al-adnaniAl-Adnani merubah irama pidatonya dengan sangat drastis. Sebelumnya Adnani telah mengumbar janji untuk membebaskan Roma dan Paris, sekarang ia mengatakan, “Meskipun kami kehilangan banyak kota-kota di Iraq dan Syam dan kembali menjadi kelompok gerilyawan, kami tidak akan kalah selama semangat kami untuk bertempur tidak hancur.” Dengan demikian, ia telah mengakui kekalahannya dan mengakui kemerosotan yang mereka alami. Lantas bagaimana dengan slogan “Bāqiyah wa Tatamaddad??” Bukankan mereka adalah “Kekhalifahan yang tidak terkalahkan?” Akan tetapi, bukan seorang Al-Adnani jika ia tidak mengalami kontradiksi pada dirinya. Setelah pengakuan kekalahan ini, ia masih saja ngotot pada fantasi bahwa mereka adalah kekhalifahan dan bahwa mereka memiliki pegangan yang kokoh pada kekuasaan (tamkin) khayalan mereka. Bagaimana bisa seseorang masih memiliki Tamkin Kekhalifahan, jika ia saja telah kehilangan 50% wilayahnya dan ia mengalaminya setiap hari??

Ia kemudian kembali kepada pernyataan pembenaran dan bantahan usang yang sering ia omongkan, seperti, “Mengapa seluruh dunia berkumpul melawan kami dan mengapa mereka berperang melawan kami? Hal ini karena kami berada di atas kebenaran.” Dia mengabaikan banyaknya kebatilan-kebatilan dalam klaimnya ini. Saddam Hussein telah berjuang, Al-Qadaffi, Hitler, dan banyak lainnya melawan seluruh kekuatan dunia. Tapi ini tidak menjadi bukti bahwa mereka berada di atas kebenaran. Tapi sikap keras kepala Al-Adnani yang begitu ngotot dan terus mengulang-ulang kalimat-kalimat semacam ini dan mengklaimnya sebagai bukti kebenaran mereka.

Dia kemudian memuntahkan beberapa omong kosong takfiri dan mengkafirkan faksi-faksi pejuang Islam secara umum, menuduh Jabhah Nusrah telah murtad karena tidak mau mengkafirkan orang-orang murtad tersebut dan menyebut Jabhah Nushrah sebagai “Jabhah kemurtadan yang kalah.” Demikianlah, ia secara terbuka telah mengkafirkan Jabhat Nusra untuk pertama kalinya, sesuatu yang dahulu senantiasa disimpan dan disembunyikan oleh ISIS. Dan demikianlah, dua tahun yang lalu Al-Adnani membantah telah mengkafirkan Jabhat Nusra. Tapi sikap ini jelas seperti taqiyyahnya Syi’ah. Lebih lanjut ia semakin lancang dan menyerang Syaikh Ayman Zawahiri dan menyebut beliau dengan sebutan, “Orang paling bodoh dari umat Ini.” Dia membungkus semua omong kosong ini dengan beberapa puisi menghasut, karena kurangnya bukti untuk mengkafirkan dan membenarkan tuduhannya. Hal ini jelas menunjukkan bagaimana ISIS mencoba untuk memanipulasi emosi para pengikut mereka bukannya menghadirkan dalil-dalil syar’i yang jelas dan realistis kepada mereka.

Ia menyerang Al-Qaidah karena Al-Qaidah mundur dari daerah-daerah sipil (seperti di Al-Mukallah, padahal itu dilakukan demi menyelamatkan warga sipil dan bombardemen udara). Dia pun semakin lancang dan menyebut syari’at penjagaan darah kaum muslimin sebagai “Aksi Pengambilan Keuntungan”. Dengan demikian ia telah benar-benar meremehkan terjaganya darah kaum muslimin. Selanjutnya, ISIS baru-baru ini mengumumkan di Raqqah bahwa warga sipil bebas untuk meninggalkan kota demi menghindarkan diri dari serangan udara koalisi.

Jadi apa yang lebih baik: meninggalkan warga sipil di rumah dan mundur meninggalkan mereka sehingga warga sipil tidak menjadi korban serangan koalisi udara, atau membiarkan warga sipil meninggalkan rumah mereka sehingga mereka tidak menjadi korban dari serangan koalisi udara sementara Anda tinggal di kota dan rumah mereka? Logika macam apa ini?

(Bandingkan dengan kebijakan Thaliban ketika mundur dari Kabul sehingga pesawat koalisi tidak membombardir Kabul dan AQAP Yaman ketika mundur dari Mukallah sehingga Mukallah tidak menjadi sasaran bombardemen musuh)

Sumber : Hakikat Daulah Khawārij Al-Baghdādy
Advertisements