislam)

Advertisements