Anshar Al Islam – Warga Rusia Oqil Sharifov, yang kembali ke rumahnya di bekas-Sovyet Tajikistan pada liburan awal tahun ini, sekarang tidak akan kembali ke Rusia sampai tahun depan setelah pengadilan setempat menghukum pria 31 tahun itu di penjara karena merekam apa yang ia pastikan sebagai tindakan polisi setempat yang melanggar hak untuk memakai jilbab Islami.

Rekaman pada Februari itu memperlihatkan polisi menangkap dua wanita berhijab-olahraga yang secara cepat mengundang daya tarik pada jaringan sosial Rusia Odnoklassniki dan YouTube, membuat marah warga Tajik di negeri yang berpenduduk mayoritas Muslim itu dan mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat yang dituduh meluncurkan perang salib terhadap Islam.

Pria itu didakwa dengan “provokasi permusuhan berdasarkan nasionalisme, kedaerahan, dan agama” dan dihukum pada 26 Mei.

Pengacara Sharifov mencatat bahwa jaksa membenarkan penangkapan oleh polisi sehubungan dengan “acara budaya” yang terjadi di kota pada waktu itu.

Sharifov adalah salah satu dari ratusan ribu warga Tajik yang melakukan perjalanan musiman ke Rusia mencari pekerjaan. Seperti banyak orang lainnya, ia berhasil mendapatkan kewarganegaraan di sana.

kota tempat tinggalnya, Isfara terletak di Tajikistan utara dan dikenal sebagai salah satu daerah yang paling taat (beragama) di Asia Tengah.

Beberapa hari setelah kembali dari liburan ia membuat video berikut menggunakan smartphone-nya.

Salah satu wanita yang ditahan mengatakan pada kamera bahwa mereka ditahan karena memakai jilbab.

Sharifov komentar sambil memfilmkan peristiwa itu:

“Lihat ini.. Larangan jilbab, inilah pemerintah!”

Ulah mantan kolonel kementerian dalam negeri Gulmurod Halimov, yang mengejutkan dunia dengan lari dari Tajikistan untuk bergabung ISIS di Suriah tahun lalu mengutip kebijakan agresif sekuler pemerintah terhadap Islam sebagai alasan utama untuk pembelotannya.

Meskipun demikian, serangan terhadap manifestasi publik Islam terus.

Untuk pertama kalinya, pemerintah Amerika Serikat tahun ini menambahkan Tajikistan ke daftar utama dari pelanggar kebebasan beragama yang ditunjuk “negara dengan perhatian khusus” setelah peluncuran laporan kebebasan beragama.

Selain larangan de facto pada jilbab (tidak ada undang-undang melarang seseorang mengenakan jilbab) polisi juga telah didokumentasikan secara paksa mencukur jenggot sunnah, sementara Tajikistan adalah satu-satunya negara di dunia yang menempatkan larangan permanen untuk orang-orang dibawah umur menghadiri shalat di masjid-masjid .

Saat ini lebih dari selusin pemimpin partai politik berbasis agama secara luas dipandang sebagai moderat tapi dilarang oleh pemerintah sebagai ekstrimis tahun lalu, sedang menunggu putusan pengadilan atas tuduhan terorisme.

Jaksa penuntut telah menuntut hukuman seumur hidup untuk beberapa pemimpin dari Partai Kebangkitan Islam Tajikistan, yang dikaitkan ke dugaan rencana kudeta pada bulan September, yang tidak pernah secara meyakinkan disajikan oleh pemerintah. (doam/ansharalislam)

Advertisements