Koresponden Al-Jazeera wilayah Mali melaporkan bahwa pada hari Ahad kemarin, terjadi serangan yang menewaskan  5 orang tentara “Penjaga Perdamaian PBB” ( MINUSMA) di  Mali Tengah

Lima orang tentara MINUSMA tewas sedangkan yang lainnya mengalami luka-luka baik luka parah maupun ringan setelah Mujahidin melakukan aksi penyergapan konvoi mereka di wilayah Mopti-Mali Tengah.

Penyergapan yang terjadi pada pagi hari tersebut terjadi di 30 km sebelah barat kota Sevare di wilayah Mopti. Serangan tersebut terjadi hanya berselang 2 jam setelah pemerintah boneka melaporkan bahwa 5 orang tentara Mali tewas dan empat orang lainnya mengalami luka-luka apda hari Jumat ketika kendaraan yang mereka tumpangi menabrak ranjau

PBB tidak segera mengkonfirmasi kewarganegaraan tentara yang tewas. Terkait serangan ini, kepala MINUSMA Mahamat Saleh Annadif mengutuk tindakan, menggambarkannya sebagai “tindakan keji terorisme”.

“Saya mengutuk dalam istilah terkuat kejahatan keji ini selain aksi teroris lain yang ditargetkan penjaga perdamaian kami dan yang merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan di bawah hukum internasional,” katanya.

Pasukan misi PBB di Mali beroperasi di bawah ancaman konstan

Misi PBB di Mali telah dianggap sebagai misi paling berbahaya bagi pasukan penjaga perdamaian PBB di wilayah yang dianggap oleh komunitas internasional  “telah terkena ketegangan internal tajam sejak diluncurkan Juli 2013.”

Dengan serangan pada hari Ahad tersebut, sedikitnya 64 orang tentara  MINUSMA tewas sejak mereka menggelar “Misi Penjaga Perdamaian” yang sejatinya adalah  menjajah Mali agar jangan sampai tegak syariat Islam di negeri tersebut.

Mali Utara telah menjadi saksi aksi-aksi perlawanan Mujahidin dari suku Tuareg yang brkoalisi dengan Al-Qaidah Mali (AQIM) melawan Perancis dan Amerika yang memasuki Mali pada tahun 2012 dan menghancurkan tatanan syariat Islam yang dibangun  oleh Mujahidin dan sempat dinikmati oleh warga kota Timbuktu dan kaum Muslimin di Mali. (W/jzr/ansharulIslam)

Advertisements