Tanggapan atas pidato terbaru Al-Adnani oleh Syaikh Abu Mahmud Al-Filistini.

Khalid bin Al Walid mundur dari Homs, dan ia mengembalikan semua Jizyah (pajak) yang ia ambil dari kaum kafir ketika Romawi datang untuk memerangi tentara Islam di daerah terbuka, sementara tentara Islam sedang kalah dalam jumlah.

Jadi, Khalid bin Al Walid mundur bersama dengan sahabat senior menuju Selatan Suriah untuk membangun basis perlindungan karena lokasi geografis yang cocok untuk pertempuran. Inilah Khalid dan para sahabat – mereka mundur demi maslahat Syar’i.

Dan dalam sejarah Islam, ada beberapa peristiwa penarikan mundur dan taktis pasukan. Telah dikonfirmasi bahwa Salaful ummah di antara para sahabat pernah mundur dan menyerahkan wilayah luas, bukan hanya sebuah kota, demi maslahat syar’i.

Namun, karena Salaf dari Khawarij tidak sama dengan Salaf kami. Oleh karena itu Khawarij modern hari ini tidak akan menemukan Salaf mereka mundur dari suatu wilayah demi maslahat syar’i karena mereka berjuang sebatas demi pertempuran saja. Jadi, bagaimana mungkin mereka memahami?

Pendahulu kita adalah para Sahabat dan Tabi’in, sementara pendahulu dari gangster bandit (Adnani) adalah Dzul Khuwaisirah dan Ibnu Muljim serta Haruriyah dan Azariqah (yaitu Khawarij masa dahulu). Jadi, para pendahulu kita berbeda dari pendahulu mereka, dan ini adalah anugerah dari Allah kepada kita.

Para pendahulu kita berbeda dari pendahulu mereka (ISIS), dan pemimpin kita saat ini berbeda dari pemimpin mereka. Pemimpin kita adalah pemimpin yang memiliki perjalanan sejarah dalam Jihad dan dalam memberikan bimbingan untuk hal-hal Syar’i, sementara pemimpin mereka dulunya adalah perwira militer (dari partai Baath), veteran penjahat dan pemburu merpati (profesi Adnani sebelumnya adalah pemburu merpati).

Panutan kami adalah ulama Rabbani yang mengambil ilmu melalui sanad ulama dan mereka telah dikenal, sementara panutan mereka (ISIS) adalah orang-orang bodoh yang tidak dikenal, yang terbaik dari mereka hanyalah seorang penuntut ilmu rendahan yang sedikit memiliki pengetahuan, sering salah berfatwa bahkan dalam persoalan sederhana seperti masalah menstruasi. Inilah perbedaan antara Ahlu Sunnah dan Khawarij.

Begitulah keadaan para pendahulu mereka dari kalangan Khawarij. Mereka meninggalkan para Sahabat benar dan mengkafirkannya dan mereka menuduh para sahabat yang adil meninggalkan Syariah. Mereka lalu menumpahkan darah para Sahabat dengan dalih itu. Dan mereka mengikuti orang-orang bodoh yang masih muda usia dan berpikiran pendek.

Dan sekarang, kita melihat cucu Ibnu Muljam di Syam mengkafirkan para ulama dan mujahidin, mereka menuduh para ulama dan mujahidin telah murtad lalu mereka menumpahkan darah para ulama dan mujahidin. Generasi mereka di Syam akan hancur seperti para pendahulu mereka dihancurkan.

Al-Muwahideen Media

Advertisements