Ratusan orang pergi meninggalkan wilayah Fallujah Jumat (27/05) ketika pasukan gabungan pemerintah Iraq melancarkan serangan tekanan yang simultan pada benteng-benteng utama ISIS di kota Irak dan kota lainnya di Suriah.

Bagaimanapun juga diperkirakan 50.000 warga sipil terperangkap di kota Fallujah, serta jumlah dua kali lipat di sepanjang perbatasan Suriah dengan Turki sebagai akibat dari ofensif ISIS dekat Aleppo.

Koalisi pimpinan AS mengklaim membunuh seorang komandan kunci ISIS untuk wilayah Fallujah, meskipun itu tidak jelas kapan.

“Kami telah membunuh lebih dari 70 pejuang musuh, termasuk Maher Al-Bilawi, yang adalah komandan pasukan ISIS di Fallujah,” kata juru bicara koalisi Steve Warren.

Warren mengatakan komandan IS tewas dua hari lalu saat seorang perwira Irak dan seorang pejabat setempat telah melaporkan kematiannya pekan lalu.

Puluhan ribu pasukan Irak pada 22-23 Mei melancarkan serangan untuk merebut kembali Fallujah, salah satu dari hanya dua kota besar Irak yang masih dikuasai oleh ISIS, yang lainnya adalah Mosul.

Para pejuang ISIS yang bersembunyi di Fallujah diyakini berjumlah sekitar 1.000. Fallujah adalah salah satu benteng pertahanan ISIS yang paling penting.

Itu kota Irak pertama yang jatuh dari kontrol pemerintah pada bulan Januari 2014 dan merupakan tempat satu dekade sebelumnya dari beberapa pertempuran pasukan AS yang terburuk sejak perang Vietnam.

Kota ini telah dikepung oleh pasukan pro-pemerintah selama berbulan-bulan dan kekhawatiran telah meningkat di antara kelompok-kelompok kemanusiaan bahwa penduduk sedang sengaja dibuat kelaparan.

Warga Sipil yang Terperangkap

“Situasi di dalam Fallujah semakin kritis dari hari ke hari,” kata Nasr Muflahi, direktur Dewan Pengungsi Irak Norwegia.

Meskipun rencana sebelum operasi untuk menyelamatkan koridor, beberapa warga sipil telah berhasil melarikan diri dari pertempuran Fallujah dalam beberapa hari terakhir.

Kelompok terbesar penduduk menyelinap keluar pada hari Jumat.

“Pasukan kami mengevakuasi 460 orang … kebanyakan dari mereka perempuan dan anak-anak,” kata Letnan Jenderal polisi Raed Shakir Jawdat.

ISIS “memberi kami makanan yang hanya hewan yang akan memakannya,” Umm Omar, yang didampingi lebih dari 10 anggota keluarganya, mengatakan.

Di seberang perbatasan, ibukota de-facto ISIS di Suriah, Raqqah juga sedang di bawah tekanan yang meningkat.

Sebuah aliansi Kurdi-Arab telah meluncurkan operasi untuk merebut kembali kota, di mana sekitar 300.000 orang masih tinggal di sana yang menjadi semakin putus asa untuk melarikan diri.

Menurut kelompok aktivis anti-ISIS, Raqqah is Being Slaughtered Silently / RBSS (Raqqah Sedang Dibantai Secara Diam-diam, ed) , warga membayar para penyelundup $ 400 (€ 350) masing-masingnya untuk mencoba melarikan diri.

“Hampir tidak ada seorang pun yang berjalan di jalan-jalan,” kata aktivis RBSS Hamoud al-Musa. “Orang takut dari serangan brutal pesawat tempur, apakah itu dari koalisi, Rusia, atau bahkan rezim,” katanya kepada AFP.

ISIS telah mendirikan beberapa pos-pos pemeriksaan baru di kota Raqqah dan “mengumpulkan pasukannya di garis depan” lebih ke utara, katanya.

Kepala bantuan PBB Stephen O’Brien mengatakan total 592.700 warga Suriah tinggal di bawah pengepungan, sebuah peningkatan sekitar 75.000 dari perkiraan sebelumnya.

Dia mengatakan kepada Dewan Keamanan hari Jumat bahwa penggunaan kepungan dan kelaparan sebagai senjata perang adalah “tercela” dan “harus segera dihentikan”.

PBB sedang mempersiapkan untuk memulai bantuan udara kemanusiaan di daerah yang terkepung mulai 1 Juni, setelah tuntutan berulang untuk akses ke kota-kota yang diblokade ditolak.

‘Bencana’ di dekat perbatasan Turki

Di sepanjang perbatasan Suriah dengan Turki, sebuah serangan ofensif ISIS di provinsi Aleppo menyebabkan setidaknya 100.000 orang mengungsi, kelompok hak asasi dan aktivis mengatakan.

Para milisi ISIS memotong jalan utama antara kota-kota pemberontak di Azaz, dekat perbatasan Turki, dan di dekat Marea, wartawan Maamoun Khateeb memberitahu AFP dari Azaz.

“Ini adalah bencana,” kata Khateeb, menambahkan bahwa sekitar 15.000 orang kini terkepung di Marea.

“Kami sangat prihatin … tentang perkiraan 100.000 orang yang terperangkap di antara perbatasan Turki dan garis depan yang aktif,” kata Pablo Marco, manajer operasi regional untuk Doctors Without Borders (MSF).

ISIS baru-baru ini telah kehilangan sebagian besar wilayah yang mengangkangi Suriah dan Irak di mana disana diproklamasikan sebuah “khilafah” dengan Abu Bakr al-Baghdadi sebagai kepalanya dua tahun lalu. (wb/ansharalislam)

Advertisements