Pada kisah sebelumnya, syaikh Aiman Azh-Zhawahiri telah menceritakan bagaimana syaikh Usamah bin Ladin bekerja dengan semua unsur umat Islam tanpa terbelenggu oleh fanatisme kelompok, kezuhudan beliau dan kegemarannya dalam berinfaq. Dalam kisah kali ini, syaikh Aiman akan kembali menuturkan sejumlah kenangan berharga selama menyertai jihad syaikh Usamah. 

Beliau memiliki hubungan yang sangat unik dengan para pengawal beliau. Hubungan tersebut adalah hubungan di jalan Allah, untuk mencari wajah Allah. Para ikhwah tersebut melaksanakan semua itu untuk mencari ridha Allah Ta’ala. Karena tidak mungkin seorang pun dapat membalas jasa mereka dalam tugas ini. Mereka membela Syaikh Usamah dengan jiwa dan nyawa mereka. Apa kiranya yang lebih tinggi nilainya dari nyawa? Dan mendermakan nyawa itu merupakan puncak dari kedermawanan. Mereka semua dalam menjaga Syaikh Usamah bin Ladin semata-mata ikhlas ingin mendapatkan apa yang di sisi Allah Ta’ala.

Kami curiga bahwa ini adalah serangan penyisiran sehingga tidak lama lagi pasti kami akan mendapat giliran serangan. Maka dengan cepat kami memutuskan untuk berpencar. Rumah yang kami tinggali itu di depannya ada sebuah kebun, sementara di belakang ada kamar-kamar. Adapun saya, pikiran saya mengarahkan saya untuk masuk ke dalam salah satu dari kamar-kamar tersebut. Dalam pikiran saya terkena runtuhan kamar itu lebih ringan daripada terkena runtuhan rumah secara keseluruhan.

Sementara Syaikh Usamah, para pengawal beliau mendorong beliau ke arah depan menuju kebun namun di kebun mereka tidak menemukan apa-apa yang dapat digunakan untuk berlindung. Maka dengan segera mereka mendorong beliau ke salah satu tembok kemudian mereka jadikan badan mereka sebagai tembok manusia yang dapat melindungi beliau dari serpihan-serpihan bom agar mengenai badan mereka dan tidak mengenai tubuh Syaikh Usamah rahimahullah. Demikianlah kenangan bersama Syaikh Usamah dan hubungan beliau yang sangat kuat dengan para pengawal beliau, juga hubungan beliau yang sangat kuat dengan para ikhwah.

Juga, di antara sisi yang indah mengenai infaqnya Syaikh Usamah adalah bahwasanya beliau itu sangatlah dermawan dalam berinfaq untuk jihad fisabilillah. Beliau infaqkan semua apa yang beliau miliki di jalan Allah. Dan saya kira inilah salah satu sebab kenapa Allah mengangkat derajat beliau di dunia dan di akherat, insya Allah.

Saya ingat pada suatu saat saya berdiskusi dengan akhi Syaikh Abu Hafs rahimahullah, saya bertanya kepadanya: “Wahai Abu Hafs, menurutmu apa yang menyebabkan Allah itu memuliakan Syaikh Usamah dan menganugerahkan kepada beliau dapat diterima di tengah-tengah manusia. Beliau mendapatkan simpati masyarakat sedemikian rupa, dan semua orang Islam menceritakan kebaikannya? Amalan apa kira-kira yang beliau kerjakan menurutmu wahai Abu Hafs?” Abu Hafs pun menjawab: “Karena beliau menginfaqkan seluruh apa yang beliau miliki di jalan Allah.” Sayapun mengatakan: “Demi Allah, benar.”

Syaikh Usamah itu memang sangat dermawan dalam program jihad. Beliau itu bertawakal penuh kepada Allah. Beliau berinfaq dan menunggu rizki dari Allah, maka datanglah rizki dari Allah. Semua orang membayangkan bahwa Usamah bin Ladin itu dari kecil milyader, hidup sebagai milyader dan terus sebagai milyader. Padahal Syaikh Usamah itu setelah keluar dari Sudan, beliau kehilangan harta yang sangat banyak sekali. Kita memohon kepada Allah agar memberi hidayah kepada pemerintah Sudan yang telah mengabaikan jasa dan dukungan Syaikh Usamah kepada mereka pada saat yang paling sulit, lalu mereka mengusir beliau …

Namun Allah Ta’ala menganugerahkan kepada beliau dengan Afghanistan dan dengan mujahidin Afghan dan Taliban. Kita memohon kepada Allah agar memberi hidayah kepada mereka. Kisah Sudan ini insya Allah akan kami sampaikan suatu saat nanti. Intinya bahwa Syaikh Usamah tatkala keluar dari Sudan bukan lagi orang kaya sebagaimana yang dikenal dan dibayangkan oleh orang tentang sosok Usamah bin Ladin. Akan tetapi orang menganggap bahwa Usamah bin Ladin itu kaya dan beliau itu tetap kaya. Padahal perbendaharaan beliau mulai melemah. Namun demikian beliau tetap saja royal dalam berinfaq untuk kepentingan jihad.

Di antara contoh yang paling menonjol adalah infaq yang beliau keluarkan untuk serangan 11 September di New York, Washington dan Pensilvania. Ada satu poin di sini yang ingin saya ingatkan mengenai peristiwa 11 September. Bahwa di antara bentuk kekejian media Amerika serta media-media Arab dan Eropa yang bekerjasama dengannya, adalah apabila mengulas tentang peristiwa 11 September mereka hanya menyinggung dua gedung kembar di New York dan tidak menyinggung Pentagon maupun pesawat keempat yang jatuh atau dijatuhkan — tidak seorang pun yang tahu — di Pensivania yang tengah menuju Gedung Putih atau Kongres. Mereka hanya menyebutkan dua gedung kembar dan tidak menyebutkan target serangan yang berupa pimpinan militer Amerika. Pimpinan militer dunia. Pimpinan kekuatan adi daya di sepanjang sejarah manusia di bidang militer, yakni Pentagon. Gedung itu dihancurkan para ikhwah beserta semua penghuninya. Mereka tidak menyebut gedung yang ini. Sampai-sampai ketika tiba waktu peringatan 11 September, Presiden Amerika pergi ke lokasi dua gedung kembar untuk berlagak sedih, dan untuk mengatakan di sana bahwa mujahidin itu adalah orang-orang yang suka menumpahkan darah, biadab dan haus darah.

Hanya seputar itu saja yang kalian dengar. Seakan-akan Amerika itu orang-orang yang tidak punya salah dalam sejarah mereka, dan tidak pernah melakukan kejahatan apapun. Yang mengahncurkan Jepang dengan bom nuklir itu orang-orang yang tidak pernah berbuat jahat dalam hidup mereka?! Dan yang membantai habis suku Indian merah itu orang-orang yang tidak pernah menzalimi seorang pun?! Mahasuci Allah yang Mahaagung.

Syaikh Usamahlah yang membiayai serangan 11 September dengan sangat royal. Sampai-sampai kami pernah diceritakan bahwa suatu saat beliau hanya mempunyai dana untuk keperluan para ikhwah yang telah berkeluarga satu bulan ke depan. Lalu datang salah seorang ikhwah yang menjadi penanggung jawab melatih dan mempersiapkan singa-singa serangan syahid — semoga Allah merahmati mereka semua —. Ikhwah tersebut mengatakan kepada beliau: “Sekarang saya minta sejumlah uang mendesak untuk menyelesaikan program latihan dan persiapan.” Maka Syaikh Usamah mengatakan kepada ikhwah tersebut: “Saya tidak punya selain untuk keperluan hidup para ikhwah satu bulan depan. Ambillah dan insya Allah, Allah akan memberi rizki kepada kita.” Dan benar saja, Allah pun memberi rizki kepada beliau.

Ada salah seorang ikhwah yang bercerita kepadaku yang ia saksikan sendiri terhadap diri Syaikh Usamah, bahwasanya pernah beliau rahimahullah didatangi oleh seorang ikhwah penanggungjawab serangan keduataan besar Amerika di Nairobi (Kenya) dan Darus Salam (Tanzania). Ikhwah tersebut mengatakan kepada beliau: “Saya meminta sekarang juga uang 50.000 dolar.” Padahal Syaikh Usamah hanya memiliki 55.000 dolar. Maka Syaikh Usamah pun memberikan kepadanya 50.000 dolar dan mengatakan: “Selama hidupku ini saya tidak pernah merasa senang dengan sisa uang yang sebanyak 5.000 dolar yang ada padaku.” Hal itu beliau katakan karena sangat senangnya beliau dapat menginfakkan sebagian besar hartanya di jalan Allah.

Tentu saja infaqnya Syaikh Usamah dalam jihad di jalan Allah ini jauh lebih masyhur untuk diceritakan, sehingga di sini kita menceritakannya hanya sekilas saja.

Di antara yang dapat diceritakan juga mengenai infaqnya Syaikh Usamah di jalan Allah adalah bahwa semua orang tahu bahwa Usamah bin Ladin itu sangatlah dermawan. Akan tetapi Syaikh Usamah itu sangatlah pelit dengan harta jihad. Sisi ini mungkin orang tidak memperhatikanya. Bahwa Syaikh Usamah itu demi mencari ridha Allah, dan demi menyokong jihad beliau itu sangatlah pelit dengan harta jihad fi sabilillah.

Berapa sisa waktunya? (Syaikh Aiman bertanya kepada hadirin di studio As-Sahab Media sambil bercanda) Kita agak sedikit susah keluarnya cerita ini.

Beliau sangat pelit berinfaq untuk selain jihad fi sabilillah. Saya sampaikan satu kisah ringan mengenai hal ini. Tatkala kami di Peshawar pada masa jihad Afghan melawan Rusia. Datanglah salah seorang ikhwah dan kawan dekat kami — menurut kami mereka itu baik — dia mengunjungi Peshawar. Ikhwah yang satu ini memiliki hubungan dengan saya dan dengan Syaikh Abu Ubaidah Al-Bansyiri rahimahullah. Ikhwah yang satu ini termasuk ikhwah yang memiliki perhatian terhadap masalah pengajaran, pendidikan dan urusan-urusan seperti itu. Dia punya proyek untuk membangun sebuah sekolahan yang berlandaskan aqidah yang lurus dan bersih, sesuai dengan manhaj yang lurus, di dalamnya dijalankan metode pengajaran yang baik dengan tujuan dapat meluluskan para alumni yang siap untuk melaksanakan jihad fi sabilillah dan kegiatan-kegiatan positif lainnya. Dia sangat yakin sekali dengan ide ini dan mencurahkan semua kemampuannya untuk melaksanakan ide ini.

Lalu ikhwah ini datang kepada saya dan berbicara kepadaku dan kepada Syaikh Abu Ubaidah Al- Bansyiri. Dia mengatakan: “Antum harus membawa saya bertemu dengan Syaikh Usamah bin Ladin supaya dia menyokong dan membantu saya dalam proyek ini.”

Saya katakan kepadanya: “Sejujurnya saya ini tidak pernah berbuat seperti ini terhadap Syaikh Usamah. Saya belum pernah membawa seseorang kepada beliau lalu saya katakan kepada beliau, “Berilah uang orang ini, atau bantulah orang ini.”

Ikhwah itu berkata, “Ini adalah pekerjaan saya atau saya tidak bisa begini.” Dia mengatakan lagi: “Bagaimana kalian menghalangi saya.” Dan dia terus menekan kami, dia mengatakan: “Biarkan saya bicara dengan Syaikh Usamah. Kenapa kalian melarang saya berbicara dengan Syaikh Usamah?!”

Saya katakan kepadanya: “Insya Allah kami akan siapkan pertemuan antum dengan Syaikh Usamah.” Maka kami pun menyelenggarakan sebuah pertemuan dengan Syaikh Usamah bin Ladin. Ikhwah tersebut duduk bersama dengan Syaikh Usamah bin Ladin, kemudian dia mulai menerangkan ide dan proyeknya tersebut kepada Syaikh Usamah.

Dan Syaikh Usamah itu masya Allah … beliau mendengarkan dengan seksama. Beliau itu tentu saja, sudah masyhur memiliki perangai yang lembut dan akhlak mulia. Beliau mendengarkan dengan baik dan tidak memotong pembicaraannya sampai ikhwah tersebut selesai menjelaskan proyeknya. Lalu ikhwah tersebut mengatakan: “Saya ingin antum memberi bantuan saya dalam proyek ini.” Syaikh Usamah pun manjawab: “Saya tidak mau memberi bantuan antum dalam proyek ini.

(Syaikh Aiman mengatakannya sambil tertawa). Ikhwah kita inipun kecewa dan mengatakan: “Kenapa antum tidak memberi bantuan kepada saya. Ini kan amal shalih. Ini adalah proyek untuk kepentingan kaum muslimin dan untuk kepentingan mujahidin?!” Syaikh Usamah mengatakan kepadanya: “Akhi, jihad itu tidak ada yang menangisinya (jarang yang memperhatikannya –pent)… sekarang ini orang mau berinfaq untuk berbagai proyek kebaikan, untuk anak-anak yatim, untuk sekolahan dan untuk makanan, sementara semua ini tanpa jihad akan sia-sia dan apabila jihad berhasil maka semua kepentingan umat Islam tersebut akan terlindungi. Semua orang takut berinfaq fi sabilillah, sementara mereka berinfaq di sana-sini. Sedikit saja orang yang berani berinfaq fi sabilillah. Maka jihad itu tidak ada yang menangisinya. Lalu apakah dengan begitu saya akan mengambil harta jihad untuk saya berikan kepadamu??! Saya tidak mau memberimu.”

Ikhwah kita ini pun terhentak, sementara ide tersebut telah menguasai dirinya sehingga dia terus mendebat Syaikh Usamah dan mengatakan kepada beliau bahwa ini adalah kepentingan kaum muslimin dan seterusnya. Sementara Syaikh Usamah terus mendengarkan dengan baik idenya tersebut.

Saya pun khawatir jangan-jangan Syaikh Usamah beranggapan bahwa saya dan Syaikh Abu Ubaidah Al-Bansyiri itu setuju dengan pemikiran ikhwah tersebut. Maka saya mengatakan secara adil: “Akhi, Syaikh Usamah benar… dan jihad fi sabilillah yang berarti perang di jalan Allah itu adalah bidang yang paling berhak untuk didanai. Karena jika keperluan jihad itu terpenuhi maka dana akan diarahkan kepada bidang kebaikan yang lain.”

Ikhwah kita tersebut pun kecewa, lalu mengatakan kepada Syaikh Usamah: “Baik, antum tidak mau memberikan bantuan dana kepadaku. Kalau begitu tolong berikan saya rekomendasi kepada orang yang mau mendanai saya.” Syaikh Usamah pun mengatakan: “Ini saya juga tidak mau.” Ikhwah tersebut mengatakan lagi: “Subhanallah, kenapa?” Syaikh Usamah menjawab: “Bagaimana saya menyuruh orang untuk tidak berinfaq untuk berbagai program kebaikan agar mereka berinfaq untuk jihad sampai kebutuhan jihad terpenuhi, lalu saya memberikan rekomendasi kepadamu agar orang mau memberikan dana kepadamu? Ini kan kontradiksi antara apa yang saya katakan dan apa yang saya lakukan, bagaimana basa begitu?”

Lagi-lagi ikhwah itu kecewa, dan mengatakan: “Baiklah, kalau begitu minimal berilah saya rekomendasi kepada orang yang mau memberikan rekomendasi untukku kepada orang yang suka dengan proyek kebaikan!” Syaikh Usamah menjawab: “Yang ini tidak apa-apa, saya akan memberikan rekomendasi untukmu insya Allah.” Ikhwah tersebut pun keluar meninggalkan Syaikh Usamah dan tidak dapat meminta dari beliau sedikit pun untuk proyeknya tersebut.

Selain itu, masih berkenaan dengan infaqnya Syaikh Usamah fi sabilillah, Syaikh Usamah itu dalam masalah harta beliau itu sangatlah menjaga diri dari dunia dan dari materi dunia yang remeh. Beliau selalu berulang kali memaafkan orang yang mengambil hak beliau. Saya ceritakan dalam masalah ini, saya berulang kali menyaksikan sendiri detil-detil ceritanya.

Ada salah seorang ikhwah yang ikut dalam jihad melawan Rusia yang kemudian berhijrah kembali ke Afghanistan pada era Taliban, lalu syahid dalam serangan bangsa Salib ke Afghanistan. Ikhwah kita ini pada saat Syaikh Usmah pindah ke Sudan dan mulai menjalankan berbagai proyek penanaman modal di Sudan, ikhwah ini datang menemui Syaikh. Sebelumnya ikhwah ini telah mengumpulkan dana dari sejumlah kaum muslimin untuk dijadikan modal usaha kemudian keuntungannya digunakan untuk kaum muslimin dan dia sendiri bisa mengambil untung secara halal.

Ikhwah tersebut pergi menemui Syaikh Usamah. Dia sendiri memiliki hubungan yang kuat dengan beliau dan mereka berdua ada rasa saling percaya. Maka dia mengatakan kepada Syaikh Usamah: “Syaikh Usamah, saya telah mengumpulkan sejumlah uang dan saya ingin mengembangkannya supaya saya dapat memberikan untung dan juga mendapat untung secara halal.” Syaikh Usamah mengatakan: “Tidak mengapa, ini baik insya Allah.”

Ikhwah itu mengatakan: “Saya ingin antum membantu saya dalam hal ini. Sekarang saya memegang uang sekian dan saya ingin antum membantu saya.” Beliau menjawab: “Tidak mengapa, saya bantu antum insya Allah, akan tetapi dengan satu syarat.” Ikhwah tersebut bertanya: “Apa syaratnya?” Beliau menjawab: “Semua barang yang saya berikan kepadamu tidak boleh kamu transaksikan kecuali dengan bermusyawarah denganku.” Ikhwah tersebut menjawab: “Saya akan penuhi syarat ini.”

Maka Syaikh Usamah pun memberikan kepadanya gula dalam jumlah yang banyak. Pada waktu itu Syaikh Usamah berdagang berbagai 

barang yang di antaranya adalah gula. Beliau mengambil gula dalam jumlah yang sangat besar dengan harga puluhan ribu dolar dari pabrik-pabrik yang ada di Sudan lalu menjualnya pada pasar dalam dan luar negeri. Syaikh Usamah menulis memo agar mengeluarkan gula dalam jumlah yang besar dari gudang dengan harga puluhan ribu dolar. Beliu mengatakan: “Ambillah gula ini dengan status pinjam. Lalu juallah dan ambillah untung darinya secara halal sebagaimana yang Allah berikan petunjuk-Nya kepadamu. Kemudian jika engkau telah dapatkan semua hasilnya maka bayarlah kepada saya seharga gula tersebut, akan tetapi dengan syarat yang tadi.” Ikhwah tersebutpun menjawab: “Saya setuju, insya Allah.” Maka ikhwah itu pun mengambil gula tersebut dan kemudian mulai menawarkannya di pasar. Ikhwah tersebut sepertinya tidak pengalaman dengan tipe-tipe orang. Demikianlah, sehingga dia didatangi para penipu yang nampak berjenggot dan berpenampilan baik. Dan tahukah antum tipu daya semacam ini?

Para penipu itu gembongnya adalah si pengkhianat Jamal Al-Fadl yang menyerahkan diri kepada Amerika di mana sebelumnya dia menjadi direktur di perusahaan Syaikh Usamah bin Ladin, kemudian dia menipu dan mengambil banyak dari harta Syaikh Usamah, juga harta orang lain. Kemudian setelah bisnis batilnya itu bangkrut, ia berfikir bahwa dia bisa bisnis informasi tentang Syaikh Usamah kepada Amerika, sehingga dia pun menyerahkan diri kepada Amerika. Makanya Amerika sampai sekarang memasukkannya ke dalam program perlindungan saksi dan membawanya pada setiap kasus yang berkaitan dengan Islam. Sampai-sampai pada suatu saat dia didatangkan untuk memberikan kesaksian, maka pengacara terdakwa pun mengatakan: “Orang ini adalah pengkhianat. Orang ini adalah orang bayaran, bagaimana kesaksiannya dapat diterima?! Dia sendiri mengakui bahwa dia mendapatkan harta dari Amerika, bagaimana kesaksiannya dapat diterima?!”

Intinya orang ini adalah pencuri internasional dan gembong dari kelompok pembohong tersebut. Jamal Al-Fadl itu dulunya ikut perang di Afghanistan di era perang melawan Rusia dan pada waktu itu dia juga bersama Syaikh Usamah. Demikianlah, makanya para ikhwah pun percaya dengannya.

Nah, ikhwah yang tadi itu juga percaya dengan orang ini. Jamal mengatakan kepada ikhwah tersebut: “Hai Fulan, saya membawa para pedagang yang bagus. Mereka dapat memberikan harga yang bagus kepada antum. Mereka ini adalah para ikhwah yang dapat dipercaya.” Demikianlah, makanya ikhwah yang satu tadi yakin dan percaya kepada mereka. Lalu mereka membuat kesepakatan. Para pedagang itu mengatakan: “Kami ambil gula darimu dan kami akan berikan kepadamu sekian dan sekian.” Ikhwah tadi menjawab: “Baiklah.” Lalu ikhwah tadi memberikan gula kepada mereka dan mereka pun memberikan kepadanya beberapa cek giro. Dengan cepat dapat terbongkar bahwa cek-cek tersebut palsu, padahal mereka telah mengambil gula. Ikhwah yang tadi itupun kecewa dan kemudian memburu para pedagang itu sementara para pedagang itu melarikan diri. Ceritanya panjang.

Ikhwah yang tadi itu akhirnya datang kepada Syaikh Usamah dan mengatakan: “Syaikh, telah terjadi begini dan begitu.” Syaikh Usamah mengatakan: “Saya telah menetapkan syarat kepada antum, namun antum melanggar syarat tersebut.” Ikhwah tadi menjawab: “Ya benar. Saya telah melanggar janji dan saya pasrah. Saya minta waktu untuk membayar hutangku kepadamu.” Syaikh mengatakan: “Bersungguh-sungguhlah!”

Ikhwah kita inipun bersungguh-sungguh dalam waktu yang lama. Dan setelah sekian lama dia dapat membayar setengah hutangnya. Setelah itu ikhwah kita ini menjadi DPO. Dan begitulah keadaan berubah dan akhirnya Allah mentakdirkannya hijrah ke Afghanistan di era Taliban. Dan hubungan Syaikh Usamah bin Ladin dengannya itu kuat berupa hubungan ukhuwah.

Intinya ikhwah tadi itu syahid terkena serangan Salibis di Afghanistan. Dan setelah ikhwah tadi syahid, saya mendatangi Syaikh Usamah dan saya katakan kepada beliau: “Syaikh Usamah, antum tahu bahwa orang yang mati syahid itu akan diampuni seluruh dosanya selain hutang. Sementara orang ini punya hutang kepada antum. Bagaimana kalau hutangnya itu antum relakan saja dan antum akan mendapat pahala di sisi Allah?” Beliau menjawab: “Saya sudah memaafkan dan urusannya selesai.”

Sekian dulu dan sampai bertemu lagi pada pertemuan yang akan datang. Saya titipkan antum kepada Allah ta’ala. 

 والسلام عليكم ورحمة الله، وصلى الله على سيدنا محمد وآله وصحبه وسلم.

Advertisements