Seorang Mujahidin Jabhah Nusrah mengisahkan kejadian yang sudah cukup lama dari seorang Mujahidin yang juga anggota dari Jabhah Nusrah yaitu Abu Mahdi Al-Indunisi (rahimahullah).

Cerita yang mengisahkan tentang seorang Komandan Alim Ilmu Muhajirin dari Mesir yang menyusup ke dalam tubuh ISIS.

Bernama Abu Koko Al-Misri, seorang muhajirin asal mesir yang berperang di suriah di fase awal tsauroh. Seorang penuntut ilmu yang alim, juga belajar dari syaikh yang diakui dalam disiplin ilmu syar’i, sehingga beliau menjadi salah satu bagian dari jajaran syar’i di Liwa Jundul Aqsa.

Dalam pergolakan jihad di suriah dan dahsyatnya propaganda yang di tebar jamaah daulah lewat media sosial, yang terasa sangat, khususnya di suriah sendiri. Sehingga banyak menarik simpati anak-anak muda yang baru mengenal Islam.

Maka diutuslah beliau secara rahasia masuk ke dalam lingkup jamaah daulah.. bertujuan untuk mencari tahu keadaan sebenarnya di dalam jamaah daulah secara langsung, bukan hanya terkaan belaka.

Selama 4 bulan pengalaman beliau di daulah, Beliau menceritakan pengalaman yang terjadi di dalam tubuh Daulah Islam Irak dan Syam (ISIS)

Awal masuk ke tubuh daulah, beliau langsung disuguhi daurah syar’i (selama 10 hari), bab yang dibahas dalam daurah tersebut hanya Nawaqidul Iman yaitu Pembatal Keimanan. Membentuk pola pikir anggotanya bahwa Islam itu hanya membahas mukmin dan kafir saja.

Diluar dari jamaah mereka adalah murtad dan halal darah dan hartanya bahkan kehormatannya.

Setelah itu beliau ditugaskan pergi ke Irak untuk perang di wilayah tersebut. Tetapi ia mengajukan keinginannya untuk tetap berjihad di Suriah.

Atas penolakan terhadap perintah, beliau di hukum 20 hari penjara oleh Umara Jamaah Daulah karena tidak mentaati perintah. Karena ia berkelakuan baik dan menyatakan diri siap untuk sam’u wa thoah (mendengar dan taat), hukuman penjara dikurangi dan beliau dikeluarkan dari penjara.

Kemudian dikirimlah beliau untuk memimpin sariyah perang oleh umara daulah merebut salah satu bandara yang dikuasai pemerintah di salah satu wilayah di Suriah.

Sampailah beliau dan regunya di lokasi bandara tersebut, maka perintah langsung dari umara untuk segera menceburkan diri ke kancah pertempuran.

Sejenak dia tertegun melihat keadaan disekitar lokasi. Dilihatnya medan pertempuran tersebut… karena memang daerah bandara, dataran lapang terhampar luas tanpa perlindungan. Banyak bangkai manusia, jumlahnya ratusan yang tergeletak tak tergapai, jasad mereka dimakan anjing.

Karena tempat itu adalah jarak tembak musuh, maka jasad-jasad itu dibiarkan saja. Dugaan beliau jasad itu adalah jasad anggota-anggota daulah yang mati akibat berperang tanpa strategi.

Karena beliau memang bukan orang baru dalam kancah peperangan, maka beliau mengajukan usul pada Umara, yaitu penyerangan dahulu dengan artileri berat (tamhid). Tujuannya untuk melindungi pasukan agar tidak jatuh banyak korban, sebab pasukan yang menyerang akan mudah di bidik dari doshma (bunker) musuh.

Dengan menembak doshma musuh, otomatis mereka akan berkonsentrasi bertahan dengan bersembunyi. Itu menurut pemahaman perang beliau. Beliau sebelumnya berperang di barisan Jund Al-Aqsa. Jadi bukan orang baru dalam dunia kemiliteran dan serangan maju tanpa cover tidak ada di dalam militer manapun, Apalagi berlari tanpa tameng.

Bukannya menerima usulan beliau, tapi Umara daulah malah murka dengan usul beliau. Pasukan ditarik balik dan Abu Koko’ di hukum dengan alasan membangkang dan lari dari peperangan. Diputuskan sebulan beliau di hukum dalam penjara.

Kali ini di penjara di temui hal yang tidak disangka-sangka oleh beliau.

Seluruh tahanan daulah semuanya dari jajaran syar’i ….

yang dianggap membelot karena tidak sesuai dangan keinginan Umara.

Setelah menjalani masa tahanan selama sebulan lalu beliau dikeluarkan, akan tetapi posisinya di makzulkan (dibekukan) karena bisa berpengaruh pada pasukan daulah yang lain dan tetap dalam pengawasan keamanan daulah.

Dalam posisi sebagai rakyat biasa tersebut beliau merasa sangat tertekan melihat kerusakan yang timbul dari kediktatoran sistem di daulah, kemudian ia mulai mencari cara untuk bisa lolos dari cengkraman daulah dan melarikan diri dari wilayah daulah.

Mulai dari berpura pura hilang ingatan,
Kemudian mencukur jenggot … sampai berkenalan dengan pedagang minyak.
Kebetulan memang pedagang minyak di suriah ini bekerja lintas wilayah,
Melewati wilayah Mujahidin…
Wilayah Daulah…
Wilayah Turki…
Wilayah PKK…
Wilayah Pemerintah…

Tidak masalah asalkan membayar bea masuk wilayah.

Akhirnya beliau keluar setelah membayar 1000$ pada pedagang minyak agar bisa keluar dari wilayah daulah.

Sesampainya di Turki… Beliau lakukan komunikasi dengan Umara Jabhah Nusrah untuk meminta bantuan perlindungan. Diantaranya beliau mengkontak Abu Mahdi (rahimallah) dan disepakati memberi jaminan keamanan.

Tapi menurut informasi dari beberapa informan, banyak sel tidur dari daulah di wilayah mujahidin, maka beliau putuskan untuk menetap di Turki….

Hingga saat ini belum ada kabar bagaimana keadaan beliau sekarang.

Semoga Beliau selalu berada dalam perlindungan Allah Ta’ala.

(tgr/ansharalislam)

Advertisements