Penulis:

Abu Turab Al Janubi.

Judul Asli:

Muqtathafat Muhimmah Min Kalami Asy Syaikh ‘Athiyatullah rahimahullah Fi Al Hukmi ‘Ala Juyusyi Wa Syurathi Ad Duwali

بسم الله الرحمن الرحيم

:الحمد لله وكفى والصلاة والسلام على النبي المصطفى وعلى آله وصحبه ومن بهديه اقتفى ، وبعد

Di antara persoalan yang telah nyata bagi para pemerhati bahwa ahli tauhid dan jihad — atau orang-orang yang dikenal dengan pengikut paham salafi jihadi[1] — pada masa sekarang ini, mereka tengah melalui proses kelahiran baik dalam bidang ilmiyah maupun dalam bidang amaliyah dalam berbagai bidang. Apa yang mereka alami dalam proses ini sama dengan seluruh aliran pemahaman yang ada dalam umat Islam ini.

Di antara proses kelahiran amaliyah yang tengah dialami oleh para penganut paham ini adalah jihad agung yang mereka rintis di berbagai belahan bumi terutama di bumi Syam. Sebuah wilayah penuh berkah yang di sana kepahlawanan ahli tauhid dan jihad pada masa sekarang ini telah disaksikan sendiri oleh musuh sebelum disaksikan oleh kawan sendiri. Mereka benar-benar para perwira perang, singa-singa petarung dan benteng pertahanan bagi umat Islam, yang tulus dan tidak mengharapkan apapun selain mencari ridla Allah, ini yang pertama, dan kedua untuk membela umat dan agama mereka.

Di antara proses kelahiran di bidang amaliyah yang lainnya adalah pergolakan penuh berkah (baca: revolusi) yang dilakukan oleh ikhwan-ikhwan kita di berbagai dunia Islam seperti Tunisia, Libiya dan Mesir dengan menggunakan nama Ansharu Asy Syari’ah[2]. Dengan berbagai usaha mereka untuk mengajak umat Islam agar berpihak kepada putra-putra mereka yang berjihad di kancah peperangan. Juga usaha mereka untuk memahamkan umat Islam antara siapa orang-orang yang memperjuangkan kepentingan pribadi atau golongan yang berkedok Islam dan siapa orang-orang yang benar-benar berjuang membela kehormatan mereka dan tidak memiliki tujuan apapun selain mencari wajah Allah. Kita memohon kepada Allah agar Allah meluruskan pemikiran dan perbuatan mereka.

Semua itu berlangsung dengan diiringi berbagai proses kelahiran di bidang ilmiyah yang merupakan efek dari gerakan yang dimotori oleh putra-putra penganut paham ini. Berbagai proses kelahiran dan diskusi ilmiyah ini memiliki kedudukan yang sangat penting. Karena ini merupakan usaha pelurusan terhadap cara berpikir manusia yang akan menjadi pijakan bagi gerakannya dalam kehidupan ini. Sementara mujahidin adalah manusia yang paling layak untuk memperhatikan kelurusan bangunan pemikiran mereka dan kesesuaiannya dengan syariat. Karena ke depan — yang atas ijin Allah tanda-tandanya telah nampak di ufuk — mereka akan menjadi para pemimpin umat atau memiliki posisi penting sehingga apa saja yang mereka katakan akan didengar dan apa saja yang mereka lakukan akan dilihat. Maka siapa saja yang memiliki tipe, posisi dan perjuangan seperti ini haruslah memperhatikan kebenaran pandangan dan pemikirannya, serta kesesuaiannya dengan syariat Allah, supaya tidak masuk dalam golongan orang-orang perusak yang Allah tidak luruskan amalan mereka. Karena ikhlas saja tidak cukup apabila tidak ditopang dengan ilmu pemahaman terhadap kehendak dan hukum Allah ta’ala. Makanya dalam peperangan ini dan pada jaman ini tidak ada tempat bagi orang-orang bodoh meski sehebat apapun keikhlasan mereka, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Mush’ab As Suri, semoga Allah meluruskan dan melindungi beliau.

Dan sebenarnya termasuk sikap yang adil dan mulia jika kita mau mengakui bahwa paham (salafi jihadi) ini, meskipun secara umum menurut pandangan kita adalah paham dan kelompok yang paling dekat dengan kebenaran, dan para penganutnya adalah orang yang paling mirip dan paling sesuai dengan ciri-ciri Thaifah Manshurah pada jaman ini, namun yang demikian ini tidak berarti mereka itu adalah orang-orang ma’shum (bebas dari kesalahan). Karena sebagian apa yang dianut oleh sebagian kelompok dalam aliran ini, dan berbagai masalah dan pendapat yang secara masyhur mereka pegangi bisa jadi merupakan hal-hal yang marjuh (lemah) atau bahkan salah. Oleh karena itu kewajiban bagi para penganut paham ini khususnya kalangan ulama’ dan penuntut ilmunya adalah menyaring masalah-masalah tersebut dan mengkajinya secara tulus tanpa terpengaruh dengan pendapat yang telah secara turun-temurun mereka anut, karena kebenaran itu lebih berhak untuk diikuti!

Ini bukan berarti merupakan ajakan untuk meruntuhkan semua prinsip. Karena secara umum prinsip-prinsip yang dianut oleh aliran ini merupakan perkara yang benar dan qath’i, yang al hamdulillah lebih dekat dengan prinsip-prinsip Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Akan tetapi ini adalah ajakan untuk mengkaji ulang, meneliti, mengecek kembali dan melakukan ijtihad ulang mengenai berbagai masalah yang dianggap telah tuntas, padahal kenyataannya masih ada celah untuk dikaji ulang.

Dan sungguh telah lama para ulama’ di dalam aliran ini menyerukan untuk melakukan kajian dan penelitian kembali terhadap kasus-kasus ini yang akan menghantarkan kita kepada kebaikan, kelurusan dan pemahaman yang benar, serta lebih berhati-hati supaya kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang sia-sia usaha mereka di dalam kehidupan dunia sementara mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat baik. Kita berlindung kepada Allah dari keterlantaran.[3]

Di antara syarat dalam melakukan kajian dan pembahasan ini adalah ketulusan dan keikhlasan di mana seseorang yang memenuhi syarat ini melakukan usaha untuk memahami kebenaran yang diinginkan oleh Allah, bukan orang tersebut menganut suatu keyakinan tertentu lalu baru setelah itu ia berusaha mencarikan dalilnya sehingga yang dia cari itu adalah apa saja yang memperkuat keyakinannya dan bukan apa yang diinginkan Rabbnya.

Bukti dari ketulusan ini adalah apabila dia telah memahami bahwa ternyata yang benar itu bukanlah yang ia yakini selama ini ia kembali dan memohon ampun kepada Allah, bukan bersikukuh dan sombong. Selain itu kajian ini syaratnya adalah dilakukan oleh orang yang di bidangnya dari kalangan orang-orang berilmu. Dan hendaknya mereka menyadari bahwa mereka dalam hal ini adalah berijtihad, sehingga tidak sepantasnya memendam dalam dadanya kedengkian, kebencian dan berbagai penyakit hati lainnya terhadap orang yang tidak sependapat dengannya hanya lantaran ia memiliki pendapat yang berbeda dengannya. Demi Allah ini adalah pertanda niat yang tidak baik dan pertanda tidak mendapatkan bimbingan dari Allah.

Karena seandainya niatnya lurus dan ilmunya luas pasti ia dapat memaklumi ijtihad saudara-saudaranya — tentunya selama dalam wilayah ijtihad yang dapat diterima oleh syariat —. Akan tetapi jika niatnya sudah rusak tentu masing-masing akan melemparkan tuduhan dan berprasangka buruk terhadap yang lainnya, padahal pada diri mereka masing-masing terdapat alasan yang dapat diterima, yaitu membela kebenaran.

Seandainya orang yang memiliki keinginan membela kebenaran tersebut meneliti hatinya tentu dia akan dapati bahwa sebenarnya dirinya itu hanya ingin membela ego pribadi dan hawa nafsunya. “Seruan jahiliyah itu terselubung dalam hati” sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah.

Dalam hal ini kami berpandangan bahwa kami akan menyampaikan persoalan ini dengan cara mensosialisasikan berbagai pendapat para ulama’ yang ada di dalam aliran ini, aliran tauhid dan jihad. Para ulama’ tersebut memiliki beberapa pendapat mengenai sejumlah permasalahan yang dianggap sebagai prinsip dan rambu-rambu dalam aliran ini, yang berbeda dengan apa yang telah banyak dikenal di tengah-tengah penganut aliran ini dalam permasalahan tersebut. Namun pendapat-pendapat yang berbeda tersebut tidak banyak dikenal lantaran sedikitnya orang yang melihat dan mengikuti kajiannya. Hal ini kami lakukan supaya tidak ada seorangpun yang akan mengatakan; dari mana antum mendapatkan dan mengarang pendapat-pendapat dan pemikiran-pemikiran semacam ini?!

Namun ini adalah perkataan para imam yang dipercayai oleh semua kalangan tentang kapasitas keilmuan, pemahaman, pengorbanan, ketulusan dan keikhlasan mereka. Sehingga mereka adalah orang-orang yang layak untuk diteladani dan diterima ilmunya, meskipun kami tidak menganggap pendapat mereka sebagai hujjah, karena memang yang menjadi hujjah itu hanyalah dalil yang terdapat dalam pendapat mereka tersebut. Akan tetapi kami mengambil petunjuk dengan pemahaman mereka di dalam memahami kesimpulan dari dalil-dalil tersebut, karena pemahaman itu berbeda-beda sementara tidak ada satu pemahamanpun yang ma’shum.

Untuk permasalahan pertama yang akan kami sampaikan adalah masalah “Status Hukum Tentara dan Polisi Thaghut” atau “Status Para Pembela Thaghut”. Di mana menurut pendapat yang telah dikenal di tengah-tengah penganut aliran ini bahwasanya tentara dan polisi itu hukumnya adalah kafir secara ta’yin (setiap individunya). Tidaklah berguna bagi mereka dalam kasus ini alasan apapun, takwilan apapun dan ketidaktahuan (jahil). Permasalahan ini menurut mereka adalah permasalahan yang telah menjadi ijma’ qath’i yang tidak menyisakan ruang berbeda pendapat. Juga bahwa semua orang yang tidak sependapat dengan ini maka dia adalah orang yang sesat dan salah (dia tidak berada dalam manhaj ini atau bukan ikhwan kita, kata mereka!)[4]. Di mana dalam hal ini mereka mengikuti pendapat Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz, semoga Allah membebaskan beliau dari kesusahan.

Nyatanya, dalam permasalahan ini ada pendapat lain yang masih dalam wilayah ijtihad dan kajian — yang justru mungkin lebih rajih (kuat) —, yang intinya adalah bahwa tentara, polisi dan para pembela thaghut itu diperangi sebagaimana diperanginya orang-orang murtad dalam kapasitasnya sebagai kelompok, dan dalam masalah ini tidak ada perselisihan.

Namun ketika kita melihat kepada status hukum para personalnya maka tidaklah dibenarkan kita mengatakan bahwa mereka itu semuanya kafir. Karena masih terbuka peluang adanya alasan dan penghalang jatuhnya vonis kafir sebagaimana yang berlaku buat selain mereka. Dan barangsiapa terbukti bahwa pada dirinya terdapat penghalangnya maka status Islam pada dirinya tidaklah dicabut, sebagaimana salah dan batilnya orang yang mengatakan bahwa pendapat yang sebelumnya — yaitu pendapat Syaikh Abdul Qadir — itu merupakan ijma’ qath’i yang tidak boleh diperselisihkan.

Syaikh yang akan kami sampaikan pendapatnya dalam masalah ini adalah seorang Syaikh yang berilmu sekaligus seorang komandan mujahidin, yakni Syaikh ‘Athiyatullah Al Libi, semoga Allah merahmati beliau dan meninggikan derajat beliau. Sosok seperti beliau ini, orang-orang seperti kita ini tidaklah pantas untuk memberikan penilaian tentang keilmuan, pemahaman, pengorbanan dan jihad beliau, karena beliau itu sudah terlalu terkenal untuk diperkenalkan.[5] Telah ditanyakan kepada Syaikh ‘Athiyatullah mengenai permasalahan ini, dan beliau menyinggung persoalan ini pada beberapa tempat dalam liqa’ maftuh beliau yang diadakan di situs Al Hisbah pada tahun 2006. Maka kamipun mengumpulkan jawaban-jawaban, petunjuk-petunjuk dan pendapat-pendapat beliau tersebut lalu menyajikannya dalam satu pembahasan tersendiri yang sekarang ada di hadapan kita ini. Maka tidak ada jasa dan peran apapun dari kami selain kami mengumpulkan berbagai perkataan beliau yang terpisah di sana-sini, dan kami tetap sajikan teks, kata-kata dan urutan-urutannya sebagaimana adanya tanpa ada perubahan sedikitpun, supaya tidak ada yang mengatakan bahwa antum telah memelintir ucapan beliau!

Ungkapan-ungkapan Syaikh ‘Athiyatullah dalam menulis, berdiskusi dan menyimpulkan dalil itu indah dan menampakkan sebagai orang yang tenang, berilmu dan jauh dari sikap-sikap memastikan dalam banyak kesempatan, yang mana sikap cepat memastikan semacam ini seringkali dilakukan banyak pemuda kita pada jaman ini.

Kami berharap orang dapat mengambil pelajaran dari cara dan gaya beliau yang seperti ini sebagaimana orang dapat mengambil ilmunya.

Dan kami berpendapat untuk memberikan judul serial ini dengan “Pesan-Pesan Syaikh ‘Athiyatullah kepada Ahli Tauhid dan Jihad”. Dan pesan beliau yang pertama ini menjelaskan tentang “Status Hukum Para Pembela dan Tentara Thaghut”.

Kami memohon kepada Allah agar memberikan balasan kepada Syaikh ‘Athiyatullah atas jasa-jasa beliau kepada kami dengan sebaik-baik balasan, dan agar meninggikan derajat beliau di ‘illiyyin.

Dan segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

 

 Pendahuluan …

 Sebelum kami sampaikan pendapat Syaikh ‘Athiyatullah mengenai status para pembela thaghut, kami akan menyampaikan sebuah pendahuluan yang dicantumkan oleh Syaikh ‘Athiyatullah sendiri dalam muqaddimah beliau pada liqa’ maftuh yang kami sebutkan di atas. Dan betapa kita sangat perlu membaca, memahami, menghafal dan menjadikannya sebagai pijakan amalan kita, terutama pada jaman sekarang yang banyak sekali tersebar perselisihan dan bermacam-macam pendapat. Dan mungkin pendahuluan tersebut akan kami jadikan sebagai kata pengantar untuk setiap pembahasan, karena sangat pentingnya untuk diperhatikan. Syaikh ‘Athiyatullah mengatakan:

“Sebelum menjawab, ijinkanlah saya menyampaikan secara ringkas beberapa kaidah dan adab:

Pertama: selayaknya kita menghilangkan keyakinan pada diri kita bahwa kita akan dapat mencapai pemahaman yang meyakinkan pada setiap permasalahan, yakni pada setiap permasalahan yang diperselisihkan dan yang bersifat ijtihadi. Karena banyak atau kebanyakan masalah dalam ajaran Islam itu dibangun berdasarkan ghalabatu adh dhann (perkiraan yang lebih kuat) dan berdasarkan ijtihad sementara metode memahaminya adalah dengan cara menarik kesimpulan dari suatu dalil. Maka barangsiapa — dalam setiap atau kebanyakan persoalan — berusaha untuk mencapai kesimpulan yang pasti dan meyakinkan, atau menyangka bahwa ia akan dapat menguasai semua detil-detil persoalan sehingga tidak ada lagi ruang pada dirinya untuk ragu-ragu, maka dia telah salah dan ia akan sering kelelahan … dan yang lebih berbahaya lagi, orang yang seperti ini dikhawatirkan akan justeru tergelincir dan tersesat![6]

Kedua: dan ini merupakan pelengkap dari yang pertama, yaitu kita harus membedakan antara setiap permasalahan dan kemudian meletakkan setiap permasalahan sesuai dengan porsinya masing-masing secara adil, dan memposisikan secara pas tingkat kekuatannya masing-masing, proses penetapannya dan kejelasan hukumnya, juga untuk setiap permasalahan yang dibangun di atas hukum tersebut.

Ketiga: kita harus memahami masalah fiqih dan adab dalam berbeda pendapat.[7]

Keempat: fokus dengan amal perbuatan yang dibangun di atas hukum tersebut, dan tinggalkan yang lainnya.

Kelima: memahami fiqih prioritas, dan dahulukanlah yang paling penting!..

Keenam: pentingnya memahami pengalaman, pelajaran dari pengalaman, sejarah dan bagaimana cara memahami dan mengambil pelajaran darinya, serta memahami batasan-batasan dan adab-adabnya.”

Bersambung….


[1] Salafi Jihadi adalah sebuah istilah yang muncul akhir tahun 80-an untuk menyebut sejumlah gerakan politik Islam yang menjadikan jihad sebagai manhaj perjuangan, yang  kemudian ia menjadi populer sebagai sebuah aliran pemikiran yang khas di era Anwar Sadat. Gerakan ini menproklamirkan diri mengikuti manhaj salaf dan berpandangan bahwa jihad merupakan salah satu ajaran pokoknya yang hukumnya fardlu ‘ain bagi seluruh kaum muslimin yang diwujudkan dalam bentuk memerangi musuh yang menjajah dan pemerintah yang menyingkirkan syari’at Islam dan menjalankan hukum buatan manusia, atau pemerintah yang kedhaliman dan kediktatorannya sangat melampaui batas.

Dengan demikian Salafi Jihadi adalah kelompok atau individu yang mengusung pemikiran jihad bersenjata melawan pemerintah yang berkuasa di dunia Islam atau melawan musuh asing. Mereka mengusung pemikiran tertentu yang dibangun di atas prinsip menjadikan syariat sebagai hukum, kaidah Al Wala’ dan Al Bara’, prinsip-prinsip pemikiran jihad yang selaras dengan strategi dan syariat pada jaman ini, sebagaimana diterangkan secara rinci dan dikenal dalam literatur-literatur mereka. (Abu Mush’ab As Suri, hal. 685, dinukil dari Wikipedia)

[2] Pada tanggal 21 September 2012 situs The Washington Institute for Near East Policy, mengangkat sebuah makalah tulisan Aaron Y. Zelin seorang pengamat Timur Tengah asal Amerika, dengan judul Kenalilah Ansharu Asy Syari’ah di Negaramu. Aaron Y. Zelin adalah pengamat yang fokus pada bagaimana beradaptasinya kelompok-kelompok jihad dengan lingkungan politik baru di era revolusi Arab dan dengan kebijakan konservatif di negara-negara yang menurut mereka sedang mengalami masa transisi menuju demokrasi. Berikut ini terjemahannya:

Dari Sana’a ke Benghazi dan dari Kairo ke Casablanca berbagai jamaah jihad baru dengan nama yang sama muncul beberapa bulan terakhir. Apakah semua ini hanya kebetulan?

Kini ada tren baru yang bergulir di dunia jihad. Alih-alih membuat nama-nama baru, justru beberapa jamaah jihad yang jumlahnya terus bertambah, lebih memilih untuk memilih nama yang sama, yaitu Anshar. Dan dalam banyak kesempatan menggunakan nama Anshar Asy Syari’ah Al Islamiyah yang mana hal itu semakin menegaskan keinginan mereka untuk menegakkan Negara Islam. Namun meskipun jamaah-jamaah terebut memiliki nama dan ideologi yang sama, namun ia tidak memiliki satu struktur kepemimpinan atau satu pemimpin sebagaimana pimpinan pusat yang dimiliki oleh organisasi Al Qaeda (atau yang masih tersisa darinya) yang diyakini bermarkas di Pakistan. Beberapa organisasi ini berperang di tempat yang berbeda-beda dengan menggunakan sarana beraneka ragam akan tetapi mereka memiliki tujuan yang sama. Dan ini adalah metode yang lebih sesuai dengan berbagai perubahan yang muncul seiring gelombang revolusi di dunia Arab.

Pada pekan kedua bulan September, nama Ansharu Asy Syari’ah ramai diberitakan media pasca serangan terhadap gedung Konsulat Amerika di Benghazi Libiya, setelah sebuah gerakan lokal yang menamakan diri Brigade Ansharu Asy Syari’ah dituduh yang melakukan serangan tersebut, yang mana tuduhan tersebut ditepis oleh jamaah tersebut. Dan nampaknya banyak laporan berita yang terbalik-balik antara Ansharu Asy Syari’ah di Benghazi dengan sebuah jamaah di Libiya yang berpusat di Derna.

Pada kenyataannya nama ini telah muncul di Yaman ketika organisasi Al Qaeda Semenanjung Arab — yang merupakan salah satu organisasi lokal cabang Al Qaeda yang sangat kuat — membentuk sebuah jamaah perwakilannya pada bulan April 2011 dengan nama Ansharu Asy Syari’ah Yaman. Mungkin saja ini adalah satu efek yang lahir dari ide Usamah bin Ladin untuk merubah nama Al Qaeda. Namun demikian nama Ansharu Asy Syari’ah ini tidak tercantum dalam salah satu usulan yang terdapat dalam dokumen-dokumen yang ditemukan di kediaman mendiang pemimpin Al Qaeda. Belakangan salah seorang mentor jihad internasional yang cukup menonjol, Syaikh Abul Mundzir Asy Syinqithi memberikan stempel persetujuannya atas gelombang baru yang digerakkan oleh jamaah-jamaah Ansharu Asy Syari’ah.

Asy Syinqithi yang berasal dari Mauritania ini telah mempublikasikan sebuah makalah pada pertengahan Juni dengan judul Kami adalah Ansharu Asy Syari’ah, di sana dia mengajak kaum muslimin mendirikan jamaah-jamaah dakwah mereka dengan nama Ansharu Asy Syari’ah di masing-masing negaranya kemudian bersatu dalam satu kelompok. Perlu diketahui juga bahwa sebagian besar jamaah Ansharu Asy Syari’ah itu telah terbentuk sebelumnya. Dan yang paling terkenal dari jamaah-jamaah tersebut adalah jamaah yang terdapat di Yaman, Tunisia dan Libiya, selain kopian terbarunya di Mesir dan Maroko yang terjadi dalam waktu sangat singkat.

Semakin meningkatnya jumlah jamaah Ansharu Asy Syari’ah ini mengisyaratkan akan berakhirnya jihad global yang memiliki satu poros yaitu organisasi Al Qaeda yang beredar pada satu dekade yang lalu, kemudian kembali kepada model jihad yang memiliki banyak poros yang mirip dengan yang terjadi pada dekade 90-an dengan satu perbedaan utama yaitu bahwa jamaah-jamaah jihad pada hari ini memiliki pemikiran yang lebih kompleks. Pada dekade 90-an para jihadis berpola pikir lokal dan operasinya bersifat lokal sementara pada hari ini banyak di antara mereka yang berpola pikir global namun operasinya bersifat lokal. Jamaah-jamaah baru ini juga lebih memiliki perhatian dalam menyediakan layanan dan tata kelola untuk saudara-saudara muslimnya.

Memahami perbedaan antar berbagai jamaah yang bermacam-macam tersebut merupakan keharusan kalau kita ingin memiliki pemahaman terbaik terhadap rambu-rambu terbaru di Timur Tengah dan Afrika Utara, demikian pula arah jamaah-jamaah salafi jihadi yang tidak selalu mengikuti strategi atau taktik organisasi Al Qaeda. Meskipun belum diketahui adanya hubungan struktural maupun operasional antar berbagai organisasi yang bermacam-macam ini, namun ke depannya bisa jadi mereka akan berusaha berkomunikasi lantaran memiliki kedekatan pemikiran atau misi bersama. Namun demikian pada saat sekarang ini peleburan jamaah merupakan tindakan yang belum tepat waktunya. Dan berikut ini ulasan singkat tentang beberapa jamaah penting yang memiliki kesamaan nama:

Ansharu Asy Syari’ah Yaman.

Pada saat jamaah-jamaah Ansharu Asy Syari’ah lain tidak memiliki hubungan operasional yang dapat diketahui dengan organisasi Al Qaeda, namun jamaah Ansharu Asy Syari’ah Yaman justru merupakan salah satu bentuk kebangkitan baru dari organisasi Al Qaeda Semenanjung Arab. Syaikh Abu Zubair ‘Adil bin ‘Abdillah Al ‘Abbab, seorang tokoh penting di bidang keagamaan organisasi Al Qaeda Semenanjung Arab, mengungkapkan perubahan ini pada bulan April 2011 dengan mengatakan: “Sesungguhnya nama Ansharu Asy Syari’ah ini adalah nama yang kami gunakan untuk memperkenalkan diri kami di berbagai wilayah yang kami beroperasi di sana, supaya masyarakat memahami apa yang kami lakukan dan apa misi kami.” Dan sejak itulah jamaah tersebut menjadi pemain utama di Yaman Selatan setelah dapat menguasai beberapa bagian dari sejumlah propinsi di Yaman Selatan — Abyan dan Shabwa — pada akhir musim semi 2011. Bahkan jamaah tersebut tidak melepaskan kendalinya di sana pada Juni 2012 kecuali setelah serangan balik yang dilancarkan oleh pemerintah Yaman bersama sejumlah milisi lokal yang didukung dengan serangan udara Amerika. Dan meskipun Ansharu Asy Syari’ah Yaman telah berhasil diusir dari kota-kota tersebut namun jamaah tersebut belum tamat namun justru kemungkinan besar ia akan bangkit kembali.

Bahkan di antara keberhasilan besar Ansharu Asy Syari’ah Yaman adalah kemampuannya dalam memberikan berbagai layanan yang menjadikannya dapat menutupi kekosongan yang timbul akibat lemahnya atau tidak adanya minat pemerintah pusat untuk melakukannya. Ansharu Asy Syari’ahpun berbangga dengan berbagai layanan yang dapat mereka lakukan berupa listrik, air, keamanan, keadilan dan pendidikan yang mereka sampaikan dalam selebaran dan serial video yang berjudul ‘Uyun ‘Alal Ahdats (melihat peristiwa secara langsung) dan mereka publikasikan melalui kantor berita Madad yang berada di bawah kendalinya. Dan meskipun model pemerintahan Ansharu Asy Syari’ah Yaman dibangun berdasarkan pemahamannya yang sempit dan ekstrim terhadap syari’at, namun keberhasilannya dalam menyelenggarakan tata kelola telah mendapatkan sambutan positif dari masyarakat. Di sisi lain pesan-pesan ekstrimnya mungkin tidak selalu menggaung di beberapa kota seperti di ‘Azzan dan Zinjabar namun penduduk yang putus asa bisa saja menyambut positif jamaah tersebut.

Ansharu Asy Syari’ah Tunisia.

Maret 2011 setelah presiden Ben Ali lengser, dibebaskanlah berbagai kelompok tahanan politik dan teroris setelah mendapatkan grasi dari pemerintahan transisi Tunisia. Di antara mereka yang dibebaskan itu ada nama Saifullah bin Husain (yang terkenal dengan nama Abu ‘Iyadl At Tunisi), yang merupakan salah seorang pendiri Jamaah Tunisiyah Muqatilah fi Afghanistan, yang ikut membantu atas terbunuhnya Ahmad Syah Mas’ud dua hari sebelum serangan 11 September. Setelah dibebaskan dari penjara, Abu ‘Iyadl menyelenggarakan apa yang sekarang dianggap sebagai muktamar tahunan pertama kali yang telah berhasil membentuk Ansharu Asy Syari’ah Tunisia pada bulan April 2011, di mana muktamar tersebut dihadiri beberapa ratus orang pada tahun 2011 dan mencapai 10 ribu orang pada 2012, hal yang menunjukkan betapa jamaah ini diterima masyarakat meskipun jamaah ini masih di pinggiran.

Sejak didirikan, Ansharu Asy Syari’ah Tunisia memiliki ideologi eksklusif, yaitu mengajak masyarakat kepada Islam yang lurus di Tunisia dan memberikan motivasi kepada para anggotanya untuk bergabung dengan jihad di luar negeri. Nampaknya sikap yang diambil oleh Ansharu Asy Syari’ah Tunisia untuk tidak bertanggung jawab atas serangan terhadap kedutaan besar Amerika pada hari Jum’at 14 September lalu, alasannya bukan lain karena banyak anggota jamaah ini minimal ikut dalam aksi demonstrasi tersebut. Dan Ansharu Asy Syari’ah Tunisia telah terlibat dalam beberapa kegiatan salafi yang lebih bersifat permusuhan di Tunisia selama setengah tahun lalu, yang di antaranya adalah “Hari Kemarahan” yang terjadi setelah saluran TV setempat menyiarkan film Persepolis. Sebagian anggota jamaah Ansharu Asy Syari’ah Tunisia ini juga terlibat dalam serangan di kedutaan besar Amerika di Tunisia dan sekolahan Amerika yang lokasinya berdekatan dengannya. Jamaah Ansharu Asy Syari’ah Tunisia juga menyalurkan berbagai bantuan di kota-kota dari air hingga pakaian dan hadiah Ramadlan.

Ansharu Asy Syari’ah Libiya.

Di Libiya ada beberapa kelompok berbeda-beda yang menggunakan nama Ansharu Asy Syari’ah. Yang paling menonjol di antaranya adalah dua yaitu Brigade Ansharu Asy Syari’ah Benghazi yang dipandang sebagai pihak utama yang dicurigai terlibat dalam serangan terakhir terhadap Konsulat Amerika. Dan satu lagi yang ketenarannya satu tingkat di bawahnya adalah Ansharu Asy Syari’ah Derna yang dipimpin oleh mantan tahanan Goantanamo Abu Sufyan bin Qumu. Kedua jamaah ini didirikan setelah tewasnya pemimpin Libiya Mu’ammar Qadzafi, namun keduanya tidak memiliki kaitan satu sama lain. Ansharu Asy Syari’ah Benghazi sendiri telah mendeklarasikan diri untuk yang pertama kalinya pada Februari 2012 di bawah pimpinan Muhammad Az Zahawi seorang mantan tahanan di penjara buruk yang dinamakan penjara Abu Salim pada era Qadzafi. Pada kongres pertamanya jamaah ini dihadiri oleh kelompok-kelompok yang mereka harapkan untuk hadir, yaitu sekitar 1000 orang yang di antaranya adalah beberapa milisi kecil yang semuanya menuntut pemerintah Libiya untuk melaksanakan syariat Islam. Tapi nampaknya beberapa ratus orang yang hadir tersebut merupakan anggota Ansharu Asy Syari’ah Benghazi.

Persis dengan Ansharu Asy Syari’ah Tunisia, Ansharu Asy Syari’ah Benghazi juga memberikan layanan sosial yang mana para anggotanya melakukan pembersihan dan perbaikan  jalan-jalan, membagi-bagikan sedekah selama bulan Ramadlan dan terakhir kali mereka memberikan bantuan keamanan di rumah sakit Benghazi. Meskipun jamaah ini mengakui telah menghancurkan cungkup-cungkup dan kuburan-kuburan kaum sufi di Benghazi, namun mereka berusaha membersihkan diri dari tuduhan orang-orang lokal bahwa mereka telah memberlakukan praktik yang sangat keras tentang Islam, di mana dalam waktu yang sama mereka memberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat. Dan berdasarkan berbagai pernyataannya — yang terus meningkat di mana pada awalnya berupa penegasan-penegasan bahwa para anggotanya yang terlibat dalam serangan itu adalah atas nama pribadi, sampai membuat pernyataan pengingkaran adanya keterlibatan jamaah — nampaknya Ansharu Asy Syari’ah Benghazi menyadari bahwa dirinya telalu jauh melangkah melampaui batas sehingga mereka berusaha menyelamatkan citranya.

Ansharu Asy Syari’ah Mesir dan Maroko.

Lain halnya dengan jamaah-jamaah yang ada di Yaman, Tunisia dan Libiya, jamaah Ansharu Asy Syari’ah Mesir tidak mendeklarasikan dirinya sebagai sebuah jamaah yang terorganisir di dunia nyata. Sementara di Maroko baru saja sepuluh hari yang lalu didirikan sebuah organisasi. Jamaah Ansharu Asy Syari’ah di Mesir ini di internet hanya menggunakan nama Ansharu Asy Syari’ah saja, ketika menyampaikan beberapa pernyataan kepada yayasan media Al Bayan yang memiliki hubungan dengan seorang mentor jihad Syaikh Ahmad ‘Asyusy, yang belakangan mengeluarkan fatwa untuk membunuh siapa saja yang terlibat dalam pembuatan film Innocence of the Muslims. ‘Asyusy ini memiliki sejarah panjang dengan gerakan jihad, di mana dia terlibat dalam jihad melawan Soviet pada tahun 80-an. Dia juga merupakan anggota jamaah Jihad Islam di Mesir. Dia ikut ditangkap pada awal tahun 90-an   dalam sebuah operasi pemberantasan teroris yang dilancarkan pemerintah terhadap 150 anggota jamaah Jihad Islam Mesir, dan dia baru saja dibebaskan setelah tumbangnya pemerintahan Husni Mubarak. Berdasarkan data-data yang dapat diketahui, masih terlalu dini menganggap Ansharu Asy Syari’ah Mesir sebagai sebuah jamaah yang memiliki unsur-unsur yang lengkap.

Adapun Ansharu Asy Syari’ah Maroko adalah sebuah organisasi yang baru saja lahir dan hanya memiliki perhatian pada kegiatan-kegiatan dakwah. Pada penjelasan pertama dan satu-satunya, jamaah tersebut mengatakan bahwa mereka tidak memiliki hubungan apapun sampai sekarang dengan jamaah-jamaah lainnya yang ada di Yaman atau Tunisia atau Libiya ataupun Mesir. Dan yang dapat disimpulkan dari keberadaan Ansharu Asy Syari’ah Maroko adalah mereka berjuang untuk menyebarkan kalimatullah dan syari’at Islam, menyediakan layanan sosial dan ekonomi bagi mereka yang membutuhkan, membongkar kemunduran Barat dan memerdekakan masyarakat dari segala bentuk genggamannya. Dan sebagaimana gerakan-gerakan radikal lainnya di tingkat kawasan dan yang memiliki kesamaan nama, jamaah ini juga layak untuk dipantau secara ketat.

Sumber: http://www.washingtoninstitute.org/ar/policy-analysis/view/know-your-ansar-al-sharia

[3] Syaikh Abu Yahya Al Libi, sebagai mufti mujahidin Al Qaeda, di dalam At Tabdid hal. 8-11 berkata:

“Mujahidin itu seperti manusia lainnya yang berijtihad, mencari kebenaran dan melaksanakannya. Terkadang mereka benar dan terkadang mereka salah. Mereka tidak mengklaim bahwa mereka adalah orang-orang yang ma’shum baik dalam berbicara maupun dalam berbuat. Akan tetapi mereka itu terkadang memiliki kekurangan sebagaimana manusia lainnya. Mereka tidaklah menjual murah nyawa mereka, meninggalkan negeri dan kampung halaman mereka, memikul berbagai kepenatan dan bencana, serta berteman dengan jaga malam dan kepayahan, kecuali untuk mendapatkan ridla Allah ta’ala, membela agama-Nya dan menghinakan musuh-musuh-Nya. Sementara itu tidak mungkin ada seorangpun orang yang memperjuangkan agama Allah ini yang dapat lolos dari kesalahan, terutama dalam jihad pada jaman ini, di mana banyak persoalan yang saling berkaitan dan bercabang, sulitnya kondisi medan-medan jihad dan alasan-alasan lainnya yang telah kita ketahui. Tidak diragukan lagi bahwa itu semua mendorong kita untuk terjerumus dalam banyak kesalahan yang terkadang kesalahan itu besar dan sering kali hanya kesalahan-kesalahan kecil, namun kesalahan itu tidak dapat dihindari secara total. Kesalahan-kesalahan semacam ini tidak akan mungkin bersih dari masa kapanpun, sekalipun itu pada masa abad terbaik, dan dalam peperangan-peperangan yang diterjuni dan dipimpin oleh orang-orang yang bertaqwa, bersih dan ulama, baik pemimpinnya maupun pasukannya, pada jaman Nabi SAW. Namun semua itu tidaklah harus menimbulkan celaan, cercaan, sikap mempermalukan, penghinaan, pengucilan, seruan untuk menghentikan jihad, larangan konfrontasi, mengucilkan para komandan jihad yang terjerumus dalam kesalahan tersebut, akan tetapi seharusnya adalah disampaikan nasehat kepada mereka dengan cara yang sesuai dengan tuntutan jihad dan posisi mereka, diterangkan kebenaran yang mereka langgar, sementara kepemimpinan mereka tetap dan mereka kemudian terus melangsungkan jihad memerangi musuh-musuh mereka. Di antara contohnya adalah:

Pertama: dari Ibnu ‘Umar beliau berkata: Nabi SAW pernah mengutus Khalid bin Al Walid kepada Bani Judzaimah. Khalidpun mengajak mereka masuk Islam namun mereka tidak bisa mengucapkan ‘aslamna’ (kami telah masuk Islam) sehingga mereka mengatakan ‘shaba’na’ (kami telah menjadi shabi-i). Maka Khalidpun membunuh dan menawan mereka, kemudian dia serahkan tawanannya tersebut kepada masing-masing kami. Sampai pada suatu hari Khalid memerintahkan masing-masing kami agar membunuh tawanannya. Maka sayapun mengatakan: Demi Allah saya tidak akan membunuh tawananku dan para sahabatku tidak akan membunuh tawanannya sampai kita menghadap Nabi SAW. Maka peristiwa itupun diceritakan kepada beliau lalu beliaupun mengangkat kedua tangan beliau seraya mengatakan: ‘Ya Allah aku berlepas diri dari apa yang diperbuat Khalid.’ Beliau mengucapkannya tiga kali. Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhari.

Imam Ibnu Katsir, setelah beliau menceritakan tentang pertengkaran yang terjadi antara Khalid dan Abdur Rahman bin ‘Auf dalam peristiwa ini, dan setelah Abdur Rahman bin ‘Auf menuduh Khalid bahwa Khalid melakukan itu semua karena membalaskan dendam bapaknya, beliau (Ibnu Katsir) berkata: “Yang dapat kita sangkakan terhadap mereka bahwa Abdur Rahman bin ‘Auf  itu tidaklah memiliki maksud apa-apa dari ucapannya itu. Karena ucapan-ucapan semacam ini hanyalah terucap ketika terjadi pertengkaran. Khalid bin Al Walid tidak lain hanya karena membela Islam dan penganutnya, meskipun dia telah berbuat salah dalam satu perkara karena beliau berkeyakinan bahwa mereka telah membatalkan Islam mereka ketika mereka mengucapkan ‘shaba’na .. shaba’na’, dan beliau tidak memahami dari ucapan mereka bahwa mereka itu telah masuk Islam. Maka Khalidpun membunuh mereka dalam jumlah yang banyak dan menawan sisanya, bahkan beliau juga membunuh sebagian besar dari tawanannya. Namun demikian Nabi SAW tidaklah memecat Khalid dan Khalidpun tetap menjadi komandan, meskipun Nabi SAW telah berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh Khalid dan membayarkan diyat dari kesalahan yang diperbuat Khalid itu baik yang berkaitan dengan darah atau harta … Oleh karenanya Abu Bakar Ash Shiddiq RA juga tidak memecatnya ketika ia membunuh Malik bin Nuwairah pada saat terjadi gelombang kemurtadan, karena dia melakukannya lantaran salah takwil, di mana pada saat itu Khalid membunuhnya dan mengambil istrinya Ummu Tamim. Umar bin Al Khathab RA pun mengatakan kepada Abu Bakar RA: ‘Pecatlah dia, karena pada pedangnya itu terdapat dosa.!’

Abu Bakar Ash Shiddiq RA menjawab: ‘Aku tidak akan menyarungkan pedang yang telah dihunus Rasulullah SAW terhadap orang-orang musyrik.’ (Ibnu Katsir , As Sirah An Nabawiyah, III/594-595)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Namun demikian, Nabi SAW tidak memecat Khalid dari kepemimpinan, tapi justru beliau tetap mengangkatnya sebagai pemimpin. Karena jika ada seorang pemimpin melakukan kesalahan atau dosa beliau memerintahkannya untuk kembali dari perbuatannya tersebut dan beliau tetap menempatkannya dalam posisinya sebagai pemimpin. Khalid pun juga tidak membangkang kepada perintah Nabi SAW akan tetapi ia mematuhinya. Khalid sendiri tidak memiliki kadar pemahaman agama sebagaimana yang lainnya sehingga ia tidak memahami hukumnya dalam perkara terebut.  Dan ada yang mengatakan bahwa Khalid memendam permusuhan dengan mereka pada masa jahiliyah, hal itulah yang mendorongnya untuk melakukan tindakan tersebut.” (Manhajus Sunnah An Nabawiyah IV/87) Ibnu Taimiyah mengulangi perkataan semacam ini beberapa kali di dalam bukunya, dan ini jelas.

Kedua: Dari Jarir bin Abdullah RA, ia berkata: bahwasanya Rasulullah SAW mengutus sebuah sariyah menuju perkampungan Khats’am lalu ada orang-orang yang mencari selamat dengan cara sujud, namun dengan segera mereka dibunuh. Maka berita tersebut sampailah kepada Nabi SAW sehingga Nabi SAW memerintahkan untuk membayarkan setengah diyat kepada mereka, dan beliau bersabda: Aku berlepas diri dari setiap muslim yang tinggal di tengah-tengah orang-orang musyrik. Para sahabat bertanya: Kenapa begitu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Supaya api keduanya tidak saling melihat. Hadits riwayat Abu Dawud, At Tirmidzi, Al Baihaqi dan lain-lain, namun sebagian meriwayatkannya dari Qais bin Abi Hazim dari Nabi SAW secara mursal. Imam At Tirmidzi di dalam kitab Al ‘Ilal mengatakan: “Saya pernah menanyakan hadits ini kepada Muhammad kemudian dia menjawab: Yang benar hadits ini diriwayatkan dari Qais bin Abi Hazim secara mursal.”

Ketiga: Dari Usamah bin Zaid RA, dia berkata: Pernah Rasulullah SAW mengirim kami ke kabilah Hirqah dari suku Juhainah, maka kamipun mendatangi mereka sampai di perairan mereka. Lalu saya bersama seorang Anshar mengejar seorang dari mereka. Ketika kami telah menangkapnya dia mengucapkan laa ilaha illallah, sehingga orang Anshar yang bersamaku tadi menahan diri sementara aku tetap menusuknya dengan tombakku sampai aku berhasil membunuhnya. Kemudian tatkala kami sampai Madinah peristiwa itu sampai kepada Nabi SAW, maka beliaupun bersabda kepadaku: Wahai Usamah apakah kamu membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaha illallah? Sayapun menjawab: Wahai Rasulullah, dia itu hanya mau menyelamatkan diri. Maka Nabipun bersabda: Apakah kamu membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaha illallah? Beliaupun terus mengulang-ulang sabdanya itu sampai-sampai aku berangan-angan seandainya aku belum masuk Islam sebelum hari itu. Muttafaq ‘alaih.

Meski Usamah RA telah berbuat seperti itu pada peristiwa tersebut, namun Nabi SAW tetap mengangkatnya sebagai pemimpin untuk sebuah pasukan yang di dalamnya terdapat para sahabat-sahabat senior. Dan Nabipun meninggal setelah menyerahkan bendera kepadanya, dan pasukan tersebut diberangkatkan oleh Khalifah sepeninggal Nabi, yakni Abu Bakar Ash Shiddiq RA.

Kisah-kisah semacam ini, yang menceritakan kesalahan yang dilakukan oleh para sahabat ketika mereka berjihad dalam kasus yang bermacam-macam, dengan tingkatan yang beragam, dan pada masa yang berbeda-beda, itu banyak sekali dan telah diketahui. Dan tujuan kami di sini bukanlah hendak memaparkan semuanya akan tetapi hanya ingin menunjukkan saja bahwa kesalahan dalam jihad itu tidak mungkin dihindari secara total dalam medan jihad manapun dan tidak pernah lepas sama sekali pada masa kapanpun. Hal itu bukan juga berarti sebagai pembenaran atau pembiaran terhadap kesalahan-kesalahan tersebut ketika terjadi, atau bersantai-santai dalam melakukan pelurusan dan memberikan nasehat agar diperbaiki dan ditutup. Akan tetapi hal ini juga tidak dapat diterima jika hendak dijadikan alasan bagi semua orang yang hendak menghentikan jihad, melarikan diri dari medan jihad, dan menghindarkan diri dari mata rantai jihad dengan alasan bahwa mata rantai jihad tersebut penuh dengan kesalahan dan bahwa mujahidin itu adalah orang-orang  bodoh yang tidak berpengalaman.”

[4] Adanya ungkapan-ungkapan yang bernada menghina dan berpotensi memecah belah umat Islam semacam ini juga nampak tersirat dalam apa yang dikeluhkan oleh Syaikh Yunus sebagai penanggung jawab operasi Al Qaeda untuk wilayah Afrika dan Asia Barat kepada Syaikh Usamah bin Ladin selaku Amir Al Qaeda Pusat saat itu. Di mana dalam surat yang dikirimkan Syaikh Usamah yang kemudian diteruskan kepada Syaikh ‘Athiyatullah itu Syaikh Yunus mengatakan: “… sebab saat ini kita menghadapi suatu fase di mana sempitnya cakrawala wawasan telah menjadi fenomena mematikan, kebodohan terhadap syariat telah menjadi hal yang menghancurkan, tidak menyebar ratanya kesadaran syariat dalam taraf yang mencukupi telah menjadi padang penggembalaan yang buruk. Apalagi saat ini mulai menyebar luas di situs internet istilah ‘salafi jihadi’, sehingga dikatakan ‘si Fulan berada di atas manhaj salafi jihadi’, dan ucapan-ucapan semisalnya.

Ini merupakan perkara yang sangat berbahaya, terutama dengan mulai munculnya ‘tokoh-tokoh’ aliran ini yang dianggap sebagai bagian dari kita (Al Qaeda, edt.) namun membangun pendapat-pendapat yang sangat ekstrim dan tegas (pasti, qath’i) dalam perkara-perkara ijtihad yang sifatnya dhanni.” (SOCOM-2012-0000019, hal. 48)

Hal senada juga disampaikan oleh Syaikh Yahya Adam Gadahn saat memberikan pandangan tentang persiapan penayangan statemen Syaikh Usamah bin Ladin mengenai peringatan 10 tahun serangan 11/9. Dalam surat tersebut Syaikh Yahya Adam Gadahn mengatakan: “… dan adapun forum-forum jihad, forum-forum tersebut dijauhi oleh mayoritas kaum muslimin, atau pintunya tertutup buat mereka. Selain itu dalam batasan tertentu forum-forum tersebut telah membuat citra buruk buat Al Qaeda. Sebagaimana yang engkau ketahui sendiri di sana terdapat sikap-sikap fanatik dan kata-kata kasar yang dilakukan oleh mayoritas membernya. Selain itu di sana nampak keeksklusifan bagi aliran salafi, dan bukan hanya sekadar salafi, tapi lebih dari itu adalah apa yang dikenal dengan salafi jihadi. Padahal salafi itu tidak lain hanyalah salah satu aliran dari sekian banyak aliran yang dianut kaum muslimin, sementara salafi jihadi hanyalah salah satu bagian kecil di dalam aliran salafi itu sendiri.!” (SOCOM-2012-0000004, hal. 4)

[5] Syaikh Aiman mengatakan: “Syaikh ‘Athiyatullah adalah seorang ulama’ yang beramal, mujahid, murabith dan da’i yang namanya cukup terkenal di dunia maya. Beliau berhijrah ke Pakistan untuk ikut andil dalam jihad di Afghanistan. Kemudian beliau berhijrah ke Mauritania untuk menimba ilmu dari para ulama’ di sana. Kemudian beliau berhijrah ke Aljazair untuk ikut andil dalam jihad bersama Al Jama’ah Al Islamiyah Al Musallahah, yang mana beliau merasakan pengalaman pahit bersama mereka. Kemudian beliaupun kembali lagi berhijrah ke Afghanistan seiring berdirinya Imarah Islam Thaliban. Di sana beliau menjadi pengajar di sekolah Arab di Kabul. Maka terbukalah bagi beliau pintu dakwah kepada jihad, membela mujahidin dan membantah berbagai kedustaan dan syubhat yang diarahkan kepada mujahidin. Dan sampai hari ini (1429 H / 2008 M) beliau masih terus memberikan manfaat seperti lebah yang memakan hal-hal yang baik dan mengeluarkan yang baik-baik pula. Kita memohon kepada Allah agar memberikan berkah kepada usaha beliau dan menerima amalan beliau.” (At Tabri-ah)

Beliau syahid pada bulan Ramadhan 1432 H yang lalu.

[6] Mengenai hal ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam Majmu’ Fatawa III/197 mengatakan: “Dan adapun pertanyaannya; apakah dalam hal itu bagi seorang mujtahid cukup ghalabatudh dhann (perkiraan kuat) yang dapat dia gapai, ataukah harus sampai pada tingkat pasti (qath’i)?

Jawabnya adalah;

Yang benar dalam masalah ini harus dirinci, karena meskipun beberapa golongan dari Ahlul Kalam berpandangan bahwa pada perkara-perkara berita (keyakinan) yang terkadang mereka sebut dengan perkara-perkara Ushul haruslah sampai tingkatan pasti seluruhnya, dan tidak boleh berdalil mengenai perkara ini selain dengan dalil-dalil yang derajatnya meyakinkan. Dan terkadang mereka mewajibkan hal itu kepada semua orang. Apa yang mereka katakan secara lepas dan umum ini salah dan bertentangan dengan Al Qur’an, Sunnah, ijma’ salaf para imam umat Islam.

Kemudian mereka sendiri pada kenyataannya orang yang paling jauh dari apa yang mereka wajibkan tersebut. karena mereka seringkali dalam perkara-perkara tersebut justru berhujjah dengan dalil-dalil yang mereka anggap sebagai dalil-dalil qath’i (meyakinkan), tapi pada hakekatnya itu merupakan dalil-dalil yang salah penempatan, yang tidak sampai pada derajat dhanniyat (dalil yang masih mengandung perkiraan). Sampai-sampai salah seorang di antara mereka ada yang seringkali memastikan akan kebenaran hujjahnya pada satu tempat lalu di tempat lain dia memastikan bahwa hujjah tersebut batil. Bahkan di antara mereka ada yang perkataan andalan mereka itu ujung-ujungnya seperti itu. Bahkan terkadang ada dua orang yang berdiskusi masing-masing membawakan suatu ilmu yang sama-sama mereka klaim bersifat pasti yang bertentangan dengan yang diklaim fihak lainnya.

Adapun rinciannya adalah; bahwa apa saja yang Allah wajibkan untuk diketahui dan diyakini maka wajib dilaksanakan apa yang Allah wajibkan dalam masalah itu. Seperti firman Allah ta’ala:

اعلموا أن الله شديد العقاب وأن الله غفور رحيم

“Dan ketahuilah bahwa Allah itu sangat keras siksa-Nya dan bahwa Allah itu Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (Al Maidah: 98)

… dan seperti firman Allah ta’ala:

فاعلم أنه لا إله إلا الله واستغفر لذنبك

“Maka ketahuilah bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah, dan mintalah ampun bagi dosamu.” (Muhammad: 19)

Demikian pula wajiblah diimani apa-apa yang Allah wajibkan untuk diimani.

Dan telah ditetapkan di dalam syariat bahwa kewajiban itu tergantung dengan kemampuan seorang hamba, sebagaimana dalam firman Allah ta’ala:

فاتقوا الله ما استطعتم

“Maka bertaqwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuan kalian.” (At Taghabun: 16)

… dan dalam sabda Nabi SAW:

إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم

“Apabila aku perintahkan kalian maka laksanakanlah sesuai dengan kemampuan kalian.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim di dalam Kitab Shahih keduanya.

Apabila banyak persoalan yang diperselisihkan umat Islam itu masuk dalam kategori yang pelik ini, yang terkadang bagi banyak orang merupakan perkara samar yang mereka tidak mampu memahaminya berdasarkan dalil yang meyakinkan, baik yang bersifat syar’i atau yang lainnya, maka tidaklah wajib bagi orang semacam ini melakukan apa yang dapat dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan dalam perkara tersebut. Namun demikian dia tidak boleh meninggalkan apa yang dia mampui berupa meyakini sesuatu hanya menurut perkiraan kuatnya karena ketidakmampuannya untuk mencapai tingkat yang meyakinkan. Akan tetapi memang sebatas itulah yang mampu dia laksanakan, apalagi kalau hal itu memang sesuai dengan kebenaran. Karena keyakinan itu secara umum berguna bagi pelakunya dan diberikan pahala, serta gugurlah kewajiban yang di luar batas kemampuannya.”

[7] Syaikh Abu Hafsh Al Mauritani dalam Al ‘Amal Al Islami Bain Dawa’il Ijtima’ Wa Du’atin Niza’ membahas tentang manhaj dan patokan-patokan Ahlus Sunnah Wal Jamaah dalam menilai hubungan antara kaum muslimin dan mengatur sikap yang harus dibangun terhadap berbagai gerakan Islam yang bermacam-macam dengan berbagai pemikiran dan ijtihadnya masing-masing secara adil dan proporsional. Di sana beliau mengatakan:

“Manhaj ini landasan dan penopang utamanya adalah ilmu, sikap adil dan proporsional. Hal ini sebagai pelaksanaan dari firman Allah ta’ala:

يا أيها الذين آمنوا كونوا قوامين لله شهداء بالقسط ولا يجرمنكم شنآن قوم على ألا تعدلوا، اعدلوا هو أقرب للتقوى

“Wahai orang-orang beriman jadilah kalian orang-orang yang lurus karena Allah sebagai saksi yang adil. Dan janganlah kemarahan kalian kepada suatu kelompok menjadikan kalian berbuat tidak adil. Berbuat adillah karena hal itu lebih dekat dengan ketaqwaan.”

Maka orang yang berbicara tentang kesalahan yang dilakukan oleh kaum muslimin, berbagai perselisihan dan ijtihad yang terjadi di tengah-tengah mereka, perkara-perkara agama, membuat penilaian tentang hal itu, menetapkan sikap syar’i terhadapnya, menentukan tingkat kesalahan tersebut, dan apa saja yang menjadi konsekuensinya, haruslah orang yang memiliki ilmu, sikap adil dan proporsional, jauh dari kebodohan, kedhaliman dan sikap aniaya, karena dalam posisi ini dia menjadi seperti hakim dalam perkara-perkara yang bahaya dan besar tersebut. Rasulullah SAW bersabda:

القضاة ثلاثة: قاضيان في النار وقاضٍ في الجنة، رجلٌ علم الحق فقضى به فهو في الجنة، ورجلٌ علمَ الحق فقضى بغيره فهو في النار، ورجلٌ قضى للناس على جهل فهو في النار

“Hakim itu ada tiga macam, dua di neraka dan satu di surga. Pertama orang yang mengetahui kebenaran lalu dia memutuskan perkara dengannya, maka dia di surga. Kedua orang yang mengetahui kebenaran tapi dia tidak memutuskan perkara dengannya maka dia di neraka. Ketiga orang yang memutuskan perkara berdasarkan kebodohan maka dia di neraka.”

Ibnu Taimiyah dalam mengomentari hadits ini mengatakan: ‘Apabila orang yang memutuskan perkara di tengah-tengah manusia dalam masalah harta, darah dan kehormatan saja jika dia bukan orang yang berilmu dan bersikap adil dia masuk neraka, lalu bagaimana dengan orang  yang memutuskan perkara dalam masalah aliran, agama, prinsip-prinsip iman, ilmu-ilmu ketuhanan dan pengetahuan-pengetahuan universal tanpa berdasarkan ilmu dan sikap adil.’

Namun demikian kita dapatkan banyak para aktivis perjuangan Islam, bagi mereka itu perkara yang paling gampang adalah memvonis orang lain dengan vonis sesat dan menyimpang, atau vonis benar dan ma’shum (terjaga dari kesalahan), tanpa ada dasar berupa ilmu atau sikap adil.

Dalam menjelaskan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh orang yang berhak berbicara dalam masalah ini Ibnul Qayyim mengatakan: ‘Orang yang berbicara dalam masalah ini atau yang lainnya haruslah landasan pembicaraannya adalah ilmu terhadap kebenaran, yang intinya adalah kesetiaan kepada Allah, Rasul-Nya dan kepada saudara-saudaranya kaum muslimin. Karena jika kebenaran itu dia jadikan mengikuti keinginan hawa nafsunya tentu akan rusaklah hati, amalan, keadaan dan ajaran. Allah ta’ala berfirman:

ولو اتبع الحق أهواءهم لفسدت السماوات والأرض ومن فيهنّ

“Seandainya kebenaran itu mengikuti keinginan hawa nafsu mereka tentu akan rusak langit, bumi dan siapa saja yang ada pada keduanya.”

Dan Rasulullah SAW bersabda:

لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعاً لما جُئت به

“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai keinginan hawa nafsunya mengikuti ajaran yang aku bawa.”

Manhaj yang landasannya ilmu, sikap adil dan proporsional, yang merupakan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jamaah ini, berkebalikan dengan manhaj Ahlul Ahwa’ Wal Bida’ Wat Tafarruq (para pengikut hawa nafsu, bid’ah dan perpecahan) yang dibangun atas dasar kebalikannya yaitu kebodohan, kedhaliman dan fanatisme.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan tentang apa yang menjadi tujuan orang-orang semacam ini: ‘Mereka itu ingin mempertahankan kehormatan mereka atau kepemimpinan mereka atau sebutan yang disematkan kepada mereka, bukan untuk meninggikan kalimatullah dan supaya hukum Allah saja yang berlaku. Akan tetapi mereka itu marah terhadap orang yang tidak sependapat dengan mereka meskipun orang yang tidak sependapat dengan mereka itu adalah orang yang berijtihad dan memiliki udzur yang tidak dimurkai Allah. Mereka ridla dengan orang yang sependapat dengan mereka meskipun orang yang sependapat dengannya itu adalah orang bodoh yang memiliki niat buruk, tidak memiliki ilmu maupun tujuan yang baik. Lalu hal ini menjadikan mereka memuji orang yang tidak dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya, dan mencela orang yang tidak dicela oleh Allah dan Rasul-Nya. Loyalitas dan permusuhan mereka dibangun di atas keinginan hawa nafsu mereka, bukan di atas agama Allah dan Rasul-Nya … dari sinilah muncul kekacauan di antara manusia.’

Seolah-olah Syaikhul Islam rahimahullah menceritakan kondisi banyak orang yang mengaku sebagai aktifis gerakan Islam pada hari ini. Mereka tidak memiliki tolok ukur untuk mengetahui kebenaran selain keinginan hawa nafsu, perkiraan dan kebodohan. Dan mereka tidak memiliki sarana untuk mendapatkan kepuasan selain sikap fanatik buta dan sikap aniaya yang tercela. Manhaj Ahlul Ahwa’ Wal Bida’ ini juga diikuti oleh orang-orang yang tertipu dengan harta, kekuasaan dan kehormatan para penguasa.”

Advertisements