Pendahuluan

Anshar Al Islam – Masyarakat Muslim dan aktivis dakwah wal jihad dikejutkan dengan berondongan takfir (pengkafiran,red) yang dilakukan tanzhim Daulah/ISIS terhadap jamaah-jamaah dakwah dan jihad, tokoh-tokoh pejuang Islam, dan ulama pemikir Islam. Meski, sebelumnya sebagian umat sudah memahami bahwa ISIS adalah gerakan ekstrim takfiri. Bahkan, sudah difatwakan sebagian pihak sebagai sekte neo-Khawarij yang sesat. Akan tetapi, ISIS awalnya hanya mengkafirkan lawan-lawan politik dan seteru di lapangan.

Namun kali ini, melalui ahli fatwa dan juru bicaranya dalam urusan vonis sesat, Abu Maysarah Asy-Syami Hadahullah, ISIS secara terbuka mengkafirkan tokoh-tokoh panutan umat di antaranya, Syaikh Aiman Azh-Zhawahiri Hafizhallah, Hasan Al-Banna Rahimahullah, Abul ‘Ala Al-Maududi Rahimahullah,  dan Syaikh Abu Mush’ab As-Suriy Fakkallah asrahu. Serta, vonis kafir kepada jamaah Ikhwanul Muslimin, Al-Qaeda, dan harakah dakwah lainnya.

Tentu saja, seperti yang sudah-sudah. Vonis kafir yang dilakukan ISIS bukanlah vonis yang memenuhi unsur dan kaidah syar’i. Vonis dilakukan oleh Abu Maysarah Asy-Syami adalah vonis di atas kebodohan ilmu dien dan wawasan pengetahuan.

Abu Maysarah Asy-Syami mengkafirkan para tokoh, ulama, dan jamaah dakwah dalam perkara-perkara yang diperselisihkan hukumnya atau dikenal sebagai Ikhtilaf Fiqh. Lebih jauh lagi, pengkafiran dilakukan oleh dia dalam perkara yang mubah. Sungguh, seandainya seorang Muslim mau menyiapkan waktu untuk membahas perkara-perkara yang dikafirkan oleh Abu Maysarah. Maka, Muslim itu akan terkaget-kaget bahwa betapa bodohnya ahli fatwa ISIS itu.

Bila Abu Maysarah konsisten dengan prinsip pengkafiran yang dilaukannya terhadap para ulama dan tokoh itu, tentu Imam-Imam ahlus Sunnah wal Jamaah terkena vonis kafir juga. Sebab, pendapat bahwa kaum awam Syiah Rafidhah masih Ahlul Qiblat/Muslim adalah pendapat masyhur dari Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah. Bahwasanya, pendapat adanya uzur bil Jahl (dispensasi kebodohan) dalam takfir juga pendapat yang dianut Syaikhul Islam dan Imam Ahlus Sunnah lainnya. Sementara, Abu Maysarah mengkafirkan mereka-mereka yang berpendapat seperti tadi.

Syaikhul Islam pulalah yang menjuluki rakyat Syam sebagai Thaifah Manshurah pada zamnnya sebab mereka berjihad melawan Tartar, sementara rakyat Syam sendiri mayoritas beraqidah Asy’ariyah. Syaikhul Islam amat banyak memuji Asy’ariyah selain memberikan kritik keras terhadap penyimpangan pemahamannya. Begitupula, sikap Syaikhul Islam dalam mengkritik kelompok bid’ah lainnya, Syaikhul Islam akan memberikan pandangan kebaikan juga sebelum mengkrtitiknya secara tajam. Artinya, pujian Syaikh Abu Mus’hab As-Suriy merupakan thariqah Syaikhul Islam dalam menyikapi kelompok-kelompok yang dianggap Ahlul-Bid’ah, tidak memerangi mereka secara membabi buta.

Apakah Abu Maysarah juga akan meneruskan pengkafiran berantainya kepada para Imam Ahlus Sunnah? Atau Abu Maysarah akam menakwil pendapat para Imam tersebut? Wallahu’alam. Yang pasti, ISIS dalam takfir memang menganut manhaj tadaruj (tahapan) tapi bukan dalam dakwah, demikian pernah disebut oleh Syaikh Abdullah Muhaisini. Apa yang dulu mereka sangkal dikafirkan, sekarang justru mereka kafirkan lebih jauh hingga menyeret-nyeret Istri dan keluarganya.

Abu Maysarah bukan hanya mempersoalkan posisi ulama dan tokoh yang menguzur (dispensasi) kekufuran demokrasi atau kaum Syiah, anehnya, Abu Maysarah mempersoalkan metode perlawanan Syaikh Abu Mush’ab As-Suri. Dengan gaya peramalnya, Abu Maysarah menuduh Syaikh Abu Mush’ab mengambil metode perlawanan kaum Marxis yang menekankan keterlibatan massa rakyat atau umat.

Sungguh, bila menilai Abu Maysarah bodoh dalam fiqh tentu kita berlebihan. Tidak mungkin, dia tidak pernah belajar fiqh. Tapi, karena dia kita prasangkakan baik pernah belajar Fiqh, maka pantas bila dia kita sebut sebagai Jahil Murakkab (Bodoh Kuadrat). Karena, ciri jahil murakkab adalah mengetahui ilmu tapi tidak digunakan.

Sesungguhnya, dalam metode jihad dan peperangan ada persoalan-persoalan duniawi yang Rasulullah SAW isyaratkan : “Kalian lebih tahu dari aku,” (al-hadist).

Seandainya, benar Syaikh Abu Mush’ab As-Suri memakai strategi dari kaum Marxis. Maka hal itu, tidak ada masalah selama tidak menerjang nilai, norma, dan etika jihad Islam. Bukankah, strategi perang yang dilakukan oleh ISIS juga dilakukan oleh kaum kafir baik metode perang terbuka ataupun perang gerilya. Demikian, kita singgung sedikit bagaimana kerancuan berpikir tukang fatwa sesat ISIS tersebut.

Abu Maysarah berkeyakinan, bahwa pengkafiran yang dilakukan adalah bentuk penyingkapan Allah terhadap tokoh-tokoh sesat yang diberhalakan. Padahal, sebenarnya apa yang dia lakukan telah menyingkap sendiri siapa dan apa manhaj Abu Maysarah serta ISIS dihadapan umat.

Ada dua arus utama pandangan umat terhadap ISIS. pertama, meyakini ISIS dikendalikan oleh intelijen Baats untuk menghancurkan jihad. Kedua, meyakini bahwa keghuluwan (Ekstrimisme) ISIS secara alamiah menghancurkan jihad. Terlepas benar atau tidaknya dua teori di atas. Namun, yang pasti pengkafiran ISIS terhadap syaikh Abu Mush’ab As-Suri adalah bukti ISIS berupaya menghancurkan jihad.

Sebab, syaikh Abu Mush’ab As-Suriy merupakan arsitek jihad global yang menelurkan strategi-strategi berbasis ilmu militer dan syar’i tentang bagaimana membangun perlawanan umat secara internasional terhadap Amerika Serikat dan Barat dalam rangka mengembalikan Khilafah ala minhajin Nubuwwah.

Dengan mengkafirkan Syaikh Abu Mush’ab As-Suri, menyesatkannya, membunuh karakternya, memboikot, dan memerangi ide-idenya. ISIS sudah membantu upaya kontra-insurgen/perlawanan Barat terhadap Jihad Global.

Berikut ini, kita saksikan tulisan Abu Maysarah Asy-Syami yang mengeraskan gonggongan takfirnya dari sebelum-sebelumnya terhadap kaum Muslimin dalam risalah berjudul طمس الرموز – أبو مصعب السوري atau “Penghancuran Abu Mus’ab As-Suri.”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Penghancuran Tokoh Abu Mush’ab As-Suriy

Segala puji bagi Allah yang maha agung dan tinggi, shalawat serta salam atas Adh Dhahuk Al Qattal, dan atas keluarganya yang baik dan suci, amma ba’du:

Sesungguhnya di antara nikmat Allah atas umat rasulnya SAW adalah memperbaharui jama’ah dan keimamannya dan dengan pembaharuan ini dapat menghancurkan patung yang diagungkan dan lenyaplah tokoh yang ‘disucikan’, maka kami sungguh telah memahami sejak lama dan sejak kami baru merangkak bahwa para pembaharu agama pada abad yang lalu adalah Hasan Al Banna, Rasyid Ridho, Al Maududi, An Nabhani, Al Kandahlawi dan lain sebagainya termasuk para imam filsafat dan tajahhum (jahmiyyah) dan akal, dan di antara mereka adalah para penyeru kepada demokrasi dan nasionalisme atas nama ‘islam’, wal iyadzu billah.

Meskipun tidak ada yang dilahirkan kecuali di atas fitrah, namun demikian bahwa para bapaknya yang menanamkan dalam hati para anaknya patung-patung dan tokoh-tokoh ini, kemudian jiwa mereka tidak rela tokoh ini disentuh oleh apapun, meskipun tokoh ini jauh tersesat dan mati di atas apa yang mereka seru.

Maka di antara nikmat Allah azza wa jalla adalah menghancurkan tokoh ini dalam hati manusia, dan penghancurannya dengan pedang dan senjata khilafah dan lisan tentaranya serta pena-penanya, yang mana mereka tidak mengecualikan seorang tokoh pun dari tokoh-tokoh sesat, lalu mereka menghancurkan patung-patung AlIkhwan Muslimin yang murtad, hingga berhala “salafiyatul jihad“, namun ada suatu kaum yang telah tunduk kepada tokoh-tokoh ini dan meminumnya dari hati mereka dengan tarbiyah “para pembesar mereka” tidak menerima jiwa mereka akan pengancuran yang terus menerus ini.

Dari “Hakimul Ummah” yang bodoh, dimana dia mengucapkan selamat kepada revolusi yang dilakukan oleh “Muhammad Mursi” dan tidak mengkafirkan rawafidh musyrikin yang najis, bahkan mengajak dialog mereka dan menjadikan pena dan lisannya benteng dihadapan orang yang mentarget mereka dengan bom mobil dan sabuk peledak, begitu juga berdialog dengan para shahawat saluliyah dan nasionalis serta demokratis dan menamakan mereka dengan “para mujahidin mulia”, dan memberi gelar nashara agresor Mesir dengan “Serikat di dalam negeri”, dalam waktu yang sama dia menjadikan ahli tauhid mujahidin dengan istilah “ekstrimis takfiri baru” dan menyeru mereka untuk keluar dari Syam, kemudian mengakhiri kekafirannya dengan baiatnya kepada tokoh intelejen pakistan, dajal yang mengeluarkan pernyataan-pernyataan resmi nasionalismenya dengan nama Amirnya yang sudah meninggal dan menampakkan wala atau loyalitasnya kepada thaghut Qatar dan rafidhah Iran serta imam-imam kekafiran lainnya, lalu si bodoh Adz-Dzhawahiri ini tidak malu mengumumkan komitmennya dengan baiat suatu kelompok nasionalis yang menolak syariat dengan kekuatan yang sudah nampak dan masyhur.[1].

Kemudian keluarlah makalah yang ditujukan bagi para simpatisan ikhwan (muslimin) dari para pengklaim “jihad,” disebutkan di dalamnya Adz-Dzhawahiri dan seruannya untuk bekerja sama antara mereka yang mereka namakan dengan “mujahidin” dan jama’ah-jama’ah “Islam” yang bekerja dalam “dakwah” (Adz Dzawahiri menyeru mereka untuk bekerja sama di antara mereka atas apa yang mereka sepakati dan menasehati mereka sebagian dengan sebagian lainnya dalam masalah yang diperselisihkan. Dan itu kata-kata yang di dasarkan dan buat menyelisihi akidah wala dan bara‘), begitu juga disebutkan dalam makalah itu orang yang mengamati pengalaman dan revolusi serta perlawanan dan konspirasi yaitu Abu Mush’ab As-Suri, yang menjadikan Hasan Al Banna dan pengikutnya adalah salaf yang jujur bagi thaifah manshurah pada masa kini! Lalu penulis menyingkap Abu Mush’ab As-Suri dengan perkataan sesatnya khsususnya dalam hal ini dan seruannya untuk berkerja sama dengan rafidhah melawan “agresor penjajah” dan tidak mengkafirkan mereka ” terhadap tokoh ulama yang sampai pada tingkatan pemutus perkara dalam akidah dan agama”, dan penulis membuktikannya dengan perkataannya yang paling jelas milik Abu Mush’ab As-Suriy, dan tidak mengikuti seluruh karangan-karangannya karena begitu banyaknya. Wallahul musta’an.

Kemudian sebagian simpatisan bodoh itu yang masih saja bersikap husnudzan kepada ‘tokoh-tokoh ini’ membantah penulis majalah atas perkataan mereka tentang As-Suriy, meskipun banyak kesesatannya yang diringkas pada beberapa point berikut ini:

* Bahwa ia mengudzur Thaghut dan kaum musyrikin karena bodoh, sehingga ia tidak mengkafirkan thaghut Ikhwan (Muslimin), dan juga tidak mengkafirkan para wakilnya [2], juga tidak mengkafirkan imam rafidhah dan awamnya, juga tidak mengkafirkan para penyembah kuburan dan mursyid (pembimbing) mereka”.

* Menganggap remeh kesesatan Asy’ariyah, maturidiyah, shufi dan ikhwan, sehingga mengesampingkan dakwah kepada tauhid yang murni, dan akidah salafus sholih.

* Bahwa dia meremehkan bahaya fanatisme mazhab, bahkan menyeru untuk taklid kepada suatu mazhab di negeri itu, dan dengan itu mengesampingkan para pengikut nabi saw dan sunnahnya.

* Bahwa ia mengingatkan dari bahaya sikap takfir dan keras, sesuai cara Sururiyah dari kalangan Murjiah Jahmiyah.

* Bahwa ia terpengaruh dengan teori konspirasi yang sesat sesuai dengan cara bangsa Arab.

* Memiliki uslub yang tidak ilmiyah dalam menyampaikan, dimana dia terpengaruh oleh tulisan-tulisan kemiliteran dan gerakan-gerakan Marxis, lalu dia mendebat masalah-masalah tauhid dan jihad dengan cara berdasarkan akal dan perasaan semata, kemudian menghukumi jihadnya pada muwahhidin melalui “Kegagalan Pengalaman”, ia lupa akan ashabul ukhdud, ia memiliki teori yang kontra produktif dan kekirian terhadap semua amal jihad dan menyeru kepada apa yang dinamakan “Perlawanan Revolusi”.

Dan aku heran dari orang-orang yang mengagungkan orang ini meskipun ia hanya “pengamat” itu tidak pernah ikut serta secara sesungguhnya dalam “pengalaman” apapun dari “pengalaman-pengalaman” yang dia tulis kecuali ikut serta di pinggiran saja, dan yang paling terkenal adalah “pengalaman Jihad Suriah,” ketika itu Adnan Aqalah keluar dari partai Ikhwan dan mengumumkan pentakfirannya kepada para Ikhwan (Muslimin) dan Nushairiyah Bathiniyah dan partai Ba’ats nasionalis memerangi mereka hingga dia tertawan dan dibunuh, pada waktu itu Abu Mush’ab As-Suriy di Irak di bawah perlindungan thaghut Ba’ats celaka Saddam Husain, dan bekerja di sana bersama organisasi Al Ikhwan dari suriah, kemudian dia pergi ke Afghanistan dan bekerja sebagai pelatih yang berpindah-pindah ke Afghanistan dan ke Spanyol sepanjang masa itu, kemudian dia pindah ke Inggris, kemudian kembali ke Afghanistan untuk menjadi pelatih dan menulis “Eksperimen Jihad Aljazair” dan menjadikan rujukan terbesarnya dalam mengkritisi “Eksperimen” itu melalui media kafir, kemudian menulis “Eksperimen Thaliban” kemudian menulis “Eksperimen Usamah bin Laden” setelah 11 September – meskipun dia tidak masuk ke dalam tandzim alQaidah selama dia mukim di Afghanistan – dan setiap “percobaan” tidak lepas dari kritikan kontra-produktif dan negatif serta mengendurkan tekad, dan sejak tinggalnya di Inggris tidak lepas dari berhukum kepada peradilan undang-undang positif kerajaan salibis dalam perseteruannya antara dirinya dengan wartawan “Al HayatAssaluliyah pada akhir 90an, dan perseteruannya itu tentang makalah wartawan itu yang mengkaitkan namanya sebagai pemimpin “Jama’ah Islamiyah Musallahah” lalu segera ia mengajukan wartawan itu ke pengadilan untuk berhukum kepada thaghut! Wal iyadzu billah… [3]

Setelah penjelasan ini, saya buat berikut ini petikan dari perkataan As-Suriy dalam beberapa masalah, namun sebelum itu saya kayakan: dikaitkan kepadaku akhir-akhir ini tulisan-tulisan dalam masalah akidah yang dinamakan dengan takfir “Adzir” atau terjemahannya pentakfiran “orang yang memberi udzur“, padahal aku tidak menulisnya, dan aku belum pernah melihatnya, karena akhir yang aku tulis sejak makalah “Fadhihatusy Syam wa Kasrul Ashnam” hingga makalah ini adalah:

*Ar Radd Ala Mukhannats Dayyuts.

* Ballighu Nisaa’a Ash Shahawaat annahunna Thowaliq.

* Ahwalul Mubayi’iin lil Amwaat wal Ghoibiin.

* As Safiihul Khurfaan Bi Baayi’i Thaghuti Tholiban.

* Ala Hadzihi Ghodroh Umara Harokatusy Syabaab.

* Yahudul Jihaad – Qaidatu Adz Dzowahiri.

Maka hendaknya perlu diperhatikan perkara ini:

Berikut ini saya sebutkan beberapa makalah As-Suriy disertai sedikit catatan:

As-Suriy tidak mau mengkafirkan Rafidhah.

As-Suri berkata: “Dan saya cukupkan ringkasan dari apa yang aku tunjukkan dalam masalah akidah dan masalah mengambil mazhab pada beberapa point berikut…. bahwa siapa yang keluar dari keyakinan ahlus sunnah wal jama’ah dari berbagai kelompok yang banyak seperti kelompok syiah, murji’ah, khowarij dan selainnya dari orang yang mengucap laa ilaaha illallah mereka adalah ahlul islam, dan ahlul qiblat, tidak dikafirkan secara umum, dan tidak dihilangkan sifat islam pada mereka dan juga sifat ahlul qiblat kecuali sesuai dengan timbangan dan syarat tertentu menurut ahlus sunnah yang telah dijelaskan oleh ulama mereka berupa terwujudnya syarat-syarat kekafiran dan ketiadaan penghalang-penghalangnya, dan itu adalah tugas sekelompok ulama yang sudah sampai tingkatan qadhi dalam masalah akidah dan agama, dan bukan amalan segelintir atau individu kaum muslimin dari kalangan orang bodoh dan awam mereka, sebagaimana bahwa itu bukanlah tugas orang yang sedang sibuk berjihad dan mempertahankan diri dari musuh.” (Dakwah Muqawamah).

Dan dia juga berkata: “Masalah Syiah dan kelompok-kelompok selain ahlus sunnah: Para aktivis jihad semuanya menganggap kelompok-kelompok itu dibawah payung umat islam, atau yang dinamakan dengan ahlul kiblat, syi’ah Ja’fariyah (imamiyah): yaitu mayoritas Syiah Iran, dan mereka minoritas di Lebanon, Pakistan, Afghanistan dan Timur Tengah… dianggap oleh mayoritas aktivis jihad adalah kaum muslimin dari ahlul kiblat, yang sesat dan bid’ah” (Dakwah Muqawamah).

Dan dia juga berkata dalam apa yang disebut dengan “AlAqidah Al Jihadiyah wa Dusturul Muqawamah Al Islamiyah Al Alamiyah“: “Dakwah Muqawamah Islamiyah Alamiyah menganggap seluruh muslim yang berkata laa ilaaha illallah Muhammadur rasulullah sesuai dengan perbedaan mazhab dan kelompok mereka, dibawah payung islam yang umum yang diserukan  oleh para fuqaha ahlul kiblat, dan perbedaan akidah, madzhab dan kelompok dianggap harus dikembalikan kepada ahlul ilmi untuk memperincinya, dan bahwa tugas di dalamnya adalah dengan dialog yang benar, dan penjelasan dengan hikmah dan mauidzoh hasanah, dan mencegah adanya pertempuran diantara kaum muslimin, dan menyeru kepada setiap kaum muslimin dari ahli kiblat, baik mazhab-mazhab, jama’ah-jama’ah maupun individu untuk saling bekerja sama untuk mempertahankan diri dari musuh yang menyerang dan berjihad melawan musuh kafir yang menghancurkan negeri kaum muslimin,.dan menyeru kepada seluruhnya untuk mencabut bibit-bibit perpecahan internal, yang mana tidak ada yang memanfaatkan hal itu dalam kondisi seperti ini kecuali musuh kafir yang menyerang negeri kaum muslimin.” (Dakwah Muqawamah).

As-Suri tidak mengkafirkan Thaghut Ikhwan (Muslimin) dan orang-orang murtad mereka yang masuk dalam kesyirikan Demokrasi  dan kekafiran Nasionalis:

As-Suri berkata: “Adapun orang yang ikut serta demokrasi maka mereka itu macam-macam bentuk dan ragamnya, dan selanjutnya juga berbeda-beda hukumnya… akan tetapi secara umum aku bersama mazhab orang yang meyakini bahwa siapa yang meyakini kekafiran demokrasi, dan kandungan falsafah dan undang-undangnya bertentangan dengan keyakinan islam dan tauhid, akan tetapi dia melakukannya dari pintu takwil dalam kondisi istidh’af atau lemah, dan bahwa ia jalan satu-satunya yang bisa dilakukan untuk mewujudkan kemaslahatan yang diharapkan bagi dakwah, islam dan kaum muslimin, bahwa ia jalan yang memungkinkan kepada penerapan syariat dalam kondisi seperti ini, kemudian menghilangkan apa yang bertentangan dengannya, atau itu menjadi jalan yang memungkinkan untuk menyampaikan secara terang-terangan akan kebenaran dan amar ma’ruf dan nahi munkar serta menyampaikan suara kebenaran kepada umat, dan lain sebagainya, maka orang yang ikhlas dari orang-orang itu mendapat udzur karena takwil dalam melakukan demokrasi dan masuk ke dalam politiknya” (Dakwah Muqawamah)

Dia berkata: “Nampak fenomena negatif dalam gerakan yang muncul yaitu kecenderungan mereka terutama Adnan Aqalah dan sebagian muridnya kepada sikap ekstrim dan khususnya setelah AlIkhwan menyimpang dengan penyimpangan yang aneh dalam bersekutu dengan media politik baru, setelah AlIkhwan secara tegas tetap meneruskan untuk mengepung kelompok ini dan membela musuh, maka Adnan Aqalah mengumumkan bahwa ia mengkafirkan para pimpinan Ikhwanul Muslimin dan Jabhah Islamiyah yang menyetujui kerjasama nasional dan berbagai macam penyelewengannya… dan meskipun beberapa bersikap adil dalam menyikapi penyelewengan yang berlebihan ini dalam mengkafirkan kelompok lain tetap saja Adnan terus berada di atas keyakinannya” “AtsTsauroh AlIslamiyah Al Jihadiyah fi Suria“.

Dan ia menganggap “point negatif” dalam “eksperimen Thali’ah“: “Sayap kelompok AthTholi’ah pada akhir masanya dengan adanya aksi pengepungan kelompok Ikhwan dan Iraq serta konspirasi seluruh arah kepadanya dan apa yang dia terima berupa kezaliman dan kekerasan dari luar hingga berlebih-lebihan, dan sikap berlebih-lebihan atau ekstrim ini menjadi ciri yang lazim bagi setiap orang yang bergabung kepada kelompok Tholi’ah, dan media AlIkhwan memainkan peran penting dalam membesar-besarkan dan menyebarkannya untuk dia gunakan dalam melawan kelompok ini, namun kelompok Tholiah ini hidup sedikit dari ini diluar, mungkin kata yang paling pantas yaitu keyakinan yang menyebabkan Adnan Aqalah dan sebagian ikhwannya sampai mengkafirkan ikhwanul muslimin dan Jabhah Islamiyah yang memberi fatwa untuk bersekutu dan rido baik ide maupun program, dan dengan kekafiran orang yang sudah ditegakkan hujjah atasnya namun tetap loyalitasnya kepada pimpinan dan sekutunya…. akan tetapi menghukumi secara general atau umum yang dilakukan oleh (Adnan Aqalah) itu adalah berlebih-lebihan tidak diragukan lagi!” (AtsTsaurah AlIslamiyyah Al Jihadiyyah fi Suria)

Penghormatan As-Suri kepada Ikhwanul Murtaddin dan pengakuannya bahwa thaifah manshuroh mujahidah muwahhidah mewarisi dari bendera mereka:

As Suri berkata: “Dianggap gerakan AlIkhwanul Muslimin secara benar sebagaimana yang diakui bahwa ia adalah ibunya bagi kebanyakan gerakan-gerakan yang berideologi dan berpolitik, dan bahkan kebanyakan gerakan jihad di dunia arab islam” (Dakwah Muqawamah)

Dan ia juga berkata: “Gerakan Ikhwanul Muslimin – pada intinya – adalah tempat pengasuhan alami yang mampu untuk melahirkan pemikiran seperti ini dan menyebarkannya, dan sungguh dakwah Hasan Al-Banna terbentuk sebagai tempat yang cocok untuk pengembangan. Dan dalil akan hal itu adalah syiarnya yang meringkas manhajnya “Allah tujuan kami, Ar-Rasul tauladan kami, Al-Qur’an undang-undang kami, Jihad jalan kami dan mati syahid cita kami tertinggi”… sebagaimana para aktivisnya membentuk prinsip-prinsip jihad yang menjadi bukti lain akan kelayakannya sebagai pengasuhan untuk lahirnya kelompok-kelompok dan pemikiran jihad dalam rahimnya” (Dakwah Muqawamah)

Dia juga berkata: “Lahirlah awal-awal kebangkitan islam, dan dakwahnya ketika itu perbaikan yang menyeluruh, dan sisi akidah jihad muncul pada mayoritasnya, dan tidak ada sebelumnya yang memulai dalam hal itu berupa syair yang terkenal pada ibu dari gerakan-gerakan islam ini, dakwah Ikhwanul Muslimin dan gerakan-gerakan yang dilahirkannya di dunia Arab islam, syiarnya ketika itu adalah: Allah tujuan kami, Ar-Rasul tauladan kami, Al-Qur’an undang-undang kami, jihad jalan kami, mati di jalan Allah cita kami tertinggi! Aku tidak mendapati dalam sastra manapun dan dalam penjelasan kitab manapun pada umat sekarang ini yang merangkum nilai-nilai akidah jihad dari selain syiar ini yang telah mengumpulkan bagian-bagian agama, dasar maupun cabangnya” (Dakwah Muqawamah).

Dan juga berkata: “Akan tetapi pemikiran gerakan bagi kelompok Jihad dan pengasuhnya pada pemikiran awal, yang saya maksud adalah pemikiran Ikhwanul Muslimin membangkitkan dunia arab islam dari Mesir dan suriah Syam dalam bentuk yang penting, dan pemikiran gerakan ini yang masuk dalam gerakan Ikhwanul Muslimin… adalah salah satu sisi yang membentuk pemikiran kelompok Jihad hari ini” (Dakwah Muqawamah).

Dia juga berkata: “Sikap dari sekolahan-sekolahan kebangkitan islam selain jihadi: Adalah mayoritas senior aktivis jihad (dan suriah otomatis termasuk mereka) menghormati sekolah-sekolah kebangkitan dan para pimpinannya dan melaziminya dengan adab perbedaan bersama mereka meskipun luasnya jurang perbedaan dalam pemikiran dan penerapan, dan mayoritas yunior (orang belakangan) dari aktivis jihad dalam kondisi memusuhi dan berseteru melawan mereka dan saling menyerang sebagai hasil dari kondisi yang penuh tekanan dan kehinaan” (Dakwah Muqawamah).

Dia juga berkata: “Undang-undang dakwah Muqawamah islamiyah alamiyah… materi 19: Dakwah Muqawamah Islamiyah Alamiyah menganggap kesungguhan setiap orang-orang mukhlish dalam kebangkitan Islam untuk dakwah dan perbaikan, ilmiah, agama dan yang lainnya, dari menjalankan program-program menurut syariat, yang dilakukan oleh seluruh sekolahan kebangkitan berupa dakwah, penyampaian, Salafi, Ikhwanul Muslimin, Hizbut-Tahrir dan sekolah-sekolah kebangkitan Islam lainnya…. dengan sungguh-sungguh penuh terima kasih dalam menjaga agama kaum muslimin, memperbaiki keadaan mereka, dan menyeru mereka semua untuk saling tolong menolong di atas kebaikan dan ketakwaan dan mendukung perlawanan, dan kesungguhan mereka dalam dakwah kepada Allah dianggap sebagai dukungan, menambah kekuatan untuk benih-benih perlawanan umat, menjaga untuk keberlangsungannya, dan menyeru semuanya untuk melewati titik perselisihannya di periode ini yang menyebabkan keberadaan semua kaum muslimin terkena bahaya di seluruh tingkatan peradaban”. (Dakwah Muqawamah).

Saya katakan: Kelompok yang sejak berdirinya menyeru kepada persatuan agama dan demokrasi, nasionalisme dan undang-undang positif, serta berbagai macam partai dan kebebasan kekafiran serta mengangungkan para thaghut dan menentang sikap takfir dan peperangan….kelompok seperti ini dianggap sebagai pembaharu tauhid dan jihad? Atau ia memerangi Islam!.

Penentangannya terhadap dakwah tauhid kecuali yang dapat menguatkan “dakwah muqawamah”:

As-Suri berkata: “Maka hendaknya bagi kita dan yang lebih khusus lagi untuk hari ini tidak menyibukkan diri dalam perlawanan kita, yang berkaitan dengan persoalan dakwah muqawamah, baik perlawanan Jihad militer, politik, media pemikiran, adab, atau semua yang menyibukkan kita dan menguras semua kesungguhan kita atau membuat kita terbebabi dalam segala macam bidangnya, hendaknya kita menyibukkan diri dengan masalah yang terbatas dalam ruang lingkup batasan wilayah peperangan, dan masing-masing dimudahkan untuk apa yang diciptakan baginya… maka setiap pemikiran, atau ide, atau tindakan, atau perkataan, atau perbuatan yang membantu untuk menyebarkan perlawanan, atau menumbuhkan benih-benihnya dalam bentuk langsung maka itu salah satu tujuan muqawamah baik untuk ide-ide, pendapat atau pertolongan. Dan semua yang bertengan dengan itu yang dapat melenyapkan muqawamah dan mengeringkan benihnya dan membantu musuh, maka dakwah muqowamah sikapnya menentangnya sesuai dengan sarananya baik militer, politik, media atau sarana apapun yang disyariatkan. Dan juga wajib bagi kita untuk tidak bercabang dan menyia-nyiakan kesungguhan kita yang tidak berdampak di belakanganya baik perkataan maupun perbuatan, dan masuk ke dalam perseteruan antara hak dan batil, benar dan salah yang tidak ada ujungnya. Kita harus memperhatikan setiap masalah yang masuk dalam batas-batas wilayah perseteruan, karena bentuk kebid’ahan itu banyak dan beraneka ragam hari ini pada diri kaum muslimin, penyimpangan-penyimpangan, para penyembah kuburan, kesesatan, fenomena kefasikan dan kemaksiatan…dst, tidak ada habisnya dan semuanya disebabkan karena hilangnya imam yang syar’iy, dan ketiadaan berhukum kepada syareat, semua itu muncul karena ketiadaannya dan akan hilang karena kemunculannya (imam)”. (Dakwah Muqawamah).

Seandainya klaimnya itu benar maka akan hilang syirik kuburan hanya dengan kemenangan sebagian para pengagung As Suri ini atas negeri-negeri kaum muslimin, akan tetapi syirik kuburan masih tetap saja tersebar hingga akhir masa penyembah kuburan pada masa daulah Utsmaniyah yang diakui oleh As Suri ini sebagai penganut sufi yang kuat kemudian memasukkan sebagai akhir khalifah syar’iy…[4].

Sikap lembek As-Suri terhadap masalah perselisihan di antara ahlus sunnah dan ahlul bid’ah (Asy’ariyah, Maturidiyah, Shufi penyembah kubur yang kafir).

As-Suri berkata: “Sudah menjadi warisan musykilah antara dua sekoloah ini, Asy’ariyah dan cabang-cabangnya dan Salafiyah atau ahlul hadits dan cabang-cabangnya hingga masing-masing keduanya merasa bagian dari ahlus sunnah dan setiap kelompok menganggap dirinya ahlus sunnah wal jama’ah dan bahwa akidahnya adalah akidah firqah najiyah atau bahwa kelompok lain itu termasuk 72 golongan yang masuk neraka… meskipun ahlul hadits sepakat dan menjelaskan bahwa ini tidak kekal di dalam neraka bagi setiap kelompok ini dan setiap orang yang menisbatkan dirinya kepada kelompok itu dari ahlul kiblat dan umat Islam, namun dua kelompok ini membatasi diri masing-masing kepada ahlus sunnah wal jama’ah, dan pemberian gelar-gelar itu kepada kelompoknya masing-masing, masalah ini menjadi redup seperti masalah lainnya pada akhir-akhir masa ini karena kesibukan umat terhadap penjajahan dan bencana-bencananya, kemudian disibukkan dengan kekuasaan yang membebaskan diri dari penjajahan, yang menjadikan sebab adanya serangan madzhab pemikiran sekuler dan politik modern, yang menjadikan lemah beragama pada diri umat Islam dalam bentuk menyeluruh semenjak pertengahan abad duapuluh, dan begitulah masalah ini tertidur dalam waktu yang singkat, untuk bangkit sekali lagi seiring dengan tumbuhnya sekolah-sekolah kebangkitan Islam modern, dan seiring dengan kembalinya sekolah kelompok Salafi modern dan serangannya terhadap mazhab-mazhab dan Asy’ariyah, dan tetap adanya mayoritas pertengahan sekolah-sekolah kebangkitan lain dengan akidah Asy’ariyah, terutama sekolah-sekolah perbaharuan, dan Jama’ah Tabligh wad Dakwah, dan sufi serta selain mereka, begitu juga ulama-ulama resminya dan para imam masjid begitu juga kebanyakan ulama empat mazhab, dan disertai pilihan aktivis jihad dengan akidah salafiyah dan pemahaman dalil dan pilihan manhaj salafi, yang menjadikan salah satu draft penting yang saya fokus menulisnya dan saya paparkan sekilas pandang akidah kita dalam dakwah muqawamah islamiyah Alamiyah, karena keberadaannya itu salah satu masalah yang sulit diatas jalan jihad, perlawanan dan mempertahankan diri dari serangan musuh, karena dalam bentuk akhirnya menjadi sebuah pintu perpecahan, golongan, dan fanatisme pemahaman kemudian pemikiran kemudian gerakan, dan sebab peperangan internal, internal barisan muslimin dan ditengah-tengah perlawanan di waktu kita diserang oleh kuda-kuda penghancur modern milik Amerika dan salibis dengan deretan tank-tank dan pesawat mereka, yang mana radar mereka mengintai aktivitas dan gerakan kita setiap hari, dan rudal-rudal mereka meluncur di atas kepala kita dari langit, darat maupun laut. Kalau bukan karena itu pasti aku cenderung akan menyampaikan kisah ini, dan pertama kali perhatianku dengan adanya musykilah ini adalah pada masa jihad arab di Afghanistan, dimana di berbagai medan itu dihadiri oleh para ulama salafi jihadi, dan saingan mereka dari madrasah lain yaitu Asy’ariyah, dan para ulama Afghan dan Pakistan serta anak benua India dan Asia tengah serta mayoritas kaum muslimin yang taklid kepada mereka termasuk wilayah Asy’ariyah juga. Ini menjadi sebab jurang yang besar antara mujahidin arab dengan orang-orang itu, jurang yang menyebabkan musykilah yang hakiki di medan jihad itu, lalu pihak intelejen dapat mengambil kesempatan itu sehingga “BBC” mulai menyebarkan masalah Wahabiyah di Afghanistan, lalu tanpa peduli syaikh Abdullah Azzam dan semisalnya berusaha untuk meyakinkan kepada para ikhwah untuk menangguhkan perkara seperti ini…. dan bukan di sini tempatnya untuk membahasnua secara rinci, kemudian setelah itu, ketika terjadi penurunan dukungan jihad di Aljazair (1994-1997) yang dipimpin oleh jama’ah islamiyah al musallahah sebelum terjadinya penyimpangan pada para pimpinannya sebagaimana yang telah saya jelaskan pada bagian pertama, sebagian thalibul ilmi salafi terjerumus dalam mendukung Jama’ah musallahah (bermanhaj salaf), lalu dari mimbar medianya pendukung mereka untuk permasalahan jihad di Aljazair mengambil langkah-langkah peperangan dan pertempuran para salafiyin melawan Asy’ariyyin dan ahli mazhab! Dan itu adalah tragedi lain yang aku melihat sendiri dampaknya, kemudian masalah itu terulang selama perang kedua kepada Arab Afghan pada masa tholiban, dan membentuk lobang besar antara Salafi Jihadi dari kalangan arab dan imarah syar’iy di Afghanistan dan amir serta pimpinannya dari Thaliban dan ulama mereka semuanya adalah Asy’ariyah bermadzhab Hanafi, tidak kalah fanatismenya terhadap mazhab yang mereka pakai daripada saudara-saudara kami yang fanatik juga dengan peran mereka dalam mazhab Salafi, dan pengalaman ketiga yang aku merasakannya sendiri pentingnya kesulitan ini yang datang tidak tepat waktunya, karena begitu sulitnya hidup kita dari serangan musuh, aku ingin mempelajari musykilah ini di sini pada bab khusus dengan masalah akidah secara umum, dan akidah jihad bagi muqawamah secara khusus, demi ikut memberi andil dalam merubah sikap yang berbahaya bagi barisan jihad, dan karena ia adalah musykilah akidah dan agama”.

“Maka aku mengkaji dengan adil dan netral dalam penelitianku tentang keyakinan yang benar yang aku bermaksud untuk mengharap ridho Allah pertama kalinya, kemudian aku persembahkan untuk menasehati para ikhwati mujahidin dan siapa saja yang sampai kepada kaum muslimin, aku menghasilkan beberapa pandanganku yang akan aku singkta disini dal beberapa point setelah aku beristikhoroh kepada Allah memohon petunjuknya, akan tetapi saya akui bahwa aku sangat khawatir dari pengumuman pendapatku ini karena dua sebab: pertama bahwa perkara ini menyangkut dan menyentuh perkara kekhususan yang paling khusus dalam agama, dan sejarahnya penuh dengan medan pertentangan dan permasalahannya. Kedua bahwa aktivis jihad yang pertengahan dimana aku bergabung kepdanya sebagai mazhab Salafi pada mayoritasnya, terdapat orang yang keras karakternya dan fanatik dalam bergaul dengan orang yang menyelisihi pendapatnya dalam masalah ini sebagaimana yang ada di mayoritas selain mereka, akan tetapi yang membuatku berani untuk itu ada dua perkara juga: pertama, pentingnya menyatukan barisan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam jihad dan perlawanan, dan pentingnya untuk menyeleseikan masalah ini diantara mujahidin dan aktivis perlawanan minimal. Dan kedua sungguh aku dapati dan aku kagum dengan salah seorang tokoh ulama mujahidin yang telah menghubungiku sebelumnya dimana aku tidak bisa menghubunginya karena lemahnya tekadnya yang sedang sendirian, dan ia menulis hal itu dengan jelas dan terang, tidak diragukan lagi bahwa ia memiliki teman-teman ulama pada zaman ini yang belum pernah aku ketahui pendapat mereka”

“Dan saya ringkas apa yang aku jadikan petunjuk dalam masalah akidah dan masalah mazhabiyah pada point-point berikut, dalam masalah akidah 1). Bahwa mazhab Salaf dalam keyakinan atau akidah yang telah kami jelaskan sebelumnya adalah madzhab yang benar dan aku beragama kepada Allah dengannya, dan mereka adalah ahlu Sunnah dan firqah najiyah insyaAllah. 2). Bahwa mazhab Asy’ariyah atau mazhab Khalaf, ada sisi kebenarannya dari takwil dan tafsir yang menjadi manhajnya dalam asma wa sifat tanpa membiarkannya sebagaimana yang dilakukan umat salaf, akan tetapi dengan itu mereka tidak keluar keberadaannya dari Ahlus sunnah wal Jama’ah, akan tetapi mereka salah pada amalan yang salah itu saja, persis sebagaimana banyak para ulama yang melakukan kesalahan dari orang yang menisbatkan dirinya kepada salaf daripara ulama hari ini, dan mereka cenderung kepada mazhab Murji’ah terutama dalam masalah kekuasaan dan hukum, namun tidak ada seorangpun dari mereka keluar dari ahlus sunnah, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian mereka hari ini, yang memasukkan dan mengeluarkan manusia dari ahlus sunnah”. (Dakwah Muqawamah).

Dalam membahas wajibnya berperang di belakang imam – baik imam yang baik maupun yang fajir – setelah menyebutkan Mamalik dan Ayyubiyun dan menipu serta membodohi pembaca bahwa sebenarnya komandan dan pemimpin mereka adalah para penyembah kubur, oleh karena itu dia membolehkan berperang di bawah bendera kesyirikan, namun dia menjadikannya hanya sekedar sebuah bendera bid’ah di atas dasar atau pokoknya dalam memberi udzur karena bodoh! Dia berkata: “Lalu lenyaplah masa Mamalik dan datanglah daulah Utsmaniyah, dan siapakah Utsmaniyyun? Tabiat mereka itu bodoh, zalim dan kejam. Namun dengan mereka Allah menjaga islam, dan ditangan mereka takluklah ibu kota Romawi Konstantinopel…. sehingga terdengar adzan dengan lantang di sana, dan menjadi pusat negeri islam dan ibukota Khilafah hingga masa bapak-bapak kita hingga khilafah kita itu lenyap sejak 70 tahun saja! Apakah para imam meninggalkan jihad bersama mereka karena mereka bermadzhab Hanafi yang sufi? Apakah mereka meninggalkan jihad melawan musuh bersama mereka baik jihad ofensif maupun defensif? Cukuplah bagi para Utsmaniyyun bahwa salah satu kebanggaan mereka adalah mereka tidak mengizinkan kapal-kapal Nashoro untuk melewati selat sempit Babul Mandab dari Yaman ke Teluk Suez karena mereka akan melewati dekat Laut Jeddah dan itu termasuk tanah haram, pada waktu itu laut Merah semuanya menurut mereka adalah termasuk tanah Haram yang tidak boleh dimasuki Nashoro! Dan kapal-kapal Utsmaniyah menerima barang dagang nashoro di Yaman lalu memindahkannya ke teluk Suez, lalu menyerahkan kepada mereka di Laut Tengah, dan di akhir kekuasaan mereka Sulthan Abdul Majid pada abad 17, menamakan Laut Tengah dengan Laut Utsmaniyyah, maka wartawan Inggris menanyakan kepadanya jika Laut Tengah dan pantai utaranya yang merupakan milik negara salibis disebut laut Utsmaniyah, lalu Laut Hitam yang dikelilingi oleh kerajaan islam dan pasukan khilafah Utsmaniyah apa namanya? Maka Sulthan Utsmaniy berkata: Laut Hitam adalah kolam renangnya Kaisar! Begitulah di tangan mereka ada kemuliaan islam, dan kaum muslimin berjihad bersama mereka dan kisah-kisah mereka sangat terkenal”.

“Dan perkaranya semua seperti itu, hingga lenyaplah daulah Khilafah, dan datang pasukan Romawi dalam bentuk perang Salib kedua pada abad 19 dan abad 20, dipimpin oleh Inggris dan Prancis serta negara-negara Eropa dan Rusia di Asia Tengah, lalu siapakah yang berjihad melawan mereka selama setengah Abad dan siapa yang mengusir mereka dari timur dunia islam? Telah berjihad para ulama India dan Pakistan dari kalangan Deobandi, sufi dan bermadzhab Hanafi, mereka memerangi Inggris selama 130 tahun dan mengusir mereka, begitu juga yang dilakukan pengikut mazhab sufi di Afghanistan, dan mereka telah menyembelih pasukan Inggris di suatu kali ketika mereka menyerang sebanyak 10 ribu orang dan dikatakan 30 ribu orang, tidak ada yang selamat kecuali satu orang! Mereka tinggalkan agar ia menceritakan kisahnya kepada raja Inggris, adapaun Sufi bermazhab Hanafi di lembah Farghanah (di Asia Tengah dari negeri Uzbekistan) mereka mampu menimpakan neraka kepada Rusia, begitu juga imam Syamil Asy Syafi’i al-Asy’ari Sufi memerangi rusia selama 60 tahun di Kaukasus, dan kisahnya terkenal dan meriwayatkan syaikh tersebut semoga Allah merahmatinya”

“Adapun di negeri syam sungguh para syaikh Sufi Asy’ariyah dan para ulama mazhab Hanafi dan Syafi’iy lalu mereka berjihad melawan Perancis kemudian Inggris, adapun di Libya sungguh terjadi pemberontakan oleh para syaikh bermadzhab Maliki Sufi Asy’ari, dan yang paling terkenal adalah Umar Mukhtar rh, begitu juga para syaikh Thariqat Sanusiyah sebelum dan sesudahnya, dan di Sudan, orang-orang Sufi melakukan pemberontakan Al Mahdiyah yang mengusir Inggris, dan di AlJazair banyak sekali revolusi yang dilakukan oleh Sufi bermadzhab Maliki Asy’ari dan yang paling terkenal adalah revolusi Abu Umamah dan Abdul Qadir Al Jazairi, dan di Tunisia begitu juga, para ulama Zaitunah dan mereka adalah bermadzhab Maliki Asy’ari melakukan perlawanan melawan Prancis, dan di Maghribi, Abdul Karim Al Khitabi sedangkan dia adalah seorang bermadzhab Maliki Sufi Asy’ari melakukan revolusi yang berakhir dengan tegaknya Republik Islam yang berlangsung hingga tahun 1963 M, dan yang disayangkan mungkin mayoritas umat islam tidak tahu hal ini!! Dimana beliau mampu memenangkan dalam peperangan yang sangat masyhur melawan pasukan gabungan lima negara Eropa yang bersatu, pada salah satu peperangan yang disebut dengan perang Anwal yang terkenal mampu menawan 10 ribu tawanan terdiri dari 100 Jenderal dan Marshal dari pasukan Eropa hingga Amerika mengintervensi dan mereka berkata islam akan kembali menaklukkan Eropa, sosok ini telah di zalimi sejarahnya dan aku pernah membaca suatu kali akan kekaguman perkataan Mao Zedong (yang dianggap paling terkenal dengan teori perang gerilya), dia berkata dalam bukunya: “Enam point militer” dari khitabi: bahwa ia termasuk guru terbesar para militer dalam perang gerilya, dia tidak melihatnya akan tetapi mempelajari pengalamannya, di waktu yang sama mayoritas generasi kita hari ini tidak pernah mendengar nama AlKhitobi, tapi mereka kenal dengan Ghiwar Thusyah (serial komedi di Suriah), Akademi Star, kisah kehidupan Maradona dan skandal Maradona serta Artis Fifi Abdah”.

“Dan di Afrika benua hitam kisah-kisah agung tidak pernah sampai kepada kita karena kebodohan kita dengan sejarah kita sendiri, islam masuk Afrika dari Libya, Al Jazair, Maghribi dan Sudan melalui orang-orang Sufi yang selalu menghantam para penjajah sepanjang sejarah, dan begitulah keadaan di Asia Timur dan Malaysia, dari Pilipina hingga Indonesia, kemudian diantara akhir jihad kaum muslimin yang berada di Afghanistan ditangan orang-orang bermadzhab Hanafi Sufi yang mana banyak ikhwan-ikhwan kita tidak merasa kagum…” (Dakwah Muqawamah).

Dan dia juga berkata: “Masalah Sufi: Mayoritas aktivis jihad dipengaruhu oleh manhaj Ibnu Taimiyah, dan madrasah salafiyah memerangi sekolah-sekolah Sufi yang menyimpang dan menganggapnya sebagai manhaj bid’ah dan sesat, sebagiannya bersikap keras dalam masalah ini, namun demikian minoritas mereka berlaku adil dalam menerima sekolahan sufi dan tasawuf” (Dakwah Muqawamah).

Saya katakan: Seandainya aku nukil seluruh perkataan As-Suri dalam membela Asy’ariyah, Maturidiyah dan Sufiyah serta mengagungkan tokoh-tokoh mereka – seperti perlawanan kaum sufi sekuler melawan penjajah Eropa – dan berdebat membela mereka, serta meremehkan orang yang mengingkari kesesatan mereka maka pembahasan ini akan sangat panjang, wallahul musta’an, perlu diketahui bahwa dia itu bodoh terhadap hakekat Asy’ariyah, dia mengira bahwa perselisihan antara mereka dengan salaf adalah terbatas dalam tauhid asma wa sifat saja, ini adalah batil, sebagian salaf berkata bahwa Asy’ariyah itu adalah makhooniitsul Jahmiyah (istri atau pasangannya jahmiyah). Mereka sesuai dengan metode Jahmiyah dalam AlJabru, irja’ dan kalam. Dimana ia terjerumus pada berbagai kesesatan dalam: tauhid, nubuwat atau kenabian, kalamullah, hakekat iman, sebab musabab, hikmatullah, dan hadits-hadits ahad.. dst. Wallahul musta’an.

Zhahirnya dari debatnya membela sufi maka dia sendiri termasuk dari orang-orang yang dia namakan sebagai “minoritas aktivis jihad” yang “bersikap adil dalam menyikapi sekolahan sufi dan tasawuf”, perlu diketahui bahwa penipuan As-Suri ini gabungan dari pengulangan antara “Salafi jihadi” dan “Salafi Saluli”  dalam sikap meremehkan orang yang menyerang Sufi “Jihadi” yang mereka akui, kalau di Irak mungkin debat membela “Jaisyu Rijalith Thariqah AnNaqsyabandiyah“.

Seruan As Suri untuk taklid kepada mazhab yang berlaku di negeri itu, dan itu sesuai kecenderungan orang awam, lalu meninggalkan mujahid muwahhid dalam mengangkat tangan ketika ruku’ dan setelah itu menikahkan seorang Muslimah tanpa izin walinya di setiap negeri bermazhab Hanafi, dan meninggalkan pendapat meletakkan tangan kanan atas tangan kiri di setiap negeri bermazhab Maliki, dst:

As Suri berkata: aku nasehatkan kepada para pemuda dan penuntut ilmu… agar mempelajari salah satu madzhab dari madzhab-madzhab yang mereka pilih, dan saya nasehatkan mereka terutama para pemuda kebangkitan dan jihad agar mempelajari salah satu madzhab yang berlaku di tempat dia tinggal, dakwah, amal dan jihad mereka berada hingga sikap berbeda mereka tidak menghalanginya dari apa yang biasa dipakai manusia dari fiqh dan hukum antara mereka dengan manusia”. (Dakwah Muqawamah).

Setelah semua ini apakah seorang mujahid akan mengingkari penyerangan terhadap Abu Mush’ab As Suri ini? Atau dia akan memuji Allah dengan tersingkapnya orang ini dan tersingkap pemikirannya hingga manusia bisa berhati-hati?

Ditulis oleh:

Abu Maisarah Asy-Syami

Semoga Allah mengampuninya.

Catatan:

  1. Untuk diketahui, sesungguhnya para tokoh pimpinan khilafah tidak mengikuti risalah-risalah Adz Dzowahiri karena begitu panjangnya dan banyaknya dan kesibukan mereka dalam berjihad, kecuali setelah adanya kebangkitan murtad penipu, dimana Adz-Dzhawahiri mulai menyingkap perkataannya yang terbaru yang telah dia pendam diantara kertas-kertas dan dalam sejarah, mereka sepanjang tahun mengira bahwa adz Dzhawahiri tidak tahu akan keadaan rafidhah dan tidak tahu bahwa kesyirikan akbar menjadi dasar bagi mereka, itu karena sedikitnya rafidhah di luar Irak dan Iran – khususnya Mesir, dimana tumbuh dakwah adanya kedekatan antara sunni dan rofidhoh – mereka mengira bahwa Adz-Dzawahiri mengudzur mereka karena bodoh pada hal-hal yang bukan kesyirikan dari berbagai kesesatan, kemudian Adz-Dzawahiri tetap di jalan yang sesat hingga dia tidak meninggalkan satupun kelompok mutad kecuaki dia nampakkan di atas keislaman dan kaum muslimin, aku memohon kepada Allah agar menghancurkannya di tangan saudara-saudara kami di wilayah Khurosan.
  2. Pengkafiran pada Imam Daulah Islam kepada para peserta pemilu sangat masyhur. Imam Abu Mush’ab Az-Zarqawi, semoga Allah menerimanya, berkata: “Karena faktor-faktor ini dan yang lainnya, kami umumkan perang besar atas mahhaj keji ini, dan kami jelaskan hukum para pemilik akidah bathil ini, dan cara yang merugi ini, maka setiap siapa saja yang berusaha menegakkan manhaj ini dengan memberi bantuan dan pertolongan maka dia telah berwala kepadanya dan kepada pelakunya, dan hukumnya sama seperti hukum yang menyeru kepadanya dan orang yang membelanya, dan orang yang menyerukan pemilu maka mereka itu mengaku akan rububiyah dan ilahiyah, dan para pengikut pemilu maka mereka telah menjadikannya sebagai rabb dan sekutu selain Allah, dan hukum mereka dalam agama Allah adalah: kufur dan keluar dari islam. Ya Allah sungguh bukankah aku telah menyampaikannya. Ya Allah saksikanlah. (Wa litastabiina sabilul mujrimin)
  3. Abu Mush’ab As Suri berkata setelah membahas panjang lebar tentang perselisihan antara dirinya dengan wartawan al Hayat antek saudi: “Dan sebagian orang-orang ikhlas menasehatiku agar membawa hukum koran Al Hayat di depan peradilan Inggris, dan itu seakan menjadi sebuah mimpi khayalan, dari mana bagiku untuk membayar biaya peradilan dan pengacara, aku ketahui pada awal perkiraan hitungan biayanya mencapai nilai yang hanya aku dengar dalam film saja! Akan tetapi bukanlah impian jika Allah mewujudkannya, karena usaha peradilan ini sangat ditekankan, dan Allah telah memberiku beberapa teman untuk memberi pinjaman padaku biaya awal setelah aki meyakinkan kepada beberapa pengacara akan keuntungannya, dan koran itu harus membayar ganti rugi yang besar bagikun selama memberikan berita yang menyebabkan masa depan hidupku terkena bahaya, dan peradilan Inggris pada batas jauh dari ragu hingga yakin dengan dokumen itu… lalu berjalanlah rincian dan kejadian dalam perjalanan perkara itu dan bukan di sini tempat untuk memperbanyak pembahasannya, akan tetapi hasilnya bahwa koran AlHayat setelah tidak mampu mendatangkan bukti-bukti atas tuduhannya yang berbahaya dan mengaku kalah setelah beberapa bulan lalu menawarkan perdamaian, yang disepakati bersama-sama setelah adanya perundingan melalui penulis mereka sebagai kepanjangan tangan dan hal itu diputuskan: 1). Hendaklah ditulis dalam teks dokumen perdamaian yang akan diserahkan kepada peradilan Inggris, bahwa setiap dinisbatkan kepadanya berupa tuduhan dan pengkaburan berita adalah hanyalah kedustaan dan dibuat-buat karena tidak memvalidasi sesuai dengan ilmu jurnalistik, dan mereka mendasarkan riwayat-riwayatnya kepada saksi-saksi yang tidak dapat dipercaya, dan aku berlepas diri dari semua kedustaan yang dinisbatkan kepadaku. 2). Agar mereka menyebarkan teks permintaan maaf mereka dengan bahasa arab di koran mereka untuk menegaskan hal itu juga, bahwa aku akan menulis permintaan maaf mereka sesuai yang aku kehendaki! Dan ini yang telah aku tulis dan terpaksa mereka menyebarkannya! 3). Agar mereka mengganti rugi atas gangguan mereka. 4). Agar membayar biaya pengacara yang me jadi pembela dalam perkaraku. 5). Agar membayar seluruh biaya peradilan, ditambah lagi mereka terpaksa membayar jasa bagi pengacara di pihak mereka, dsn semua itu terlaksana atas pertolongan Allah, dan aku mampu membayar hutangku yang semakin membesar, dan tinggallah aku hingga Allah menolongku untuk hijrah ke Afghanistan Thaliban tidak lama setelah itu, segala puji bagi Allah” (Muhktashor syahadati alal Jihad Aljazair”

Allah berfirman: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut” (QS. An Nisaa: 60).

Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab – rh berkata: ” Dan firman Allah Dan mereka telah diperintahkan untuk mengkafirkannya” artinya thaghut, dan itu dalil bahwa tahakum kepada thaghut menghilangkan iman dsn berlawanan dengannya, maka tidak sah iman kecuali dengan mengkufuri thaghut dan meninggalkan berhukum kepadanya, maka barangsiapa yang tidak mengkufuri thaghut dia belum beriman kepada Allah dan firmannya “Dan setan menginginkan agar mereka sesat dengan kesesatan yang jauh” artinya, karena keinginan untuk berhukum kepada selain kitabullah dan sunnah rasul-Nya saw termasuk mentaati setan, dan ia menyeru kelompoknya agar menjadi penghuni neraka Sair, dan dalam ayat itu ada dalil bahwa meninggalkan berhukum kepads thaghut – yang selain kitabullah dan sunnah – termasuk kewajiban dan bahwa berhukum kepada thaghut adalah bukan orang beriman dan bukan muslim” (Taisirul Azizil Hamid).

Dan Sulaiman bin Sahman berkata: “Jika begitu engkau tahu bahwa berhukum kepada thaghut itu kufur maka Allah telah menyebutkan dalam kitabnya bahwa kufur itu lebih besar dosanya dari pembunuhan. Allah berfirman: “Dan fitnah itu lebih besar daripada pembunuhan” dan firman Allah “Dan fitnah itu lebih keras dari pembunuhan”, dan al fitnah adalah kekufuran, seandainya kota dan desa dibunuh hingga mereka musnah maka itu lebih ringan daripada mengangkat seorang thaghut di muka bumi yang menghukumi dengan yang menyelisihi syareat islam yang Allah mengutus rasul-Nya dengan itu,… (dan) jika berhukum ini kekufuran, dan perselisihannya adalah apabila terjadi karena dunia, lalu bagaimana boleh bagimu untuk mengkafirkannya demi karena dunia? Karena tidak beriman manusia hingga Allah dan rasulnya menjadi yang lebih ia cintai dari selain keduanya, dan hingga rasulullah lebih ia cintai daripada anaknya, orangtuanya dan seluruh manusia, jika duniamu hilang semuanya maka tetap saja tidak boleh berhukum kepada thaghut karenanya, dan jika engkau terpaksa dan engkau harus memilih antara berhukum kepada thaghut atau hilang duniamu maka wajib mengerahkan (hilang) duniamu, dan tidak boleh bagimu berhukum kepada thaghut” (AdDurarus Saniyyah)

  1. Untuk mengetahui hakekat Daulah Utsmaniyah, maka lihat kepada: “AdDaulah Utsmaniyyah wa Mauqifud Dakwah Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab“, karangan syaikh Nashir bin Al Fahd, semoga Allah membebaskannya, dan setelah Syaikh Abu Jandal Al-Azdi – semoga Allah menerimanya – menukil berapa baris dari risalah ini dengan judul “I’tidzarun Wa Faidatun Muhimmah” beliau berkata: “Dari situ engkau tahu kesalahan orang yang tertipu dengan daulah ini dan mensifatinya bahwa itu akhir pusat negeri dari negeri-negeri islam dan yang mana dengan hancurnya daulah itu hilanglah kemuliaan kaum muslimin! Dan sejarah yang benar adalah menetapkan sebaliknya” (Silsilah Alaaqatud Daulah fil Islam)”, dan keadaan Daulah Utsmaniyah adalah yang paling nampak dalam memerangi tauhid di Hijaz dan Najd dan menyebabkan kepada pembunuhan Imam Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab, rh, dan ulama-ulama serta pemimpin-pemimpin pembaharu agama lainnya.

Sumber: http://justpaste.it/u7ni

Advertisements