Ahrar al-Sham menyangkal bertanggung jawab atas pemboman di pesisir pantai Suriah, sedangkan Media Rezim Assad menuduh Ahrar Al-Sham pelaku pemboman tersebut dan ISIS mengklaim bertanggung jawab.

Kelompok Jihad Ahrar Al-Sham membantah hubungan mereka terhadap operasi pemboman yang mengguncang kota Jableh dan Tartous di pantai Suriah pada hari Senin (23.07.16) dan merenggut nyawa dari banyaknya korban tewas dan terluka, menurut laporan SANA salah satu kantor media pro-rezim Assad.

Sedangkan menurut Saluran Resmi Satelit Suriah dan Saluran ad Dounia – media rezim Assad – menuduh kelompok Jihad Ahrar Al-Sham berada di balik pemboman Jableh dan Tartous di pesisir pantai Suriah, melemparkan kesalahan pada Amerika Serikat, karena menolak mencantumkan nama kelompok tersebut ke dalam daftar terorisme sebelumnya.

Juru bicara resmi Ahrar Al-Sham, Ahmed Kara Ali mengatakan “Kami menolak hubungan koneksi atau link apapun terhadap kami atas ledakan di Tartous dan Jableh, kelompok kami tidak melakukan operasi tersebut, tidak pernah menargetkan warga sipil dan tidak pernah melakukan operasi seperti ini sama sekali.”

Sementara itu, Labib al Nahhas, direktur urusan luar negeri untuk Ahrar al Sham berkomentar melalui akun twiternya dalam bahasa Inggris menyatakan bahwa, “Sebagian besar korban ledakan di Tartous dan Jableh adalah warga sipil yang melarikan diri dari rumah mereka di Aleppo dan Hama karena pemboman Rezim.”

Dia membantah mengatakan melalui twit-nya, “Ahrar secara mutlak menyangkal hubungan dibalik ledakan di Tartus dan Jableh, ini bukan modus operandi kami, kami tidak menargetkan warga sipil.”

Al-Nahhas menambahkan melalui twit-nya bahwa, “Beralih melancarkan serangan terhadap teroris lalu menyerang penduduknya sendiri dan luar negeri adalah latihan teratur bagi Negara Mafia Rezim Assad.”, ia juga menegaskan bahwa “sejarah Rezim sejak akhir tahun 70-an penuh dengan contoh dari serangan teroris yang melancarkan sasarannya terhadap domestik dan asing demi untuk kepentingan politik “

Kelompok Ahrar Al-Sham dan Bayan beberapa minggu yang lalu melancarkan serangan dan berhasil menembus benteng rezim Assad di kota Jableh, dan telah melakukan operasi pemboman dengan menggunakan sebuah bom mobil di dalam pangkalan militer Rusia di wilayah Pegunungan Pine, di mana dalam operasi tersebut banyak yang tewas termasuk para petugasnya.

Di sisi lain, Organisasi ISIS mengklaim bertanggung jawab atas ledakan yang mengguncang kota-kota di pesisir Senin pagi kemarin, di mana media milik ISIS Channel Telegram dan Amaaq menegaskan bahwa kelompoknya yang menargetkan wilayah yang disebut sebagai “Negara Alawits.”

Media ISIS Amaaq juga mengklaim bertanggung jawab atas enam ledakan, empat diantaranya mengguncang kota Jableh di parkiran di dekat kota dan Rumah Sakit National, dan dua mengguncang kota Tartous.

Perlu dicatat bahwa kota Jableh di pedesaan Latakia memiliki unsur-unsur utama yang terdiri dari warga Sunni, sedangkan ledakan bom terjadi di area parkiran di pusat kota dan Rumah Sakit National. (tgr/ansharalislam)

Advertisements